Sabtu, 01 September 2012

What If


Title : What If
Author : Minnia
Genre : Pain, Love, Romantic
Cast : Kim Ryeowook, Jang Nara
Other Cast : Kim Jongwoon aka Yesung


“Jika aku tidak bertemu dengannya, akankah suatu cinta yang indah tumbuh dibenakku?”

Ryeowook POV
            Aku membuka mataku setelah memainkan lagu di piano klasik tua milikku yang tertengger di restoran dengan nuansa klasik. Restoran ini sudah pasti milikku. Ada sebuah kertas kecil bertengger diatas kap piano ini. Aku membukanya. The Story Only I didn’t Know. Judul lagu ini lagi. Sudah tujuh kali berturut-turut aku mendapatkan kertas dengan judul lagu ini. Dan akhir-akhir ini baru ku ketahui bahwa yang sering menginginkan lagu ini aku mainkan adalah gadis di sudut ruangan ini.
            Aku tidak tahu dia pelanggan setia restoranku atau bukan. Aku sering melihatnya dan ia sering memperhatikanku ketika aku sedang menekan tuts-tuts piano tua ini. Aku tidak tahu permainanku bagus atau tidak tapi aku suka menerima tepukan tangan pelangganku ketika aku sudah selesai memainkan sebuah lagu. Dan akhirnya aku memainkan lagi lagu ballad dari penyanyi wanita Korea yang terkenal itu.
            Ia tersenyum. Dan entah mengapa aku tersentak. Aku melanjutkan memainkan lagu itu yang belum sempat kuselesaikan. Aku mencoba menghayati nada-nada yang kumainkan. Entah mengapa ada sebuah fakta kecil yang terselubung menyesakkan dadaku. Aku tidak tahu itu apa. Mungkin ini yang membuat gadis itu sangat menyukai lagu ini.
            Tuts terakhir dari lagu ini telah kutekan. Lagu ini berakhir. Aku membuka mataku dan tepuk tangan yang meriah menyambutku. Aku menghembuskan nafas perlahan lalu bangkit dari kursi yang ada di depan piano tua itu. Aku menatap gadis itu. Wajahnya semakin pucat.
            Pikiranku melayang, kakiku bergerak semaunya, otakku tak dapat lagi mengontrol. Gadis itu seperti ketakutan. Dan tanpa aku sadari aku telah berjalan mendekatinya. Mendekat dan semakin mendekat sampai aku sadar bahwa aku sudah duduk dihadapannya. Bibirnya memutih. Ia tampak sangat pucat.
            “Hai.” Sapaku kaku.
            “Hai.” Ia menjawab dengan kaku juga dan meminum coklat panasnya yang sudah tak beruap.
            Hening. Entah apa yang aku lakukan disini, lucu sekali aku seperti orang tidak tahu diri. Mengganggu pelangganku yang sedang menikmati menunya. Aku hendak bangkit, tapi……..
            “Kau sangat menyukai lagu tadi?” Tanyaku tanpa sengaja. Apa sudah aku lakukan?!
            Gadis itu mengangguk. Dan hening kembali melanda kami.
            “Gomawo,” gumamnya pelan. Aku tersentak dan menatap matanya yang terlihat sangat polos, “Terimakasih karena kau sudah mau memainkan lagu favoritku.” Ucapnya lirih sambil menatap secangkir coklat yang tinggal setengah.
            Gadis itu tersentak melihat kearah tangannya. Ternyata kedua telapak tanganku sudah menggenggam erat kedua punggung tangannya. Ya Tuhan, apa-apaan ini?! Bisa-bisanya aku melakukan hal itu diluar kesadaranku. Gadis itu tersenyum.
            “Dan terimakasih karena membuatku nyaman.”
J
            Jang Nara, nama yang indah untuk dijadikan nama seorang gadis secantik dia. Gadis dengan rambut sebahu yang bergelombang, hidung yang mancung tanpa plastik, dan bibir yang tipis selalu menyunggingkan senyum. Hatinya juga selembut sutra. Dia gadis yang sangat sempurna, dan argh jangan katakan bahwa aku menyukainya. Dan memang faktanya aku suka berkhayal sendiri jika sudah melihatnya. Itu artinya………..aku menyukainya. Sial.
           Seseorang memasuki restoranku. Aku mendongak sedikit karena kap piano tua ini menghalangi pandanganku. Ya, dia datang lagi. Ia mengenakan sweater pink hot yang kebesaran dengannya dan celana panjang. Sangat cantik. Ia duduk ditempat biasa. Tanpa kertas kecil yang intinya menyuruhku untuk memainkan sebuah lagu lagi, aku sudah mulai memainkan lagu kesukaannya. The Story Only I didn’t Know.
            Ia tersenyum kearahku. Aku membalas senyuman itu dan aku cepat-cepat menyelesaikan lagu ini. Aku menghampirinya di sudut ruangan ini. Wajahnya lebih pucat daripada waktu pertama kali aku melihatnya dari dekat. Ia hanya duduk dan tersenyum melihatku. Ia tidak memesan makanan atau pun minuman. Aku duduk dihadapannya.
            “Kau tidak memesan coklat panas, Nara-ah?” Tanyaku.
            Ia menggeleng, “Aku sedang tidak ingin minum apa-apa.”
            “Kau tidak mau memesan pancake coklat?”
            Ia menggeleng lagi, “Tidak. Dokter bilang—“ wajahnya tampak seperti linglung. Apa yang ia katakan barusan? Dokter?
            “Kau sa—“
            “Tidak.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia meyakinkanku bahwa ia sedang tidak sakit. Tapi, wajahnya yang pucat membuat seluruh keyakinanku luruh.
            “Tapi wajahmu pucat.”
            “Bukankah wajahku memang pucat?”
            Benar juga. Aku menganggukkan kepalaku. Hari ini banyak sekali yang mengunjungi restoranku. Ya, cuaca pada bulan Desember memang sangat dingin. Mungkin orang-orang banyak memilih restoranku karena restoranku menyediakan berbagai menu dalam bentuk coklat. Dan omset restoranku naik hanya gara-gara coklat panas. Ah bagus sekali.
            “Banyak sekali pelangganmu.” Ujar Nara. Aku tersenyum.
            “Mau membantuku menyiapkan menu?” Ajakku.
            Wajahnya terlihat bingung. Tanpa mendengar jawabannya, aku langsung menariknya masuk ke dalam dapur. Di dalam dapur terlihat Yesung hyung yang sedang menggiling bahan utama pancake. Ia tampak sangat bingung melihat aku membawa seorang yeoja berwajah pucat masuk ke dalam dapur restoran ini. Setahunya aku membuat peraturan tidak ada yang boleh masuk ke dalam dapur restoran karena takut akan kebocoran resep rahasiaku. Hahahaha.
            “Ya! Ryeowook-ah! Siapa dia?!” Tanya Yesung hyung dengan suara yang tertahan membuat kepalanya tampak membesar.
            Aku hanya mengisyaratkan keluar-kau-dari-sini dan dengan mudahnya Yesung hyung meninggalkan dapur ini dengan tampang yang sangat bodoh. Dan sekarang mengapa Nara jadi ikut-ikutan memasang tampang bodoh? Aisss.
            “Ini dapur restoranmu?” Tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
            Aku hanya bisa mengangguk dan mencari benda-benda kecil yang harus dimusnahkan.
            “Bersih. Lalu kita akan melakukan apa disini?”
            Aku tertawa melihat raut wajah polosnya yang sangat manis itu. Perlahan aku mencolek sedikit tepung terigu dan menempelkannya di pipi Nara. Ia tampak sangat terkejut.
            “Ya! Apa yang kau lakukan!” Ia mengelap tepung yang ada di pipinya secara sembarang sehingga tepung itu tampak sangat berantakan di pipinya. Aku tertawa.
            Glak! Segenggam tepung terbang bebas tepat dihadapan wajahku. Terdengar samar-samar suara tawa Nara yang khas dengan suara seraknya. Aku membersihkan sedikit tepung yang ada diwajahku. Dan aku kena lagi, dengan cekatan Nara meletakkan coklat cair di hidungku. Hancur sudah wajahku.
            “Kau tampak seperti badut, Ryeowook-ah! Hahaha!”
            Nara menertawaiku hingga terpingkal-pingkal. Selucu itukah? Aku langsung berlari ke toilet dan berkaca. Dan hasilnya, mungkin wajahku lebih menakutkan dari seorang badut. Tampak seperti topeng scream. Aku langsung membasuh wajahku dengan air sebanyak-banyaknya dan keluar dari toilet. Tampak Nara masih menahan tawa diseberang sana.
            “Ya! Nara-ya! Kau harus bertanggungjawab!”
            “Bertanggungjawab atas apa? Bwahahahaha!” Dan akhirnya ia menumpahkan tawanya sampai ada sedikit rona merah dipipinya.
            “Kau harus membantuku membuat semua pesanan yang ada disana! Arasseo?” Kataku sambil menunjuk beberapa kertas yang bergantung di depan dapur. Nara menganga.
            “Ne ne arasseo,” Ia menarik beberapa kertas yang digantung itu, “Banyak yang memesan coklat panas.”
            “Kalau begitu ayo buat!” Kataku sambil menarik lengannya.
            Pertama-tama kami hanya melakukan gerakan masak memasak yang gampang. Memanaskan panci, memasukkan coklat batangan, memasukkan bubuk krim, memasukkan sedikit air. Dan aku kira pesanan akan semakin sedikit, tetapi ketika aku lihat kembali ke bagian kertas yang bergantung itu, mungkin sudah ada sepuluh lembar kertas yang tergantung lagi di talinya. Yesung hyung, aku benar-benar butuh bantuanmu. Tanganmu memang benar-benar terlatih untuk memasak di dapur sedangkan tanganku hanya terlatih untuk menekan tuts-tuts tua walaupun aku bisa memasak, tapi tidak untuk sebanyak ini. Aisss andai saja aku tak menyuruh Yesung hyung keluar tadi………..
            “Hei nanti pancakenya gosong!” teriak Nara sambil menekan pipiku.
            Dan aku baru sadar kalau tadi aku sedang melamun dan hampir saja pancake coklat ini gosong. Kalau saja sampai gosong mungkin…………
            “Kau sedang banyak pikiran? Mana kokimu?” Tanya Nara sambil mengelap pipiku dengan tissue. Hei jangan bilang barusan ia merusak wajahku dengan coklat panas.
            “Ah tidak. Kau apakan wajahku tadi?”
            “Tidak, hanya memberi tepung sedikit. Tapi kau tidak merespon ya sudah aku hapus saja,” Katanya sambil membuang tissue tadi, “Hei cepat balikkan pancakenya.”
            Dan aku langsung terkejut. Aku membalikkan pancake coklat itu dengan cepat. Untung saja tidak gosong. Dan dengan cekatan Nara meletakkan pancake itu di piring dan menghiasinya dengan coklat-coklat beranekaragam warna. Pancakenya sudah jadi. Ia menekan bel pertanda menu sudah siap dihidangkan. Yesung hyung mengambilnya dan ia tertangkap basah sedang berdecak kagum. Nara tersenyum puas.
            Dan dalam jangka waktu yang lumayan panjang, tidak ada pesanan baru lagi. Aku dan Nara hanya berbincang-bincang sedikit. Nara sangat aneh. Wajahnya pucat dan suhu tubuhnya dingin. Aku tau disaat cuaca ekstrim seperti ini memang tidak terlalu aneh apabila tubuh kita terkena hipotermia. Tapi ia tampak sangat sakit. Suaranya juga tidak terdengar biasa. Suaranya semakin lama terdengar semakin mengecil dan serak.
            “Kau sakit?” Tanyaku hati-hati. Entah mengapa ia seperti menangkap nada khawatir di suaraku. Memangnya suaraku bisa terbaca?
            Ia tersenyum.
            “Aku rasa aku tidak sakit.”
            “Tapi,” Aku meletakkan telapak tanganku di dahinya, “Suhu tubuhmu sangat rendah.” Aku menggesekkan kedua telapak tanganku lalu meletakkannya di pipi Nara. Pipinya memerah. Dan aku rasa pipiku juga ikut memerah.
            Aku meletakkan tanganku kembali di tempatnya. Bodoh sekali aku melakukan hal itu.
            “Mianhae.” Ucapku sambil menunduk.
            Nara berdehem, “Ahahaha sudahlah tidak apa-apa. Sudah tidak ada pesanan lagi kan?” Ia tersenyum jahil kearahku.
            Aku tertawa, “Sudah tidak ada.”
            “Baiklah aku akan pulang.” Ia berjalan keluar dari dapur. Dan dengan spontan aku menarik tangannya.
            “Aku akan mengantarmu.”
            “Tidak perlu. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku bisa berjalan kaki.”
            “Kalau begitu aku akan mengantarmu dengan jalan kaki.”
            “Sudah tidak usah. Kau bermain saja dengan piano itu.” Katanya sambil melepaskan satu persatu jemariku yang melekat di pergelangan tangannya.
            Aku memasang wajah yang sangat memelas.
            “Aigo wajahmu lucu sekali.”
            “Ayolah.”
            Nara menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Ia menatap mataku dalam lalu melepaskan senyuman yang sangat manis, “Aku takut ibuku marah.”
            Alisku mengerut, “Ibumu marah? Mengapa? Kau tidak boleh pulang dengan diantar seorang namja? Hei umurmu dua puluh lima tahun.”
            “Memangnya kenapa dengan dua-puluh-lima-tahun dengan ibuku akan marah?”
            “Itu sangat aneh. Ayolah aku akan mengantarmu hanya sampai di tiga rumah sebelum rumahmu saja.”
            Nara berfikir keras, “Baiklah.”
J
            Aku ingin berteriak sekarang juga. Boleh tidak? Aku mengantarkan Nara pulang hanya dengan jalan kaki. Katanya rumahnya tidak jauh dari restoranku. Pantas saja ia sering mampir ke restoranku. Aku senang, sangat senang. Dan sepertinya aku mulai menyukai Nara……..
            “Kau mau ini?” Tanyanya padaku sambil menggerak-gerakkan kembang gula berwarna pink keungu-unguan.
            Aku menggeleng.
            Ia membayar kembang gula itu dengan beberapa lembar uang. Lalu kami mulai berjalan meninggalkan stand kembang gula yang ada di pinggir jalan menuju rumah Nara. Disepanjang jalan, Nara hanya diam menghabisi kembang gula yang sangat besar itu.
            “Kau menyukai kembang gula?”
            “Sangat.” Jawabnya singkat.
            Aku terkekeh pelan, “Setelah ini cepat sikat gigimu.”
            “Baik, Kim Ryeowook seonsaengnim!” Katanya sambil memberi hormat kepadaku.
            Lucu sekali perempuan ini. Ingin sekali kuusap kepalanya dan menertawakan perilakunya, buru-buru ia memberhentikan langkahku.
            “Sudah sampai disini saja. Rumahku yang itu.” Katanya sambil menunjuk rumah berwarna calm orange tepat tiga rumah dari sini.
            “Baiklah. Sampai jumpa.”
            Ia tersenyum.
            Aku sudah tak bisa menahan hasratku untuk tidak mengusap kepalanya. Aku memberanikan mengusap rambutnya yang bergelombang. Ia tampak terkejut lalu tersenyum. Namun ada yang aneh dari wajahnya. Ia mengusap hidungnya. Hidungnya berdarah. Ia segera memencet hidungnya dan berlari ke rumahnya. Dan aku baru tahu kalau ia benar-benar sedang sakit.
J
            Yesung hyung memasang wajah yang sangat bosan. Aku tidak mengerti dengannya hari ini. Aku terus memainkan piano ini. Memainkan satu persatu nada hingga menjadi sebuah lagu dengan satu kesatuan yang sangat indah. Lagu ini sangat indah untuk di dengar.
            “Kau tidak bosan dengan lagu ini? Sejak tadi pagi kau memainkan lagu ini. Bisakah kau memainkan lagu yang lain?” Yesung hyung mengadarkan pandangannya keseluruh arah, “Yeoja itu tidak ada. Lalu kau memainkan lagu itu untuk siapa?”
            Aku berhenti memainkan piano ini. Lagunya tidak selesai. Aku mengedarkan pandangan. Benar, Nara tidak ada disini. Sudah lima hari ia tidak berkunjung ke restoranku setelah aku mengantarnya pulang. Atau jangan-jangan ibunya benar-benar marah karena aku mengantarnya pulang lalu melarang Nara untuk keluar rumah lagi? Mana mungkin. Nara sudah dewasa.
            Aku merindukan Nara.
            Aku merindukan senyumannya yang membuatku tenang, aku merindukan suaranya yang serak, aku merindukan wajahnya yang sangat manis, aku merindukannya ketika ia melempariku dengan segenggam tepung, dan terlebih lagi aku sangat merindukan kertas kecil yang berisikan judul lagu The Story Only I Didn’t Know. Aku merindukannya.
            “Sebaiknya kau pulang saja. Tampaknya badanmu sedang tidak sehat. Banyak beban yang kau pikirkan. Lagipula sekarang sudah malam.”
            Aku melihat kearah pintu masuk restoran. Benar. Sudah gelap. Faktanya sekarang sudah pukul Sembilan. Benar, tampaknya aku harus pulang. Aku mengambil tas ranselku dan menyumbat telingaku dengan headset.
            Disepanjang perjalanan menuju halte, banyak terjual kembang gula dengan berbagai warna. Aku jadi teringat Nara. Aku benar-benar merindukannya. Ah! Kenapa aku tidak ke rumahnya saja? Baiklah aku akan membawakannya kembang gula.
            Setelah membeli lebih dari tiga batang kembang gula dengan beragam warna, kini aku hanya melongo di seberang rumah Nara. Sesekali aku membenarkan letak topi yang sangat besar di kepalaku hingga membuat mataku yang terlihat. Syal yang menutupi hingga hidungku. Aku tampak aneh. Biarlah. Aku mana mungkin mau nekat membunuh diriku sendiri diantara cuaca dingin yang mengerumuniku. Aku kan masih ingin bertemu Nara………
            Sudah sepuluh menit aku berdiri di seberang sini tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah seberangku. Lampu teras yang remang-remang terus menyinari. Tidak ada suara grasak-grusuk dari dalam sana. Ah mungkin Nara sudah tidur. Ia kan sedang sakit, jadi ia harus banyak beristirahat.
            Kuputuskan aku hanya meletakkan kembang gula ini di depan pintu rumahnya. Mana tahu besok Nara melihatnya.
            “Nara, cepat sembuh. Aku merindukanmu.”
            Aku berlalu dari rumah itu.
J
            Author POV
            Nara hanya memandangi pria dengan jubah panjang dan topi yang besar itu di hadapannya, ia membeli kembang gula tiga batang. Mungkinkah ini Ryeowook? Tapi tidak mungkin. Mana mungkin Ryeowook membeli tiga batang sekaligus. Ia tidak terlalu suka dengan kembang gula.
            “Kau kenapa membeli ini?!” Nara memasang alat pendengar di telinga kirinya, “Apa kau tidak menyayangi gigimu setelah kau hampir kehilangan nyawamu?!” Bentak ibunya Nara.
            Nara hanya tersenyum, “Eomma, aku janji ini terakhir kalinya aku memakan ini.”
            “Baiklah cepat masuk ke dalam mobil. Dua jam lagi pesawat akan lepas landas.”
            Nara mengangguk. Mobil yang mereka tumpangi melaju kearah Incheon Airport. Dan entah mengapa Nara ingat betul jalan ini. Jalan menuju restoran Ryeowook.
            “Eomma, bisakah kita berhenti sebentar di restoran di depan itu?” Ucap Nara pelan-pelan takut akan dimarahi ibunya, “Aku janji hanya sebentar saja.”
           Ibunya menghembuskan nafas dengan berat, “Baiklah.” Ibunya membelokkan setir ke restoran yang di depan.
            Dengan cepat Nara keluar dari mobil dan membawa tas jinjingnya masuk ke dalam restoran. Di dalam Nara hanya bertemu dengan seorang namja yang pernah ia temui. Argh dia lupa nama namja itu siapa.
            “Permisi, apakah ada Ryeowook?”
            Mata Yesung membulat seketika. Ia mendekati gadis yang mukanya sangat tak asing dan dapat membuat Ryeowook hampir gila.
            “K….kau?”
            Nara tersenyum. Ia seperti memasang alat pendengar yang kecil ketelinga kanannya. Lalu mengeluarkan amplop berwarna biru cerah dan memberinya ke Yesung. Nara keluar dari restoran itu. Dan hampir saja Nara jatuh karena tangannya dicekat oleh jari-jari yang mungil milik Yesung.
            “Kau? Ini apa? Ini untuk siapa? Kau tahu Ryeowook seperti sangat kehilanganmu ketika kau tidak datang kesini. Dia sangat merindukanmu!”
            Nara tersenyum dan itu membuat Yesung terdiam dan tenang, “Ini untuk Ryeowook. Titip salam untuknya. Aku juga merindukannya.”
            Nara melepaskan jari Yesung yang membeku dan keluar dari restoran itu. Yesung benar-benar membeku.
J
            Ryeowook POV
            Aku menghayati lagu ini. Lagu ini benar-benar sangat menyakitkan tapi melodinya yang indah dapat menenangkan hatiku. Lagu ini lagu favorit Nara, The Story Only I Didn’t Know. Aku membuka mataku dan mendapati amplop berwarna biru muda bertengger di depan kap piano tua ini. Aku mengambilnya. Tertera namaku di depan amplop. Aku membukanya.
            Ryeowook-ah
            Kau masih mengingatku ‘kan? Aku baru enam hari tidak bertemu denganmu dan awas saja kalau kau sudah melupakanku. Hahaha. Aku menyempatkan menulis surat ini. Aku takut tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Tapi akan kuusahakan. Dan ini yang harus kau tahu tentangku. Aku merindukanmu. Dan aku berjanji denganmu aku akan kembali dihadapanmu ketika kau sedang memainkan sebuah lagu untukku. Hahaha. Aku tidak tahu aku akan kembali kapan. Mungkin aku akan sangat lama di Jepang mengingat leukemia-ku sudah sangat parah setelah aku mimisan kemarin di depanmu. Kau ingat? Dan aku tidak kembali menemuimu karena pendengaranku sudah mulai berkurang. Bahkan sekarang aku harus menggunakan alat bantu untuk mendengar. Kau khawatir? Tidak apa, tidak usah khawatir. Aku rasa aku tidak sakit asalkan aku masih bisa melihatmu bermain piano itu. Dan aku usahakan aku akan menemuimu lagi. Oh ya, kau tahu lagu The Name I Loved juga favoritku! Nanti kalau kita bertemu lagi, mainkan lagu itu ya!
            Dari Nara.
            Aku merasa seluruh yang ada di dunia ini membeku seketika. Apakah ini benar-benar tulisan Nara? Apa ini benar-benar Nara yang mengirimiku surat? Nara…………..
            “Apa isinya?” Suara Yesung hyung membuyarkan lamunanku.
            “Ini dari Nara?” Tanyaku kaku.
            “Ya, dia menitipkannya denganku tadi malam ketika kau sudah pulang.”
            Aku menatap mata Yesung hyung dalam. Tidak terbersit adanya kebohongan diantara sel-sel mata itu.
            “Hyung,” suaraku tercekat menahan tangis, “Dia sakit.”
J
            Dua lagu ini yang menemaniku dari tadi, lebih dari tiga tahun yang lalu. Lagu ini yang terus menemaniku disaat penantianku. Aku terus memainkannya sepanjang hari tanpa merasa bosan sedikit pun. Aku masih menunggu Nara. The Name I Loved. Lagu yang sangat manis. Walaupun ini lagu ballad, aku bisa memahami isi lagunya yang sangat indah. Sangat sangat indah. Aku mencoba menghayati lagu ini dan menutup mataku. Indah namun diakhir lagunya sangat menyakitkan hingga aku merasa ada yang mengalir di pipiku. Aiss jangan bilang aku sedang menangis. Dan tanpa terasa juga ada sebuah tangan yang dingin dan lembut mengusap pipiku. Tangan ini mampu mengingatkanku dengan beberapa memori kecil aku dengan seseorang yang aku anggap sebagai seseorang yang aku cintai. Seseorang yang kusayangi. Aku membuka mataku perlahan.
            Dia kembali.
            Wajahnya yang pucat dan pipinya yang tirus. Bibirnya memucat. Tidak ada rambut yang panjang menjuntai ke bahunya. Tangannya yang kurus. Dan tubuhnya seakan tidak dihinggapi oleh jiwa.
            Aku memegang erat kedua telapak tangannya yang mengusap pipiku. Terasa sangat dingin.
            “Aku kembali.” Katanya dengan suara yang amat kecil. Tampak dua buah alat pendengar menyumbat kedua telinganya. Ia tersenyum yang dapat menenangkanku.
            “Aku sudah memainkan lagu itu dihadapanmu,” Aku mencoba menahan airmata yang menyesakkanku untuk mengeluarkannya, “Saranghae.” Ucapku jujur dan memeluk erat tubuhnya.
            Air mataku mengalir bebas. Rindu tiga tahun yang lalu terbayar sudah. Aku memeluk erat tubuhnya yang kurus. Ia kembali, walaupun aku tahu ia belum terlalu pulih. Bahuku terasa basah. Ia menangis.
            “Na…do. Nado Saranghae.” Suaranya mengecil.
            “Nara-ah, kau seharusnya sekarang sudah menjadi istriku. Seharusnya kita sudah memiliki seorang anak yang lucu,” aku terus mengatakan apa yang harus aku katakan beberapa tahun yang lalu, “Nara-ah aku sangat mencintaimu.”
            Ia terbatuk pelan.
            “Nara…”
            Ia tak meresponku. Aku melonggarkan pelukanku. Darah merah segar mengalir dari hidungnya. Bercak darah itu sudah membasahi lengan bajuku. Nara tersenyum sangat manis dan tenang sambil menutup matanya.
            “Mungkin hanya jiwaku yang akan menemanimu sepanjang hidupmu, jadi maaf jika aku tidak bisa duduk disebelahmu. Karena aku mencintai….mu.”
            Mata Nara tertutup sempurna. Tiba-tiba tidak ada udara dingin menusuk yang dikeluarkan dari hidung Nara. Aku mencoba mencari detak jantungnya. Tidak ada. Ya Tuhan, jangan bilang………
            “Nara! Kau tidak boleh meninggalkanku! Nara! Aku sangat mencintaimu. Kumohon…….”
            Namun, jiwa itu tak mungkin kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar