Title : The Scary Game [Part 7]
Author : Minnia
Genre : Mistery, Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim
Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee
Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.
Hanna
POV
Wajah
Hoya sangat panik dan terkejut tadi. Aku tak tahu mengapa ia mengeluarkan mimik
wajah seperti itu ketika aku baru saja mengucapkan kata terimakasih kepada L. Yah
selama ini aku rasa Hoya tidak pernah bersikap aneh. Tapi mengapa kali ini ia
bersikap sangat aneh?
L
menyingkirkan daun-daun kering yang sudah mulai berjatuhan disekeliling tenda
kami. Ia menyingkirkan itu semua menggunakan ranting pohon yang sangat besar.
Ia menyatukan daun-daun itu tepat di satu tempat yang sama dengan
ranting-ranting kering tadi. Dan ia mulai membuat api lagi dan membakar
daun-daun itu. Aku menghampirinya.
“Sini
aku bantu.” Aku mengambil dua ranting kecil di dekatku dan mulai
menggesek-gesekkan.
“Hati-hati
jangan sampai matamu kelilipan lagi.”
“Baik, komandan!”
Ucapku sambil memberi hormat kepadanya.
L
terkekeh pelan, “Cepat buat api. Sebentar lagi Hoya pasti datang.”
Aku
mengangguk dan terus menggesek-gesekkan ranting pohon itu.
Beberapa
saat kemudian keluar percikan api dari ranting yang aku gesekkan tadi. Aku
sedikit terkejut dan meniup percikan api itu. Ah bodoh. Seharusnya aku langsung
melemparkan ranting ini ke tumpukan daun dan ranting kering yang ada di
depanku. Aisss. Aku akan mencobanya lagi. Aku terus menggeseknya sampai timbul
percikan api.
“L! L!
Myungsoo!” Kakiku menendang-nendang kaki L agar ia sadar bahwa aku sudah
ketakutan memegang ranting yang berapi ini.
“Apa—Hei
apinya! Cepat lemparkan!”
Aku
semakin panik ketika api itu dengan cepat menjalari ranting yang kupegang.
Percikan apinya ada yang mengenai tanganku, dan itu rasanya sangat perih. Ah
sial, mengapa hari ini aku sering merasakan perih di sekitar tubuhku? Argh. Dan
ketika mendengar L berteriak memerintahkanku agar melempar ranting itu, aku
segera melemparkannya ke depan, mengenai ranting dan daun yang kering dan
perlahan merambat menjadi api yang lumayan besar.
“Tanganmu
tak apa?” Tanya L sambil melongokkan kepalanya.
“Sepertinya
ada luka bakar sedikit. Tak apa lah nanti juga akan sembuh.”
“Panas?”
“Ya
iyalah! Kau kira api itu sedingin es?” Jawabku ketus.
L
menaikkan alisnya sebelah, “Ck, kalau begitu aku akan mengambilkan sedikit air
untuk membasuh tanganmu. Tunggu disini saja.”
L
berjalan kearah tenda dan mengambil tasnya. Aku dapat mendengar suara rogohan
tangannya yang mengobrak-abrik tasnya.
“Hanna-ssi!
Kau meminum semua airku.” Kata L dengan nada yang agak turun dan lemas.
L
berjalan mendekatiku sambil membawa botol airnya yang kecil.
“Kau
hanya membawa sebotol air? Hanya 600 ml lagi! Aiss kau kira berkemah hanya bisa
meminum 600 ml?!” Kataku sambil menyalahkannya.
“Ya!
Mengapa kau menyalahkanku?!” Bibirnya mengerucut, “600 ml itu sudah cukup.
Apalagi air di sungai itu bisa diminum. Jadi untuk apa aku membawa banyak air?!
Dan mengapa kau menghabiskan airku?!”
“Kau
yang memberikanku air, kan? Salahmu sendiri.”
“Ck,
omong-omong Hoya kenapa lama sekali mengambil airnya?”
“Mungkin
ia memancing beberapa ikan untuk kita.”
“Kau
ini tak pernah berubah, selalu saja membuat alasan yang tak bisa diterima oleh
logika. Tidak masuk akal.”
“Kalau
kau tidak mau percaya kau turun saja ke sungai sana!”
L
mendecak kesal lalu mengambil botol air minumnya.
“Kau
mau mengambil air ya? Bisakah kau mengambilkan air juga untukku?” Tanyaku
dengan nada manja sambil menimang-nimang
botol minumku yang berwarna pink.
L
melihat sekilas kearah botol minumanku dan berjalan lagi.
“Hei
hei kalau kau mengambilkan air minum untukku, aku beri sepertiganya untukmu.
Lumayan kan.”
L
merampas botol minum yang kupegang. Aku dapat mendengar dengan baik decakan
kesal yang baru saja keluar dari mulut L. ah biarlah. Yang penting dia mau
mengambilkanku air minum. Suara pecahan daun kering yang aku dengar perlahan
mengecil. Artinya L sudah berjalan lumayan jauh dariku.
Ck,
sudah 5 menit aku menunggu L dan Hoya yang sedang mengambil air. Perlahan langit
yang menudungi hutan ini berubah warna menjadi agak kemerahan. Hari sudah
menjelang sore. Perlahan juga daun daun banyak berguguran. Semilir angin dingin
sudah mulai menghiasi awal musim semi ini.
Sreeeekkk.
Suara daun
kering yang pecah itu kembali terdengar. Tidak dari depan. Tapi dari arah
belakang. Sejak kapan sungai yang di depanku pindah tempat jadi di belakang?
Aku menoleh. Tidak ada apa-apa. bulu romaku sedikit meremang.
“Ah
anginnya dingin sekali.” Ujarku sambil menggesek tanganku ke tengkuk leherku.
Bunyi
itu kembali datang.
Sial. L
belum juga kembali. Aku sudah mulai takut dengan bunyi-bunyi aneh itu. Belum
lagi angin yang sangat mendukung suasana seperti ini. Api yang aku buat tadi
juga makin lama semakin mengecil. Sial. Argh aku makin malas untuk membuat api
lagi.
Daun
kering yang terinjak itu kembali terdengar. Tidak hanya sesekali seperti tadi
yang hanya sesekali. Bunyinya semakin mendekat. Aku menolehkan kepalaku. Tidak
ada apa-apa lagi. Argh jangan bilang aku hanya berhalusinasi. Tidak, aku
mendengarnya. Aku berdiri dan berusaha mengetahui darimana asal suara itu. Aku
berjalan menjauhi tenda tempat kami beristirahat. Ada bayangan hitam yang
panjang di belakang pohon sana. Ah mungkin Hoya atau L sedang mengerjaiku.
“Hoya,
L, entahlah siapa diantara kalian, percuma kau bersembunyi di belakang pohon
itu. Siluet senja yang membuat bayangan tubuh kalian semakin panjang, aku
melihatnya. Aku tidak bodoh. Hahaha.” Ucapku sambil berjalan perlahan mendekati
pohon itu.
Secuil
kain berwarna hitam menyembul dari balik pohon itu. Diantara mereka berdua
siapa yang memakai baju berwarna hitam? Aku mencoba mengingat-ingat siapa
diantara mereka yang memakai baju berwarna hitam.
Cesss,
api itu sudah mati. Aku kembali ke ranting-ranting yang masih belum di bakar. Baiklah,
membuat api lebih baik daripada menebak-nebak siapa yang ada dibelakang pohon
itu.
Brakkk.
Sebuah botol air minum jatuh tepat dihadapanku. L jatuh bersimpuh dengan
tatapan bodohnya. Tatapannya kosong. Bulir bulir keringat jatuh dari pelipis
menuju rahangnya yang keras. Bibirnya bergemetar.
“Kau
kenapa?” Tanyaku sambil mendorong tubuhnya yang benar-benar lunglai. Ia
terjatuh.
“Dibawah
sana,”
“Ada
apa?”
“Ada
darah.”
“Lalu?
Sejak kapan kau takut dengan darah?”
Dia
melihat kearahku, “Bukan itu masalahnya. Tapi,”
“Tapi
apa?”
“Hoya
menghilang.”
Glekk.
Benarkah Hoya menghilang? Tenggorokanku serasa tersumbat oleh uang koin. Aku
tak bisa bernafas. Pikiranku kacau. Hoya menghilang dan L baru kembali. Jadi
yang tadi itu siapa? Aku memandangi L. Ia sama sekali tidak menggunakan pakaian
yang berbau warna hitam. Kaus berwarna orange serta celana kain berwarna
coklat. Orang yang tadi bersembunyi bukan L. Juga bukan Hoya.
“Jadi
bagaimana?” Tanyaku.
“Aku
tidak tahu. Hari sudah terlanjur sore. Sebaiknya kita harus bermalam disini dan
besok kita akan mencari Hoya.”
Aku
mengangguk.
Setelah
Sungyeol mengalami retak tulang kering itu membuat suasana sepi. Dan sekarang
Hoya menghilang sehingga meninggalkan aku dan L. itu membuat suasana semakin
memburuk. Mungkin tidak ada candaan atau obrolan hangat. Argh yang penting
besok aku sudah harus menemukan Hoya, atau mungkin membuat Sungyeol kembali
lagi bersama kami.
Next Chapter…..
“Hoya…..”
“Ya, aku yakin Hoya pasti akan segera kembali. Ia hanya
meninggalkan kita untuk sementara.”
“Ya! Kenapa kau memanggilku keledai pink?!”
“Hanya perasaanku saja.”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar