Minggu, 25 Maret 2012

The Scary Game [Part 1]





Annyeooong Readers!!! author minnia datang lagi membawa fanfict baru (?) cerita kali ini diilhami dari novel teenlit indonesia yang admin baca~~ castnya Infinite dan Choi Hanna. kebetulan Choi Hanna ini temen author dan cinta sama infinite~ yaudah deh happy reading yaaa ^^

Title : The Scary Game [Part 1]
Author : Minnia
Genre : Mistery romantic
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Jang Dongwoo, Kim Sunggyu.


Hanna POV
                “Ayo cepat majukan lima langkah!” Teriakku di telinga Sungyeol. Lamban sekali kerjanya.
                Aku, L, Hoya, dan Sungyeol saat ini sedang bersantai di pondok mini taman belakang rumahku. Kami sedang bermain monopoli. Ya, hal ini lah yang kami sering lakukan jika libur semester kuliah. Semenjak kuliah, kami sering disibukkan dengan kegiatan kami sendiri-sendiri. Walaupun satu universitas dan satu fakultas, tetap saja aktifitas kami berbeda. Contohnya saja aku, semenjak aku masuk universitas, aku sudah diajar oleh kakak tiriku, Nam Woohyun, mengelola perusahaan milik ayahnya. Ya, itu cukup rumit sih, tapi apa boleh buat. Hoya dan Sungyeol sepertinya disibukkan dengan kegiatan di club tenis yang mereka ikuti, sedangkan L alias Myungsoo dia lebih aktif menjadi pecinta alam dan memasuki hutan hutan liar di sekitar Korea. Bahkan dia sering keluar negeri hanya untuk mendaki gunung atau menjelajah hutan. Sungguh hobi yang aneh.
                “Aku bosan.” Ujar Hoya sambil menyenderkan punggungnya ke kayu penyangga dinding pondok ini.
L mengikuti gerakannya, ia mengibaskan rambutnya, “Aku juga.”
Aku memandang ketiga sahabatku satu persatu. Mukanya memang tampak sangat suntuk. Ya, aku baru ingat kalau kami semua sudah beranjak dewasa, dan pastinya kami sudah beranjak dari permainan anak kecil yang kami sering lakukan dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Sungyeol memandang kelangit.
“Hari ini sangat panas ya,” ujarnya sambil mengelap bulir keringat yang jatuh dari pelipisnya, “Terik sekali.”
Aku mengerti maksudnya. aku melihat kearah sepoci jus jeruk yang sudah sekarat. Aku mengambilnya dan masuk ke dalam rumah. Aku mengambil persediaan jus jeruk di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam poci yang nyaris tak berisi itu. dan tak lupa aku menaruh es yang dapat menjaga suhu dingin jus jeruk itu. aku segera keluar.
“Minumlah..” Kataku sambil meletakkan kembali poci itu.
Dengan penuh nafsu Sungyeol mengambil poci itu dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. Ia meneguk habis jus jeruk itu. disusul dengan Hoya dan L. kami pun hanyut dalam pemikiran masing masing masing. Aku melihat kearah jam tangan yang kupakai, baru pukul duabelas siang. Waktu hari ini masih sangat panjang.
“Aku bosan.” Hoya mengulangi perkataannya tadi.
“Bagaimana kalau kita bertanding tenis nanti sore?” Tanya Sungyeol. Wajah Hoya berubah menjadi sangat semangat.
“Boleh.” Jawab L cepat. Mereka semua melihat kearahku.
“A-apa?” Tanyaku.
“Kau mau kan? Jadi kita bisa bermain double.” Goda Sungyeol.
Melihat antusias wajah mereka, akhirnya aku menganggukkan kepala dengan canggung. Ya, walaupun tidak terlalu mahir memainkan raket tenis, aku harap nanti aku bisa bersenang-senang dengan ketiga sahabatku ini.
Drrt.. Drrt..
Kedua ponsel itu berdering, ponsel L dan ponsel Sungyeol. Mereka menekan tombol hijau.
“Yeoboseyo?” Suara sungyeol memulai pembicaraan.
“Hm?” Suara L membuka pembicaraan juga.
Mereka berdua segera menjauh dari pondok ini. aku dengar L hanya mengatakan “Ya” “Sebentar lagi” bahkan hanya dengan anggukan saja. Terkadang L lucu juga, mana mungkin orang yang menelponnya melihat ia menganggukkan kepalanya? Hahaha. Berbeda dengan Sungyeol, ia sangat mahir berbicara, maksudku ia senang berbicara. Diantara kami berempat, dialah yang sering mengoceh. L selesai menerima telponnya.
“Nanti sore jam berapa?” Tanya L pada Hoya. Hoya hanya menaikkan bahu sebelahnya.
Sungyeol menghampiri kami, “Bagaimana kalau pukul 4? Di lapangan Woolim ya.”
Kami semua mengangguk. Lapangan Woolim alias lapangan universitas kami terbuka untuk umum. Sungyeol mengembil tasnya dan memasukkan barang barang yang ia keluarkan dari tasnya. Ia meresleting tasnya.
“Sungjong sudah menelponku. Aku harus pulang. Dia sendirian dirumah. Nanti sore jangan lupa ya!” Kata Sungyeol sambil melambaikan tangannya dan keluar dari area rumahku. Kami hanya meratapi punggung Sungyeol yang semakin hilang.
“Sepertinya aku juga harus pulang,” Kata L sambil bangkit dari posisi duduknya, “Sunggyu hyung sudah menyuruhku pulang.”
L melambaikan tangannya dan kembali menghilang. Kini hanya tinggal aku dan Hoya disini. Sunyi. Sepertinya Hoya belum mau pulang. Ia kembali meneguk jus jeruknya lagi. Aku melihatnya.
“Wae?” Tanyanya.
“Aniya, kau tak pernah berubah.” Kini aku merubah posisiku menghadap dirinya.
“Maksudmu?”
“Ya, kau tetap Hoya yang dulu. Kau tak pernah berubah. Selalu begini.”
“Bukankah bagus jika aku tetap menjadi Hoya yang dulu?”
“Memang, tapi, sikap cuekmu tak pernah berubah.”
Hoya diam. Ia menunduk.
“Hahaha, sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan.”
Ia mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum. senyumannya sangat manis. Aku baru kali ini melihat Hoya tersenyum manis.
“Nyanyikan sebuah lagu.”
“He?”
“Nyanyikan sebuah lagu. Aku minta. Aku sudah lama tak mendengarkan kau bernyanyi.”
“Baiklah—“
Hoya mulai menarik nafasnya. Ia melantunkan sebuah lagu jazz modern yang sangat terkenal, I’m Yours. Suaranya mengalir lembut di telingaku. Semakin dewasa, suara Hoya semakin bagus. Aku pun hanyut terbawa dalam suasana yang sangat indah ini. Hoya berhenti menyanyikan lagu itu. ia melihat kearah pintu masuk kerumahku. Nam Woohyun. Kakak tiriku sedang berdiri di tengah pintu tersebut sambil memandangi kami. Ketika aku melihat kearahnya, seulas senyuman turun dari ujung bibirnya. Aku membalas senyumannya. Aku kembali fokus kepada Hoya. Ia menunduk.
“Sepertinya aku harus pulang sekarang.” Katanya sambil bangkit.
Aku hanya melongo melihat sikapnya yang berubah drastis. Dengan cepat ia meninggalkan aku dan melambaikan tangannya. Dan lama kelamaan pun punggungnya hilang di depan mataku. Aku masuk kedalam rumah. Mendapati Woohyun oppa sedang menonton televisi. Aku menghampirinya.
“Bagaimana dengan hari ini?” Tanyaku.
“Tidak terlalu buruk. Konsumen sudah mulai meningkat.”
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Lalu bagaimana denganmu hari ini?” Ia menanyaiku.
“Maksudnya?”
“Kau senang bertemu dengan sahabatmu hari ini?” Tanyanya sambil mengendurkan dasi yang melilit kerah kemejanya.
“Ya begitulah.”
“Begitu apanya?”
“Ya begitu, agak canggung. Padahal dulu ketika kami masih anak-anak kami sering tertawa sambil berlarian di taman.”
“Hahaha. Kau merindukan saat itu?”
“Sangat merindukannya.”
Woohyun oppa mengelus kepalaku. Inilah bedanya kakak tiri yang sesungguhnya. Aku merasa ia kakak tiri paling baik di seluruh dunia. Ayahnya menikahi ibuku ketika umurku baru empat tahun. Ia menjagaku dengan baik ketika orangtua kami pergi untuk mengurusi bisnis diluar kota maupun Negara lain. Tapi, sekarang aku juga harus merelakan Woohyun oppa menjadi pengganti ayah yang mengurusi kantor kantor cabang disekitar Korea. Aku jadi jarang bertemu dengannya. Tertawa dengannya saja merasa kekurangan. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mengambil tas kerjanya. Lalu ia menaiki tangga. Ia terhenti.
“Nanti sore apa kau ada acara?” Tanyanya.
“Aku sudah ada janji dengan mereka untuk bermain tenis di Woolim. Wae?”
“Ah aniya.” Katanya sambil terus menaiki anak tangga itu satu persatu. Dan Woohyun oppa pun menghilang dari hadapanku.
Aku segera ke kamarku untuk menyiapkan hal hal yang perlu untuk nanti sore. Semua sudah kumasukkan ke dalam ransel pink kesayanganku. Samar samar aku dapat mendengar suara Woohyun oppa yang sedang berbicara sendiri. Mungkin ia sedang menelpon seseorang.
“Ne. Ne. Nanti kukabari kau akan melakukan apa saja. Tapi jangan lupa tujuan kita.” Katanya. setelah itu aku tak mendengar suaranya lagi.

-To Be Continue-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar