Sabtu, 25 Februari 2012

Senja Kelabu

Senja saat itu seperti senja biasanya. Aku selalu sendiri. Hanya tongkat besi ini yang menemaniku. Tapi dugaanku salah. Ada yang membunyikan bel sepedanya. Bel sepeda yang sangat unik dan gampang diingat. Orang itu terus membunyikan belnya dan berhenti ketika mulutku terbuka dan mulai berbicara.
            “Siapa?” Tanyaku.
            Bel itu tak berbunyi lagi.
            “Aku memang buta, tolong jangan permainkan aku.” Aku kembali bersahut.
            Kudengar suara hembusan nafas dari sebelah kiriku. Bangku taman ini bergerak. Sepertinya seseorang telah duduk disebelahku.
            “Siapa kau?” Tanyaku kembali.
            Orang itu tetap tak menjawab. Aku bingung hendak bagaimana.
            “Baiklah kalau kau tak mau menjawab.” Ujarku kembali.
            Hening. Semilir angin berhembus ketika langit senja menyelimuti itu sangat dingin dan nyaman. Aku memang buta. Aku memang tak dapat melihat indahnya langit senja. Tapi aku bisa merasakannya. Merasakan indahnya langit senja. Ibuku sering bercerita tentang langit senja yang berwarna oranye keemasan. Pasti indah. Tapi dalam kenyataan, aku hanya dapat merasakan tanpa melihat. Ya, itu memang aneh. Tapi intuisiku dapat merasakan keindahannya.
            “Kau pasti dapat melihat langit senja itu ya?” Tanyaku kembali.
            Hanya terdengar tarikan nafas yang panjang dan juga hembusan nafas itu.
            “Beritahu aku betapa indahnya langit senja itu.”
            Tak ada jawaban lagi.
            “Kau pelit berkata-kata ya?”
            Hanya ada bunyi gesekan bangku. Tiba-tiba aku dapat merasakan orang itu bangkit dari posisinya. Dan dengan tiba-tiba juga, orang itu menggenggam pergelangan tanganku dan menyentuh telapak tanganku. Jarinya menari indah di telapak tanganku. Apa maksudnya? Sepertinya ia menuliskan sesuatu ditanganku. Aku mencoba menerka apa maksudnya.
            “Rio?” Ucapku dengan nada tak meyakinkan.
            Setelah mendengar aku mengucapkan sesuatu, ia melepaskan pergelangan tanganku dari genggamannya. Aku mendengar derap langkah sepatu yang menjauh dan akhirnya tak terdengar. Setelah itu terdengar kembali bunyi bel sepeda yang tadi kudengar. Dan lama-kelamaan pun suara bel itu memudar dan meninggalkanku sendiri bersama senja.
J
            9 Februari 2010

            Senja kali ini agak terasa panas. Orang-orang mengatakan sekarang mulai memasuki musim angin timur, akan ada kemarau artinya. Beberapa kali aku harus menyeka bulir-bulir keringat yang ada disekitar wajahku. Dibalik suhu yang memanas, aku bisa menghirup sejuknya udara terselip. Bel sepeda itu kembali berbunyi.
            “Rio?” Aku memanggil sang pemilik bel sepeda itu.
            Ya, Rio adalah orang yang duduk disebelahku ketika senja itu. Senjalah yang mempertemukan kami. Tapi entah mengapa, ia pelit sekali berbicara. Sejak pertama senja mempertemukan kami, ia hanya memberitahukan namanya saja. Ketika aku bertanya kepadanya, selalu saja ia menjawab dengan tarikan nafas dan hembusannya. Tapi, dibalik itu semua aku yakin Rio bukan orang jahat. Dan aku yakin seratus persen dia adalah orang yang baik. Buktinya dia mau menemaniku menikmati senja. Ya, walaupun tanpa berbicara. Dan Rio mulai duduk disebelahku. Ia menarik nafasnya panjang-panjang.
            “Hai..” Sapaku.
            Ia tak menjawab. Tapi ia memegang punggung tanganku. Aku rasa bukan refleks, ia cukup lama memegang tanganku. Aku seperti orang mengidap penyakit jantung koroner, hatiku berdebar sangat kencang. Aku berusaha menutupinya agar ia tak mendengar suara degupan jantungku.
            “Oh ya, kau tahu? Februari ini terkenal dengan warna pink.”
            Ia melepaskan tangannya. Aku merasa sedikit sedih. Aku mendengar suara gerak-gerik disebelahku. Rio mencari posisi nyaman untuk duduk.
            “Aku tak begitu menyukai warna pink. Tapi bila dihubungkan dengan suatu hal, aku menjadi gila dengan warna pink itu.”
            Dan seperti biasa, yang aku dengar hanyalah suara hembusan nafas yang panjang. Dan disaat seperti ini aku mulai membacotria sesuka hatiku. Kalau dipikir-pikir aku mengobrol sendiri dengan ego yang sangat tinggi. Ya, aku mengobrol sendiri. Karena aku tak tahu Rio sedang mendengarkanku atau tidak. Mungkin ia terlelap ketika mendengar ceritaku. Aku seperti ibu yang mendongeng kepada anak yang berumur dua tahun.
            “Kau tahu tanggal 14 Februari kan?” Tanyaku kepadanya.
            Lagi-lagi ia mengeluarkan suara hembusan nafas yang cukup panjang.
            “Yeah, 14 Februari identik dengan hari kasih sayang. Aku terkadang bingung. Apakah kasih sayang perlu dikhususkan pada hari itu? Bukankah kita umat manusia memang harus memiliki kasih sayang disetiap saat?” Tanyaku bertubi-tubi.
            Ada sesuatu yang bergetar di bangku kami. Rio mulai mengatur posisinya lagi.
            “Dan mengapa harus di hari itu? Memangnya Romeo menyatakan cinta pada Juliet pada tanggal itu? Lalu manusia lainnya mengikuti kisah mereka? Eits, dasar bodoh. Romeo dan Juliet itu kan hanya tokoh dari karangan sastrawan Inggris terkenal. Hahaha.” Aku terkekeh pelan.
            Aku bisa merasakan bangku ini menjadi ringan dengan bangkitnya Rio dari posisi awalnya. Rio berdiri. Dan hawa dingin pun menusuk dada. Intuisiku berkata ada yang tidak beres. Aku mulai mendengar derap sepatu yang bergerak. Aku mencoba meraih tangan Rio.
            “Kau mau pergi?” Tanyaku.
            Hening. Jika ia pergi, aku akan merasa sangat sedih. Padahal aku masih ingin bersamanya. Berbagi cerita—atau bahkan bercerita sendiri melakukan monolog tanpa memperhatikannya. Aku memang egois. Ia menggerakkan tangannya berusaha agar aku dapat merenggangkan genggamanku. Aku merenggangkan sedikit genggamanku.
            “Aku bukan melarangmu untuk pergi—tapi, temani aku sebentar saja. Aku merasa—kesepian. Maaf. Aku tak bermaksud, tapi aku ingin bersamamu.” Kataku dengan tersendat-sendat.
            Dan aku melepas genggamanku dari tangannya yang dingin. Hening. Lalu aku mendengar derap langkah menjauhiku. Dan aku rasa Rio yang berjalan menjauhiku. Dan tak biasa aku mendengarkan suara frontal dari sepeda. Aku mendengar orang menaiki sepeda dengan tergesa-gesa dan membunyikan belnya. Itu sudah pasti Rio. Aku menunduk lemas. Aku memang ditakdirkan hidup sendiri. Tak ada yang mau hidup bersamaku—bahkan keluargaku sendiri. Aku merasa tidak adil. Mengapa disaat seperti ini orang-orang merayakan hari kasih sayang tanpa melihat aku? Melihat aku, gadis buta yang tak memiliki siapa pun. Mereka hanya memberi kasih sayang kepada orang yang bagiku sudah merasa cukup untuk diberi kasih sayang. Bagaimana dengan aku?
            Beberapa menit kemudian aku mendengar suara jeritan keras disertai suara klakson yang hampir membuat orang mati hidup lagi. Sangat keras. Dan selang suara itu, aku mendengar suara benturan yang sangat keras. Keras sekali sampai aku bisa mendengar sampai detilnya. Aku terkejut. Aku bisa merasakan orang berlari kearah jalan raya.
J
            14 Februari 2010
            Sudah empat lembar senja kulewati tanpa Rio. Ya, aku seperti sediakala. Pendiam dan kesepian. Aku dapat merasakan hawa kasih sayang di senja kali ini. Aku merasakan hanya seorang diri. Dan hari ini pun sudah kulalui sendiri. Sepertinya hari ini menjadi lembar kelima aku merasakan senja tanpa ‘Rio’. Tetapi..
            Kring.. Kring.. Suara bel itu. Ya, aku mengenalnya. Itu suara bel Rio. Akhirnya ia datang juga setelah menghilang beberapa saat.
            “Jia?” Seorang lelaki memanggil namaku. Aku harap itu Rio. Rio yang selama ini kukenal pelit mengeluarkan suara.
            “Ya?”
            Aku dapat mendengar decitan kaki bangku ini yang berseteru dengan bumi.
            “Jadi kau yang bernama Jia?”
            “Iya. Kau Rio kan? Kau lupa denganku?”
            “Tidak. Aku bukan Rio. Rio itu adikku.”
            “Tapi yang sering bersamaku itu Rio kan? Aku memang buta, tolong jangan permainkan aku.”
            Ia terkekeh pelan, “Mana mungkin aku bisa berbohong di depan gadis manis sepertimu? Pantas saja adikku sering keluar di saat senja akhir-akhir ini.”
            “Lantas, apa maksudmu datang kemari?” Tanyaku ketus.
            Hening. Aku dapat merasakan hawa yang tak begitu enak. Dingin menusuk. Lelaki itu menarik napasnya lalu mulai membuka mulut.
            “Ini, ada titipan surat dari Rio,” Katanya sembari memegang pergelangan tanganku untuk memberikan isyarat bahwa aku harus mengambil suratnya, “Ia membuatnya dengan alat bantu sehingga surat itu disertai huruf timbul.”
            Kegelisahanku terhapus. Aku mulai meraba-raba surat itu dan menyobek salah satu sisi amplop yang menyelimuti surat tersebut.
            “Tabahlah.” Kata lelaki itu sembari mengusap punggung tanganku. Sama seperti Rio, dia pernah memegang punggung tanganku. Disaat ingat sesuatu hal tentangnya, sebuah perasaan kecil tiba-tiba mencuat seluruh dinding hatiku. Hatiku menjadi terasa sakit mengingat hal itu. Aku mulai mengambil sebuah kertas yang dilapisi oleh kertas amplop. Aku mulai merabanya.
            Untuk Jia.
            Jia, maafkan aku. Maafkan aku tak pernah membalas sedikitpun ocehanmu. Maaf. Aku memang egois. Jia, maafkan aku. Seharusnya aku berada disebelahmu saat ini. Memberimu kasih sayang. Jia, maafkan aku yang tak pernah memberitahukanmu tentang keberadaanku. Maaf karena aku bisu. Jia, aku ingin menebus semua kesalahanku. Tapi aku tak tahu bagaimana. Sekali lagi, Jia, tolong maafkan aku yang  mencintaimu dan pergi tanpa kembali.
            Aku menyempatkan membuat coretan kata ditengah keadaanku yang semakin memburuk. Tuhan merubah rencanaku. Ini takdir. Seharusnya aku memang benar-benar menemanimu saat itu, tapi aku pergi. Aku bukan bermaksud meninggalkanmu, tapi aku ingin mengecek kesehatanku yang akhir-akhir ini menurun. Dan ketika takdir itu pun datang, aku hanya bisa pasrah. Aku tahu, ini akan berujung pada nyawa. Sebuah truk menghantamku. Aku benar-benar menyesal. Setelah kejadian itu kesehatanku semakin menurun. Andai saja waktu masih bisa berputar kembali. Mungkin saat ini aku akan duduk seperti biasanya mendengarkan kau mengoceh sesuka hati. Aku menyukai itu. Tapi aku tak bisa membalasnya. Dan sekarang Tuhan telah menyerukan kepada malaikatnya untuk menjemputku. Aku tak dapat berkata apa-apa. Hanya satu yang ingin kukatakan langsung kepadamu, bahwa aku mencintaimu. Selamanya.
            Refleks aku membuang surat itu. Surat macam apa itu?! Mana mungkin Rio telah tiada?! Rio pasti masih ada! Perlahan air mataku berjatuhan. Kantung mataku yang besar sudah tak mampu untuk membendung semua air yang menggenangi pelupuk mataku. Lelaki disebelahku hanya bisa berkata “Tabah” atau “Terima kenyataan” lalu menepuk pundakku.
            “Rio, aku juga mencintaimu.” Ucapku disela tangisan.
            Ya, aku rasa bukan hanya lima lembaran menjadi senja kelabu. Tapi selamanya.



10 cerita cinta terbaik lomba menulis cerita cinta mercy fm
(Kurnia Desmilestari) 

1 komentar: