Title: Robogenoman [part 4]
Author : Minnia
Genre : Romatic Fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong Chansik, Jung Jinyoung
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)
Author’s POV
Baro berlari menuju mobil sedan yang terparkir tak jauh dari makam. Ia terus berlari. Sesekali ia membenarkan nafasnya. Sebuah mobil jeep hitam mendahuluinya. Ia terhenti begitu melihat seseorang keluar dari mobil sedan itu. Ya, itu Profesor Shin Dongwoo. Baro mempercepat langkahnya. Profesor Shin Dongwoo melihat aneh kearah Baro. Baro membungkuk dan membenarkan nafasnya yang terengah-engah. Ia bangkit.
“Ahjussi…” Panggil Baro.
“Ne?” Profesor Shin Dongwoo mengerutkan alisnya.
“Minhyun..”
“Ada apa dengan Minhyun?”
“Minhyun pingsan di taman makam.”
Profesor Shin Dongwoo membelalakkan matanya lalu berlari kearah makam. Baro mengikutinya. Mereka sampai di taman makam lalu memerhatikan sudutnya baik-baik. Bangku. Ya, bangku itu. Profesor Shin Dongwoo berlari kearah bangku itu. Ia membelalakkan matanya.
“Tadi mereka..” Kata Baro terputus ia tak percaya apa yang ia lihat.
Jinyoung dan Minhyun tak ada disitu. Baro tampak gelisah. Tapi air muka Profesor Shin Dongwoo tampak biasa saja. Datar. Profesor Shin Dongwoo menepuk pundak Baro.
“Sepertinya namja tadi mengantarkan Minhyun pulang.” Kata Profesor Shin Dongwoo.
“He? Tau darimana?”
“Aku mengenalnya,” Profesor Shin Dongwoo membenarkan kacamatanya, “Kau mengenal Minhyun?”
“Ya.”
“Siapa namamu?”
“Baro.”
J
Pukul 09.00 malam KST.
Gongchan mengetuk pintu rumahnya. Sepertinya tak ada yang mendengar. Ia membuka hendel pintu rumahnya itu. Pintu itu dikunci. Gongchan mendengus kesal dan merogoh tasnya. Ia mengambil kunci duplikat rumahnya. Ia membuka pintu tersebut. Suasana rumahnya saat ini gelap. Ia masuk ke ruang keluarga. Ia melihat seseorang duduk termangu menghadap jendela di ruang keluarganya itu.
“Hei. Beristirahatlah.” Kata Gongchan lalu menekan tombol off sebuah remote.
Ia masuk ke kamarnya. Ia sangat lelah hari ini. Ia meletakkan tasnya di samping tempat tidurnya. Ia melihat kearah meja belajarnya. Ponsel berwarna silver mengkilap tergeletak disana. Ia mengambilnya lalu sedikit membersihkan debu yang menempel pada ponsel tersebut. Ia mengaktifkan ponsel itu.
“Pasti selama aku menghilang, Minhyun sangat merindukanku. Kekeke.” Ia mengecek ponsel itu.
Ponsel itu sudah tidak aktif selama lima hari. Mana mungkin pesan singkat bisa deliver selama itu. Pasti ponsel itu tak dapat menerima pesan singkat lima hari yang lalu. Lalu sebuah peringatan dari ponsel itu keluar. Minhyun’s Birthday. Gongchan menepuk jidatnya. Ia langsung mencari kontak dan mencari nomor seseorang. Ia meneleponnya.
“Tidak aktif. Sialan. Bagaimana aku bisa lupa hari ulangtahun Minhyun?! Ah aku ini bodoh sekali!” Kata Gongchan sambil membanting-banting bantal gulingnya. Setelah lelah memarahi diri sendiri, ia merebahkan diri diatas tempat tidurnya.
“Baiklah, besok aku akan menemui Minhyun. Semoga dia tidak marah.
J
Gongchan melewati lorong sekolah yang dindingnya penuh dengan mading. Ia menatapi carik percarik kertas yang ditempel disitu. Ia menatapi secarik kertas yang tak begitu menarik tetapi menarik baginya.
“Nobel pembuatan robot inovasi terbaru,” ia menggumam, “Aku harap aku bisa memenangkannya. Teori system operasi telah dikirim. Semoga aku dan Profesor Shin Dongwoo dapat memenangkan ini. Lusa nanti robot itu akan dipamerkan.”
Gongchan kembali berjalan. Kali ini ia hendak ke kelas Minhyun. Tapi seseorang melihatnya dalam-dalam. Membuat Gongchan merasa risih dan aneh.
“Kau Gong Chansik??” Tanya seseorang itu.
“Ya. Kau siapa? Mengapa dari tadi melihatku seperti itu?”
“Ah, Mianhae. Aku Baro.”
Mereka berjabat tangan.
“Kau sahabat Minhyun?” Tanya Baro.
“Ya. Aku baru saja mau ke kelasnya.”
“Percuma. Aku baru dari kelasnya.”
“Untuk apa kau ke kelasnya?” Tanya Gongchan dengan nada sinis, “Jangan-jangan, apa kau namja-chingunya? Omo! Aku tidak setuju!”
Baro membulatkan bibirnya, “Aniya! Aku bukan namja-chingunya! Minhyun tidak ada.”
“Tidak ada apa?”
“Minhyun tidak masuk sekolah setelah menghilang.”
“Menghilang? Apa maksudmu?”
“Kemarin dia menangis, lalu seorang namja menciumnya,”
“Apa?! Menciumnya?! Siapa dia?! Berani-beraninya dia mencium Minhyun-ku!”
“Dengarkan ceritaku dulu. Aku tak tau namja itu siapa. Aku sering bertemu dengannya. Dia tampak aneh dan tak memiliki teman. Setelah namja itu menciumnya, Minhyun langsung pingsan.”
“Minhyun babo! Baru dicium sama namja autis itu saja sudah dapat membuatnya pingsan apalagi aku yang menciumnya. Hahahaha.”
Baro hanya memandangnya aneh. Tadi saja Gongchan marah, sekarang malah tertawa. Baro menggeleng-gelengkan kepalanya. Gongchan berhenti tertawa, ia merasa ada yang janggal.
“Kau tau darimana?” Tanya Gongchan.
“Kemarin aku ingin mengunjungi makam nenekku. Ketika melihat Minhyun duduk berdua dengan namja itu, aku mengintipnya.”
“Ah kau ini. Kau mengenal Minhyun darimana?”
“Waktu itu dia dihalte sendirian. Lalu aku menyapanya. Dan akhirnya kami berteman.”
Gongchan membulatkan bibirnya. Hening.
“Dan setelah aku perhatikan..” Baro memulai pembicaraan, “Dia itu sangat pucat.”
“Dia siapa?”
“Namja itu. apa jangan-jangan dia vampire?”
“Namja itu vampire? Hei, mana ada vampire! Kau ini.”
“Dan bukan hanya itu saja bukti dia vampire.”
“Apa lagi?”
“Tubuhnya sangat dingin—tak seperti manusia biasanya.”
“Ah kau ini sukses membuatku kagum dengan ceritamu.”
“Aku serius, Chansik-ssi!” Bentak Baro.
Gongchan terdiam.
“Bukan itu saja, dia juga jarang bernafas.”
Gongchan mengerutkan alisnya. Ia mulai serius. Ia tampak berfikir. Ia mencari-cari seseorang yang diceritakan oleh Baro. Jalan menuju pemikiran itu ada saja. Gongchan membulatkan bibirnya lalu membalikkan badannya dan berlari sekuat tenaga sampai membuat orang yang selisih jalan dengannya terjatuh. Baro tak bisa mengikuti Gongchan karena bel masuk telah berbunyi.
Semakin lama Gongchan semakin mempercepat langkahnya. Pikirannya kalut. Ia terus memikirkan hal yang benar-benar tak mungkin terjadi disaat dia sedang tak berada disamping Minhyun. Ia merasa bersalah. Walaupun semua yang ia kerjakan untuk Minhyun juga. Ia berfirasat bahwa ada yang tidak beres dengan naskah cerita yang ia buat. Ia terhenti di depan pintu kelas.
-To Be Continued-
Next Chapter…
“Apa yang kau—“
“Akhir-akhir ini kau sering melupakan apa yang ada di sekolah. Padahal dulu kau sangat mengingat apa yang ada di sekolah.”
“Surat? Surat apa?”
“Aisss!!!!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar