Title : What If
Author : Minnia
Genre : Pain, Love, Romantic
Cast : Kim Ryeowook, Jang Nara
Other Cast : Kim Jongwoon aka Yesung
“Jika
aku tidak bertemu dengannya, akankah suatu cinta yang indah tumbuh dibenakku?”
Ryeowook POV
Aku membuka mataku setelah memainkan
lagu di piano klasik tua milikku yang tertengger di restoran dengan nuansa
klasik. Restoran ini sudah pasti milikku. Ada sebuah kertas kecil bertengger
diatas kap piano ini. Aku membukanya. The Story Only I didn’t Know. Judul lagu
ini lagi. Sudah tujuh kali berturut-turut aku mendapatkan kertas dengan judul
lagu ini. Dan akhir-akhir ini baru ku ketahui bahwa yang sering menginginkan lagu
ini aku mainkan adalah gadis di sudut ruangan ini.
Aku tidak tahu dia pelanggan setia
restoranku atau bukan. Aku sering melihatnya dan ia sering memperhatikanku
ketika aku sedang menekan tuts-tuts piano tua ini. Aku tidak tahu permainanku
bagus atau tidak tapi aku suka menerima tepukan tangan pelangganku ketika aku
sudah selesai memainkan sebuah lagu. Dan akhirnya aku memainkan lagi lagu
ballad dari penyanyi wanita Korea yang terkenal itu.
Ia tersenyum. Dan entah mengapa aku
tersentak. Aku melanjutkan memainkan lagu itu yang belum sempat kuselesaikan.
Aku mencoba menghayati nada-nada yang kumainkan. Entah mengapa ada sebuah fakta
kecil yang terselubung menyesakkan dadaku. Aku tidak tahu itu apa. Mungkin ini
yang membuat gadis itu sangat menyukai lagu ini.
Tuts terakhir dari lagu ini telah
kutekan. Lagu ini berakhir. Aku membuka mataku dan tepuk tangan yang meriah
menyambutku. Aku menghembuskan nafas perlahan lalu bangkit dari kursi yang ada
di depan piano tua itu. Aku menatap gadis itu. Wajahnya semakin pucat.
Pikiranku melayang, kakiku bergerak
semaunya, otakku tak dapat lagi mengontrol. Gadis itu seperti ketakutan. Dan
tanpa aku sadari aku telah berjalan mendekatinya. Mendekat dan semakin mendekat
sampai aku sadar bahwa aku sudah duduk dihadapannya. Bibirnya memutih. Ia
tampak sangat pucat.
“Hai.” Sapaku kaku.
“Hai.” Ia menjawab dengan kaku juga
dan meminum coklat panasnya yang sudah tak beruap.
Hening. Entah apa yang aku lakukan
disini, lucu sekali aku seperti orang tidak tahu diri. Mengganggu pelangganku
yang sedang menikmati menunya. Aku hendak bangkit, tapi……..
“Kau sangat menyukai lagu tadi?”
Tanyaku tanpa sengaja. Apa sudah aku lakukan?!
Gadis itu mengangguk. Dan hening
kembali melanda kami.
“Gomawo,” gumamnya pelan. Aku
tersentak dan menatap matanya yang terlihat sangat polos, “Terimakasih karena
kau sudah mau memainkan lagu favoritku.” Ucapnya lirih sambil menatap secangkir
coklat yang tinggal setengah.
Gadis itu tersentak melihat kearah
tangannya. Ternyata kedua telapak tanganku sudah menggenggam erat kedua
punggung tangannya. Ya Tuhan, apa-apaan ini?! Bisa-bisanya aku melakukan hal
itu diluar kesadaranku. Gadis itu tersenyum.
“Dan terimakasih karena membuatku
nyaman.”
J
Jang Nara, nama yang indah untuk
dijadikan nama seorang gadis secantik dia. Gadis dengan rambut sebahu yang
bergelombang, hidung yang mancung tanpa plastik, dan bibir yang tipis selalu
menyunggingkan senyum. Hatinya juga selembut sutra. Dia gadis yang sangat
sempurna, dan argh jangan katakan bahwa aku menyukainya. Dan memang faktanya
aku suka berkhayal sendiri jika sudah melihatnya. Itu artinya………..aku
menyukainya. Sial.
Seseorang memasuki restoranku. Aku
mendongak sedikit karena kap piano tua ini menghalangi pandanganku. Ya, dia
datang lagi. Ia mengenakan sweater pink hot yang kebesaran dengannya dan celana
panjang. Sangat cantik. Ia duduk ditempat biasa. Tanpa kertas kecil yang
intinya menyuruhku untuk memainkan sebuah lagu lagi, aku sudah mulai memainkan
lagu kesukaannya. The Story Only I didn’t Know.
Ia tersenyum kearahku. Aku membalas
senyuman itu dan aku cepat-cepat menyelesaikan lagu ini. Aku menghampirinya di
sudut ruangan ini. Wajahnya lebih pucat daripada waktu pertama kali aku
melihatnya dari dekat. Ia hanya duduk dan tersenyum melihatku. Ia tidak memesan
makanan atau pun minuman. Aku duduk dihadapannya.
“Kau tidak memesan coklat panas,
Nara-ah?” Tanyaku.
Ia menggeleng, “Aku sedang tidak
ingin minum apa-apa.”
“Kau tidak mau memesan pancake
coklat?”
Ia menggeleng lagi, “Tidak. Dokter
bilang—“ wajahnya tampak seperti linglung. Apa yang ia katakan barusan? Dokter?
“Kau sa—“
“Tidak.” Jawabnya sambil tersenyum.
Ia meyakinkanku bahwa ia sedang tidak sakit. Tapi, wajahnya yang pucat membuat
seluruh keyakinanku luruh.
“Tapi wajahmu pucat.”
“Bukankah wajahku memang pucat?”
Benar juga. Aku menganggukkan
kepalaku. Hari ini banyak sekali yang mengunjungi restoranku. Ya, cuaca pada
bulan Desember memang sangat dingin. Mungkin orang-orang banyak memilih
restoranku karena restoranku menyediakan berbagai menu dalam bentuk coklat. Dan
omset restoranku naik hanya gara-gara coklat panas. Ah bagus sekali.
“Banyak sekali pelangganmu.” Ujar
Nara. Aku tersenyum.
“Mau membantuku menyiapkan menu?”
Ajakku.
Wajahnya terlihat bingung. Tanpa
mendengar jawabannya, aku langsung menariknya masuk ke dalam dapur. Di dalam
dapur terlihat Yesung hyung yang sedang menggiling bahan utama pancake. Ia
tampak sangat bingung melihat aku membawa seorang yeoja berwajah pucat masuk ke
dalam dapur restoran ini. Setahunya aku membuat peraturan tidak ada yang boleh
masuk ke dalam dapur restoran karena takut akan kebocoran resep rahasiaku.
Hahahaha.
“Ya! Ryeowook-ah! Siapa dia?!” Tanya
Yesung hyung dengan suara yang tertahan membuat kepalanya tampak membesar.
Aku hanya mengisyaratkan
keluar-kau-dari-sini dan dengan mudahnya Yesung hyung meninggalkan dapur ini
dengan tampang yang sangat bodoh. Dan sekarang mengapa Nara jadi ikut-ikutan
memasang tampang bodoh? Aisss.
“Ini dapur restoranmu?” Tanyanya
sambil mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
Aku hanya bisa mengangguk dan mencari
benda-benda kecil yang harus dimusnahkan.
“Bersih. Lalu kita akan melakukan
apa disini?”
Aku tertawa melihat raut wajah
polosnya yang sangat manis itu. Perlahan aku mencolek sedikit tepung terigu dan
menempelkannya di pipi Nara. Ia tampak sangat terkejut.
“Ya! Apa yang kau lakukan!” Ia
mengelap tepung yang ada di pipinya secara sembarang sehingga tepung itu tampak
sangat berantakan di pipinya. Aku tertawa.
Glak! Segenggam tepung terbang bebas
tepat dihadapan wajahku. Terdengar samar-samar suara tawa Nara yang khas dengan
suara seraknya. Aku membersihkan sedikit tepung yang ada diwajahku. Dan aku
kena lagi, dengan cekatan Nara meletakkan coklat cair di hidungku. Hancur sudah
wajahku.
“Kau tampak seperti badut,
Ryeowook-ah! Hahaha!”
Nara menertawaiku hingga
terpingkal-pingkal. Selucu itukah? Aku langsung berlari ke toilet dan berkaca.
Dan hasilnya, mungkin wajahku lebih menakutkan dari seorang badut. Tampak
seperti topeng scream. Aku langsung membasuh wajahku dengan air
sebanyak-banyaknya dan keluar dari toilet. Tampak Nara masih menahan tawa
diseberang sana.
“Ya! Nara-ya! Kau harus
bertanggungjawab!”
“Bertanggungjawab atas apa?
Bwahahahaha!” Dan akhirnya ia menumpahkan tawanya sampai ada sedikit rona merah
dipipinya.
“Kau harus membantuku membuat semua
pesanan yang ada disana! Arasseo?” Kataku sambil menunjuk beberapa kertas yang
bergantung di depan dapur. Nara menganga.
“Ne ne arasseo,” Ia menarik beberapa
kertas yang digantung itu, “Banyak yang memesan coklat panas.”
“Kalau begitu ayo buat!” Kataku
sambil menarik lengannya.
Pertama-tama kami hanya melakukan
gerakan masak memasak yang gampang. Memanaskan panci, memasukkan coklat
batangan, memasukkan bubuk krim, memasukkan sedikit air. Dan aku kira pesanan
akan semakin sedikit, tetapi ketika aku lihat kembali ke bagian kertas yang
bergantung itu, mungkin sudah ada sepuluh lembar kertas yang tergantung lagi di
talinya. Yesung hyung, aku benar-benar butuh bantuanmu. Tanganmu memang
benar-benar terlatih untuk memasak di dapur sedangkan tanganku hanya terlatih
untuk menekan tuts-tuts tua walaupun aku bisa memasak, tapi tidak untuk
sebanyak ini. Aisss andai saja aku tak menyuruh Yesung hyung keluar tadi………..
“Hei nanti pancakenya gosong!”
teriak Nara sambil menekan pipiku.
Dan aku baru sadar kalau tadi aku
sedang melamun dan hampir saja pancake coklat ini gosong. Kalau saja sampai
gosong mungkin…………
“Kau sedang banyak pikiran? Mana
kokimu?” Tanya Nara sambil mengelap pipiku dengan tissue. Hei jangan bilang
barusan ia merusak wajahku dengan coklat panas.
“Ah tidak. Kau apakan wajahku tadi?”
“Tidak, hanya memberi tepung
sedikit. Tapi kau tidak merespon ya sudah aku hapus saja,” Katanya sambil
membuang tissue tadi, “Hei cepat balikkan pancakenya.”
Dan aku langsung terkejut. Aku
membalikkan pancake coklat itu dengan cepat. Untung saja tidak gosong. Dan dengan
cekatan Nara meletakkan pancake itu di piring dan menghiasinya dengan
coklat-coklat beranekaragam warna. Pancakenya sudah jadi. Ia menekan bel
pertanda menu sudah siap dihidangkan. Yesung hyung mengambilnya dan ia
tertangkap basah sedang berdecak kagum. Nara tersenyum puas.
Dan dalam jangka waktu yang lumayan
panjang, tidak ada pesanan baru lagi. Aku dan Nara hanya berbincang-bincang
sedikit. Nara sangat aneh. Wajahnya pucat dan suhu tubuhnya dingin. Aku tau
disaat cuaca ekstrim seperti ini memang tidak terlalu aneh apabila tubuh kita
terkena hipotermia. Tapi ia tampak sangat sakit. Suaranya juga tidak terdengar
biasa. Suaranya semakin lama terdengar semakin mengecil dan serak.
“Kau sakit?” Tanyaku hati-hati.
Entah mengapa ia seperti menangkap nada khawatir di suaraku. Memangnya suaraku
bisa terbaca?
Ia tersenyum.
“Aku rasa aku tidak sakit.”
“Tapi,” Aku meletakkan telapak
tanganku di dahinya, “Suhu tubuhmu sangat rendah.” Aku menggesekkan kedua telapak
tanganku lalu meletakkannya di pipi Nara. Pipinya memerah. Dan aku rasa pipiku
juga ikut memerah.
Aku meletakkan tanganku kembali di
tempatnya. Bodoh sekali aku melakukan hal itu.
“Mianhae.” Ucapku sambil menunduk.
Nara berdehem, “Ahahaha sudahlah
tidak apa-apa. Sudah tidak ada pesanan lagi kan?” Ia tersenyum jahil kearahku.
Aku tertawa, “Sudah tidak ada.”
“Baiklah aku akan pulang.” Ia
berjalan keluar dari dapur. Dan dengan spontan aku menarik tangannya.
“Aku akan mengantarmu.”
“Tidak perlu. Rumahku tidak jauh
dari sini. Aku bisa berjalan kaki.”
“Kalau begitu aku akan mengantarmu
dengan jalan kaki.”
“Sudah tidak usah. Kau bermain saja
dengan piano itu.” Katanya sambil melepaskan satu persatu jemariku yang melekat
di pergelangan tangannya.
Aku memasang wajah yang sangat
memelas.
“Aigo wajahmu lucu sekali.”
“Ayolah.”
Nara menarik napas dan
menghembuskannya dengan berat. Ia menatap mataku dalam lalu melepaskan senyuman
yang sangat manis, “Aku takut ibuku marah.”
Alisku mengerut, “Ibumu marah? Mengapa?
Kau tidak boleh pulang dengan diantar seorang namja? Hei umurmu dua puluh lima
tahun.”
“Memangnya kenapa dengan
dua-puluh-lima-tahun dengan ibuku akan marah?”
“Itu sangat aneh. Ayolah aku akan
mengantarmu hanya sampai di tiga rumah sebelum rumahmu saja.”
Nara berfikir keras, “Baiklah.”
J
Aku ingin berteriak sekarang juga.
Boleh tidak? Aku mengantarkan Nara pulang hanya dengan jalan kaki. Katanya
rumahnya tidak jauh dari restoranku. Pantas saja ia sering mampir ke
restoranku. Aku senang, sangat senang. Dan sepertinya aku mulai menyukai
Nara……..
“Kau mau ini?” Tanyanya padaku
sambil menggerak-gerakkan kembang gula berwarna pink keungu-unguan.
Aku menggeleng.
Ia membayar kembang gula itu dengan
beberapa lembar uang. Lalu kami mulai berjalan meninggalkan stand kembang gula
yang ada di pinggir jalan menuju rumah Nara. Disepanjang jalan, Nara hanya diam
menghabisi kembang gula yang sangat besar itu.
“Kau menyukai kembang gula?”
“Sangat.” Jawabnya singkat.
Aku terkekeh pelan, “Setelah ini
cepat sikat gigimu.”
“Baik, Kim Ryeowook seonsaengnim!”
Katanya sambil memberi hormat kepadaku.
Lucu sekali perempuan ini. Ingin
sekali kuusap kepalanya dan menertawakan perilakunya, buru-buru ia
memberhentikan langkahku.
“Sudah sampai disini saja. Rumahku
yang itu.” Katanya sambil menunjuk rumah berwarna calm orange tepat tiga rumah
dari sini.
“Baiklah. Sampai jumpa.”
Ia tersenyum.
Aku sudah tak bisa menahan hasratku
untuk tidak mengusap kepalanya. Aku memberanikan mengusap rambutnya yang
bergelombang. Ia tampak terkejut lalu tersenyum. Namun ada yang aneh dari
wajahnya. Ia mengusap hidungnya. Hidungnya berdarah. Ia segera memencet
hidungnya dan berlari ke rumahnya. Dan aku baru tahu kalau ia benar-benar sedang
sakit.
J
Yesung hyung memasang wajah yang
sangat bosan. Aku tidak mengerti dengannya hari ini. Aku terus memainkan piano
ini. Memainkan satu persatu nada hingga menjadi sebuah lagu dengan satu
kesatuan yang sangat indah. Lagu ini sangat indah untuk di dengar.
“Kau tidak bosan dengan lagu ini?
Sejak tadi pagi kau memainkan lagu ini. Bisakah kau memainkan lagu yang lain?”
Yesung hyung mengadarkan pandangannya keseluruh arah, “Yeoja itu tidak ada.
Lalu kau memainkan lagu itu untuk siapa?”
Aku berhenti memainkan piano ini.
Lagunya tidak selesai. Aku mengedarkan pandangan. Benar, Nara tidak ada disini.
Sudah lima hari ia tidak berkunjung ke restoranku setelah aku mengantarnya
pulang. Atau jangan-jangan ibunya benar-benar marah karena aku mengantarnya
pulang lalu melarang Nara untuk keluar rumah lagi? Mana mungkin. Nara sudah
dewasa.
Aku merindukan Nara.
Aku merindukan senyumannya yang
membuatku tenang, aku merindukan suaranya yang serak, aku merindukan wajahnya
yang sangat manis, aku merindukannya ketika ia melempariku dengan segenggam tepung,
dan terlebih lagi aku sangat merindukan kertas kecil yang berisikan judul lagu
The Story Only I Didn’t Know. Aku merindukannya.
“Sebaiknya kau pulang saja.
Tampaknya badanmu sedang tidak sehat. Banyak beban yang kau pikirkan. Lagipula
sekarang sudah malam.”
Aku melihat kearah pintu masuk
restoran. Benar. Sudah gelap. Faktanya sekarang sudah pukul Sembilan. Benar,
tampaknya aku harus pulang. Aku mengambil tas ranselku dan menyumbat telingaku
dengan headset.
Disepanjang perjalanan menuju halte,
banyak terjual kembang gula dengan berbagai warna. Aku jadi teringat Nara. Aku
benar-benar merindukannya. Ah! Kenapa aku tidak ke rumahnya saja? Baiklah aku
akan membawakannya kembang gula.
Setelah membeli lebih dari tiga
batang kembang gula dengan beragam warna, kini aku hanya melongo di seberang
rumah Nara. Sesekali aku membenarkan letak topi yang sangat besar di kepalaku
hingga membuat mataku yang terlihat. Syal yang menutupi hingga hidungku. Aku
tampak aneh. Biarlah. Aku mana mungkin mau nekat membunuh diriku sendiri
diantara cuaca dingin yang mengerumuniku. Aku kan masih ingin bertemu Nara………
Sudah sepuluh menit aku berdiri di
seberang sini tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah seberangku. Lampu
teras yang remang-remang terus menyinari. Tidak ada suara grasak-grusuk dari
dalam sana. Ah mungkin Nara sudah tidur. Ia kan sedang sakit, jadi ia harus
banyak beristirahat.
Kuputuskan aku hanya meletakkan
kembang gula ini di depan pintu rumahnya. Mana tahu besok Nara melihatnya.
“Nara, cepat sembuh. Aku
merindukanmu.”
Aku berlalu dari rumah itu.
J
Author POV
Nara hanya memandangi pria dengan
jubah panjang dan topi yang besar itu di hadapannya, ia membeli kembang gula
tiga batang. Mungkinkah ini Ryeowook? Tapi tidak mungkin. Mana mungkin Ryeowook
membeli tiga batang sekaligus. Ia tidak terlalu suka dengan kembang gula.
“Kau kenapa membeli ini?!” Nara
memasang alat pendengar di telinga kirinya, “Apa kau tidak menyayangi gigimu
setelah kau hampir kehilangan nyawamu?!” Bentak ibunya Nara.
Nara hanya tersenyum, “Eomma, aku
janji ini terakhir kalinya aku memakan ini.”
“Baiklah cepat masuk ke dalam mobil.
Dua jam lagi pesawat akan lepas landas.”
Nara mengangguk. Mobil yang mereka
tumpangi melaju kearah Incheon Airport. Dan entah mengapa Nara ingat betul
jalan ini. Jalan menuju restoran Ryeowook.
“Eomma, bisakah kita berhenti
sebentar di restoran di depan itu?” Ucap Nara pelan-pelan takut akan dimarahi ibunya,
“Aku janji hanya sebentar saja.”
Ibunya menghembuskan nafas dengan
berat, “Baiklah.” Ibunya membelokkan setir ke restoran yang di depan.
Dengan cepat Nara keluar dari mobil
dan membawa tas jinjingnya masuk ke dalam restoran. Di dalam Nara hanya bertemu
dengan seorang namja yang pernah ia temui. Argh dia lupa nama namja itu siapa.
“Permisi, apakah ada Ryeowook?”
Mata Yesung membulat seketika. Ia
mendekati gadis yang mukanya sangat tak asing dan dapat membuat Ryeowook hampir
gila.
“K….kau?”
Nara tersenyum. Ia seperti memasang
alat pendengar yang kecil ketelinga kanannya. Lalu mengeluarkan amplop berwarna
biru cerah dan memberinya ke Yesung. Nara keluar dari restoran itu. Dan hampir
saja Nara jatuh karena tangannya dicekat oleh jari-jari yang mungil milik
Yesung.
“Kau? Ini apa? Ini untuk siapa? Kau
tahu Ryeowook seperti sangat kehilanganmu ketika kau tidak datang kesini. Dia
sangat merindukanmu!”
Nara tersenyum dan itu membuat
Yesung terdiam dan tenang, “Ini untuk Ryeowook. Titip salam untuknya. Aku juga
merindukannya.”
Nara melepaskan jari Yesung yang
membeku dan keluar dari restoran itu. Yesung benar-benar membeku.
J
Ryeowook POV
Aku menghayati lagu ini. Lagu ini
benar-benar sangat menyakitkan tapi melodinya yang indah dapat menenangkan
hatiku. Lagu ini lagu favorit Nara, The Story Only I Didn’t Know. Aku membuka
mataku dan mendapati amplop berwarna biru muda bertengger di depan kap piano
tua ini. Aku mengambilnya. Tertera namaku di depan amplop. Aku membukanya.
Ryeowook-ah
Kau
masih mengingatku ‘kan? Aku baru enam hari tidak bertemu denganmu dan awas saja
kalau kau sudah melupakanku. Hahaha. Aku menyempatkan menulis surat ini. Aku
takut tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Tapi akan kuusahakan. Dan
ini yang harus kau tahu tentangku. Aku merindukanmu. Dan aku berjanji denganmu
aku akan kembali dihadapanmu ketika kau sedang memainkan sebuah lagu untukku.
Hahaha. Aku tidak tahu aku akan kembali kapan. Mungkin aku akan sangat lama di
Jepang mengingat leukemia-ku sudah sangat parah setelah aku mimisan kemarin di
depanmu. Kau ingat? Dan aku tidak kembali menemuimu karena pendengaranku sudah
mulai berkurang. Bahkan sekarang aku harus menggunakan alat bantu untuk
mendengar. Kau khawatir? Tidak apa, tidak usah khawatir. Aku rasa aku tidak
sakit asalkan aku masih bisa melihatmu bermain piano itu. Dan aku usahakan aku
akan menemuimu lagi. Oh ya, kau tahu lagu The Name I Loved juga favoritku!
Nanti kalau kita bertemu lagi, mainkan lagu itu ya!
Dari
Nara.
Aku merasa seluruh yang ada di dunia
ini membeku seketika. Apakah ini benar-benar tulisan Nara? Apa ini benar-benar
Nara yang mengirimiku surat? Nara…………..
“Apa isinya?” Suara Yesung hyung
membuyarkan lamunanku.
“Ini dari Nara?” Tanyaku kaku.
“Ya, dia menitipkannya denganku tadi
malam ketika kau sudah pulang.”
Aku menatap mata Yesung hyung dalam.
Tidak terbersit adanya kebohongan diantara sel-sel mata itu.
“Hyung,” suaraku tercekat menahan
tangis, “Dia sakit.”
J
Dua lagu ini yang menemaniku dari
tadi, lebih dari tiga tahun yang lalu. Lagu ini yang terus menemaniku disaat
penantianku. Aku terus memainkannya sepanjang hari tanpa merasa bosan sedikit
pun. Aku masih menunggu Nara. The Name I Loved. Lagu yang sangat manis.
Walaupun ini lagu ballad, aku bisa memahami isi lagunya yang sangat indah.
Sangat sangat indah. Aku mencoba menghayati lagu ini dan menutup mataku. Indah
namun diakhir lagunya sangat menyakitkan hingga aku merasa ada yang mengalir di
pipiku. Aiss jangan bilang aku sedang menangis. Dan tanpa terasa juga ada
sebuah tangan yang dingin dan lembut mengusap pipiku. Tangan ini mampu
mengingatkanku dengan beberapa memori kecil aku dengan seseorang yang aku anggap
sebagai seseorang yang aku cintai. Seseorang yang kusayangi. Aku membuka mataku
perlahan.
Dia kembali.
Wajahnya yang pucat dan pipinya yang
tirus. Bibirnya memucat. Tidak ada rambut yang panjang menjuntai ke bahunya.
Tangannya yang kurus. Dan tubuhnya seakan tidak dihinggapi oleh jiwa.
Aku memegang erat kedua telapak
tangannya yang mengusap pipiku. Terasa sangat dingin.
“Aku kembali.” Katanya dengan suara
yang amat kecil. Tampak dua buah alat pendengar menyumbat kedua telinganya. Ia
tersenyum yang dapat menenangkanku.
“Aku sudah memainkan lagu itu
dihadapanmu,” Aku mencoba menahan airmata yang menyesakkanku untuk mengeluarkannya,
“Saranghae.” Ucapku jujur dan memeluk erat tubuhnya.
Air mataku mengalir bebas. Rindu
tiga tahun yang lalu terbayar sudah. Aku memeluk erat tubuhnya yang kurus. Ia
kembali, walaupun aku tahu ia belum terlalu pulih. Bahuku terasa basah. Ia menangis.
“Na…do. Nado Saranghae.” Suaranya
mengecil.
“Nara-ah, kau seharusnya sekarang
sudah menjadi istriku. Seharusnya kita sudah memiliki seorang anak yang lucu,”
aku terus mengatakan apa yang harus aku katakan beberapa tahun yang lalu,
“Nara-ah aku sangat mencintaimu.”
Ia terbatuk pelan.
“Nara…”
Ia tak meresponku. Aku melonggarkan
pelukanku. Darah merah segar mengalir dari hidungnya. Bercak darah itu sudah
membasahi lengan bajuku. Nara tersenyum sangat manis dan tenang sambil menutup
matanya.
“Mungkin hanya jiwaku yang akan
menemanimu sepanjang hidupmu, jadi maaf jika aku tidak bisa duduk disebelahmu.
Karena aku mencintai….mu.”
Mata Nara tertutup sempurna.
Tiba-tiba tidak ada udara dingin menusuk yang dikeluarkan dari hidung Nara. Aku
mencoba mencari detak jantungnya. Tidak ada. Ya Tuhan, jangan bilang………
“Nara! Kau tidak boleh
meninggalkanku! Nara! Aku sangat mencintaimu. Kumohon…….”
Namun, jiwa itu tak mungkin kembali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar