Title : Robogenoman [part 8]
Author : Minnia
Genre : Romantic Fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong Chansik, Jung Jinyoung
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)
Gongchan POV
Apa yang Jinyoung katakan barusan? Teman? Temannya seorang professor? Sejak kapan ia memiliki seorang teman? Semakin memorynya menghilang ia semakin mengada-ada. Mana mungkin ia memiliki teman. Apalagi seorang professor.
“Kau tak bercanda kan?” Tanyaku dengan senyum asimetris.
“Bercanda apanya?”
“Kau memiliki teman?”
“Iya. Seorang professor. Dia baik.”
“Kau mengenalnya dimana?”
“Di jalan menuju pulang. Waktu itu sedang badai salju. Dia membantuku berjalan. Ya kau tau lah—disaat musim dingin pasti engsel akan susah bergerak. Apalagi engsel sebuah robot.” Jinyoung menceritakan dengan wajah menunduk. Dia menekankan nada pada kata robot.
Aku hanya bisa menatapnya. Tapi seperti ada yang mengganjal dari Jinyoung.
“Aku baru menyadari wajahmu ternyata pucat.” Kataku.
“Haha. Robot tak memiliki darah. Mana mungkin pipiku dapat bersemu merah.”
“Benar juga.” Aku menganggukkan kepala.
“Gongchan-ssi…” Panggilnya.
Aku menoleh, “Hm?”
“Apakah robot juga bisa pingsan?”
“Pingsan? Kau pernah pingsan?”
“Aku.. aku tidak tahu. Tapi aku pernah terbangun dengan keadaan lemah di rumah temanku. Saat itu sedang badai salju. Saat pertama kali aku mengenal dia.”
Aku berfikir keras. Mana mungkin sebuah robot bisa pingsan? Tapi.. keadaan lemah. Bisa saja ia terus beraktivitas tanpa mengistirahatkan dirinya. Tapi, apakah mungkin? Aku melihat Jinyoung. Ia kini sedang menendang batu-batuan kecil yang berada didepannya. Ia masih terlihat menunduk. Apa mungkin ia telah memanusiakan dirinya? Tapi mana mungkin. Semua ini tak mungkin. Jinyoung terus menendang batuan kecil tersebut sampai kami berhenti didepan pintu rumah.
J
Hari ini. Ya, hari ini adalah hari dimana penunjukan robot inovasi terbaru. Acara itu nanti malam akan digelar. Sore nanti aku, Jinyoung, dan Profesor Shin Dongwoo akan ke Busan, kota dimana ajang itu di lombakan. Tetapi, sepertinya aku harus bertemu dengan temannya Jinyoung. Mana tahu temannya itu bisa membantuku untuk menghilangkan atom yang tak diketahui itu. Dan mana tahu temannya itu memiliki formula untuk mengembalikan memory Jinyoung. Mana tahu.
Dan kuputuskan sekarang, pulang sekolah hari ini aku akan kerumah temannya Jinyoung bersama Jinyoung. Aku segera berlari ke kelas Jinyoung dan mencarinya. Sebelum aku sampai di depan kelas Jinyoung, aku bertemu dengan Baro dan dia mencegatku.
“Gong Chansik!” Panggilnya.
“Ne?”
“Bagaimana dengan Minhyun?”
Aku murung seketika. Aku mengingat belum menemukan Minhyun. Dan aku harap ada suatu keajaiban menemukannya, “Aku… Dia belum datang.” Kataku dengan wajah menunduk dan bersiap untuk segera ke kelas Jinyoung.
Baro menarik tanganku, “Kau mau kemana?”
“Aku mau ke kelas Jinyoung.”
“Ada urusan dengan namja itu?”
“Ne. Mianhae aku harus—“
“Gongchan-ssi..” panggil seseorang dari depanku. Jinyoung.
“Mianhae, Baro. Aku harus pergi. Aku ada urusan dengannya. Sampai jumpa!” Kataku sambil melambaikan tangan lalu menarik Jinyoung.
Aku berlari kearah halte yang terletak di dekat sekolah. Ketika suasana mulai sepi, aku mulai menanyakan alamat rumah temannya. Jinyoung tampak berfikir keras. Ah! Jangan bilang ia tak tahu alamat rumahnya! Aku mulai mengacak-acak rambutku sambil menunggu Jinyoung membuka mulutnya. Dan akhirnya ia mulai mengucapkan sesuatu.
“Alamat rumah temanku ya? Kalau tidak salah tidak jauh dari kompleks rumah kita.”
“Kau pernah ke rumahnya?”
“Pernah. Ketika aku pingsan.”
Aku kurang yakin dengan apa yang Jinyoung tunjukkan. Aku mulai menanyakan kembali alamat detil rumahnya. Tiba-tiba bus tujuan halte kompleks rumahku datang. Aku memutuskan untuk masuk dulu ke dalam bus. Jika rumahnya tidak jauh dari kompleks rumahku, kami bisa berjalan kaki menuju rumah temannya Jinyoung. Kami pun sampai tepat di pemberhentian terakhir kami. Halte kompleks rumahku.
“Jadi dimana rumahnya?”
Jinyoung hanya diam lalu berjalan ke suatu arah. Aku harap ia berjalan menuju rumah temannya. Ditengah-tengah perjalanan, kami bertemu dengan Baro. Aku menyapanya.
“Baro-ya!” Panggilku.
Ia menoleh, “Eh? Sedang apa kalian disini?”
“Aku—kami sedang mencari alamat rumah. Apakah kau tau rumah—“ aku menoleh kearah Jinyoung yang sedari tadi diam mematung didekat kami, “Jinyoung-ssi, siapa nama temanmu?”
“Kalau tidak salah.. Profesor.. San.. Seun.. Da.. Dae..”
Aku mengerutkan alisku, “Profesor Seundae?”
Baro mengerutkan alisnya juga, “Maksudmu Profesor Sandeul?” Tanya Baro.
Jinyoung menerawang lalu menganggukan kepalanya ringan, “Iya benar, Profesor Sandeul.”
“Kau mengenalnya, Baro?” Tanyaku.
“Kalian ada perlu dengannya?” Tanya Baro sekali lagi.
“Iya, aku ada perlu dengannya,” Jawabku cepat, “Jadi rumahnya dimana?”
“Kebetulan rumahnya dekat dengan rumahku. Mari kuantar.”
Kami pun beranjak dari tempat tadi. Kami berjalan tak jauh dari tempat tadi dan menemukan sebuah rumah. Ya, ini sebuah rumah. Semacam rumah hantu. Di halaman rumahnya banyak terdapat sampah daun kering yang berjatuhan. Disamping kiri dan kanannya terdapat dua pohon yang sangat besar. Kalau rumah ini dirawat dengan baik mungkin menjadi rumah yang keren. Arsitektur rumah ini tidak terlalu buruk. Dari depan sudah tampak bahwa rumah ini memiliki arsitektur mediterania. Aku mengamati rumah itu. Benarkah ini rumah temannya Jinyoung? Aku melihat kearah Jinyoung. Matanya memaparkan pandangan kosong. Pandangannya yang biasa.
“Kalau begitu aku pulang dulu ya. Kalau ada waktu mampir ke rumahku ya! Empat rumah dari sini itu rumahku!” Kata Baro sambil menepuk pundakku.
Aku hanya membalasnya dengan tersenyum. Aku mengalihkan pandangan ke Jinyoung. Dia hanya diam, “Apa benar ini rumah temanmu?”
Dia mengangguk, “Sepertinya. Aku hampir melupakan rumahnya.”
Aku hanya bisa mendecak kesal. Disaat seperti ini aku tak bisa seenaknya menyalahkan Jinyoung, menyalahkan memory box Jinyoung yang makin lama semakin rusak. Aku membuka pagar rumahnya lalu masuk sampai di depan pintu kayu beraroma kayu yang khas. Aku melihat daerah pintu itu. Mencari-cari bel kecil yang bisa kutekan. Ternyata tak ada bel. Aku mengetuk pintu itu. Sampai beberapa kali ketukan pintu, akhirnya pintu itu terbuka. Aku melihat seorang pria berdiri di depanku. Wajahnya cukup unik. Tapi ada yang janggal dengan penampilannya. Tapi aku tak tahu apa yang janggal. Dia melongok kearah Jinyoung dan memanggilnya.
“Ya! Kau Jinyoung-ssi! Ternyata kau masih ingat rumahku!” Katanya dengan suara yang agak serak.
Jinyoung tersenyum, “Annyeonghaseyo, Profesor.” Katanya.
“Kau datang bersama temanmu? Ayo masuk.” Katanya sambil mempersilakan kami masuk.
Rumah ini seperti tak terurus. Benda-benda terletak tak pada tempatnya. Aku yakin Profesor Sandeul ini masih lajang dan tak sempat membereskan rumahnya. Ia berlari kearah dapur. Sepertinya ia menyiapkan suguhan untuk kami. Hening. Kemudian ia datang dengan membawa nampan yang berisi makanan dan minuman. Ia duduk dihadapan kami.
“Jadi..” Ia memulai percakapan, “Apakah memory box-mu sudah mulai pulih?” Tanyanya.
Aku terbelalak. Bagaimana dia bisa tahu? Aku melirik kearah Jinyoung. Ia juga mengeluarkan ekspresi yang hampir sama denganku. Hening. Jinyoung tak menjawab pertanyaan Profesor Sandeul. Aku jamin, ia tak mengerti mengapa Profesor Sandeul dapat mengetahui rahasianya. Akhirnya aku pun yang membuka mulut.
“Prof..” Panggilku.
“Ya? Oh ya, kau temannya Jinyoung? Kau Gong Chansik kan?”
Aku mengangguk tak mengerti, “Iya, benar. Kau mengetahuiku?”
“Sudah jelas. Kau anak muda yang paling terkenal dikalangan para professor. Andai kau tahu, rata-rata professor di seluruh Korea sangat iri dengan professor Shin Dongwoo karena ia memiliki asisten sepertimu. Hahaha.” Katanya. Aku hanya bisa mengangguk-anggukan kepalaku.
“Jadi prof, maksud kedatangan kami kesini untuk—“
“Kau mau membantuku?” Tanyanya dengan ekspresi muka yang sangat lucu, “Hahaha. Tak apa. Aku sedang tak membuat penelitian.”
“Bukan itu maksudku.” Jawabku dengan kalimat terputus-putus.
Ekspresi wajah Profesor Sandeul berubah menjadi tegang dan datar, “lalu?”
“Aku meminta bantuanmu—kau sudah tahu kan keadaan memory box Jinyoung?”
“Ya, aku pernah menemukannya dengan keadaan yang lemah. Dan ketika itu aku menyadari bahwa ada yang tak beres dengannya. Ternyata ia memiliki memory box yang gampang terbongkar.”
Aku mengerutkan alis mendengar penjelasan Profesor Sandeul, “Sepertinya kau banyak mengetahui tentang memory box.”
“Aku pernah mempelajarinya.”
“Jadi, aku mohon tolong pulihkan memory box Jinyoung. Dan tolong cari tahu atom apa yang ada di dalam memory box-nya. Kalau bisa dihapus saja.”
Ia mengangguk, “Kalau begitu boleh aku sekarang mengecek memorynya?”
Aku mengangguk pelan.
“Ayo Jinyoung masuk ke laboratoriumku.”
Jinyoung berdiri dan mengikuti Profesor Sandeul kearah laboratoriumnya. Seperti ada yang tidak beres. Perasaan itu makin mencuat ketika Jinyoung hampir masuk kedalam laboratorium milik Profesor Sandeul.
“Prof… Boleh aku ikut ke dalam?” Tanyaku.
Hening. Jinyoung dan Profesor Sandeul memberhentikan langkahnya. Profesor Sandeul membalikkan badannya penuh dan melihat kearahku. Matanya seakan bicara. Tapi aku tak dapat menangkap apa maksudnya. Ekspresi wajahnya tampak dingin dan datar.
“Boleh. Kemarilah.” Katanya dengan senyuman yang sangat lebar.
Aku berjalan mendekati pintu laboratorium miliknya. Makin dekat aku makin merasakan ada yang tak beres. Jantungku makin lama makin berdegup tak karuan. Dan ketika aku sampai di depan pintu laboratorium itu….
“Arrrrgh!”
J
Shin Dongwoo POV
Sore ini, aku menyempatkan ke makam istriku. Aku ingin meminta persetujuan dengannya. Setelah aku mengunjungi makam itu, aku akan pergi ke Busan untuk mengikuti lomba itu. Lomba Nobel untuk Robot inovasi terbaru. Aku bersimpuh disamping makam istriku, di tanah kosong. Tanah yang belum ada penghuninya. Aku segera menutup mataku dan berdoa yang tebaik untuknya.
“Ahjussi!” Panggil seseorang dari belakangku. Seorang laki-laki yang usianya mungkin setara dengan Minhyun, anakku.
“Ya?”
“Lama tak bertemu.” Katanya sembari membungkukkan badan. Sungguh anak muda yang sopan.
Aku hanya tersenyum tipis.
“Minhyun belum ditemukan?”
“Belum.” Jawabku singkat lalu menunduk.
“Aiss.. Yang sabar, Ahjussi. Aku yakin Minhyun masih ada disekitar kita. Tapi kita tak dapat menemukannya.”
Aku hanya mengangguk. Aku melihat kearah jam tangan yang kupakai. Sudah pukul 4 sore. Seharusnya Gongchan sudah menyusulku di makam sesuai dengan inti pesanku yang kukirim dua jam yang lalu. Tapi ia tak menyusulku juga.
“Ahjussi, kau tak apa-apa?” Tanyanya.
Aku menggelengkan kepala, “Kau mengenal Gong Chansik?”
“Ya, aku mengenalnya. Ketika pulang sekolah tadi aku bertemu dengannya. Ia kerumah Profesor Sandeul.”
“Profesor Sandeul?”
-To Be Continued-
Next Chapter…
“Wae?”
“Arrrrrrgh!”
“Apa yang kau lakukan kepadaku?!”
“Dasar keparat!”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar