Title : Robogenoman [part 5]
Author : minnia
Genre : Romantic fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong Chansik, Jung Jinyoung
Suport cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)
Jinyoung POV
“Kau Robogenoman, robot berbentuk manusia.”
“Kau akan tinggal bersamaku.”
“Aku akan memanusiakan dirimu. Gunakan intuisimu.”
“Kau hidup di tengah-tengah manusia, gunakan intuisimu sebagai manusia, bukan robot.”
“Aku akan pergi.”
“Jangan lakukan apapun pada memory box-mu.”
“Jangan sekali pun berteman dengan orang yang tak kau kenal.”
Power on…
Memory box-ku berhenti mengulang kejadian yang pernah kualami. Memory box, Gongchan sering mengatakan “Jaga memory box-mu” kepadaku. Entahlah. Aku rasa memory box ini semacam otak di dalam tubuh manusia. Gunanya untuk mengingat. Sama bukan dengan otak? Ya, aku Robogenoman generasi pertama buatan Professor Shin Dongwoo dan Gongchan. Tapi entah mengapa, aku diciptakan tanpa memiliki perasaan. Dan anehnya aku dapat merasakan sesuatu. Ah, aku rasa ini bukan perasaan, mungkin intuisi. Gongchan sering melatihku untuk berintuisi layaknya manusia. Dan hasilnya, aku dapat melakukan sebuah intuisi yang sangat dahsyat.
Gongchan menghampiri kelasku dengan basahan bulir bulir keringatnya. Ia melap keringatnya tersebut. ia membelalakkan mata ketika melihat seorang seongsaengnim memasuki kelasku. Ia meminta izin sebentar lalu memanggilku. Ya, dia memanggilku. Aku segera keluar dari dalam kelas. Gongchan masih membenarkan nafasnya yang sengal.
“Hm.. kau..” Katanya sembari membenarkan letak rambutnya.
“Ya? Ada apa?”
“Apa yang kau—“
“Mianhae Jinyoung-ssi, kau disuruh masuk. Pelajaran sebentar lagi akan dimulai.” Kata seorang siswa dibelakangku. Aku mengangguk.
“Mianhae. Aku harus masuk.”
“Aiss.. nanti aku tunggu di halte biasa.” Kata Gongchan sambil mengacak-acak rambutnya.
Aku mengangguk lemah dan kembali ke tempat dudukku.
Ya, Professor Shin Dongwoo melakukan uji coba terhadap memory box-ku di sekolah ini, sekolah Gongchan. Aku hanya di sekolahkan sampai ajang lomba nobel itu di gelar. Untungnya kepala sekolah ini adalah teman Professor Shin Dongwoo, jadi dengan mudah aku dapat masuk di sekolah ini. Dan aku bersama Gongchan harus bisa merapatkan rahasia ini.
Pelajaran dimulai. Semua yang diucapkan, dilakukan, dan diajarkan oleh para manusia akan dengan mudah masuk ke dalam memory box-ku. Tapi entah mengapa akhir-akhir ini memory box-ku lebih terasa berat dan seperti ada yang mengganjal. Aku kembali fokus kepada pelajaran.
J
Bel pulang sudah berbunyi. Aku segera memasukkan buku-buku yang ada diatas mejaku. Dan ketika aku hendak pulang….
“Kau mau kemana?” Tanya seorang siswi sambil memegang tangkai sapu.
“Pulang.” Jawabku singkat.
“Akhir-akhir ini kau sering melupakan apa yang ada di sekolah. Padahal dulu kau sangat mengingat apa yang ada di sekolah.”
“Maksudmu?” Tanyaku sambil mengerutkan alis.
“Kau kan piket hari ini. cepat hapus papan tulis.” Katanya sembari melemparkan sebalok penghapus whiteboard yang sudah hitam.
Aku langsung melaksanakan tugas itu. Aku menghapus semua kata-kata yang ada di papan tulis tersebut. Aku berpikir, manusia terlalu pintar. Mereka menciptakan alat dan dapat menghapusnya. Itu sangat keren. Dan sekarang papan tulis itu sudah bersih. Aku segera mengambil tasku.
“Aku pulang ya. Aku ada janji dengan Gong Chansik tadi.” Kataku sembari meninggalkan kelas.
Siswi itu berdecak kesal, “Baiklah. Hati-hati dijalan!” Serunya.
Aku keluar dari kelas. Ternyata suasana sekolah sudah sepi mengingat lima menit yang lalu bel pulang sudah berbunyi. Aku segera menuju halte biasa dimana aku dan Gongchan menunggu bus tujuan kearah rumah kami—maksudku rumah Gongchan. Aku mendapati Gongchan duduk sendirian di halte itu. air mukanya tampak jelas bahwa ia sedang khawatir. Dan akhirnya ia memandangku. Aku segera berlari kearahnya.
“Hai,” Sapaku, “Ada apa?”
“Tadi Professor Shin Dongwoo datang kesini.” Ujarnya.
“Lalu? Dia mencari kita?”
“Bukan.. Dia mencari.. Minhyun. Minhyun menghilang.”
“Minhyun? Oh iya aku ingat. Dia anak Professor Shin Dongwoo yang kemarin bertemu dengan kita kan?”
Gongchan memandangku aneh, “Iya. Tapi selama aku pergi apakah kau tidak bertemu dengannya?”
Aku terkejut mendengar itu. Gongchan pergi? Aku bertemu Minhyun?
“Lalu bagaimana dengan surat yang kutitipkan padamu?” Tanyanya lagi.
“Surat? Surat apa?”
Gongchan mengerutkan alisnya, “Ini tidak mungkin. Mana mungkin kau lupa. Volume 5000 cc di memory box-mu mana mungkin sudah penuh.” Katanya dengan nada diturunkan.
“Tapi kau sama sekali tidak menitipkan surat kepadaku.”
“Aku menitipkan surat padamu. Waktu itu hujan.”
“Tidak ada. Hujan? Aku hanya ingat berjalan sendirian saat berjalan-jalan di sekitar taman kompleks.”
Gongchan mengacak-acak rambutnya, “Aiss.. Apa yang sebenarnya terjadi?!” Teriaknya.
“Aku tak mengerti.”
Bus tujuan ke rumah pun datang. Gongchan segera masuk dan mencari tempat duduk. Ia memilih duduk menjauh dariku. Tak apalah. Mungkin ada sesuatu hal yang mungkin ia butuh pikirkan. Aku juga tak mengerti dengan ini semua. Dan sejak kapan aku menjadi pelupa? Aku tahu memory box-ku buatan manusia, pasti tak ada yang sempurna. Seperti baut sebuah mesin yang sudah longgar, jika tidak diketatkan maka mesin itu tampak goyang. Dan begitu pula denganku.
Begitu turun dari bus, Gongchan langsung menarikku. Ia berlari. Aku hampir terjatuh dan terseret olehnya. Refleks, aku ikut berlari. Dan kami sampai di depan rumah. Gongchan membuka pintu itu dengan terus memutarkan kunci rumah itu. ia masih menyeretku. Kali ini ia menyeretku masuk kedalam laboratorium mini miliknya.
“Aku akan mengecek keadaan memory box-mu. Tidurlah.” Perintahnya.
Aku melepaskan tas ranselku dan langsung berada dalam posisi tidur diatas tempat tidur kecil itu. Dengan lugas, Gongchan memasangkan kabel kabel kecil yang berujung pada bulatan pipih yang ditempel pada bagian kepalaku. Gongchan menekan tombol off sebuah remote dan aku pun kembali mengulang potongan potongan kecil masa lalu dan mengingat sesuatu dari memory box-ku. Aku seperti terbius.
J
Power on…
Aku mengerjap-ngerjapkan kedua kelopak mataku. Aku segera bangkit dari posisi awal. Air muka Gongchan tampak sedang berfikir keras. Aku hanya bisa memandang Gongchan dengan tatapan kosong. Gongchan kembali menatap layar komputernya. Ia terus mengutak-atik data yang sedang ia cerna. Lalu ia melampiaskan kekesalannya dengan cara mengacak-acak rambutnya.
“Aisss!!!!” Jeritnya.
Aku hanya melongo melihat Gongchan kesal. Tak biasanya ia kesal. Ia sering terlihat tertawa.
“Beberapa memorymu hilang!” Katanya setengah teriak kepadaku.
“Aku bahkan tak ingat apa-apa. Tentang hilangnya memoryku.”
“Aiss! Apa yang kau lakukan? Cobalah untuk mengingat sesuatu!”
“Aku tak bisa—“
“Setelah Minhyun menghilang, memorymu hilang. Ada apa ini?! mengapa seperti ini?!”
“Aku tak tau.”
Gongchan menunduk. Ia menutupi mukanya. Aku berjalan menuju komputernya. Gongchan tampaknya sedang stress. Aku mengamati layar computer tersebut. Terdapat beberapa kata dengan warna merah yang mencolok diantara kata-kata yang berwarna hitam. Tiba-tiba muncul sebuah tab berwarna merah.
“An unknown atom,” gumamku pelan.
-To Be Continued-
Next Chapter…
“Chansik-ssi..”
“Kau mengenalnya?”
“Badai salju?”
“Aku tidak—itu apa?”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar