Minggu, 23 September 2012

Me, You, and Him [Part 3]


Title : Me, You, and Him [part 3]
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon

                Eunna POV
                Jinyoung meletakkanku di pinggiran pantai ini. Dia duduk disebelahku. Nafasnya sengal. Hah, siapa suruh dia menggendongku tadi? Ini bukan salahku kan?
                “Ya! Badanmu itu kecil tapi berat juga ya.”
                Aku memajukan beberapa senti bibirku. Ia terkekeh. Ia mendekatkan jarak duduknya denganku. Tangannya menyangga tubuhnya yang kurus, ia meletakkan tangannya dibelakang tubuhnya. Aku masih melihat wajahnya yang sedang menatap matahari yang hampir terbenam. Lehernya yang jenjang serta rahangnya ynag terlihat keras membentuk wajahnya yang terlihat sempurna. Dan itu semua disempurnakan oleh bias-bias siluet matahari senja yang berwarna orange. Ia melihatku tiba-tiba.
                “Gotcha! Kau ketahuan sedang melihatku.”
                Aku menggigit bibirku lalu menekuk lututku. Aku sudah mulai kedinginan karena aku masih memakai baju basah. Tiba-tiba saja tangan Jinyoung sudah meraih tubuhku dari belakang. Ia menyampirkan handuk yang tebal ke tubuhku.
                “Kedinginan ya?” Katanya dengan tatapan yang menggodaku. Aku tersenyum tipis.
                “Iya. Kau tidak kedinginan? Mana handukmu?”
                “Tidak ada. Handuk hotel banyak yang di laundry, jadi hanya ada satu.”
                “Kalau begitu kau yang pakai saja.” Kataku sambil menyampirkan handuk itu dibahunya.
                Ia melihat kearahku. Menatap wajahku tajam, “Aku tidak ingin kau terkena flu.”
                “Aku juga tidak ingin kau terkena flu.”
                Ia menghela nafasnya lalu membuka lipatan handuk itu satu persatu lalu menyampirkan satu sisi ke bahunya dan menyampirkan satu sisi lagi kebahuku, “Kalau begitu kita akan seperti ini terus. Setuju?” Ia tersenyum kearahku. Manis sekali.
                Aku mengangguk.
                “Ayo kita hitung detik-detik terakhir matahari terbenam.”
                Kami berdua memandang kedepan, melihat kearah Matahari yang sudah mulai untuk tenggelam, menggantikan siang menjadi malam.
                “Lima—“ Kata Jinyoung sambil menggenggam tanganku.
                “Empat—“
                “Tiga—“
                “Dua—“
                “Saranghae, nae Eunna!” Teriak Jinyoung.
                Dan perlahan matahari tenggelam, meninggalkan jejak siluet yang sangat indah. Jinyoung menggerakkan kepalaku perlahan ke bahunya. Bahunya sangat nyaman. Aku ingin selalu berada disampingnya dan meletakkan kepalaku dibahunya.
                “Saranghae. Jeongmal saranghae.” Bisiknya lagi. Aku hanya tersenyum tipis.
                Jinyoung mencium ubun-ubunku. Aku melihat kewajahnya yang sangat dekat denganku. Aku tidak tahu hatiku sudah berapa kali mencelos. Hatiku meloncat-loncat senang dan berdegup sangat kencang.
                Jinyoung tersenyum kearahku dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Hidung kami bertemu dan saling bergesekan. Nafas kami bertabrakan. Ia memiringkan wajahnya.
                “Saranghae.” Ia mengecup bibirku perlahan dengan penuh rasa cinta. Nafasnya terdengar sengal. Tanganku bergerak kearah tengkuknya dan memijatnya perlahan untuk mereflekskan dan membuatnya tidak terlalu berburu-buru.
                “Haaaaaaaaai! Kalian sedang apa?!” Suara sialan yang menggelegar itu sedikit membuat kami terkejut dan melepaskan bibir kami yang bertautan.
                “Kalian tau kan ini tempat umum?” Tanya Jinwoon sambil mengeluarkan mimik wajah yang pura-pura tegas.
                “Untung saja disekitar sini hanya ada aku. Kalau ada orang lain akan kubilang kepada ibumu, Jinyoung-ssi.”
                “Maaf, kami hanya terbawa suasana.” Kataku sambil mengurut punggung Jinyoung.
                “Dan kau merusak suasananya, Jinwoon-ssi.” Kata Jinyoung yang mengambil tanganku lalu menggenggamnya.
                “Mwo? Lebih baik aku cegah perbuatan kalian itu daripada kalian akan melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan. Euw.”
                “Sepertinya makan malam kita sudah datang. Lebih baik kau makan disana, Jinwoon. Biar aku yang bayar.”
                “Jinjjayo?!”
                Jinyoung hanya mengangguk. Dan dengan secepat kilat Jinwoon sudah berada diatas meja restoran yang jaraknya tak jauh dari sini. Jinyoung menepukkan tangannya beberapa kali untuk memanggil pelayan yang tadi menyajikan makanan untuk Jinwoon.
                “Tolong makanan yang kupesan dibawa kesini, untuk dua porsi.”             
                Pelayan itu mengangguk lalu membawa makanan. Dan kami melahapnya.
J
                “It’so wonderfull tonight, Oh beuatiful night.” Jinyoung menyanyikan beberapa bait lagu yang pernah ia tulis.
                “Malam ini bulannya indah ya.” Kataku sambil menatap bulan.
                “Bintang malam ini yang lebih indah.”
                “Bo? Bulan yang paling indah. Lihat! Bentuknya bulat dan bersinar antara redup dan terang. Bukankah itu indah?”
                “Seindah-indahnya bulan, bintanglah yang lebih indah. Walaupun bentuknya tidak dapat kita definisikan, tapi bintang memancarkan cahayanya sendiri. Tidak seperti bulan yang hanya mengambil cahaya matahari.”
                Aku tertegun.
                “Dan bagiku kau itu seperti bintang. Walaupun terlihat kecil dan tak bisa diprediksi, kau bisa memberikan cahayamu sendiri kepadaku.” Katanya sambil tersenyum.
                Aku tersenyum tipis lalu memukul mukul pundaknya pelan. Ia meletakkan kepalaku di dadanya.
                “Jinyoung, detak jantungmu sangat cepat.”
                “Hah? Kau mendengarnya ya?”
                Aku melepaskan tangannya yang berada di kepalaku, “Iya.”
                Aku kembali meletakkan kepalaku di bahunya. Sesekali Jinyoung menyanyikan lagu ciptaannya dan aku hanya mendengar sambil tersenyum tidak jelas. Ingin sekali rasanya tidak mengakhiri hari ini yang begitu indah. Dan tiba-tiba dadaku sesak. Apakah aku mungkin bisa terpisah darinya? Engh, aku ini suka memikirkan yang macam-macam. Ck, ini sudah diluar pemikiran seseorang. Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan itu.
                “Jinyoung-ah.”
                “Hm?”
                “Disetiap pertemuan pasti ada perpisahan kan?” Tanyaku sambil mengangkat kepalaku.
                Ia melihat kearahku, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
                “Entahlah. Perasaanku sedang tidak enak. Cepat jawab pertanyaanku.”
                Dia menunduk, “Kupikir, disetiap pertemuan memang ada perpisahan.”
                “Aku tidak ingin berpisah denganmu.”
                “Apa kau fikir kita akan berpisah? Tidak. Kita tak akan pernah terpisah. Sekalipun kita terpisah, hati kita tetap bertemu. Kita tidak mungkin berpisah. Kau harus tau itu.”
                “Jinyoung, mengapa kita harus bertemu walau akhirnya kita akan berpisah?”
                “Sudah kubilang kita tidak akan berpisah!” Nada suaranya meninggi, “Maaf. Aku juga tidak ingin berpisah darimu. Sudahlah. Jangan kau pikirkan tentang itu. Jangan khawatir, kita tidak akan terpisah.” Jinyoung tersenyum tipis.
                Aku tersenyum sedih melihatnya. Entahlah. Perasaanku sedang tak menentu. Ck, ternyata selama kau memiliki kemampuan untuk berfikir tentang apapun dan dapat disambungkan dengan perasaan itu terkadang tidak enak. Antara benar dan tidak benar. Aku sering merasakan hal itu. Dan semoga saja apa yang Jinyoung katakan benar, bahwa aku tak akan pernah terpisah olehnya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar