Sabtu, 01 September 2012

Me, You, and Him [Part 1]




Title : Me, You, and Him
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon

Eunna POV
                Jinyoung sedang memasukkan beberapa barang yang harus kami bawa ke pulau Nami nanti. Laki-laki itu berdiri dengan santai tak jauh dari mobil Jinyoung. Hul~ ia membawa satu ransel dan satu gitar yang sedari tadi ia mainkan.
                “Cepat masukkan tasmu!” Perintah Jinyoung.
                Laki-laki itu menolehkan kepalanya kearah Jinyoung lalu berjalan mendekati bagasi mobil Jinyoung. Ia memasukkan ranselnya lalu menutup kap bagasi dengan keras. Ada yang aneh. Aku tak mengenal laki-laki ini dan ia ikut dengan kami—aku dan Jinyoung—ke pulau Nami? Terpaksa aku harus menarik Jinyoung menjauh dari dia untuk menanyakan hal ini.

                “Dia siapa? Kau mengajaknya?” Tanyaku sambil sesekali melihat laki-laki itu.
                “Hei jadi tidak perginya? Kenapa lama sekali? Ck!” Ujar laki-laki itu sambil berkacak pinggang.
                “Dia sepupuku. Namanya Jinwoon, Jung Jinwoon. Musim gugur kali ini dia akan pindah ke sekolah kita. Jadi ibuku menyuruhku membawanya jalan-jalan.”
                “Berikan kuncinya,” Tangannya terjulur di depan Jinyoung, “Kalian ini lama sekali. Aku sudah tak sabar ingin mencelupkan jempolku di pantai terdekat.”
                Jinyoung mendengus kesal lalu menghidupkan mesin mobilnya. Aku duduk di jok samping kemudi. Muka Jinyoung memerah. Pasti ia sangat marah. Ia memendam emosinya. Aku menepuk pundaknya perlahan. Ia menoleh kearahku.
                “Sabar.”
                Ia tersenyum kearahku dan melanjutkan perjalanan.
J
                Jinwoon POV
                Aku baru pindah ke Seoul akhir musim panas tahun ini. Itu artinya awal musim gugur nanti aku akan masuk sekolah baru. Yah pilihan ibuku selalu sama dari dulu hingga sekarang. Pasti, ya pasti, aku akan tinggal dengan Jinyoung dan satu sekolah dengannya. Dan ternyata dugaanku benar. Dari dulu hingga sekarang ibuku tak pernah memisahkan aku dan Jinyoung, padahal kami bukan kembar. Ah coba saja ibuku mengerti kalau aku dan Jinyoung itu tak pernah akur. Jinyoung itu orangnya sangat kaku. Mungkin kau bisa menstabilo satu kataku tadi. SANGAT. Tapi anehnya dia sekarang sedang menimba ilmu di sekolah seni. Ah siswa seni tapi kaku begitu. Tapi baiklah tak apa kali ini aku mengikuti Jinyoung. Yeah! Aku akan masuk sekolah seni terbesar di Korea. Akhirnya bakat bermain gitarku tak akan lenyap dimakan rayap! Aku bisa mengeksplorasikan bakat bermain gitarku dengan seni-seni yang lainnya.
                Kurasa ibuku saja yang sudah gila. Ternyata tidak, ibu Jinyoung juga sudah gila. Mereka berdua ingin sekali aku menguntit kemana Jinyoung pergi. Eh sebaiknya kalimat itu aku ganti. Mereka berdua ingin sekali Jinyoung menguntitku. Tunggu dulu, Jinyoung menguntitku? Tidak cocok. Ya kalimat yang cocok memang aku yang menguntit Jinyoung. Hhhh.
                Jinyoung memberhentikan mobilnya tepat di depan pantai. Di samping kanan kami terdapat bangunan yang lumayan besar dengan warna yang mayoritas berwarna coklat. Jinyoung mematikan mesin mobilnya.
                “Kita sudah sampai.”
                Aku turun dari mobil Jinyoung dan menghirup udara pulau Nami.
                “Namiseon!!!” Teriakku.
                Tunggu dulu sejak kapan gema suaraku berubah jadi suara perempuan? Aku kan tidak pernah operasi pita suara. Apa jangan-jangan suaraku sudah berubah? Aku berdehem. Belum berubah.
                “Ya! Kau kenapa melakukan hal yang sama denganku?!” Tanya perempuan itu, perempuan yang sedari tadi bersama dengan Jinyoung. Kurasa ini yang menjadi alasan ibunya Jinyoung menyuruhku ikut dengan Jinyoung. Ternyata Jinyoung berlibur dengan pacarnya. Humm pantas saja.
                “Mana aku tau!”
                “Bukankah hal yang pertama kau inginkan adalah menyelup jempol kakimu di pantai?”
                “Tidak. itu hanya alasanku agar kita cepat sampai.”
                “Jinwoon, ini tasmu.” Kata Jinyoung sambil menghempaskan tasku.
                Enak saja dia menghempaskan ranselku seenak jidatnya. Dia kira dia siapa bisa bisanya melakukan hal itu kepadaku.
                “Kau ke hotel saja dulu. Aku akan mengurus segala hal untuk kita selama dua hari ini.” Katanya sambil memainkan kunci mobilnya.
                “Lantai berapa?”
                “Lima. Kau mau ikut denganku?” Tanya Jinyoung. Ya kali ini dia tidak bertanya denganku. Melainkan dengan perempuan itu.
                Perempuan itu tampak menimbang nimbang jawabannya. Ikut dengan Jinyoung atau ikut denganku ke lantai lima untuk beristirahat. Ah sudah pastilah ia akan ikut dengan Jinyoung. Wanita itu kan selalu mengekori pacarnya kemana saja. Wanita itu takut ditinggal.
                “Aku ke lantai lima saja.” Jawabnya sambil memikul ranselnya yang kelihatan sangat besar. Sesekali ia membenarkan kacamata yang sedari tadi bertengger di batang hidungnya.
                “Baiklah. Ambil saja kunci di resepsionis atas namaku. Aku memesan dua kamar saja. Jinwoon, aku sekamar denganmu.”
                “Kukira kau akan sekamar dengan pacarmu itu.”
                Perempuan itu mendelik, “Kau kira aku perempuan murahan?!”
                Ah daripada melihat wajah Jinyoung yang semakin memerah karena menahan marah, lebih baik aku langsung masuk ke dalam hotel saja. Aku berpura-pura tak mendengar ucapan Jinyoung kepadaku. Masa bodoh.
                “Hei tunggu.” Kudengar suara perempuan, ya mungkin aku akan memanggilnya pacar Jinyoung, itu yang sepertinya memanggilku.
                Itu sedikit kemungkinan kalau ia memanggilku. Paling tidak sampai 10% fakta kalau dia sedang memanggilku. Ah dasar perempuan sulit dimengerti. Aku terus berjalan ke meja resepsionis.
                “Eoseo oseyo! Ada yang bisa kubantu?”
                “Aku ingin mengambil kunci di kamar lantai lima atas nama Jung Jinyoung.”
                Resepsioner itu seperti mengecek data yang ada di computer di depannya. Wajahnya sedikit tak mengerti dan sulit mempercayai.
                “Aku juga ingin mengambil kunci kamar di lantai lima atas nama Jung Jinyoung.” Kata pacar Jinyoung.
                “Namamu?” Tanya resepsioner itu sambil menatap pacar Jinyoung.
                “Hwang Eunna.” Katanya mantap.
                Resepsioner itu mengambil dua buah kunci dengan seri nomor yang hampir sama, hanya digit terakhirnya saja yang berbeda satu angka.
                “Ini kunci kamarmu, Eunna Agassi.” Katanya sambil memberikan kunci dengan nomor kamar 567.
                Pacar Jinyoung—yang ternyata punya nama yang lumayan bagus, Eunna—itu berlalu dari sampingku.
                “Ah sial kenapa tasku berat sekali. Tidak adakah bellboy disini?” Eunna mengeluh sambil menggoyang-goyangkan tasnya.
                “Dan ini kunci untukmu, Jinyoung-ssi.” Resepsioner itu memberi kunci dengan nomor 568.
                Eunna melihat kearahku, matanya mendelik, “Hei dia bukan Jinyoung!”
                “Ah maaf aku ini Jinwoon.” Kataku menyela.
                Eunna kembali melanjutkan jalannya. Aku ikut berjalan dibelakangnya. Ia berjalan menuju sebuah lift yang letaknya tak jauh dari lobby hotel tadi. Pintu lift terbuka. Lalu kami berdua masuk ke dalam lift yang kosong itu. Eh aku bilang kami? Agak aneh memang, tapi biarlah. Ia menekan tombol angka 5 dan pintu lift segera tertutup.
                Yah Jinyoung dan pacarnya memang tidak jauh sifatnya. Kaku. Tapi aku rasa Eunna adalah pacar Jinyoung yang kukenal paling kaku. Ya, Jinyoung pernah sekali pacaran. Tepatnya Eunna adalah perempuan kedua yang Jinyoung pacari. Sedangkan aku…ah sudahlah kenapa jadi membahas pacarku?! Aku lebih suka sendiri daripada punya pacar seperti mantan pacarku dulu. Sudahlah lupakan.
                Perbedaan Eunna dan pacar pertama Jinyoung sangat jauh. Jauh sekali. Antara Surga teratas dengan neraka terbawah. Lebih dari 7 lapisan langit dan 7 lapisan bumi. Pacar pertama Jinyoung itu noona di sekolahnya dulu. Ya, aku juga tidak akan menyangka Jinyoung bisa menggaet noona itu. Aku pernah mengenal noona itu karena ya intinya dia itu cantik—memang cantik, dia pernah diusulkan ikut Miss Korea tapi karena umurnya belum mencukupi dia tidak jadi ikut—dan pintar. Entah apa yang noona itu lihat dari Jinyoung, adik kelasnya yang kurus, berkulit putih bersih, bermata sipit, bisa sedikit bermain gitar, dan seorang ketua kelas. Ah padahal kalau dibandingkan dengan aku, aku jelas lebih unggul. Aku memiliki eye smile yang khas, tubuhku atletis dan memiliki abs, aku sangat jago dalam hal memetik gitar. Hanya melihat not balok saja aku sudah bisa memainkan dengan lancar tanpa menghitung dimana letak nada yang harus kumainkan.
                Nah itu ciri-ciri pacarnya Jinyoung yang pertama. Dan yang kedua, jengjengjeng.
                Hwang Eunna. Nama yang lumayan bagus. Dia tidak cantik seperti pacar pertama Jinyoung. Ya maksudku cantik di dalam diri perempuan itu relative sama. Hanya saja aura cantik milik Eunna tidak berkoar-koar layaknya aura cantik pacar Jinyoung yang pertama—Aiss aku tak tau nama noona itu—dan untuk urusan otak, aku sama sekali tak tau kapasitas otaknya berapa cc. tampaknya sih pintar, soalnya dia memakai kacamata yang membuat matanya terlihat kecil. Itu sudah pasti minus matanya sangat tinggi. Dan ah iya Eunna ini sangat kaku. Sama seperti Jinyoung. Buktinya saja dari tadi ia tak ada mengobrol denganku bahkan sedikit menyapaku pun tidak. dasar perempuan aneh. Tapi, kalau dibandingkan Jinyoung dengan noona itu dan Jinyoung dengan Eunna. Aku rasa Jinyoung dan Eunna sangat cocok. Ya, mereka sangat kaku.
                Lift berhenti di lantai lima. Eunna mengeret tasnya keluar dari lift.
                “Tasmu berat ya?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.
                Ia mengangguk.
                “Kenapa tidak dengan Jinyoung saja tadi?”
                “Aku lelah.”
                “Kalau kau dengan Jinyoung kan tadi tasmu sudah dibawakan oleh Jinyoung.”
                Ia mendelik kearahku, “Kau ini cerewet sekali.”
                Aku kaget atas respon yang Eunna berikan kepadaku. Ah galak sekali dia.
                “Ah apa yang membuat Jinyoung tergila gila padamu sih?! Dasar perempuan aneh!”
                Ia memasukkan kunci kamarnya ke dalam kenop pintu kamar dengan seri nomor yang sama. Ia menoleh kearahku, “Kau gila.”
                Brakkk. Ia menutup pintunya sangat keras di depan wajahku. Ya, dia aneh dan galak. Apa Jinyoung sudah dibodoh-bodohi ya mau menjadi pacarnya? Atau mungkin sehari menjadi pacarnya, Jinyoung dibayar 50.000 won per hari? Aisss.
                “Ck, kau ini membuatnya badmood,” Kata Jinyoung sambil berkacak pinggang, “Kukira selama 4 tahun kita tidak bertemu kau sudah berubah. Eh ternyata semakin menjadi penyakit jiwamu itu.”
                Sial.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar