Sabtu, 25 Februari 2012

Karang Pemberontak

Namanya Karang. Wataknya pemberontak, keras kepala. Ia suka berlaku seenak jidatnya tanpa melihat keadaan orang lain. Dan ia sangat tidak cocok untuk dikatakan seorang perempuan, ia terlalu kasar untuk dikatakan seorang perempuan. Bagaimana tidak, ia suka minum di bar, dan hobi sekali bertengkar dengan kaum Adam.
            Malam itu ia sedang minum bir kesukaannya di bar ternama. Ia sudah minum 2 botol soju, minuman keras dari Korea. Ia tampak mabuk keras. Tiba-tiba dua orang lelaki datang menghampirinya.
            “Hai..” Sapa lelaki tinggi di sebelah kanannya. Karang hanya melihat lalu kembali menegak segelas soju.
            “Sombong banget sih.” Kata lelaki pendek di sebelah kirinya.
            “Bukan urusan kalian.” Katanya dengan ketus.
            Para lelaki itu tertawa renyah saat mendengar Karang menjawab seperti itu. Karang tak menghiraukan tawaan mereka yang sama sekali tidak lucu. Lelaki tinggi di sebelah kanannya mulai berbicara.
            “Perkenalkan, nama aku Aldi.”
            Perlahan lelaki pendek itu menancapkan jarum suntik berisikan bius ke punggung Karang. Perlahan juga Karang merasa diatas ambang awang, ia pingsan seketika.

            Karang pingsan cukup lama, seharian penuh. Ia dibawa ke suatu tempat di pelosok kota. Lelaki tinggi dan pendek itu ternyata telah merencanakan semua ini sejak seminggu sebelumnya, mereka sering bertemu Karang di bar itu.
            Karang di letakkan di ruang lembab dan akses oksigennya sangat sedikit. Dan di ruang itu tidak hanya ia sendiri melainkan ada 5 orang perempuan lainnya.
            “Heh kamu!” Kata lelaki tinggi yang bernama Aldi sambil menunjuk perempuan yang memakai tank top berwarna merah muda, “Ganti baju makhluk ini dengan pakaian minim seperti kalian!” suruh Aldi.
            “Dan ini pemberitahuan untuk kalian, besok seorang bos besar akan kesini menjemput salah satu dari kalian. Hahaha.” Ucap lelaki pendek tersebut. Suasana ruangan itu menjadi suram disertai gema suara tawa para lelaki bejat itu.
            “Haaah, ruangan ini membuatku sesak. Ayo kita pergi Dino!” Ucap Aldi sambil merangkul lelaki pendek yang ternyata bernama Dino.
            Aldi dan Dino keluar dari ruangan itu. Satu per satu perempuan yang ada di ruangan itu langsung menyerbu Karang. Dan dua dari mereka bersedia menggantikan baju Karang. Kini Karang telah memakai baju yang sangat minim. Kaos tanpa lengan yang longgar dan celana pendek  sepaha.
            “Kalian yakin memakaikan baju seperti itu?” tanya seseorang perempuan berambut ikal.
            “Iya, kalau dipakaikan tank top kasihan. Tank top kan ketat, nanti dia malah mati lagi.” Kata salah satu perempuan yang memakaikan Karang baju.
            Tiba-tiba kepala Karang bergerak. Dia hampir siuman. Hidungnya mengendus-endus bau lembab dan nafasnya terdengar sesak. Ia membuka kelopak matanya perlahan lalu ia mengucek matanya yang kering. Ia mengedip dan melihat lingkungan sekitarnya.
            “Aku dimana?” tanyanya pelan.
            “Eh ternyata kau sudah bangun.” Kata perempuan berambut ikal.
            “Hah? Kau siapa? Aku dimana? Kalian siapa? Kenapa bajuku seperti ini?” tanya Karang bertubi-tubi.
            “Aku tidak tahu kau siapa. Kau baru diletakkan disini dengan Aldi dan Dino. Kami sama nasibnya seperti kau, wanita yang dijual kepada orang, entah untuk dijadikan apa. Karena itulah mengapa baju kita minim,” Jelas perempuan yang tadi menggantikan Karang baju, “Perkenalkan, namaku Mira.”
            Karang masih tak mengerti apa yang Mira katakan, “Lalu mereka ini siapa?”
            “Kita akan dijual.” Jelas perempuan berambut ikal itu.
            “Siapa kau?” tanya Karang.
            “Perkenalkan, namaku Sinta,” Jawab perempuan berambut ikal dengan dagu terangkat, “Dan ini Linda, Nara, dan Victoria.”
            Karang mengacuhkan perkataan Sinta. Ia hanya mendengus tak senang. Mengapa disaat genting seperti ini dia harus menghadapi orang sombong, lebih baik dia bersenang-senang menghabiskan 3 botol wine daripada harus berurusan dengan manusia menjijikkan seperti Sinta.
            “Siapa namamu?” Tanya Mira dengan penuh antusias.
            “Namaku Karang.”
            “Nama yang aneh. Seperti orangnya. Hahaha.” Ucap Sinta membuat Karang jengkel.
            “Perlukah kau menertawai namaku?! Nama itu berkah! Dasar tolol.” Ucap Karang. Tak biasanya ia membela namanya.
            “Berani-beraninya kau mengataiku tolol! Dasar wanita jalang tak tahu diri!” Kata Sinta sambil melempar bogem kearah pipi Karang. Karang berhasil menangkap dan menahan tangan kecil itu dengan cepat. Semua mata terbelalak.
            “Kau kira aku tak berani denganmu? Dasar lemah!” Kata Karang sambil melempar tangan Sinta. Sinta berniat membalas perbuatan Karang tapi Mira sudah melerai mereka. Sinta tak bisa berbuat apa-apa lagi.
            “Sudah hentikan! Kalian berdua mau Aldi dan Dino datang kesini dan memberi bogem mentah untuk kita semua gara-gara hal yang sepele?! Dan kau Sinta, Apa kau tidak puas menjelek-jelekkan kami semua, ha?! Berhenti berlaku seperti itu. Dan aku harap besok bos besar itu akan mengambilmu!” Kata Mira panjang lebar. Sinta hanya mendengus kesal.
            Tiba-tiba cacing di perut Karang berbunyi, “Mira, aku lapar.” Kata Karang polos.
            “Sebentar lagi kita akan mendapat jatah makanan.” Ucap Mira.
            Tak lama kemudian derap sepatu berbunyi sambil mengeret sebuah benda. Pintu ruangan itu terbuka. Dua orang lelaki yang membelakangi cahaya masuk ke dalam ruangan itu. Dan secara cepat Mira memberitahukan bahwa Dino dan Aldi merupakan distributor mereka yang harus mereka patuhi dan jangan sekali pun membantah atau melawan mereka.
            “Ini makanan kalian.” Kata Dino sambil melemparkan satu box berisikan makanan.
            Aldi mendekati Karang yang sedari tadi menunggu makanan, “Nona pendatang baru ternyata sudah bangun. Apakah mimpi nona tadi sangat indah? Tidurmu sangat nyenyak. Aku tak tega membangunkanmu.”
            Karang hampir saja menampar pipi mulus Aldi yang mendekatkan pipinya ke pipi Karang. Karena ia ingat peringatan Mira, ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Aldi dan Dino keluar dari ruangan itu. Karang langsung mengambil dan membongkar box makanan tersebut.
            “Mana makanan kita? Mana nasi? Mana Ayam? Mengapa hanya ada daun selada dan buah-buahan?” Tanya Karang.
            “Menjelang bos besar datang, kita tak diperbolehkan makan nasi.” Jelas Mira.
            “Apa?! Mereka kira kita ini hewan apa cuma makan buah dan sayur?! Kita tak diperlakukan selayaknya manusia biasa! Tempat macam apa ini!”
            “Sudahlah, makan saja apa yang ada daripada kau mati kelaparan.” Ketus Sinta.
            Mereka lalu melahap makanan yang ada didalam box tersebut. Disela-sela kunyahan Karang, ia masih sempat bertanya tentang kejadian dan tempat yang ia kurang mengerti kepada Mira.
            “Sebenarnya kita mau di apakan sih?” Tanya Karang.
            “Kita mau dijual, Karang. Kau tak mengerti apa yang aku katakan tadi?”
            “Tidak. Tolong ceritakan.”
            Mira menarik nafas lalu ia mulai menceritakan dari awal sampai akhir, “Aku tidak tahu persis bagaimana aku bisa sampai kesini. Yang aku ingat sebelum aku kesini, mereka membiusku dengan cara memberi aku sebotol air mineral ketika aku sedang berjualan. Dulu mereka pelanggan setiaku, dalam waktu seminggu aku sudah mengenal mereka. Dan tepat di hari sasaran, mereka memberiku air mineral yang berisikan bius. Dan aku pingsan, ketika aku siuman, aku sudah berada di ruangan lembab ini bersama mereka berempat. Dulu disini ada enam wanita, tetapi wanita itu sudah terjual.”
            “Dijual?! Siapa yang menjual?! Mengapa kita dijual?!” tanya Karang dengan nada meninggi.
            “Bos besar Aldi dan Dino. Besok dia akan datang. Salah satu dari kita akan terjual. Kita dijual karena mungkin kita akan dijadikan selir, budak, bahkan kadang mereka membeli hanya karena ingin mengambil organ tubuh kita “
            “Ini tak bisa dibiarkan! Kalian mengapa tidak mencoba kabur dan melaporkan semua ini ke polisi saja?! Kalian tahu kan kalau hal ini telah melanggar undang-undang dan melanggar HAM?! Apalagi kita ini wanita, kita dijual! Lihat betapa rendahnya derajat wanita di mata mereka!”
            “Salah satu dari kami pernah mencoba lari dan akhirnya tak bisa kabur. Kakinya ditembak dan darahnya habis, ia meninggal.”
            Karang bergidik ngeri. Ia mulai memikirkan siasat agar esok tak kan menjadi hari yang begitu menyeramkan. Karang ingin riwayat para penjual harga diri wanita tertangkap. Ia tak ingin dijual. Apalagi kalau ternyata sang pembeli itu memutilasinya dan mengambil organ-organ tubuh terpenting Karang. Ia tak bisa membayangkannya.
            Langit masih menggelap, Karang masih terjaga. Ia tak bisa tidur malam itu. Ia masih memikirkan bagaimana ia dan para wanita tak bernasib baik ini bisa keluar dari sangkar setan buas ini. Ia melihat kearah Mira. Mira sudah tidur. Ia melihat satu per satu perempuan yang ada di dalam ruangan itu. Hanya ada seseorang yang belum terlelap. Dia duduk di sudut ruangan itu. Karang mendekatinya.
            “Hei, belum tidur?” Tanya Karang.
            Perempuan itu menoleh lalu menggeleng dan ia menunduk.
            “Oh ya, namamu siapa? Aku lupa. Hehe, namaku Karang.” Katanya sambil menyodorkan tangan. Salamannya tak dibalas.
            “Namaku Victoria.”
            “Kau kenapa murung begitu?”
            “Aku ingin keluar dari sini. Tapi bos tak pernah membawaku pergi dari sini. Aku disini lebih lama daripada mereka semua. Tapi mengapa perempuan yang baru masuk yang keluar diambil bos. Apa karena aku pincang? Apa karena aku pernah berniat kabur maka bos tak pernah membawaku?”
            Karang tertegun mendengar cerita Victoria, “Kau pernah berniat kabur? Dan mengapa kakimu pincang?”
            “Setahun yang lalu, aku dan sahabatku pernah menyiasatkan rencana melarikan diri ini. Persiapan sudah matang. Dan ketika itu sudah subuh, kami sudah keluar dari ruangan ini. Dengan akses jalan ruang bawah tanah, kami bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat. Tapi tidak sama halnya ketika keluar dari pekarangan gedung ini.”
            “Gedung?” tanya Karang sambil mengerutkan kedua alisnya.
            “Iya, kita berada di sebuah gedung yang sangat besar disertai halaman yang sangat luas. Di sudut halaman banyak alarm, disetiap ubin rumput halaman tersimpan sensor sepatu. Maka dari itu kami susah melarikan diri.”
            “Kau tahu jalan keluar melalui jalan ruang bawah tanah?”
            Victoria mengangguk. Mata Karang mengisyaratkan bahwa ia meminta petunjuk dari Victoria. Victoria awalnya ragu akan memberikan informasi ini, tapi akhirnya ia percaya pada Karang dan memberikan informasi akses jalan tersebut. Dan Karang mulai menyusun siasat agar bisa melaporkan kejadian ini ke Polisi dan mereka semua dapat bebas kembali.
            “Dan ini yang perlu kau tahu, Gedung ini terletak di daerah pedalaman. Jarak dari Gedung ini ke Kantor Polisi jauh sekali, 2 kilometer. Dan jarang ada kendaraan yang lewat disini. Dan jangan lupa mematikan alarm dan sensor sepatu. Kontaknya berada sebelum kau menemukan pintu keluar dari ruang bawah tanah.”
            Karang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Bawa ini,” Kata Victoria sambil memberi pisau lipat, “Ini milik almarhumah temanku. Gunakan disaat genting. Jangan menusuk bagian jantung. Jika ada yang mati, kau yang kena hukuman.”
            Karang tersenyum gembira melihat pisau lipat tersebut. Ia melihat jam yang bertengger di dinding bercat putih kusam. Pukul 2 subuh. Sepertinya ia harus mempersiapkan semuanya dari sekarang. Karang membangunkan semua perempuan yang ada dalam ruangan tersebut dan memberitahukan misinya. Dan Karang menanyakan apakah ada yang mau menemaninya. Nihil. Semua orang bungkam. Mereka tak mau mati sia-sia ditembak oleh Aldi dan Dino. Apalagi hari ini bos besar akan datang. Jika bos besar tahu hal ini, mungkin mereka semua sudah tidak ada di dunia ini.
            Pukul 3, Karang sudah bersiap-siap menjelajahi ruang bawah tanah. Petunjuk jalan sudah diberikan oleh Victoria. Karang memanjat jendela untuk keluar dari ruangan itu. Selamat. Ia bisa keluar dari ruangan itu tanpa diketahui oleh Aldi dan Dino. Kini ia mulai memasuki ruang bawah tanah. Jalannya tidak terlalu panjang, dalam waktu 30 menit ia sampai di depan pintu keluar dari ruang bawah tanah. Keadaan mempersulit Karang untuk mematikan alarm dan sensor sepatu. Dibawah sana sangat gelap dan tidak ada sirkulasi udara. Karang meraba-raba dinding untuk mencari kontak listrik alarm dan sensor sepatu. Tak lupa ia melapisi tangannya dengan baju lusuh yang ia pakai, jaga-jaga kalau saja kontak itu bisa menjadi alarm sidik jari.
            Clap! Kontak alarm serta sensor sepatu telah mati. Ia mendekat kearah pintu keluar. Ia mencoba membuka pintunya.
            “Sial. Pintunya dikunci.” Gumam Karang sambil menggoyang-goyangkan pintu tersebut. Ia terus mencoba membuka pintu tersebut. Tetapi tidak bisa. Pintunya digembok dan gemboknya berada di sela-sela gagang. Ia sudah lelah dan bersandar di pintu besi itu.
            Sinar mentari menerpa wajah Karang yang lusuh. Sudah pagi. Karang terlelap ketika mencoba membuka pintu itu. Karang membuka matanya. Ia mencoba kembali membuka pintu itu.
            “Bodoh. Aku kan bawa pisau lipat.” Katanya sambil mengeluarkan pisau lipat.
            Karang memaksa pisau itu sebagai kunci gembok yang bertengger di sela-sela gagang besi itu. Krek. Gembok terbuka. Ia mengintip keluar. Tampaknya aman. Perlahan ia berjalan keluar. Mengendap-endap. Ia melihat keadaan sekitar. Aman. Tidak ada seorang pun di halaman gedung. Karang langsung berlari. Karang salah, Dino ada di sebelah pohon besar yang menutupi dirinya.
            “Hei! Siapa itu?! Ada penyusup!!” seru Dino sambil berlari. Lalu Aldi keluar dari area gedung sambil memegang dua pistol, dan melemparnya kearah Dino. Dino menangkapnya.
            “Jangan lari!” Perintah Aldi. Tapi Karang masih terus berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Tetapi tak tahunya Aldi menembak kaki kiri Karang.
            Karang terjatuh. Aldi dan Dino terus berlari. Karang mulai bangkit, dan ia terjatuh. Ia tidak kuat untuk berdiri. Kakinya sangat sakit. Melihat betapa gentingnya situasi ini, Karang melempar pisau lipatnya kearah Aldi. Di dadanya. Aldi jatuh tersungkur. Dan Karang kembali berlari walaupun kakinya pincang. Ia sempat menoleh ke belakang, melihat situasi. Peluru di dalam pistol milik Dino habis. Aldi tak sadarkan diri. Dino ragu akan menelepon bos atau mengejar Karang. Tapi yang ia lakukan adalah membangunkan Aldi yang tak sadarkan diri. Bodoh, pikir Karang. Ia terus berlari, tetapi Dino dapat menyusulnya. Karang terdesak. Ia melihat paku berkarat tergeletak di dekatnya. Karang melempari paku tersebut sampai mengenai dibagian kaki Dino. Dino terjatuh. Dan ia tetap mencoba mengejar Karang. Tapi nasib berkata lain. Karena pagar gedung itu tidak terkunci, Karang dengan mudah dapat keluar dari gedung tersebut. Dino langsung menelepon bosnya.
            Karang sampai di Kantor Polisi. Untung saja ada mobil pick up melewati gedung tersebut. Ternyata warga sekitar tidak mengetahui apa yang terjadi dalam gedung itu. Mereka hanya mengetahui bahwa gedung itu dulu adalah kantor sebuah perusahaan yang sudah bangkrut dan dibeli oleh seorang teman pengusaha tersebut. Setibanya di Kantor Polisi, semua mata tertuju pada kondisi Karang. Baju yang kumal, muka dipenuhi keringat dan ada bercak darah, dan kaki yang berlumur darah. Ia langsung melaporkan dan memberikan keterangan tentang kejadian di dalam gedung tersebut.
            Tak lama kemudian, Polisi dan Karang menuju gedung tersebut. Setibanya di depan gedung, ia melihat ada sebuah mobil hitam mengkilap yang tak lain merupakan milik bos besar. Polisi langsung keluar dan Karang memimpin jalan untuk menuju ruangan lembab itu. Tapi ia tidak tahu jalan dari dalam gedung. Yang ia tahu hanya jalan dari ruang bawah tanah. Agar tidak dicurigai, mereka pun memasuki gedung melalui jalan ruang bawah tanah.
            Dewi Fortuna berpihak pada kebaikan, ternyata bos sudah tahu kalau Karang akan memanggil Polisi dan bos mengurung semua wanita itu di dalam penjara ruang bawah tanah. Polisi langsung menangkap Aldi dan Dino yang tidak berdaya dicambuk bos di depan penjara itu dan tangan bos langsung di borgol ketat. Karang membuka penjara itu dengan kunci yang di pegang oleh bos.
            “Terimakasih. Anda telah membantu kami dalam membasmi kejahatan.” Kata salah satu Polisi.
            Karang hanya tersenyum. Semua perempuan yang ada di dalam penjara itu berhambur memeluk Karang sebagai ucapan terimakasih. Tetapi sebaliknya, Karang mengucapkan terimakasih kepada Victoria. Tanpa Victoria, mungkin semua hal ini tidak terjadi.
            Untuk pertama pertama kalinya, Karang keluar dari gedung dan menghirup aroma kebebasan yang sangat berarti. Kini tak ada lagi penjualan wanita. Ia bebas!



17.24 WIB
6 Januari 2012
(Kurnia Desmilestari)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar