Sabtu, 01 September 2012

The Scary Game [Part 6]


Title : The Scary Game [Part 6]
Author : Minnia
Genre : Mistery, Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.

                Hanna POV
Aku masih tak menyangka mengapa L memilih jurang ini sebagai tempat berkemah kami. L ini terkadang memang gila, dan sialnya aku selalu tak bisa mengatasi kegilaannya. Dan aku benar benar ingin menguburkan diri di dalam tanah sekarang juga. Aku mencoba menghela nafas dan malah mendapati udara segar menyerbu masuk ke dalam kedua lubang hidungku. Rasanya sangat segar. Rimbun hijaunya dedaunan pohon disekitar sini membuat pandanganku semakin segar dan otakku terasa semakin relax. Sungai di dekat jurang itu pun tidak kotor dan bau seperti sungai-sungai di kota besar pada umumnya. Airnya tampak jernih, batu-batuannya terlihat dari atas sini walaupun jaraknya sangat jauh.
                “Sudah berubah pikiran?” Suara L membuat semua pandangan itu seakan hancur dihadapanku.
                Ah Hoya kenapa sudah memungut ranting ranting kayu yang berserakan? Jangan bilang kami betul betul berkemah disini.
              “Ini tempat paling strategis di hutan ini. Tempat ini sering digunakan untuk berkemah. Jadi kau tidak perlu khawatir.”
                Memang iya, disini banyak sekali bekas abu kayu yang dibakar. Jejak kaki  yang sangat besar juga ada. L menurunkan tenda lipat yang ia tenteng sedari tadi. Yah, menurutku percuma juga kalau aku tidak setuju bermalam disini. L dan Hoya mana mau mendengarkan perkataanku. Jelas. L lebih tahu seluk beluk hutan ini daripada aku dan Hoya akan lebih percaya kepada L daripada percaya denganku. Dengan pasrah, aku meletakkan ransel pink yang sangat menggembung ini dan membantu Hoya mencari ranting-ranting yang berjatuhan disekitar sini. Daripada membantu L, aku sama sekali tidak mengerti cara membangun tenda yang baik dan benar. Menghitung volume prisma segitiga saja terkadang aku salah.
                Sepertinya musim gugur sudah mulai menjelang. Daun-daun yang kering sudah mulai berjatuhan dan menimbulkan bunyi-bunyi yang sangat renyah ketika aku menginjaknya. Aku sangat suka bunyi daun kering yang aku injak.
                “Kau sedang apa?” Kurasa ini bukan suara daun kering yang barusan aku injak. Aku menolehkan kepalaku. Hoya memandangku aneh sambil memeluk ranting kayu yang sangat banyak. Bahkan aku baru menemukan beberapa ranting yang berjatuhan. Aku terlalu sibuk dengan daun-daun kering yang aku injak ini. Kekekekeke.
                “Daripada kau terlihat seperti anak autis, lebih baik kau membantuku membawa ini.”
                Mukaku memanas. Sial, dia mengataiku anak autis. Aku mendekatinya dan mengambil hampir setengah ranting yang ia peluk. Kami berjalan mendekati L yang sedang membangun tenda sendirian. Wajahnya tampak serius dan tampak lebih tampan. Aisss apa yang baru saja aku pikirkan?!
                Aku meletakkan ranting yang kubawa bersebelahan dengan ranting ranting yang Hoya bawa. Aku duduk disebelah ranting ranting itu dan Hoya malah membantu L yang sedang memalu kayu agar menancap ditanah. Lalu sebuah tali diikatkan dengan kayu itu. Alih-alih aku baru mengetahui tali itu asalnya dari mana. Ternyata dari setiap ujung tenda itu. Lalu L meletakkan sebuah kayu yang cukup besar dan tinggi di tengah tengah tenda sehingga membuat tenda itu tampak lebih tegak.
                “Rumah kita selesai!” Kata L sambil membersihkan telapak tangannya, ia lalu melihatku yang masih terduduk di dekat tumpukan ranting pohon, “Cepat masukkan tasmu.”
                Aku mengangguk cepat. Aku membuka salah satu sisi tenda yang dijadikan pintu masuk. Rapi sekali L memasang tenda ini. Sebelum ia memasang tenda ternyata ia menggunakan terpal yang bisa digunakan untuk alas agar kami tidak secara langsung bersentuhan dengan tanah ketika tidur. Aku meletakkan tas ranselku dan mengeluarkan beberapa cup ramyun instan.
                Ya, aku ingin menghargai kerja keras L dan Hoya karena sudah membuatkan tenda, jadi aku akan membuatkan dan mengikhlaskan dua cup ramyunku hilang sesaat untuk mereka berdua. Tapi tunggu dulu.
                “Dimana air panas?” Tanyaku.
                L menunjuk sungai dibawah sana.
                “Aku serius.”
                “Air itu bisa diminum. Tapi belum direbus, jadi rasanya belum panas.”
                Aku memutarkan kedua bola mataku, “Aku ingin membuat ramyun untuk kalian. Sekarangkan sudah menjelang siang. Kalian pasti sangat lapar.”
                “Kalau begitu aku akan mengambil airnya.” Kata Hoya sambil mengeluarkan panci kecil dari dalam tasnya.
                Sial, tasnya yang sekecil itu bisa memuat panci?! Tasku saja hanya bisa memuat pakaian, segala embel-embel untuk membersihkan diri, dan makanan.
                “Baiklah. Di dekat sana ada tanah yang menyerupai tangga. Turun perlahan. Disana licin. Aku akan membuat api.” Kata L.
                Hoya mengangguk dan segera turun. Sesekali kami dapat mendengar sedikit jeritan Hoya dan bunyi sepatu yang berdecit. Pasti ia hampir kehilangan keseimbangan. Dan sekarang aku melihat L berkutat di depan tumpukan ranting-ranting pohon yang kering itu. Ia menggesekkan satu ranting ke ranting lainnya. Hal itu membuat suara gesekannya menjadi khas. Aku mendekati L.
                “Sedang apa?” tanyaku polos sambil mengikuti kegiatan yang dilakukannya.
                “Membuat api.”
               Aku berhenti menggesekkan ranting itu, “Kau konyol. Kau mau sampai berlumut membuat api? Hei aku sudah lapar. Keluarkan korek apimu.”
                “Aku tidak bawa. Ini memang cara membuat api, tau?!”
                “Ini cara primitif! Cara tradisional, kita akan mendapatkan api dalam waktu yang lama.”
                L memberhentikan kegiatannya dan menatapku. Matanya tampak tajam. Aku jadi takut, “Sekarang musim apa?”
                “Penghujung musim panas.”
                “Karena kering dan panaslah ranting ini cepat mengeluarkan percikan api.”
                Aku hanya bisa membulatkan mulutku dan L dengan cepat menggesekkan rantingnya lebih kuat. Memang benar, keluar percikan api. Aku menjauh dari L, aku takut percikan api itu mengenaiku.
                Dengan sigap ia meletakkan ranting yang sudah berapi itu diatas tumpukan ranting-ranting kering lainnya. Perlahan tapi pasti percikan api itu menjalari setiap kulit ranting yang kering dan menimbulkan asap keabuan dan api pun mulai membesar.
                L menggesekkan kedua tangannya.
                “Ini airnya,” Terdengar suara Hoya yang mulai menata nafasnya. Ia berpeluh, “Wah apinya sudah hidup ya.”
                Aku segera mengambil ketiga cup ramyun instan itu dan membuka kertas penutup cup ramyun itu. Perlahan aku merobek plastik bumbu ramyun dan menuangkan ke dalam cup itu. Aku mendekati L dan Hoya yang sedang menunggu air di panci itu mendidih. Aku memberi mereka satu persatu cup ramyun yang aku pegang.
                “Ini, tuang airnya sesuai selera kalian. Aku tidak ingin merusak mood makan siang kalian.” Kataku sambil menggoncang isi ramyun cup-ku.
                Aku ingat sekali aku pernah menuangkan banyak air di ramyun cup milik L ketika ia sedang sakit, dan ketika itu ia tidak mau makan karena kuah ramyun-nya terlalu berlebihan. Sejak itu aku jadi menuangkan sedikit air ke dalam cup ramyun ketika aku dan sahabatku memakan ramyun cup. Dan ketika aku menuangkan sedikit air panas ke dalam cup ramyun milik Hoya, ia malah memarahiku. Katanya waktu itu musim dingin, jadi air panas di dalam ramyun cup miliknya harus banyak dan kalau musim panas, kuah ramyunnya harus sedikit. Dan sekarang penghujung musim panas dengan cuaca yang tidak terlalu panas tetapi berangin, aku tidak tahu seberapa takaran air panas yang harus aku tuang ke dalam ramyun cup milik Hoya. Intinya, aku kapok menuangkan air panas ke dalam ramyun cup milik mereka berdua.
                “Hanna Agassi—“ Sentak L.
                “Ya! Kau tidak harus memanggilku nona!”
                “Daritadi kau melamun,” Kata Hoya sambil mengaduk-aduk isi ramyunnya, “Cepat masukkan air panasnya, nanti airnya dingin.”
                Aku mengangguk dan mengangkat panci berisi air itu. Terasa ringan. Aku menuangkan isi panci itu ke dalam ramyun cup-ku. Airnya hanya mengisi setengah cup dari satu ramyun cup ini. Ramyunku tidak tenggelam sepenuhnya. Aku menghempaskan panci itu dan menatap mereka satu-satu.
                “Kalian tahu kan kalau aku sangat menyukai ramyunku tenggelam di air panas yang sangat banyak?” Kataku dengan nada ketus.
                L menunjuk wajah Hoya, “Hoya yang menuangkan air panas terbanyak!”
                “Bukankah musim ini musim panas, Hoya-ssi?”
                “Udara penghujung musim panas agak sedikit berangin, dan kau tahu turun ke sungai sana butuh perjuangan yang sangat berat. Air sungainya dingin.”
                Aku menggertakkan gigiku. Niatku tidak mengacaukan mood makan mereka yang ada malah mereka yang mengacaukan mood makan siangku kali ini. Sial. Dengan perlahan aku mengaduk ramyunku agar cepat tenggelam dan aku bisa cepat-cepat menghabiskan ramyun ini.
                “Kau marah kepadaku?” Tanya Hoya membuatku kaget.
                “Kau membuatku terke—Uhukk!” Sialnya aku benar-benar tidak mengontrol pernapasan dan pangkal pencernaan, itu membuatku tersedak.
                “Telan dulu makananmu baru bicara!” Kata L sambil menepuk punggungku lumayan keras.
                Aku berlari masuk ke dalam tenda untuk mengambil botol air minumku. Airnya tinggal sepertiga botolku. Aku menghabiskannya.
                “Uhukk!” Rasa pedih di tenggorokanku belum hilang.
                Dari belakangku terjulur sebuah tangan memegang botol air minum yang masih penuh, “Minumlah.”
                Aku merampasnya dan langsung meneguk habis air yang baru saja aku rampas tadi. Aku berbalik, “Gomawo.”
                L tersenyum dan duduk disampingku. Angin mulai berhembus kencang melewati seluk beluk hutan ini. Angin itu membuat kulitku terasa ikut nyeri ketika banyak daun-daun yang ikut bergesekan. Sudah mulai banyak daun berguguran. Jangan bilang beberapa detik lagi musim gugur.
                “Yak!!! Aduh angin sialan!” Umpatku ketika mengetahui sesuatu yang masuk ke dalam mataku.
                Mataku kelilipan. Aisss angin ini memang ingin mengajak ribut. Ah aku tidak bawa obat tetes mata lagi! Argh ini rasanya perih. Aku terus menggesek kelopak mataku dengan jariku. Tangan L yang dingin mencengkeram pergelangan tanganku.
                “Jangan. Jangan seperti itu. Itu membuat debu yang masuk ke dalam matamu makin menyebar.”
                Ingin sekali aku menampar pipinya L. dia tidak merasakan perih di mataku dan dia bilang jangan melakukan itu. Jadi aku harus bagaimana?! Dan sialnya cengkeraman L sangat kuat.
                “Jangan bergerak.” Perintahnya.
                Ia mulai menarik kelopak mataku, “Sakit! Hei! Aduh mataku perih!”
                “Sabar! Aku sedang berusaha meniup matamu!”
                “Jangan! Aku tak suka hal itu. Berikan aku obat tetes, cepat!”
                “Aku tak bawa!”
                “Aiss cepatlah lakukan apa saja. Mataku perih.” Kataku mulai terisak.
                L mulai menarik lagi kelopak mataku dan meniup dengan cepat. Ia tetap mencengkeram tanganku. Aku membuka satu mataku.
                “Apa sudah baikan?” Tanyanya.
                “Masih perih!” Teriakku sambil menepuk pipi L.
                “Keluarkan air matamu. Menangislah.”
                “Kau tak lihat ini?! Pipiku sudah banjir dengan air mataku.”
                “Dibagian mana yang masih terasa mengganjal?”
                Aku menunjuk ditengah-tengah bolamataku. Ia memiringkan kepalaku ke kiri dan ia mendekatkan wajahnya dengan wajahku.
                “Jangan bergerak. Jangan lakukan apapun kecuali bernapas. Aku akan mengeluarkan debunya.”
                Aku menghela napas. Aku kira ia ingin menciumku. Hei tunggu apa yang baru saja aku pikirkan?
                Ia mulai mengurut kelopak mataku. Dari kanan ke kiri, kanan ke kiri, kanan ke kiri. Dan aku merasa ada yang berjalan di bola mataku. Sontak mataku mengeluarkan air mata. Dan L mengurut kelopak mataku lagi sampai aku merasa tidak ada yang mengganjal lagi di bolamataku. Ia membuka kelopak mataku dan meniupnya kembali.
                “Jeongmal kamsahamnida, L!” Kataku sedikit dengan suara parau. Ini akibat terlalu banyak air mata yang keluar dan menahan jeritan pedih dari mataku. L mengelap air mataku dan tersenyum.
                Brakk, suara benda berat yang jatuh terdengar dekat dengan kami. Tampak Hoya dengan wajah terkejutnya dan ranting-ranting kering yang berserakan di tanah.
                “Kalian—A..aku akan mengambil air sebentar.” Ia berlari mengambil panci dan segera turun ke sungai.

                Next Chapter….
“Tanganmu tak apa?”
“Ck, omong-omong Hoya kenapa lama sekali mengambil airnya?”
“Kau kenapa?”
“Ada darah.”


Tidak ada komentar:

Posting Komentar