Jumat, 17 Februari 2012

Robogenoman [Part 3]







Title : Robogenoman [part 3]
Author : Minnia
Genre : Fantasy romantic
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong Chansik, Jung Jinyoung
Support Cast : Member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)

Minhyun POV

            Aku hanya menaikkan alis melihat ayahku berkelakuan seperti itu. Aku bingung. Air mukanya tidak jelas menggambarkan apa. Senang, sedih, atau bahkan marah. Hanya datar saja. Aku melepas bootku dan kupinggirkan. Ayahku masih berkacak pinggang-ria. Aku menunduk.
            “Minhyun-ah..” panggil ayahku. Aku mendongak.
            “Ne, appa?”
            Ayahku mengacak rambutku yang basah. Ia tersenyum, “Kau sudah besar ternyata.”
            Aku terhenyak, “Umurku sudah 16 tahun, appa. Jangan menganggapku kecil terus.”
            Ia tersenyum lagi, “Yang tadi itu Namja-chingu mu?”
            “He? Aniyo! Aku tak punya namja-chingu.”
            “Jika punya juga tak apa. Kau kan sudah besar,” Ia membenarkan kacamatanya, “ganti bajumu. Appa sudah buatkan coklat panas.”
            Aku hanya mengangguk antusias.
            Setelah mengganti baju, aku langsung ke ruang keluarga untuk menikmati coklat panas special buatan ayahku. Nikmat sekali rasanya. Hening. Kami larut dalam pikiran dan secangkir coklat panas. Sesekali ayahku bergerak membenarkan kacamata bulatnya, dan terkadang ia menoleh ke jendela disebelahnya untuk melihat rintikan hujan.
            “Disaat seperti ini, aku merindukan ibumu.”
            Hening. Aku tak berbicara. Aku memberikan kesempatan kepada ayahku  bercerita panjang lebar.
            “Kau mirip sekali dengan ibumu. Aku ingat pertama kali bertemu dengannya. Waktu itu hujan. Seorang yeoja menunggu ditaman kota. Ia basah kuyup, tetapi ia tetap berada diposisi semulanya,” ia membenarkan nafasnya yang terasa sesak, “Aku berjalan melewati taman itu. Aku iba terhadapnya. Lalu kupayungi dia dari belakang.”
            Hening, “lalu dia menoleh kearahku. Dan tersenyum. Senyumnya sangat manis. Lalu aku bertanya untuk apa ia berhujan-hujan-ria ditaman. Ternyata ia menunggu temannya. Tetapi temannya tak kunjung datang. Akhirnya aku mengantarnya pulang sampai kerumah. Dari saat itu aku mulai dekat dengan dia. Disaat kami tumbuh menjadi dewasa, benih cinta itu tidak hilang sampai kau lahir.”
            Aku menelan ludah. Mendengar cerita ayahku, aku jadi ingin menangis. Aku tak pernah melihat ibuku. Ia meninggal saat melahirkanku. Ayah menepuk-nepuk pundakku pelan.
            “Jika kau menyukainya, katakan saja.” Sambung ayahku.
            “He? Apa? Apa maksudnya?”
            “Ani. Lupakan. Cepat habiskan coklatmu. Nanti jadi dingin.”
            Aku meneguk habis coklat itu.

J

            Aku berjalan menuju halte. Suhu hari ini tidak seburuk kemarin tapi masih terasa dingin. Aku berjalan sendirian. Aku larut dalam pemikiranku. Kemana perginya Gongchan? Ia memberiku surat tapi tak datang. Baru kali ini ia mengingkari janji. Aku jadi bingung. Apa yang harus kulakukan?
            “Annyeonghaseyo.” Sapa seorang namja disebelahku. Sontak aku menoleh kearahnya.
            “Kau selalu membuatku kaget, Jinyoung-ssi.”
            “Hahaha,” tawanya renyah, “Ya, karena aku misterius.” Katanya sambil menyunggingkan senyuman yang membuatku meleleh.
            “Jinyoung-ssi, apakah kau tau Gongchan pergi kemana?”
            “Kau menyukainya?”
            “Aiss, jawab pertanyaanku.”
            “Molla.” Katanya sambil mengendikkan bahunya, “Sekarang jawab pertanyaanku.”
            “He? Pertanyaan apa?”
            “Kau menyukainya kan?” ulangnya kembali.
            Pipiku memerah, “Aku tidak tahu. Tapi belakangan ini aku merasa kehilangan dirinya.”
            Ia tertawa lagi, “Bagaimana rasanya kehilangan?”
            “Sakit sekali.”
            “Ya, aku tau. Semua manusia itu tak menyukai kehilangan.” Ia menyunggingkan senyum asimetris.
            Kami sampai di halte tepat bus berhenti. Aku dan Jinyoung mengambil tempat tidak jauh dari pintu keluar. Sesaat kemudian Baro masuk. Ia terperangah melihatku duduk berdua dengan Jinyoung.
            “K.. Kau?” Katanya sambil menunjuk Jinyoung.
            Jinyoung hanya diam. Memberikan jawaban dari ekspresi datarnya. Baro duduk di belakang kami. Aku menjadi bingung melihat kelakuan orang-orang yang berada di sekitarku.
            Hari ini aku harus mengetahui kemana perginya Gongchan. Aku akan ke kantor administrator sekolah saat istirahat. Dan waktu yang kutunggu pun telah tiba.
            “Annyeonghaseyo.” Sapaku ketika pintu ruangan itu dibuka.
            “Mm, Ada perlu apa?” Tanya seorang wanita paruh baya. Aku rasa ini kepala administrator yang baru. Aku membaca papan yang tertera di mejanya. Kim Jaemin.
            “Jaemin seongsaengnim, apakah kau tahu Gong Chansik izin kemana?”
            “Gong Chansik? Tunggu aku cek dulu,” Ia beralih ke layar komputernya. Tak susah mendapatkan nama Gongchan ternyata, “Ia izin keluar kota.”
            “He? Kamsahamnida, seongsaengnim.”
            Ia hanya mengangguk. Aku lalu keluar dari ruangan itu.

J

            Cuaca malam ini tak terlalu buruk. Sangat disayangkan kalau aku tidak tidur malam ini. Aku sedang terbang diambang awan mimpi. Sesekali aku menaikkan selimut sampai ke leherku. Seseorang mengetuk pintu kamarku ditengah malam seperti ini. aku melihat jam. Jam 12 malam. Aku segera bangun dan membuka pintu kamarku.
            “Hoamm… Ada ap..” Kataku terbata-bata lalu dipotong dengan kalimat mengejutkan.
            “Saengil Chukkahamnida!” bisik seorang namja dihadapanku. Dia bukan ayahku. Lalu dia siapa? Aku mengucek-ucek mataku.
            “Ya! Jung Jinyoung-ssi! Kau sangat misterius dan menyebalkan!”
            Ia tertawa.
            “Sudahlah. Aku ingin tidur.”
            “Minhyun-ssi, tiup dulu lilinnya.”
            Aku memutar bola mata. Aku menarik napas dan siap untuk menghembusnya.
            “Eitss.. tunggu, ucapkan permohonanmu dulu.”
            Aku kembali memejamkan mata dan sedikit membungkuk menghadap kue tart itu. 1.. 2.. 3.. aku meniup angka 17 yang bertengger di kue itu. Keningku agak dingin. Jinyoung mencium keningku. Bibirnya sangat dingin. Ada apa ini?! lama sekali ia mencium keningku.
            “Hei! Atas izin apa kau seenaknya menciumi keningku?!” kataku setengah berteriak.
            “Hei, pelankan suaramu. Ayahmu sudah menyetujui ini semua.”
            Aku membalikkan badan lalu menutup pintu dengan sekeras-kerasnya. Aku merasa kesal.
            “Mianhae, Jinyoung-ssi! Aku ingin tidur! mumpung esok adalah hari minggu aku ingin tidur sepuasnya! Dan besok aku harus mengunjungi makam ibuku!” Kataku. Kali ini aku benar benar berteriak.
            Aku terbang ke pulau mimpi. Membayangkan bagaimana Jinyoung menciumku tadi. ini sungguh tak dapat dipercaya. Tetapi Jinyoung lebih baik dari Gongchan. Selama aku berteman dengannya, ia tak pernah seperhatian itu terhadapku. Aku menjadi bingung.

J

            “Minhyun! Cepat!” ayahku berteriak dari garasi mobil. Aku segera memakai jubahku.
            Hari ini, tepat hari dimana aku berulangtahun, aku akan berziarah ke makam ibuku. Ya, ini ritual ulangtahunku. Aku sangat senang. Selain dapat berjumpa dengan ‘ibu’, aku juga bisa membeli bunga segar sebanyak-banyaknya.
            Sepanjang perjalanan aku hanya melamun membayangkan betapa tuanya aku. Sekarang aku sudah 17 tahun. Artinya aku sudah mulai dewasa. Aku akan bersikap dewasa mulai hari ini. dan betapa sedihnya aku mengingat bahwa Gongchan tak mengirimkan ucapan kepadaku. Ponselnya tak aktif setelah ia menghilang. Aku benar-benar sedih. Seharusnya sekarang ia bersamaku, bersamaku untuk mengunjungi makam ibuku. Tapi sekarang tidak.
            “Minhyun-ah..” panggil ayahku.
            “Ne?”
            “Mengapa kau murung begitu? Apakah surprise tadi malam dari namja-chingumu tidak sukses?”
            Aku membelalakkan mata. “Aniyo, appa. Sudah kubilang, dia bukan namja-chinguku. Kami hanya berteman.”
            “Jangan pernah berbohong. Ketika dia mencium keningmu, wajahmu sangat merah. Kau pasti menyukainya kan. Begitu juga sebaliknya.”
            Kali ini memang benar, wajahku memerah, “Tidak. Aku tidak menyukainya. Aku hanya…” aku memikirkan alasan, “Aku hanya menyukai seseorang. Tapi bukan dia.”
            “Lalu siapa?”
            “Appa, kita sudah sampai di makam ibu. Ayo keluar.” Aku langsung keluar dari mobil dan membawa karangan bunga dan sebuket mawar merah segar. Ayahku mengikutiku dari belakang.
            Aku meletakkan bunga-bunga itu berdampingan dengan nisan ibuku. Aku menyentuhnya. Sepertinya sudah beberapa hari makam ini tidak dibersihkan. Aku memungut daun-daun kering yang berserakan ditempat peristirahatan ibuku. Ayahku juga membantu membersihkannya. Hening. Aku memejamkan mata. Berdoa mencari yang terbaik untuk ibuku.
            “Tuhan, jaga ibuku baik baik disana. Jangan sampai dia sakit, Tuhan. Terimakasih sudah menjaga ibuku.”
            Aku membuka mataku perlahan. Lalu kuusap kembali nisan makam ibuku.
            “Amma, sekarang aku sudah 17 tahun. Aku sudah besar.”
            “Dan sudah mempunyai namja-chingu.” Sambung ayahku.
            “Aniya, Appa! Aiss. Jangan percaya apa kata appa, ma! Aku tak punya namja-chingu.”
            Ayahku melihat kesebelahku, lalu tersenyum. “Tidak dianggap itu memang menyakitkan.”
            Aku menoleh, “He?! Kau datang dari mana, Jinyoung-ssi?!”
            Dia hanya tersenyum. Lalu Jinyoung menarikku, “He?! Mau kemana?!”
            Kami berhenti tak jauh dari makam ibuku. Kami berhenti tepat di bangku taman makam ini. ia duduk. Aku hanya melongo melihatnya.
            “Mukamu aneh sekali, Minhyun-ssi.”
            “Sejak kapan kau disini?”
            “Sejak tadi.”
            “Tau dari mana aku akan kesini?”
            “Sepertinya kau terkena amnesia. Tadi malam kau yang mengatakannya kepadaku.” Katanya sambil mengacak-acak rambutnya. Itu sangat keren. “Ayo duduk.”
            Aku duduk disebelahnya. Pandangan dari sini tepat mengarah kepada ayahku yang sedang bernostalgia. Suaranya terdengar sayup-sayup.
            “Kau tau, anak kita sudah besar. Aku berencana akan memberi hadiah yang terbilang sangat besar. Mungkin setelah aku memenangkan kompetisi itu. hasil kerjaku akan kuberikan pada Minhyun.”
            Aku mengernyitkan dahi. Tiba-tiba tanganku sangat dingin. Ada yang menyentuhku. Aku menoleh. Jinyoung menyentuh tanganku tanpa memandang kearahku. Ia melihat ke langit.
            “Jinyoung-ah..”
            Ia menoleh, “Apa, chagi?”
            “Mwo?! Apa yang kau katakan?”
            “Kau sendiri memanggilku Jinyoung-ah bukan Jinyoung-ssi.”
            Aku menelan ludah. Ia menggenggam tanganku lebih erat.
            “Beberapa hari ini kau tampak muram.” Katanya sambil memandangku.
            “Jangan memandangku seperti itu.” Ia mengalihkan pandangannya, “Aku kehilangan seseorang. Yang kusayangi tentunya.”
            “Pasti Gongchan.”
            Aku tak menjawab. Aku hanya memandang langit teduh diatas.
            “Biasanya disaat aku berulangtahun, dia yang mengucapkan paling awal. Dia selalu ikut aku mengunjungi makam ibuku. Tapi semenjak ia pergi, ia tak ada menghubungiku lagi. Bahkan ia tak mengirimiku ucapan.”
            “Pergi kemana dia?”
            “Entah, sepertinya ke Busan. Untuk menemui orangtuanya.”
            “Kau tidak bertanya kepada administrator sekolah?”
            “Ia hanya mengatakan bahwa Gongchan izin keluar kota.”
            Kini Jinyoung lebih erat menggenggam tanganku. Ia memandangku dengan tatapan ‘tak berdosa’-nya. Aku membalas tatapannya lalu tersenyum. tatapan kami bertaut sangat lama. Kemudian air mataku jatuh dari markasnya.
            “Kau mengapa menangis?” tanyanya sambil menghapus air mataku.
            Aku terus mengeluarkan air mataku. Aku tak tahu mengapa aku menangis. Ia mendekapku ke pelukannya. Sekarang aku menangis sejadi-jadinya. Memukul-mukul bahu Jinyoung.
            “Luapkan semua kesedihanmu. Bahuku siap menerimanya.”
            Aku semakin terisak, dan tiba-tiba tertahan. Aku bangkit dari posisi awalku. Tangan kanannya memegang pipiku. Sedangkan tangan kirinya menggenggam tanganku. Aku meringis.
            “Jinyoung-ah..” Kataku disela isakan tangis, “Untuk apa kau melakukan ini semua kepadaku?”
            Ia tersenyum. lalu mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Ia tersenyum. “Karena aku menyukaimu.” Ia makin mendekatkan wajahnya. Dan mengecup bibirku. Aku tenggelam dalam naskah drama buatan Tuhan. Aku menutup mataku. Aku rasa ada seseorang yang melihat kejadian ini. Tangan kiriku sedikit sakit, mungkin efek dari genggaman Jinyoung yang terlalu kuat. Aku hendak bangkit dari posisi ini. Tapi entah mengapa tak bisa. Badanku makin lama makin lemas. Lemas dan lemas, sampai akhirnya aku tak sadarkan diri.

-To Be Continued-

Next Chapter

  “Ada apa dengan Minhyun?”

“Tadi mereka..” 


“Kau sahabat Minhyun?” 

“Aku serius, Chansik-ssi!”  

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar