Title : Me, You, and Him [part 3]
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon
Eunna
POV
Jinyoung
meletakkanku di pinggiran pantai ini. Dia duduk disebelahku. Nafasnya sengal.
Hah, siapa suruh dia menggendongku tadi? Ini bukan salahku kan?
“Ya!
Badanmu itu kecil tapi berat juga ya.”
Aku
memajukan beberapa senti bibirku. Ia terkekeh. Ia mendekatkan jarak duduknya
denganku. Tangannya menyangga tubuhnya yang kurus, ia meletakkan tangannya
dibelakang tubuhnya. Aku masih melihat wajahnya yang sedang menatap matahari
yang hampir terbenam. Lehernya yang jenjang serta rahangnya ynag terlihat keras
membentuk wajahnya yang terlihat sempurna. Dan itu semua disempurnakan oleh
bias-bias siluet matahari senja yang berwarna orange. Ia melihatku tiba-tiba.
“Gotcha!
Kau ketahuan sedang melihatku.”
Aku
menggigit bibirku lalu menekuk lututku. Aku sudah mulai kedinginan karena aku
masih memakai baju basah. Tiba-tiba saja tangan Jinyoung sudah meraih tubuhku
dari belakang. Ia menyampirkan handuk yang tebal ke tubuhku.
“Kedinginan
ya?” Katanya dengan tatapan yang menggodaku. Aku tersenyum tipis.
“Iya.
Kau tidak kedinginan? Mana handukmu?”
“Tidak
ada. Handuk hotel banyak yang di laundry, jadi hanya ada satu.”
“Kalau begitu
kau yang pakai saja.” Kataku sambil menyampirkan handuk itu dibahunya.
Ia
melihat kearahku. Menatap wajahku tajam, “Aku tidak ingin kau terkena flu.”
“Aku
juga tidak ingin kau terkena flu.”
Ia
menghela nafasnya lalu membuka lipatan handuk itu satu persatu lalu
menyampirkan satu sisi ke bahunya dan menyampirkan satu sisi lagi kebahuku,
“Kalau begitu kita akan seperti ini terus. Setuju?” Ia tersenyum kearahku.
Manis sekali.
Aku
mengangguk.
“Ayo
kita hitung detik-detik terakhir matahari terbenam.”
Kami
berdua memandang kedepan, melihat kearah Matahari yang sudah mulai untuk
tenggelam, menggantikan siang menjadi malam.
“Lima—“
Kata Jinyoung sambil menggenggam tanganku.
“Empat—“
“Tiga—“
“Dua—“
“Saranghae,
nae Eunna!” Teriak Jinyoung.
Dan
perlahan matahari tenggelam, meninggalkan jejak siluet yang sangat indah.
Jinyoung menggerakkan kepalaku perlahan ke bahunya. Bahunya sangat nyaman. Aku
ingin selalu berada disampingnya dan meletakkan kepalaku dibahunya.
“Saranghae.
Jeongmal saranghae.” Bisiknya lagi. Aku hanya tersenyum tipis.
Jinyoung
mencium ubun-ubunku. Aku melihat kewajahnya yang sangat dekat denganku. Aku
tidak tahu hatiku sudah berapa kali mencelos. Hatiku meloncat-loncat senang dan
berdegup sangat kencang.
Jinyoung
tersenyum kearahku dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Hidung kami
bertemu dan saling bergesekan. Nafas kami bertabrakan. Ia memiringkan wajahnya.
“Saranghae.”
Ia mengecup bibirku perlahan dengan penuh rasa cinta. Nafasnya terdengar
sengal. Tanganku bergerak kearah tengkuknya dan memijatnya perlahan untuk
mereflekskan dan membuatnya tidak terlalu berburu-buru.
“Haaaaaaaaai!
Kalian sedang apa?!” Suara sialan yang menggelegar itu sedikit membuat kami
terkejut dan melepaskan bibir kami yang bertautan.
“Kalian
tau kan ini tempat umum?” Tanya Jinwoon sambil mengeluarkan mimik wajah yang
pura-pura tegas.
“Untung
saja disekitar sini hanya ada aku. Kalau ada orang lain akan kubilang kepada
ibumu, Jinyoung-ssi.”
“Maaf,
kami hanya terbawa suasana.” Kataku sambil mengurut punggung Jinyoung.
“Dan
kau merusak suasananya, Jinwoon-ssi.” Kata Jinyoung yang mengambil tanganku
lalu menggenggamnya.
“Mwo?
Lebih baik aku cegah perbuatan kalian itu daripada kalian akan melakukan
sesuatu hal yang tidak diinginkan. Euw.”
“Sepertinya
makan malam kita sudah datang. Lebih baik kau makan disana, Jinwoon. Biar aku
yang bayar.”
“Jinjjayo?!”
Jinyoung
hanya mengangguk. Dan dengan secepat kilat Jinwoon sudah berada diatas meja
restoran yang jaraknya tak jauh dari sini. Jinyoung menepukkan tangannya
beberapa kali untuk memanggil pelayan yang tadi menyajikan makanan untuk
Jinwoon.
“Tolong
makanan yang kupesan dibawa kesini, untuk dua porsi.”
Pelayan
itu mengangguk lalu membawa makanan. Dan kami melahapnya.
J
“It’so
wonderfull tonight, Oh beuatiful night.” Jinyoung menyanyikan beberapa bait
lagu yang pernah ia tulis.
“Malam
ini bulannya indah ya.” Kataku sambil menatap bulan.
“Bintang
malam ini yang lebih indah.”
“Bo?
Bulan yang paling indah. Lihat! Bentuknya bulat dan bersinar antara redup dan
terang. Bukankah itu indah?”
“Seindah-indahnya
bulan, bintanglah yang lebih indah. Walaupun bentuknya tidak dapat kita
definisikan, tapi bintang memancarkan cahayanya sendiri. Tidak seperti bulan
yang hanya mengambil cahaya matahari.”
Aku
tertegun.
“Dan
bagiku kau itu seperti bintang. Walaupun terlihat kecil dan tak bisa
diprediksi, kau bisa memberikan cahayamu sendiri kepadaku.” Katanya sambil tersenyum.
Aku
tersenyum tipis lalu memukul mukul pundaknya pelan. Ia meletakkan kepalaku di
dadanya.
“Jinyoung,
detak jantungmu sangat cepat.”
“Hah?
Kau mendengarnya ya?”
Aku
melepaskan tangannya yang berada di kepalaku, “Iya.”
Aku
kembali meletakkan kepalaku di bahunya. Sesekali Jinyoung menyanyikan lagu
ciptaannya dan aku hanya mendengar sambil tersenyum tidak jelas. Ingin sekali
rasanya tidak mengakhiri hari ini yang begitu indah. Dan tiba-tiba dadaku
sesak. Apakah aku mungkin bisa terpisah darinya? Engh, aku ini suka memikirkan
yang macam-macam. Ck, ini sudah diluar pemikiran seseorang. Bagaimana mungkin
aku bisa memikirkan itu.
“Jinyoung-ah.”
“Hm?”
“Disetiap
pertemuan pasti ada perpisahan kan?” Tanyaku sambil mengangkat kepalaku.
Ia
melihat kearahku, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
“Entahlah.
Perasaanku sedang tidak enak. Cepat jawab pertanyaanku.”
Dia
menunduk, “Kupikir, disetiap pertemuan memang ada perpisahan.”
“Aku
tidak ingin berpisah denganmu.”
“Apa
kau fikir kita akan berpisah? Tidak. Kita tak akan pernah terpisah. Sekalipun
kita terpisah, hati kita tetap bertemu. Kita tidak mungkin berpisah. Kau harus
tau itu.”
“Jinyoung,
mengapa kita harus bertemu walau akhirnya kita akan berpisah?”
“Sudah
kubilang kita tidak akan berpisah!” Nada suaranya meninggi, “Maaf. Aku juga
tidak ingin berpisah darimu. Sudahlah. Jangan kau pikirkan tentang itu. Jangan
khawatir, kita tidak akan terpisah.” Jinyoung tersenyum tipis.
Aku
tersenyum sedih melihatnya. Entahlah. Perasaanku sedang tak menentu. Ck,
ternyata selama kau memiliki kemampuan untuk berfikir tentang apapun dan dapat
disambungkan dengan perasaan itu terkadang tidak enak. Antara benar dan tidak
benar. Aku sering merasakan hal itu. Dan semoga saja apa yang Jinyoung katakan
benar, bahwa aku tak akan pernah terpisah olehnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar