Minggu, 25 Maret 2012

Robogenoman [Part 9]





Title : Robogenoman [part 9]
Author : Minnia
Genre : Romantic fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Jung Jinyoung, Gong Chansik
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)

Jinyoung POV
-flashback-
                Gongchan berjalan perlahan-lahan mendekati kami—aku dan Profesor Sandeul. Seperti ada yang aneh dengan Profesor Sandeul. Tapi aku tak dapat mengetahuinya—tunggu, apa itu dibalik saku celananya? Aku seperti pernah melihat itu. Amplop surat berwarna biru muda. Aku menoleh pada Gongchan yang semakin mendekat kearah kami. Matanya memberikan isyarat was was. Aku mundur sedikit karena Profesor Sandeul makin lama memundurkan langkahnya.
                “Oh ya, hari ini perlombaan nobel robot inovasi terbaru di Busan bukan?” Tanyanya. Gongchan memberhentikan langkahnya.
                “Iya. Kau mengikutinya?”
                “Aku sedang menyiapkan sebuah robot terbaru. System operasinya sudah siap tapi..”
                “Wae?”
                “Aku belum sempat meletakkan system operasi itu kedalam tubuh si robot.”
                “Kau terlambat.” Kata Gongchan dengan senyum sinisnya.
                Aku seperti melihat dua orang yang sedang memulai perang. Tatapan mata Gongchan sangat sinis dan ia bernafas dengan cepat. Uap uap hembusan nafasnya mengelilingi sudut wajahnya yang lonjong. Aku mulai mencium hawa tidak beres—intuisiku berkata seperti itu. Semakin Profesor Sandeul bergerak, semakin terlihat apa yang tersembul dibalik saku celananya satu lagi. Sebuah remote. Bentuknya hampir sama dengan remote control milikku. Dan benar, aku mulai mencium sesuatu yang tidak beres. Aku melayangkan pandangan kearah Gongchan. Aku mencoba menyuruhnya mundur dengan tatapan mataku. Tapi tak bisa. Gongchan terus maju. Mataku tak bisa berkata-kata. Hah! Dasar bodoh. Aku sangat bodoh. Aku hanya sebuah robot. Mana mungkin melakukan apa yang manusia lakukan. Mataku mana mungkin bisa berbicara layaknya manusia biasa. Ketika aku mulai membuka mulut, Gongchan sudah berada tepat di depan Profesor Sandeul. Ini semua sudah terlambat.
                “Silahkan ma…” Kata Profesor Sandeul lalu beralih tempat menjadi dibelakang Gongchan.
                “Arrrrrrgh!” Jerit Gongchan ketika Profesor Sandeul mendorongnya sampai mengenai tubuhku.
                Aku dan Gongchan terjerembab di dalam laboratorium milik Profesor Sandeul. Tubuhku dan tubuh Gongchan berbenturan. Mungkin sangat keras sampai sampai kami berdua jatuh di lantai dingin ini. Kepala Gongchan berbentur dengan lantai. Dan tak lama kemudian muncul warna biru di sekitar dahinya. Profesor Sandeul mengeluarkan sesuatu dari saku celananya—remote control tadi. Ia mengarahkannya padaku. Dan menekan suatu tombol merah yang besar.
                “Hahahaha! Dasar anak muda yang bodoh! Selamat menempuh hidup baru! Kalian akan mati terpanggang oleh robot buatanmu, Gong Chansik. Hahahahaha!” Ia tertawa keras lalu menutup pintu laboratorium.
                Aku bangkit dan terlambat, pintu itu sudah tertutup rapat. Gongchan bangkit dan menekan-nekan hendel pintu itu. Terkunci. Aku dapat merasakan tubuhku makin lama makin terasa hangat dan lama-kelamaan tubuhku menjadi panas. Aku mengangkat kedua tanganku. Aku melihat ujung jemariku yang mulai berubah menjadi berwarna merah.
                “Hei! Buka pintunya! Hei!” Teriak Gongchan sambil mencoba mendobrak pintu itu. tapi sepertinya ia terlalu lemah untuk mendobrak pintu besar itu.
                Ting… terdengar suara besi jatuh tak jauh dari kami. Dan terdengar derusan air. Seseorang menendang pintu besar itu dari luar. Tendangan itu mengakibatkan kepala Gongchan terbentur lagi karena ia sedang bersandar ke pintu besar itu.
                “Percuma! Kunci ruangan ini sudah aku buang ke tempat pembuangan akhir! Aku sudah membuangnya ke toilet! Hahahaha! Dasar bocah bodoh!”
                “Apa yang kau lakukan kepadaku?!” Kini aku mulai berteriak.
                “Hei robot! Kau diam saja! Kau itu makhluk paling bodoh yang pernah kujumpai! Memory dan atom itu aku yang melakukannya! Hahaha!”
                Aku tertegun, “Apa yang kau lakukan pada memory box-ku?!”
                “Hanya menghapus beberapa rencana jahatku yang kutata secara rapi, dan menyelipkan sebuah bom atom yang sangat kecil. Dan atom itu tak dapat diketahui oleh program apapun kecuali program yang kumiliki! Hahaha!” Ia terus tertawa, “Sebenarnya aku mengisi rencana jahatku dan kau yang melakukan itu semua. Ketika aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, aku menghapus memorymu.”
                Aku mundur beberapa langkah. Aku tak percaya apa yang ia katakan. Punggungku terbentur sesuatu. Aku tak melihatnya. Aku hanya melihat Gongchan yang terus mendobrak pintu itu. Perlahan aku mulai merasakan ada yang bergetar dari kepalaku.
                “Hahahaha! Tak lama lagi kalian akan menjadi daging panggang yang sangat lezat! Selamat tinggal!” Katanya sambil tertawa lagi. Kali ini tertawa bukan hal yang sangat menyenangkan. Tawaan itu malah menjadi hal yang sangat menakutkan.
                Brakk. Seperti ada suara hentakan pintu diluar sana.
                “Mana Gongchan?! Mana Jinyoung?!” Kata suara itu. suara itu sangat familiar. Aku mengenalnya. Profesor Shin Dongwoo.
                “Sebentar lagi mereka akan mati. Hahaha!”
                “Dasar keparat!”
                Buk! Buk! Buk! Brakk!! Aku mendengar dengan jelas suara hantaman itu. Aku menutup kelopak mataku. Mataku memanas. Aku mencoba membalikkan badan dan mendapatkan sebuah kotak yang sangat besar. Kotak ini memuat untuk satu orang. Aku mencoba membukanya. Dan betapa terkejutnya aku mendapati seseorang sedang terbaring dengan alat ditangannya. Aku membuka alat tersebut. Dan Gongchan menyusulku untuk melihatnya.
                “Minhyun?!” Katanya. Ia mengguncang-guncang tubuh Minhyun, “Minhyun! Bangun!”
                Makin lama gerakan tangan Gongchan makin kuat. Ia makin kuat mengguncang tubuh Minhyun. Aku masih mendengar perseteruan antara Professor Shin Dongwoo dan Profesor Sandeul.
                “Percuma! Hari ini adalah hari dimana robot itu akan ditunjukkan! Kau tak akan bisa mengikutinya! Kau tak memiliki robot itu!” Teriak Profesor Shin Dongwoo.
                “Robotku adalah anakmu! Robotku lebih pintar daripada robotmu yang rapuh!”
                Bukk! Suatu hantaman mengenai tubuh seseorang, “Dasar! Mengapa kau selalu menggangguku?! Bisakah kita bersaing secara sehat?!”
                “Percuma. Robotmu sebentar lagi akan mati dilalap api. Bom itu akan segera meledak beberapa saat lagi.”
                Terdengar suara hantaman disambut dengan deru angin. Gongchan masih megguncang-guncang tubuh Minhyun dengan tangannya. Air mata Gongchan menetes. Ia menangis.
                “Minhyun-ah, bangunlah..” Katanya dengan suara parau, “Minhyun! Kau mendengarku kan?!”
                Aku menepuk pundak Gongchan, “Sudah lah jangan menangis. Kita harus memikirkan bagaimana caranya agar Minhyun dapat sadar.”
                Ia mengelap air matanya. Ia lalu mengguncang tubuh Minhyun. Aku mencekat tangannya, “Bukan begitu caranya. Kasihan Minhyun. Ia pasti sedang lemah.”
                Aku memegang tangan Minhyun. Gongchan memegang dagu Minhyun. Lalu ia memencet hidung Minhyun. Ia mulai mendekatkan mulutnya dengan mulut Minhyun. Sepertinya itu hal yang tepat. Memberi nafas buatan atau membuatnya tersedak. Wajah Gongchan semakin mendekat kewajah Minhyun. Entah mengapa dadaku terasa sakit. Sakit sekali. Terasa nyeri. Dan tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku. Walaupun genggamannya tak erat, aku dapat merasakannya. Makin lama genggaman itu semakin erat. Aku menoleh kearah tanganku. Dan kembali melihat kearah Gongchan. Sedikit lagi. Jarak wajah mereka hanya tinggal sedikit saja. Aku menepuk pundak Gongchan dan ia melihat kearahku.
                “Kenapa?” Tanyanya.
-To Be Continued-
Next Chapter..
“J… Jinyoung..”
“J.. Jinyoung-ah..”
“Maaf?”
“Maafkan aku Minhyun. Pergilah.”
“JINYOUNG!!!”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar