Rabu, 14 Maret 2012

Robogenoman [Part 7]






Title : Robogenoman [part 7]
Author : Minnia
Genre : Romantic fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong Chansik, Jung Jinyoung
Other cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)


Gongchan POV

Profesor Shin Dongwoo terbelalak mendengar penjelasanku. Ya, aku rasa atom itu memang benar berada dalam memory box. Ketika aku mengecek memory box itu, tab itu keluar. Hal yang sama terjadi pada saat ini. Dimana Profesor Shin Dongwoo juga mengecek memory box buatannya dan tab itu muncul lagi. Tapi, atom apa itu? Kepalaku terasa sangat berat. Aku ingin memecahkan kepalaku. Aku keluar dari laboratorium itu dan menuju ruang keluarga rumah ini. Professor Shin Dongwoo masih penasaran dengan atom itu. Atom yang tak diketahui.
Aku duduk disalah satu sofa empuk berwarna hijau lumut yang berada di pojok ruangan keluarga ini. Aku merebahkan tubuhku. Kupejam mataku sebentar. Seperti merelaksasikan diri, aku melakukan pengaturan nafas dan yang terbayang olehku adalah wajah Minhyun… wajah yang ceria itu kini lenyap. Wajahnya makin lama makin memudar dan akhirnya hilang diantara kegelapan mataku. Aku tersentak kaget dan membuka mataku. Yang pertama kali kulihat adalah barisan foto Minhyun dihadapanku. Ya, aku memang duduk menghadap jejeran foto ini. aku bangkit dari sofa itu dan memandangi foto itu satu per satu.
Aku tahu foto ini merupakan benda mati yang tak bisa bergerak bahkan bercerita. Tapi entah mengapa setiap sudut foto tersebut dapat memaparkan cerita yang sangat menarik. Cerita tentang Minhyun. Aku rasa hampir semua foto ini diambil saat Minhyun berulangtahun. Aku melihat dari ia berulangtahun diumur pertama sampai umurnya saat ini, tujuh belas tahun.
Minhyun ketika kecil sangat manis. Matanya menampilkan sikap polosnya. Aku terkekeh pelan melihat foto-foto tersebut. Profesor pasti sangat kehilangan dia. Sampai saat ini aku masih bingung mengapa Minhyun menghilang. Mataku terpaku melihat sebuah foto yang gelap. Tapi dengan jelas aku dapat melihatnya. Jinyoung mencium dahi Minhyun saat Minhyun meniup lilinnya—yang ke tujuh belas. Tiba-tiba ada yang menyesakkan dadaku. Seperti ada ribuan benda tajam yang menusuk tepat di jantungku. Rasanya sakit sekali. Aku mengalihkan pandangan ke foto Minhyun berulangtahun ke sebelas. Dua anak kecil, laki laki dan perempuan berdiri berdampingan. Laki laki itu memberikan syal biru muda ke leher perempuan itu. wajah mereka tampak sangat bahagia. Dua anak itu terlihat tertawa.
“Kau ingat foto itu?” Tanya seorang dari belakangku. Aku menoleh.
“Tentu saja. Undangan ulangtahun pertama dan kado pertama yang aku beli dengan uang jajanku sendiri.” Aku tersenyum kearah professor Shin Dongwoo. Aku melihat Jinyoung sudah terlihat sadar dan merebahkan dirinya di sofa yang aku duduki tadi.
“Aku sangat merindukannya,” Ucap Profesor Shin Dongwoo sambil terus memandangi foto tersebut, “Polisi belum menemukannya.”
Kini mataku memang sudah rabun atau ada yang menghalangi penglihatanku—air mataku timbul di pelupuk mataku. Aku segera mengelapnya.
“Aku juga merindukannya. Aku merindukan segala yang ada dalam dirinya. Rambutnya, matanya, tawanya yang renyah, cara ia menatapku, cara ia mengatakan ‘babo’—“
“Minhyun mengataimu dengan kata babo?” Tanya Profesor Shin Dongwoo.
Aku menepuk mulutku pelan, “Iya, hehe. Tapi—gwaenchana! Hahaha! Tak apa. Ia sudah sering mengataiku babo.”
“Dia sering mengataimu babo?”
Aku menepuk kepalaku. Bisa-bisanya aku keceplosan disaat seperti ini.
“Belajar dari mana dia? Aku tak pernah mengajarinya mengatai orang bodoh atau semacamnya.”
“Hahaha! Sudahlah! Tak apa!” Tawaku renyah.
“kau mau minum coklat panas?”
Aku langsung mengangguk cepat. Coklat panas buatan Profesor Shin Dongwoo sangat enak. Coklatnya tidak terlalu manis dan kental. Pokoknya sangat pas dilidahku. Profesor Shin Dongwoo berjalan kearah dapur. Aku masih memandangi foto yang sedari tadi mengeluh mengapa aku harus memandangi mereka terus. Seseorang menepuk pundakku. Aku rasa dia Jinyoung. Dan ternyata benar. Dia ikut memandangi foto-foto tersebut dan berdecak kagum.
“Gadis ini cantik sekali.” Katanya.
“Iya. Dia memang cantik.”
Jinyoung terdiam terpaku melihat foto gelap itu. ia tertegun, “Ini…Ini—ini aku?” tanyanya.
“Sudah jelas ini kau.” Jawabku dengan suara agak mengecil. Ia memegang foto tersebut.
“Aku tak pernah—aku tak ingat hal ini.”
“Ini karena memorymu ada yang terhapus.”
Ia terus memandang foto itu. Tiba-tiba Jinyoung memejamkan matanya. Sepertinya ia mencoba mengingat suatu hal. Ia membuka matanya kembali dan menghembuskan nafasnya pelan. Lalu memandang kearahku.
“Aku dapat merasakan—tidak, intuisiku berkata aku pernah mendekapnya. Sangat dekat. Aku bisa merasakan detakan jantungnya yang… yang sangat cepat.”
Apa yang ia katakan?! Kali ini aku benar benar merasa tertusuk. Jantungku terasa seperti daging segar yang dicincang halus oleh pisau yang sangat tajam. Rasanya sakit sekali. Tiba-tiba terdengar suara gesekan kaca dengan kaca datang dari arah dapur. Aku langsung berlari kearah dapur.
“Prof? Gwaenchana?” Tanyaku.
“Aniya.. hanya gelas ini yang hampir jatuh.”
“Perlu kubantu?”
“Tidak usah. Duduklah disana dengan Jinyoung.”
Aku mengangguk dan membalikkan badan. Aku kembali berjalan menuju ruang keluarga dan sepertinya aku menginjak sesuatu. Aku melihat kearah kakiku. Aku menginjak sebuah gumpalan kertas yang berada disebelah tong sampah. Aku mengambilnya dan hendak membuangnya. Tapi niat membuang itu terurungkan. Aku sepertinya mendapat bisikan dari gumpalan kertas kecil itu. kertas kecil itu menyuruhku membukanya. Dan aku membukanya.
To : Minhyun
Kutunggu kau di taman kota. Jam 4 sore.
Aku terbelalak kaget melihat isi surat tersebut. Surat itu kan. Aku tak memberi surat itu kepadanya. Aku membuat surat dengan membuang banyak kertas. Salah satunya kertas ini. Kertas percobaan surat kandas yang tak kuberikan pada Minhyun. Aku meletakkan ini semua dibawah laci meja sekolahku. Surat yang seharusnya Minhyun terima adalah surat yang kuberikan pada Jinyoung. Surat beramplop biru muda. Aku tak sempat bertemu dengannya. Bahkan aku mematikan ponselku karena cuaca buruk. Yang bisa kulakukan adalah membuat surat. Ini pasti ada yang salah. Aku memasukkan surat tersebut kedalam saku baju seragam sekolahku.
Aku kembali berjalan ke ruang keluarga. Jinyoung sudah duduk manis diantara sofa-sofa yang ukurannya lumayan besar itu. Aku duduk tepat disebelahnya. Tak lama kemudian professor Shin Dongwoo datang dengan senampan yang berisikan makanan ringan dan dua gelas coklat panas.

J

Senja semakin menampakkan dirinya. Siluet jingga mulai bermunculan. Aku dan Jinyoung segera pamit untuk pulang kerumah. Aku sangat lelah hari ini. begitu juga Profesor Shin Dongwoo. Kantung mata panda berwarna hitam mulai merajalela. Dengan jalan terseok-seok, aku dan Jinyoung berjalan pulang menuju rumah.
Pemikiranku semakin kalut. Entah mengapa pikiranku semakin kacau dengan teori menghilangnya Minhyun. Dan aku bisa merasakan bahwa aku sangat sangat merindukan Minhyun. Aku mengeratkan jubahku. Jinyoung menurunkan syalnya.
“Jadi, atom apa yang ada di dalam tubuhku?” tanya Jinyoung.
Aku menjadi teringat kembali tentang atom tak diketahui itu, “Aku tak tahu. Bahkan Profesor Shin Dongwoo juga tak mengetahuinya. Sudah berapa kali aku mengingatkanmu? Jaga memory box-mu.”
“Jadi atom itu ada di memory box-ku? Pantas saja kepalaku terasa berat.”
“Iya. Dan memorymu hilang seketika.”
“Omong-omong, mengapa kita tidak bertemu dengan temanku saja? Dia juga seorang professor.”
Aku mengerutkan kedua alisku, “Temanmu?”

-To Be Continued-

Next Chapter
“Aku baru menyadari wajahmu ternyata pucat.”
“Pingsan? Kau pernah pingsan?”
“Kau mau kemana?”
“Iya, benar. Kau mengetahuiku?”
“Lama tak bertemu.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar