Minggu, 16 September 2012

The Scary Game [Part 7]


Title : The Scary Game [Part 7]
Author : Minnia
Genre : Mistery, Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.

                Hanna POV
                Wajah Hoya sangat panik dan terkejut tadi. Aku tak tahu mengapa ia mengeluarkan mimik wajah seperti itu ketika aku baru saja mengucapkan kata terimakasih kepada L. Yah selama ini aku rasa Hoya tidak pernah bersikap aneh. Tapi mengapa kali ini ia bersikap sangat aneh?
                L menyingkirkan daun-daun kering yang sudah mulai berjatuhan disekeliling tenda kami. Ia menyingkirkan itu semua menggunakan ranting pohon yang sangat besar. Ia menyatukan daun-daun itu tepat di satu tempat yang sama dengan ranting-ranting kering tadi. Dan ia mulai membuat api lagi dan membakar daun-daun itu. Aku menghampirinya.
                “Sini aku bantu.” Aku mengambil dua ranting kecil di dekatku dan mulai menggesek-gesekkan.
                “Hati-hati jangan sampai matamu kelilipan lagi.”
                “Baik, komandan!” Ucapku sambil memberi hormat kepadanya.
                L terkekeh pelan, “Cepat buat api. Sebentar lagi Hoya pasti datang.”
                Aku mengangguk dan terus menggesek-gesekkan ranting pohon itu.
                Beberapa saat kemudian keluar percikan api dari ranting yang aku gesekkan tadi. Aku sedikit terkejut dan meniup percikan api itu. Ah bodoh. Seharusnya aku langsung melemparkan ranting ini ke tumpukan daun dan ranting kering yang ada di depanku. Aisss. Aku akan mencobanya lagi. Aku terus menggeseknya sampai timbul percikan api.
                “L! L! Myungsoo!” Kakiku menendang-nendang kaki L agar ia sadar bahwa aku sudah ketakutan memegang ranting yang berapi ini.
                “Apa—Hei apinya! Cepat lemparkan!”
                Aku semakin panik ketika api itu dengan cepat menjalari ranting yang kupegang. Percikan apinya ada yang mengenai tanganku, dan itu rasanya sangat perih. Ah sial, mengapa hari ini aku sering merasakan perih di sekitar tubuhku? Argh. Dan ketika mendengar L berteriak memerintahkanku agar melempar ranting itu, aku segera melemparkannya ke depan, mengenai ranting dan daun yang kering dan perlahan merambat menjadi api yang lumayan besar.
                “Tanganmu tak apa?” Tanya L sambil melongokkan kepalanya.
                “Sepertinya ada luka bakar sedikit. Tak apa lah nanti juga akan sembuh.”
                “Panas?”
                “Ya iyalah! Kau kira api itu sedingin es?” Jawabku ketus.
                L menaikkan alisnya sebelah, “Ck, kalau begitu aku akan mengambilkan sedikit air untuk membasuh tanganmu. Tunggu disini saja.”
                L berjalan kearah tenda dan mengambil tasnya. Aku dapat mendengar suara rogohan tangannya yang mengobrak-abrik tasnya.
                “Hanna-ssi! Kau meminum semua airku.” Kata L dengan nada yang agak turun dan lemas.
                L berjalan mendekatiku sambil membawa botol airnya yang kecil.
                “Kau hanya membawa sebotol air? Hanya 600 ml lagi! Aiss kau kira berkemah hanya bisa meminum 600 ml?!” Kataku sambil menyalahkannya.
                “Ya! Mengapa kau menyalahkanku?!” Bibirnya mengerucut, “600 ml itu sudah cukup. Apalagi air di sungai itu bisa diminum. Jadi untuk apa aku membawa banyak air?! Dan mengapa kau menghabiskan airku?!”
                “Kau yang memberikanku air, kan? Salahmu sendiri.”
                “Ck, omong-omong Hoya kenapa lama sekali mengambil airnya?”
                “Mungkin ia memancing beberapa ikan untuk kita.”
                “Kau ini tak pernah berubah, selalu saja membuat alasan yang tak bisa diterima oleh logika. Tidak masuk akal.”
                “Kalau kau tidak mau percaya kau turun saja ke sungai sana!”
                L mendecak kesal lalu mengambil botol air minumnya.
                “Kau mau mengambil air ya? Bisakah kau mengambilkan air juga untukku?” Tanyaku dengan  nada manja sambil menimang-nimang botol minumku yang berwarna pink.
                L melihat sekilas kearah botol minumanku dan berjalan lagi.
                “Hei hei kalau kau mengambilkan air minum untukku, aku beri sepertiganya untukmu. Lumayan kan.”
                L merampas botol minum yang kupegang. Aku dapat mendengar dengan baik decakan kesal yang baru saja keluar dari mulut L. ah biarlah. Yang penting dia mau mengambilkanku air minum. Suara pecahan daun kering yang aku dengar perlahan mengecil. Artinya L sudah berjalan lumayan jauh dariku.
                Ck, sudah 5 menit aku menunggu L dan Hoya yang sedang mengambil air. Perlahan langit yang menudungi hutan ini berubah warna menjadi agak kemerahan. Hari sudah menjelang sore. Perlahan juga daun daun banyak berguguran. Semilir angin dingin sudah mulai menghiasi awal musim semi ini.
                Sreeeekkk.
                Suara daun kering yang pecah itu kembali terdengar. Tidak dari depan. Tapi dari arah belakang. Sejak kapan sungai yang di depanku pindah tempat jadi di belakang? Aku menoleh. Tidak ada apa-apa. bulu romaku sedikit meremang.
                “Ah anginnya dingin sekali.” Ujarku sambil menggesek tanganku ke tengkuk leherku.
                Bunyi itu kembali datang.
                Sial. L belum juga kembali. Aku sudah mulai takut dengan bunyi-bunyi aneh itu. Belum lagi angin yang sangat mendukung suasana seperti ini. Api yang aku buat tadi juga makin lama semakin mengecil. Sial. Argh aku makin malas untuk membuat api lagi.
                Daun kering yang terinjak itu kembali terdengar. Tidak hanya sesekali seperti tadi yang hanya sesekali. Bunyinya semakin mendekat. Aku menolehkan kepalaku. Tidak ada apa-apa lagi. Argh jangan bilang aku hanya berhalusinasi. Tidak, aku mendengarnya. Aku berdiri dan berusaha mengetahui darimana asal suara itu. Aku berjalan menjauhi tenda tempat kami beristirahat. Ada bayangan hitam yang panjang di belakang pohon sana. Ah mungkin Hoya atau L sedang mengerjaiku.
                “Hoya, L, entahlah siapa diantara kalian, percuma kau bersembunyi di belakang pohon itu. Siluet senja yang membuat bayangan tubuh kalian semakin panjang, aku melihatnya. Aku tidak bodoh. Hahaha.” Ucapku sambil berjalan perlahan mendekati pohon itu.
                Secuil kain berwarna hitam menyembul dari balik pohon itu. Diantara mereka berdua siapa yang memakai baju berwarna hitam? Aku mencoba mengingat-ingat siapa diantara mereka yang memakai baju berwarna hitam.
                Cesss, api itu sudah mati. Aku kembali ke ranting-ranting yang masih belum di bakar. Baiklah, membuat api lebih baik daripada menebak-nebak siapa yang ada dibelakang pohon itu.
                Brakkk. Sebuah botol air minum jatuh tepat dihadapanku. L jatuh bersimpuh dengan tatapan bodohnya. Tatapannya kosong. Bulir bulir keringat jatuh dari pelipis menuju rahangnya yang keras. Bibirnya bergemetar.
                “Kau kenapa?” Tanyaku sambil mendorong tubuhnya yang benar-benar lunglai. Ia terjatuh.
                “Dibawah sana,”
                “Ada apa?”
                “Ada darah.”
                “Lalu? Sejak kapan kau takut dengan darah?”
                Dia melihat kearahku, “Bukan itu masalahnya. Tapi,”
                “Tapi apa?”
                “Hoya menghilang.”
                Glekk. Benarkah Hoya menghilang? Tenggorokanku serasa tersumbat oleh uang koin. Aku tak bisa bernafas. Pikiranku kacau. Hoya menghilang dan L baru kembali. Jadi yang tadi itu siapa? Aku memandangi L. Ia sama sekali tidak menggunakan pakaian yang berbau warna hitam. Kaus berwarna orange serta celana kain berwarna coklat. Orang yang tadi bersembunyi bukan L. Juga bukan Hoya.
                “Jadi bagaimana?” Tanyaku.
                “Aku tidak tahu. Hari sudah terlanjur sore. Sebaiknya kita harus bermalam disini dan besok kita akan mencari Hoya.”
                Aku mengangguk.
                Setelah Sungyeol mengalami retak tulang kering itu membuat suasana sepi. Dan sekarang Hoya menghilang sehingga meninggalkan aku dan L. itu membuat suasana semakin memburuk. Mungkin tidak ada candaan atau obrolan hangat. Argh yang penting besok aku sudah harus menemukan Hoya, atau mungkin membuat Sungyeol kembali lagi bersama kami.

                Next Chapter…..
“Hoya…..”
“Ya, aku yakin Hoya pasti akan segera kembali. Ia hanya meninggalkan kita untuk sementara.”
“Ya! Kenapa kau memanggilku keledai pink?!”
“Hanya perasaanku saja.”



Tidak ada komentar:

Posting Komentar