Title : Robogenoman [Part 2]
Genre : Fantasy romantic
Cast : Shin Minhyun, Jung Jinyoung, Gong Chansik
Support Cast : Member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)
Minhyun POV
Namja itu tersenyum manis kearahku. Ah dia menaikkan suhu tubuhku yang hampir hipotermia. Mata kami saling berpandangan. Lalu Gongchan menghalang pemandangan kami dengan cara menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah kami.
“Ya! Jinyoung-ssi! Minhyun-ssi! Apa yang sedang kalian lihat?!” Protes Gongchan.
“A-aniyo…” Jawabku sambil masih melihat mata namja itu yang sangat waw begitu aku melihatnya.
“Jung Jinyoung imnida,” Katanya sambil membungkukkan badan. “Bangapta.”
Aku hanya bisa membungkukkan badan membalas senyumannya yang dapat membuatku melayang. Gongchan tampak mendengus kesal. Jinyoung terus menatapku. Aku menjadi salah tingkah.
“Ya! Jinyoung-ssi! Ayo kita pulang!” Kata Gongchan dengan wajah cemberut.
“Hei! Kau menghilang dari hadapanku hari ini dan mau menghilang lagi?! Kita baru bertemu, babo.” Ucapku asal.
“Oh ya? Hahaha. Kau rindu kepadaku?”
“Tadi.”
“Yahhh.. kupikir kau masih merindukan diriku.”
Gongchan mengeluarkan ekspresi sedihnya dan aku tergelak menertawakan Gongchan. Jinyoung hanya diam terpaku memperhatikan kedua manusia tersebut tanpa ekspresi.
“Apa yang membuat kau dapat tertawa seperti itu?” Tanya Gongchan dengan air muka bodohnya.
“Hahahaha! Aniyo, Channie! Muka kau tadi sangat lucu!”
“Selucu itu kah?”
“Menurutmu?”
“Aiss, sudah lah lupakan. Ekspresimu ketika melihat Jinyoung lebih aneh!” Gongchan menertawaiku, “Benarkan, Jinyoung-ssi?”
Jinyoung hanya menyunggingkan seulas senyum ‘tak berdosa’ dengan tatapan mata kosong. Ah, dengan tatapan kosong saja dia sudah tampan. Namja ini benar benar sempurna. Seperti manusia pahatan. Gongchan terus tertawa dengan eyes smilenya. Rasanya sudah lama tak melihatnya tertawa lepas seperti ini.
“Hentikan tawaanmu!” ucapku sambil menepuk pundak Gongchan.
“Hahaha! Kau iri kan tidak bisa terpingkal-pingkal seperti ini.”
“Aniyo, babo.”
“Wah, anak professor Shin Dongwoo ternyata pintar mengejek.”
“Sudah lah lupakan. Aku mau pulang. Kalau berlama-lama disini aku hampir hipotermia!”
“Mwooo.. aku juga. Kalau begitu aku pulang dulu ya. Byeee!” Katanya sambil menggandeng Jinyoung. Jinyoung tetap diam meskipun Gongchan sedang tertawa terpingkal-pingkal. Hah dasar si Chansik. Dari dulu hingga sekarang senang tertawa sendiri. Pantas orangtuanya pernah mengecek dia ke dokter jiwa. Very poor Gong Chansik.
Akhirnya aku sampai juga di depan rumah. Ketika memasuki rumah, aku langsung disambut hangat oleh ayahku. Dia hanya menggumam, memberiku nasihat, dan memberitahu beberapa project yang akan ia buat. Aku hanya mengangguk dan mencuri kesempatan untuk menguap. Mendengar cuapan seorang professor itu hampir mirip mendengarkan khotbah panjang lebar. Sebaiknya setelah ini aku tidur.
**
Hari ini adalah hari kesepuluh aku berangkat kesekolah tanpa Gongchan. Apa yang ada dipikiran anak itu? Labil sekali. Kadang pergi lebih awal, dan terkadang pergi lebih lambat dariku. Ah, dia selalu saja begitu. Tak pernah mau beranjak dari sifat kekanakannya. Karena sudah sering ia meninggalkanku, maaf aku ralat, membuatku berangkat ke sekolah sendiri, aku juga sudah terbiasa dengan hal ini. malah menurutku hal ini sedikit memberi pengaruh yang positif. Aku mendapatkan teman baru. Namanya Cha Sunwoo. “Panggil aku Baro saja.” Begitu katanya jika aku memanggilnya dengan nama “Sunwoo-ssi”. Ia sangat lucu, jago ngerapp dan beat box.
Hari ini berbeda. Gongchan tidak masuk. Dan 3 hari yang lalu ia juga tidak masuk. Ada apa ini? mengapa aku tidak mengetahuinya? Kemana Gongchan? Aiss mengapa belakangan ini dia lebih sering menghilang? Apa jangan-jangan ia terobsesi dengan tokoh tokoh misterius yang ia baca? Ah, mana mungkin. Sebaiknya aku ke kelasnya sekarang.
Aku berdiri tepat di depan pintu kelas Gongchan saat ini. memasukkan kepala kedalam kelas lalu mengincar seluruh isinya. Memang benar, Gongchan tak ada. Aku melihat siswi yang sedang menghapus tulisan di papan tulis. Aku memanggilnya.
“Hei!”
Siswi itu berhenti melakukan aktifitasnya. Ia memutarkan kepalanya, mencari dari mana asal sumber suara itu. Dan gotcha! Dia melihat kearahku.
“Ya! Kau! Sini!”
“Wae?” Tanyanya sambil mendekatiku. Sial. Ini kan siswi yang pernah semeja denganku di kantin.
“Kau teman sekelasnya Gong Chansik, kan?”
“Ne. Waeyo?”
“Gongchan sudah berapa hari tidak masuk sekolah?”
Ia tampak berpikir, “Mm, sekitar 4 hari dengan hari ini. Wae?”
“Gwaenchana. Kau tahu dia kemana?”
“Tidak. Tapi, apakah kau yang bernama Minhyun?”
“Ya! Benar itu namaku.”
“Aku menemukan ini dilaci meja Gongchan.” Siswi itu memberi gumpalan kertas yang berisi tulisan tangan asli. Aku membukanya.
To : Minhyun
Kutunggu kau di taman kota. Jam 4 sore.
Aku hanya menaikkan alis. Apa maksud dari surat jelek ini? aku rasa ini bukan Gongchan yang menulisnya. Ya, seingatku tulisan Gongchan itu jelek. Jelek sekali. Dan seingatku, terakhir sekali aku melihatnya menulis tangan saat kelas 5. Ya, memang sudah lama. Semenjak kelas 6, ia sudah mulai menggunakan computer atau laptop. Ia menggunakan teknologi dengan baik. Maka dari itu dia dijadikan asisten ayahku. Jam 4 sore nanti aku harus ke taman. Mana tahu Gongchan akan memberikan alasan mengapa ia menghilang. Bel masuk berbunyi. Aku segera menghilang dari situ.
**
Aku segera bersiap siap untuk ke taman kota. Untung saja taman kota tak jauh dari rumahku. Jadi aku hanya berjalan kaki. Mungkin sekitar 500 meter dari pusat kompleks. Suhu kali ini makin menjadi dari hari kemarin. Mungkin 2x lipat. Aku mengecek thermometer yang tidur nyenyak di saku jubah coklatku. -2° C. Pantas saja dingin. Aku mengeratkan syalku.
Aku orang yang tepat waktu. Benar. 5 menit sebelum waktu yang ditentukan, aku sudah duduk manis di salah satu bangku kayu taman ini. Tapi tidak sama halnya dengan Gongchan.
20 menit … sudah 20 menit aku menunggunya disini. seperti orang bodoh yang dibodoh-bodohi oleh keledai. Sungguh hina. Demi Gongchan, aku akan tetap menuggu lagi.
1 jam .. oke, aku masih ada kesabaran untuk menunggunya.
2 jam ..
Sudah lebih dari 2 jam aku menunggu seorang Gong Chansik, seorang yang punya keterbelakangan jiwa. Seharusnya aku sudah tahu bahwa dia itu gila. Tapi aku malah berpikir sebaliknya. Tapi aku ingin mendengar penjelasannya mengapa ia menghilang akhir-akhir ini. Gongchan membuat hidupku menjadi gila dan labil. Ah.
Langit menggelap. Selain efek malam akan tiba, tampaknya sebentar lagi akan turun hujan. Langit mendung menjadi raksasa dan siap membanjiri siapa saja yang berani melawannya. Baru saja aku hendak melawannya, Hujan turun dengan deras tanpa ampun. Aku langsung berlari mencari tempat berteduh. Tetapi nasib berkata lain. Di daerah taman menuju pusat kompleks rumah aku tidak ada tempat berteduh. Hanya ada jalan raya dan rumah-rumah besar berpagar tinggi menjulang.
Aku tak punya pilihan lain selain menutupi kepalaku dengan jubah dan terus berjalan sampai di rumah. Semua ini gara-gara Gongchan. Kalau besok aku sampai tidak sekolah, akan kusalahkan si Chansik gila itu. Tapi tiba-tiba aku merasa hujan tidak lagi mebasahi tubuhku. Ada yang meneduhi. Syukurlah. Aku mulai menurunkan jubahku. Memang benar. Ada payung diatas kepalaku. Aku menoleh kebelakangku.
“Ya! Jinyoung-ssi! Kau membuatku kaget!” kataku sambil menepuk pundak Jinyoung.
“Hahaha. Aku iba melihatmu jalan sendirian di tengah hujan deras seperti ini.”
Langit bergemuruh seakan tak senang melihat kedaanku sekarang. Sial. Aku kembali mengeratkan jubahku. Tiba-tiba klakson mobil di belakang kami berbunyi keras dan panjang. Cukup membuatku dan Jinyoung terkejut dan menarik satu sama lain. Tidak, Jinyoung yang menarikku mendekat kepadanya. Tangan kanannya melingkari pinggangku. Sedangkan tangan kirinya masih memegang payung.
Mata kami beradu. Hidung kami hanya berjarak tidak lebih dari 5 cm. Kami tak bernapas. Lalu ia menyunggingkan seulas senyum ‘tak berdosa’ miliknya. Wajahku memanas. Darah lebih banyak mengalir ke daerah pipiku.
“Berhati-hatilah. Kau tak akan tahu lanjutan kehidupanmu seperti apa.” Katanya sambil terus menatapku lekat. Kalau aku coklat, saat ini juga aku akan meleleh. Ia mengendurkan tangannya yang melingkari pinggangku. Aku mundur satu langkah.
“Gomawo, Jinyoung-ssi.” Kataku sambil menunduk.
Tak lama kemudian kami sampai tepat berada di depan pintu rumahku. Sekali lagi aku berterimakasih-ria kepada Jinyoung dan ia hanya membalas dengan senyumannya yang sangat waw. Ketika aku membuka pintu…
“Kau pulang dengan siapa, Minhyun-ssi?” Tanya ayahku sambil berkacak pinggang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar