Title : Robogenoman [part 6]
Author : Minnia
Genre : Romantic Fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong ChanShik, Jung Jinyoung
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)
Author POV
Jinyoung masih saja menatap layar computer itu. Gongchan berhenti mengacak-acak rambutnya dan mengalihkan pandangannya ke arah layar computer tersebut. matanya terbelalak kaget melihat apa yang ada di layar komputernya itu.
“Mana mungkin—“ Katanya setengah tak percaya.
Jinyoung hanya diam. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur yang tadi ia tempati.
Gongchan melihat kearah jam oval yang ada di dalam laboratoriumnya. Pukul 6 sore KST. Hari juga semakin menggelap. Ia melihat kearah Jinyoung.
“Beristirahatlah. Besok kita akan menemui Profesor Shin Dongwoo.” Kata Gongchan sambil mematikan komputernya. Jinyoung memikul kembali tas ranselnya dan menuju kamar miliknya.
Gongchan masih kalut dalam permasalahan ini. Ia terus meredam kepalanya diantara lengan lengan kurus miliknya. Saking lelahnya memikirkan hal itu, Gongchan sampai tertidur pulas di meja yang memuat seperangkat perangkat keras computer.
Malam semakin larut. Jinyoung merasa aneh kenapa diwaktu semalam ini Gongchan belum juga mematikannya—mengistirahatkan Jinyoung. Kalau begini biasanya Jinyoung mengistirahatkan dirinya sendiri. Tapi, remote itu tidak berada ditangannya. Jinyoung bingung ia harus melakukan apa. Dengan pemikiran yang cukup panjang, akhirnya Jinyoung kembali ke laboratorium milik Gongchan. Jinyoung mendapati Gongchan sedang tertidur pulas dengan kepala ditumpu oleh kedua lengannya.
“Chansik-ssi..” Panggil Jinyoung.
Gongchan tak bergerak.
“Chansik-ssi, tidur dikamar. Kau juga belum mengganti pakaian.” Jinyoung mengguncang tubuh Gongchan dan akhirnya Gongchan terbangun.
“Hmm?” Gumam Gongchan dengan mata tertutup.
“Matikan aku..”
“Apa? Matikan sendiri. Aku lelah.”
“Tidur di kamar. Ganti bajumu.”
Gongchan bangkit dari posisinya. Jinyoung mengambil remote control yang tak jauh dari computer lalu mengambilnya. Jinyoung kembali ke kamarnya lalu menekan tombol off.
J
Power on…
Gongchan menekan tombol on. Air muka Gongchan masih memaparkan kebingungannya.
“Cepat ganti bajumu dengan baju seragam. Nanti sepulang sekolah kita akan ke rumah professor Shin Dongwoo.”
Jinyoung mengangguk lemah.
Mereka segera ke halte. Hari ini mereka lebih terlihat diam. Gongchan tampak lemah. Sedangkan Jinyoung lebih banyak diam. Ketika mereka sampai di sekolah, Baro menyambut mereka dengan wajah aneh. Baro juga tak banyak bicara. Jinyoung sampai di kelasnya terlebih dahulu.
“Chansik-ssi..”Bisik Baro.
“Hm?” Gongchan menjawab dengan suara yang terdengar agak parau.
“Kau mengenalnya?”
“Siapa?”
“Namja itu.”
“Oh. Itu Jung Jinyoung.”
“Dia yang kumaksud.”
“Yang bersama Minhyun kemarin?”
“Iya. Dia dekat sekali dengan Minhyun.”
Gongchan melirik sinis kearah Baro, “Kau sering mengintip mereka?”
“Bukan mengintip, sengaja bertemu.”
“Kau sering melihat Jinyoung?”
“Lumayan. Aku sering melihatnya jalan sendiri. Dan aku melihatnya ketika berjalan ditengah badai salju, ia berjalan denganmu.”
“Badai salju?”
“Iya. Badai salju. Kau kan memakai jubah berwarna orange tua.”
“Aku tak—“
Bel masuk berbunyi. Baro meninggalkan Gongchan yang masih bingung dengan perkataan Baro tersebut. Badai salju? Jubah orange tua? Gongchan menggelengkan kepalanya dan segera berlari menuju kelasnya. Ia melewati kelas Minhyun. Bangku Minhyun masih kosong. Minhyun belum datang. Disaat seperti ini Gongchan tidak bisa menanyakan keberadaan Minhyun kepada teman sekelasnya. Gongchan memasuki kelasnya.
J
Gongchan menekan bel yang ada di sebelah pintu rumah tersebut. sudah dua kali dan yang ketiga kalinya baru seseorang membuka pintu berwarna putih susu tersebut. Dia membenarkan kacamatanya lalu terkejut melihat Gongchan dan Jinyoung yang berada di depan pintu rumahnya. Profesor Shin Dongwoo menyuruh mereka masuk.
“Ada apa?” Tanya Profesor Shin Dongwoo.
“Begini..”
Gongchan menjelaskan masalah dari awal sampai akhir. Dari bagaimana sikap aneh Jinyoung dan cara menghilangnya Minhyun. Jinyoung hanya diam terpaku dan mengamati kata per kata yang keluar dari mulut Gongchan. Sesekali Profesor Shin Dongwoo memperlihatkan ekspresi terkejut dengan air muka yang sedang berfikir keras.
“Semua karena aku meninggalkan Jinyoung sendiri. Maafkan aku prof.” Kata Gongchan dengan wajah yang menunduk.
“Semua ini bukan salahmu. Akulah yang sangat bersalah. Seharusnya aku yang pergi ke Busan dan mengirim teory system operasi robot ini. Tapi, tanggal itu bentrok dengan ulangtahun Minhyun.”
“Minhyun.. Bagaimana dengan acara ulangtahun Minhyun?”
“Jinyounglah yang menggantikan posisimu.”
Jinyoung terbelalak, “Aku?”
“Iya, kau. Kita kan sudah sepakat. Dan entah mengapa malam itu kau mencium dahi Minhyun.”
Gongchan terbelalak, “Jinyoung? Kau—“
“Aku tak ingat sama sekali.”
“Oh iya, aku baru ingat memorymu terhapus.” Kata Gongchan dengan nada merendah dan terdengar marah.
“Jinyoung, mari ke laboraturiumku.” Profesor Shin Dongwoo menarik Jinyoung ke laboratoriumnya.
Sesampainya disana, Profesor Shin Dongwoo memerintahkan Jinyoung untuk tidur dan Gongchan menekan tombol off pada remote yang ia bawa. Dengan lugas, Gongchan kembali menempelkan kabel-kabel panjang yang berujung bulatan pipih ke permukaan kulit kepala Jinyoung. Gongchan berdiri dibelakang professor Shin Dongwoo yang sedang mengutak-atik system operasi memory box Jinyoung. Tak lama kemudian muncul tulisan berwarna merah yang sangat mencolok dari beberapa table yang terpapar di layar computer tersebut.
“Ini memang tak dapat dipercaya—bagaimana bisa?” Profesor Shin Dongwoo membelalakkan matanya dan mengalihkan pandangannya kearah Gongchan.
Gongchan hanya menunduk, “Entahlah. Aku rasa ada yang mengubah system operasi memory box-nya.”
“Tapi…. Siapa?”
Gongchan mengusap matanya, “Aku… aku tidak tahu.”
“Sebenarnya kau ini kenapa sih?”
“Aku?? Aku tidak kenapa-kenapa.”
“Gongchan-ssi, aku sudah lama mengenalmu. Cara kau berbohong itu sangat familiar. Aku dapat mengenal mana yang jujur atau tidak. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri.” Jelas Profesor Shin Dongwoo sambil menepuk pundak Gongchan pelan.
Gongchan mengangkat wajahnya, “Aku tidak—itu apa?” Kini Gongchan yang mengalihkan pandangannya ke layar computer yang sedari tadi menampilkan tab berwarna merah.
“An uknown atom….” Gumam Professor Shin Dongwoo.
Professor Shin Dongwoo kembali mengutak-atik apa yang dipaparkan oleh layar computer tersebut. dengan harapan mengetahui atom yang tidak diketahui itu, Profesor Shin Dongwoo terus mencari dan mencari atom itu. tetapi, tetap saja atom itu tak dapat diketahui.
“Profesor…” Panggil Gongchan.
“Hm?” jawab Profesor Shin Dongwoo masih menatap layar computer tersebut tanpa berkedip.
“Aku rasa… atom itu berada di memory box itu.”
-To Be Continued-
Next Chapter…
“Aku sangat merindukannya,”
“Aku tak pernah—aku tak ingat hal ini.”
“Perlu kubantu?”
“Omong-omong, mengapa kita tidak bertemu dengan temanku saja? Dia juga seorang professor.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar