Title : Me, You, and Him
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon
Eunna POV
Jinyoung
sedang memasukkan beberapa barang yang harus kami bawa ke pulau Nami nanti.
Laki-laki itu berdiri dengan santai tak jauh dari mobil Jinyoung. Hul~ ia
membawa satu ransel dan satu gitar yang sedari tadi ia mainkan.
“Cepat
masukkan tasmu!” Perintah Jinyoung.
Laki-laki
itu menolehkan kepalanya kearah Jinyoung lalu berjalan mendekati bagasi mobil
Jinyoung. Ia memasukkan ranselnya lalu menutup kap bagasi dengan keras. Ada
yang aneh. Aku tak mengenal laki-laki ini dan ia ikut dengan kami—aku dan
Jinyoung—ke pulau Nami? Terpaksa aku harus menarik Jinyoung menjauh dari dia
untuk menanyakan hal ini.
“Dia siapa? Kau mengajaknya?” Tanyaku sambil sesekali melihat laki-laki itu.
“Hei
jadi tidak perginya? Kenapa lama sekali? Ck!” Ujar laki-laki itu sambil berkacak
pinggang.
“Dia
sepupuku. Namanya Jinwoon, Jung Jinwoon. Musim gugur kali ini dia akan pindah
ke sekolah kita. Jadi ibuku menyuruhku membawanya jalan-jalan.”
“Berikan
kuncinya,” Tangannya terjulur di depan Jinyoung, “Kalian ini lama sekali. Aku
sudah tak sabar ingin mencelupkan jempolku di pantai terdekat.”
Jinyoung
mendengus kesal lalu menghidupkan mesin mobilnya. Aku duduk di jok samping
kemudi. Muka Jinyoung memerah. Pasti ia sangat marah. Ia memendam emosinya. Aku
menepuk pundaknya perlahan. Ia menoleh kearahku.
“Sabar.”
Ia
tersenyum kearahku dan melanjutkan perjalanan.
J
Jinwoon
POV
Aku
baru pindah ke Seoul akhir musim panas tahun ini. Itu artinya awal musim gugur
nanti aku akan masuk sekolah baru. Yah pilihan ibuku selalu sama dari dulu
hingga sekarang. Pasti, ya pasti, aku akan tinggal dengan Jinyoung dan satu
sekolah dengannya. Dan ternyata dugaanku benar. Dari dulu hingga sekarang ibuku
tak pernah memisahkan aku dan Jinyoung, padahal kami bukan kembar. Ah coba saja
ibuku mengerti kalau aku dan Jinyoung itu tak pernah akur. Jinyoung itu
orangnya sangat kaku. Mungkin kau bisa menstabilo satu kataku tadi. SANGAT.
Tapi anehnya dia sekarang sedang menimba ilmu di sekolah seni. Ah siswa seni
tapi kaku begitu. Tapi baiklah tak apa kali ini aku mengikuti Jinyoung. Yeah!
Aku akan masuk sekolah seni terbesar di Korea. Akhirnya bakat bermain gitarku
tak akan lenyap dimakan rayap! Aku bisa mengeksplorasikan bakat bermain gitarku
dengan seni-seni yang lainnya.
Kurasa
ibuku saja yang sudah gila. Ternyata tidak, ibu Jinyoung juga sudah gila.
Mereka berdua ingin sekali aku menguntit kemana Jinyoung pergi. Eh sebaiknya
kalimat itu aku ganti. Mereka berdua ingin sekali Jinyoung menguntitku. Tunggu
dulu, Jinyoung menguntitku? Tidak cocok. Ya kalimat yang cocok memang aku yang
menguntit Jinyoung. Hhhh.
Jinyoung
memberhentikan mobilnya tepat di depan pantai. Di samping kanan kami terdapat
bangunan yang lumayan besar dengan warna yang mayoritas berwarna coklat.
Jinyoung mematikan mesin mobilnya.
“Kita
sudah sampai.”
Aku
turun dari mobil Jinyoung dan menghirup udara pulau Nami.
“Namiseon!!!” Teriakku.
Tunggu
dulu sejak kapan gema suaraku berubah jadi suara perempuan? Aku kan tidak
pernah operasi pita suara. Apa jangan-jangan suaraku sudah berubah? Aku
berdehem. Belum berubah.
“Ya!
Kau kenapa melakukan hal yang sama denganku?!” Tanya perempuan itu, perempuan
yang sedari tadi bersama dengan Jinyoung. Kurasa ini yang menjadi alasan ibunya
Jinyoung menyuruhku ikut dengan Jinyoung. Ternyata Jinyoung berlibur dengan
pacarnya. Humm pantas saja.
“Mana
aku tau!”
“Bukankah
hal yang pertama kau inginkan adalah menyelup jempol kakimu di pantai?”
“Tidak.
itu hanya alasanku agar kita cepat sampai.”
“Jinwoon,
ini tasmu.” Kata Jinyoung sambil menghempaskan tasku.
Enak
saja dia menghempaskan ranselku seenak jidatnya. Dia kira dia siapa bisa
bisanya melakukan hal itu kepadaku.
“Kau ke
hotel saja dulu. Aku akan mengurus segala hal untuk kita selama dua hari ini.”
Katanya sambil memainkan kunci mobilnya.
“Lantai
berapa?”
“Lima.
Kau mau ikut denganku?” Tanya Jinyoung. Ya kali ini dia tidak bertanya
denganku. Melainkan dengan perempuan itu.
Perempuan
itu tampak menimbang nimbang jawabannya. Ikut dengan Jinyoung atau ikut
denganku ke lantai lima untuk beristirahat. Ah sudah pastilah ia akan ikut
dengan Jinyoung. Wanita itu kan selalu mengekori pacarnya kemana saja. Wanita
itu takut ditinggal.
“Aku ke
lantai lima saja.” Jawabnya sambil memikul ranselnya yang kelihatan sangat
besar. Sesekali ia membenarkan kacamata yang sedari tadi bertengger di batang
hidungnya.
“Baiklah.
Ambil saja kunci di resepsionis atas namaku. Aku memesan dua kamar saja.
Jinwoon, aku sekamar denganmu.”
“Kukira
kau akan sekamar dengan pacarmu itu.”
Perempuan
itu mendelik, “Kau kira aku perempuan murahan?!”
Ah
daripada melihat wajah Jinyoung yang semakin memerah karena menahan marah,
lebih baik aku langsung masuk ke dalam hotel saja. Aku berpura-pura tak
mendengar ucapan Jinyoung kepadaku. Masa bodoh.
“Hei
tunggu.” Kudengar suara perempuan, ya mungkin aku akan memanggilnya pacar
Jinyoung, itu yang sepertinya memanggilku.
Itu
sedikit kemungkinan kalau ia memanggilku. Paling tidak sampai 10% fakta kalau
dia sedang memanggilku. Ah dasar perempuan sulit dimengerti. Aku terus berjalan
ke meja resepsionis.
“Eoseo
oseyo! Ada yang bisa kubantu?”
“Aku
ingin mengambil kunci di kamar lantai lima atas nama Jung Jinyoung.”
Resepsioner
itu seperti mengecek data yang ada di computer di depannya. Wajahnya sedikit
tak mengerti dan sulit mempercayai.
“Aku
juga ingin mengambil kunci kamar di lantai lima atas nama Jung Jinyoung.” Kata
pacar Jinyoung.
“Namamu?”
Tanya resepsioner itu sambil menatap pacar Jinyoung.
“Hwang
Eunna.” Katanya mantap.
Resepsioner
itu mengambil dua buah kunci dengan seri nomor yang hampir sama, hanya digit
terakhirnya saja yang berbeda satu angka.
“Ini
kunci kamarmu, Eunna Agassi.” Katanya sambil memberikan kunci dengan nomor
kamar 567.
Pacar
Jinyoung—yang ternyata punya nama yang lumayan bagus, Eunna—itu berlalu dari
sampingku.
“Ah
sial kenapa tasku berat sekali. Tidak adakah bellboy disini?” Eunna mengeluh
sambil menggoyang-goyangkan tasnya.
“Dan
ini kunci untukmu, Jinyoung-ssi.” Resepsioner itu memberi kunci dengan nomor
568.
Eunna
melihat kearahku, matanya mendelik, “Hei dia bukan Jinyoung!”
“Ah
maaf aku ini Jinwoon.” Kataku menyela.
Eunna
kembali melanjutkan jalannya. Aku ikut berjalan dibelakangnya. Ia berjalan
menuju sebuah lift yang letaknya tak jauh dari lobby hotel tadi. Pintu lift
terbuka. Lalu kami berdua masuk ke dalam lift yang kosong itu. Eh aku bilang
kami? Agak aneh memang, tapi biarlah. Ia menekan tombol angka 5 dan pintu lift
segera tertutup.
Yah
Jinyoung dan pacarnya memang tidak jauh sifatnya. Kaku. Tapi aku rasa Eunna
adalah pacar Jinyoung yang kukenal paling kaku. Ya, Jinyoung pernah sekali
pacaran. Tepatnya Eunna adalah perempuan kedua yang Jinyoung pacari. Sedangkan
aku…ah sudahlah kenapa jadi membahas pacarku?! Aku lebih suka sendiri daripada
punya pacar seperti mantan pacarku dulu. Sudahlah lupakan.
Perbedaan
Eunna dan pacar pertama Jinyoung sangat jauh. Jauh sekali. Antara Surga teratas
dengan neraka terbawah. Lebih dari 7 lapisan langit dan 7 lapisan bumi. Pacar
pertama Jinyoung itu noona di sekolahnya dulu. Ya, aku juga tidak akan
menyangka Jinyoung bisa menggaet noona itu. Aku pernah mengenal noona itu
karena ya intinya dia itu cantik—memang cantik, dia pernah diusulkan ikut Miss
Korea tapi karena umurnya belum mencukupi dia tidak jadi ikut—dan pintar. Entah
apa yang noona itu lihat dari Jinyoung, adik kelasnya yang kurus, berkulit
putih bersih, bermata sipit, bisa sedikit bermain gitar, dan seorang ketua
kelas. Ah padahal kalau dibandingkan dengan aku, aku jelas lebih unggul. Aku
memiliki eye smile yang khas, tubuhku atletis dan memiliki abs, aku sangat jago
dalam hal memetik gitar. Hanya melihat not balok saja aku sudah bisa memainkan
dengan lancar tanpa menghitung dimana letak nada yang harus kumainkan.
Nah itu
ciri-ciri pacarnya Jinyoung yang pertama. Dan yang kedua, jengjengjeng.
Hwang
Eunna. Nama yang lumayan bagus. Dia tidak cantik seperti pacar pertama
Jinyoung. Ya maksudku cantik di dalam diri perempuan itu relative sama. Hanya
saja aura cantik milik Eunna tidak berkoar-koar layaknya aura cantik pacar
Jinyoung yang pertama—Aiss aku tak tau nama noona itu—dan untuk urusan otak,
aku sama sekali tak tau kapasitas otaknya berapa cc. tampaknya sih pintar,
soalnya dia memakai kacamata yang membuat matanya terlihat kecil. Itu sudah
pasti minus matanya sangat tinggi. Dan ah iya Eunna ini sangat kaku. Sama
seperti Jinyoung. Buktinya saja dari tadi ia tak ada mengobrol denganku bahkan
sedikit menyapaku pun tidak. dasar perempuan aneh. Tapi, kalau dibandingkan
Jinyoung dengan noona itu dan Jinyoung dengan Eunna. Aku rasa Jinyoung dan
Eunna sangat cocok. Ya, mereka sangat kaku.
Lift
berhenti di lantai lima. Eunna mengeret tasnya keluar dari lift.
“Tasmu
berat ya?” tanyaku berusaha mencairkan suasana.
Ia
mengangguk.
“Kenapa
tidak dengan Jinyoung saja tadi?”
“Aku
lelah.”
“Kalau
kau dengan Jinyoung kan tadi tasmu sudah dibawakan oleh Jinyoung.”
Ia
mendelik kearahku, “Kau ini cerewet sekali.”
Aku
kaget atas respon yang Eunna berikan kepadaku. Ah galak sekali dia.
“Ah apa
yang membuat Jinyoung tergila gila padamu sih?! Dasar perempuan aneh!”
Ia
memasukkan kunci kamarnya ke dalam kenop pintu kamar dengan seri nomor yang
sama. Ia menoleh kearahku, “Kau gila.”
Brakkk.
Ia menutup pintunya sangat keras di depan wajahku. Ya, dia aneh dan galak. Apa
Jinyoung sudah dibodoh-bodohi ya mau menjadi pacarnya? Atau mungkin sehari
menjadi pacarnya, Jinyoung dibayar 50.000 won per hari? Aisss.
“Ck,
kau ini membuatnya badmood,” Kata Jinyoung sambil berkacak pinggang, “Kukira
selama 4 tahun kita tidak bertemu kau sudah berubah. Eh ternyata semakin
menjadi penyakit jiwamu itu.”
Sial.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar