Title : The Scary Game [Part 6]
Author : Minnia
Genre : Mistery, Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim
Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee
Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.
Hanna
POV
Aku masih tak menyangka mengapa L
memilih jurang ini sebagai tempat berkemah kami. L ini terkadang memang gila,
dan sialnya aku selalu tak bisa mengatasi kegilaannya. Dan aku benar benar
ingin menguburkan diri di dalam tanah sekarang juga. Aku mencoba menghela nafas
dan malah mendapati udara segar menyerbu masuk ke dalam kedua lubang hidungku.
Rasanya sangat segar. Rimbun hijaunya dedaunan pohon disekitar sini membuat
pandanganku semakin segar dan otakku terasa semakin relax. Sungai di dekat
jurang itu pun tidak kotor dan bau seperti sungai-sungai di kota besar pada
umumnya. Airnya tampak jernih, batu-batuannya terlihat dari atas sini walaupun
jaraknya sangat jauh.
“Sudah
berubah pikiran?” Suara L membuat semua pandangan itu seakan hancur
dihadapanku.
Ah Hoya
kenapa sudah memungut ranting ranting kayu yang berserakan? Jangan bilang kami
betul betul berkemah disini.
“Ini
tempat paling strategis di hutan ini. Tempat ini sering digunakan untuk
berkemah. Jadi kau tidak perlu khawatir.”
Memang
iya, disini banyak sekali bekas abu kayu yang dibakar. Jejak kaki yang sangat besar juga ada. L menurunkan
tenda lipat yang ia tenteng sedari tadi. Yah, menurutku percuma juga kalau aku
tidak setuju bermalam disini. L dan Hoya mana mau mendengarkan perkataanku.
Jelas. L lebih tahu seluk beluk hutan ini daripada aku dan Hoya akan lebih
percaya kepada L daripada percaya denganku. Dengan pasrah, aku meletakkan
ransel pink yang sangat menggembung ini dan membantu Hoya mencari
ranting-ranting yang berjatuhan disekitar sini. Daripada membantu L, aku sama
sekali tidak mengerti cara membangun tenda yang baik dan benar. Menghitung volume
prisma segitiga saja terkadang aku salah.
Sepertinya
musim gugur sudah mulai menjelang. Daun-daun yang kering sudah mulai berjatuhan
dan menimbulkan bunyi-bunyi yang sangat renyah ketika aku menginjaknya. Aku
sangat suka bunyi daun kering yang aku injak.
“Kau
sedang apa?” Kurasa ini bukan suara daun kering yang barusan aku injak. Aku
menolehkan kepalaku. Hoya memandangku aneh sambil memeluk ranting kayu yang
sangat banyak. Bahkan aku baru menemukan beberapa ranting yang berjatuhan. Aku
terlalu sibuk dengan daun-daun kering yang aku injak ini. Kekekekeke.
“Daripada
kau terlihat seperti anak autis, lebih baik kau membantuku membawa ini.”
Mukaku
memanas. Sial, dia mengataiku anak autis. Aku mendekatinya dan mengambil hampir
setengah ranting yang ia peluk. Kami berjalan mendekati L yang sedang membangun
tenda sendirian. Wajahnya tampak serius dan tampak lebih tampan. Aisss apa yang
baru saja aku pikirkan?!
Aku
meletakkan ranting yang kubawa bersebelahan dengan ranting ranting yang Hoya
bawa. Aku duduk disebelah ranting ranting itu dan Hoya malah membantu L yang
sedang memalu kayu agar menancap ditanah. Lalu sebuah tali diikatkan dengan
kayu itu. Alih-alih aku baru mengetahui tali itu asalnya dari mana. Ternyata
dari setiap ujung tenda itu. Lalu L meletakkan sebuah kayu yang cukup besar dan
tinggi di tengah tengah tenda sehingga membuat tenda itu tampak lebih tegak.
“Rumah
kita selesai!” Kata L sambil membersihkan telapak tangannya, ia lalu melihatku
yang masih terduduk di dekat tumpukan ranting pohon, “Cepat masukkan tasmu.”
Aku
mengangguk cepat. Aku membuka salah satu sisi tenda yang dijadikan pintu masuk.
Rapi sekali L memasang tenda ini. Sebelum ia memasang tenda ternyata ia
menggunakan terpal yang bisa digunakan untuk alas agar kami tidak secara
langsung bersentuhan dengan tanah ketika tidur. Aku meletakkan tas ranselku dan
mengeluarkan beberapa cup ramyun instan.
Ya, aku
ingin menghargai kerja keras L dan Hoya karena sudah membuatkan tenda, jadi aku
akan membuatkan dan mengikhlaskan dua cup ramyunku hilang sesaat untuk mereka
berdua. Tapi tunggu dulu.
“Dimana
air panas?” Tanyaku.
L
menunjuk sungai dibawah sana.
“Aku
serius.”
“Air
itu bisa diminum. Tapi belum direbus, jadi rasanya belum panas.”
Aku
memutarkan kedua bola mataku, “Aku ingin membuat ramyun untuk kalian.
Sekarangkan sudah menjelang siang. Kalian pasti sangat lapar.”
“Kalau
begitu aku akan mengambil airnya.” Kata Hoya sambil mengeluarkan panci kecil
dari dalam tasnya.
Sial,
tasnya yang sekecil itu bisa memuat panci?! Tasku saja hanya bisa memuat
pakaian, segala embel-embel untuk membersihkan diri, dan makanan.
“Baiklah.
Di dekat sana ada tanah yang menyerupai tangga. Turun perlahan. Disana licin.
Aku akan membuat api.” Kata L.
Hoya
mengangguk dan segera turun. Sesekali kami dapat mendengar sedikit jeritan Hoya
dan bunyi sepatu yang berdecit. Pasti ia hampir kehilangan keseimbangan. Dan
sekarang aku melihat L berkutat di depan tumpukan ranting-ranting pohon yang
kering itu. Ia menggesekkan satu ranting ke ranting lainnya. Hal itu membuat
suara gesekannya menjadi khas. Aku mendekati L.
“Sedang
apa?” tanyaku polos sambil mengikuti kegiatan yang dilakukannya.
“Membuat
api.”
Aku
berhenti menggesekkan ranting itu, “Kau konyol. Kau mau sampai berlumut membuat
api? Hei aku sudah lapar. Keluarkan korek apimu.”
“Aku
tidak bawa. Ini memang cara membuat api, tau?!”
“Ini
cara primitif! Cara tradisional, kita akan mendapatkan api dalam waktu yang
lama.”
L memberhentikan
kegiatannya dan menatapku. Matanya tampak tajam. Aku jadi takut, “Sekarang
musim apa?”
“Penghujung
musim panas.”
“Karena
kering dan panaslah ranting ini cepat mengeluarkan percikan api.”
Aku
hanya bisa membulatkan mulutku dan L dengan cepat menggesekkan rantingnya lebih
kuat. Memang benar, keluar percikan api. Aku menjauh dari L, aku takut percikan
api itu mengenaiku.
Dengan
sigap ia meletakkan ranting yang sudah berapi itu diatas tumpukan ranting-ranting
kering lainnya. Perlahan tapi pasti percikan api itu menjalari setiap kulit
ranting yang kering dan menimbulkan asap keabuan dan api pun mulai membesar.
L
menggesekkan kedua tangannya.
“Ini
airnya,” Terdengar suara Hoya yang mulai menata nafasnya. Ia berpeluh, “Wah
apinya sudah hidup ya.”
Aku
segera mengambil ketiga cup ramyun instan itu dan membuka kertas penutup cup
ramyun itu. Perlahan aku merobek plastik bumbu ramyun dan menuangkan ke dalam cup
itu. Aku mendekati L dan Hoya yang sedang menunggu air di panci itu mendidih.
Aku memberi mereka satu persatu cup ramyun yang aku pegang.
“Ini,
tuang airnya sesuai selera kalian. Aku tidak ingin merusak mood makan siang
kalian.” Kataku sambil menggoncang isi ramyun cup-ku.
Aku
ingat sekali aku pernah menuangkan banyak air di ramyun cup milik L ketika ia
sedang sakit, dan ketika itu ia tidak mau makan karena kuah ramyun-nya terlalu
berlebihan. Sejak itu aku jadi menuangkan sedikit air ke dalam cup ramyun
ketika aku dan sahabatku memakan ramyun cup. Dan ketika aku menuangkan sedikit
air panas ke dalam cup ramyun milik Hoya, ia malah memarahiku. Katanya waktu
itu musim dingin, jadi air panas di dalam ramyun cup miliknya harus banyak dan
kalau musim panas, kuah ramyunnya harus sedikit. Dan sekarang penghujung musim
panas dengan cuaca yang tidak terlalu panas tetapi berangin, aku tidak tahu
seberapa takaran air panas yang harus aku tuang ke dalam ramyun cup milik Hoya.
Intinya, aku kapok menuangkan air panas ke dalam ramyun cup milik mereka
berdua.
“Hanna
Agassi—“ Sentak L.
“Ya!
Kau tidak harus memanggilku nona!”
“Daritadi
kau melamun,” Kata Hoya sambil mengaduk-aduk isi ramyunnya, “Cepat masukkan air
panasnya, nanti airnya dingin.”
Aku
mengangguk dan mengangkat panci berisi air itu. Terasa ringan. Aku menuangkan
isi panci itu ke dalam ramyun cup-ku. Airnya hanya mengisi setengah cup dari
satu ramyun cup ini. Ramyunku tidak tenggelam sepenuhnya. Aku menghempaskan
panci itu dan menatap mereka satu-satu.
“Kalian
tahu kan kalau aku sangat menyukai ramyunku tenggelam di air panas yang sangat
banyak?” Kataku dengan nada ketus.
L
menunjuk wajah Hoya, “Hoya yang menuangkan air panas terbanyak!”
“Bukankah
musim ini musim panas, Hoya-ssi?”
“Udara
penghujung musim panas agak sedikit berangin, dan kau tahu turun ke sungai sana
butuh perjuangan yang sangat berat. Air sungainya dingin.”
Aku
menggertakkan gigiku. Niatku tidak mengacaukan mood makan mereka yang ada malah
mereka yang mengacaukan mood makan siangku kali ini. Sial. Dengan perlahan aku
mengaduk ramyunku agar cepat tenggelam dan aku bisa cepat-cepat menghabiskan
ramyun ini.
“Kau
marah kepadaku?” Tanya Hoya membuatku kaget.
“Kau
membuatku terke—Uhukk!” Sialnya aku benar-benar tidak mengontrol pernapasan dan
pangkal pencernaan, itu membuatku tersedak.
“Telan
dulu makananmu baru bicara!” Kata L sambil menepuk punggungku lumayan keras.
Aku
berlari masuk ke dalam tenda untuk mengambil botol air minumku. Airnya tinggal
sepertiga botolku. Aku menghabiskannya.
“Uhukk!”
Rasa pedih di tenggorokanku belum hilang.
Dari
belakangku terjulur sebuah tangan memegang botol air minum yang masih penuh,
“Minumlah.”
Aku
merampasnya dan langsung meneguk habis air yang baru saja aku rampas tadi. Aku
berbalik, “Gomawo.”
L
tersenyum dan duduk disampingku. Angin mulai berhembus kencang melewati seluk
beluk hutan ini. Angin itu membuat kulitku terasa ikut nyeri ketika banyak
daun-daun yang ikut bergesekan. Sudah mulai banyak daun berguguran. Jangan bilang
beberapa detik lagi musim gugur.
“Yak!!!
Aduh angin sialan!” Umpatku ketika mengetahui sesuatu yang masuk ke dalam
mataku.
Mataku
kelilipan. Aisss angin ini memang ingin mengajak ribut. Ah aku tidak bawa obat
tetes mata lagi! Argh ini rasanya perih. Aku terus menggesek kelopak mataku
dengan jariku. Tangan L yang dingin mencengkeram pergelangan tanganku.
“Jangan.
Jangan seperti itu. Itu membuat debu yang masuk ke dalam matamu makin
menyebar.”
Ingin
sekali aku menampar pipinya L. dia tidak merasakan perih di mataku dan dia
bilang jangan melakukan itu. Jadi aku harus bagaimana?! Dan sialnya cengkeraman
L sangat kuat.
“Jangan
bergerak.” Perintahnya.
Ia
mulai menarik kelopak mataku, “Sakit! Hei! Aduh mataku perih!”
“Sabar!
Aku sedang berusaha meniup matamu!”
“Jangan!
Aku tak suka hal itu. Berikan aku obat tetes, cepat!”
“Aku
tak bawa!”
“Aiss
cepatlah lakukan apa saja. Mataku perih.” Kataku mulai terisak.
L mulai
menarik lagi kelopak mataku dan meniup dengan cepat. Ia tetap mencengkeram
tanganku. Aku membuka satu mataku.
“Apa
sudah baikan?” Tanyanya.
“Masih
perih!” Teriakku sambil menepuk pipi L.
“Keluarkan
air matamu. Menangislah.”
“Kau
tak lihat ini?! Pipiku sudah banjir dengan air mataku.”
“Dibagian
mana yang masih terasa mengganjal?”
Aku
menunjuk ditengah-tengah bolamataku. Ia memiringkan kepalaku ke kiri dan ia
mendekatkan wajahnya dengan wajahku.
“Jangan
bergerak. Jangan lakukan apapun kecuali bernapas. Aku akan mengeluarkan
debunya.”
Aku
menghela napas. Aku kira ia ingin menciumku. Hei tunggu apa yang baru saja aku
pikirkan?
Ia
mulai mengurut kelopak mataku. Dari kanan ke kiri, kanan ke kiri, kanan ke
kiri. Dan aku merasa ada yang berjalan di bola mataku. Sontak mataku
mengeluarkan air mata. Dan L mengurut kelopak mataku lagi sampai aku merasa
tidak ada yang mengganjal lagi di bolamataku. Ia membuka kelopak mataku dan
meniupnya kembali.
“Jeongmal
kamsahamnida, L!” Kataku sedikit dengan suara parau. Ini akibat terlalu banyak
air mata yang keluar dan menahan jeritan pedih dari mataku. L mengelap air
mataku dan tersenyum.
Brakk,
suara benda berat yang jatuh terdengar dekat dengan kami. Tampak Hoya dengan
wajah terkejutnya dan ranting-ranting kering yang berserakan di tanah.
“Kalian—A..aku
akan mengambil air sebentar.” Ia berlari mengambil panci dan segera turun ke
sungai.
Next Chapter….
“Tanganmu tak apa?”
“Ck, omong-omong Hoya kenapa lama sekali mengambil airnya?”
“Kau kenapa?”
“Ada darah.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar