Title : Me, You, and Him [part 2]
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon
Eunna
POV
Ck,
sepupunya Jinyoung sangat tidak sopan! Baru saja kenal sudah cerewet sekali.
Pantas saja Jinyoung sering menahan emosi dengannya. Ternyata dia itu sangat
tidak bisa diajak damai. Seseorang mengetuk pintu kamar hotelku.
“Nanti
sore kita bermain di pantai ya?” Katanya sambil tersenyum. Emosiku lenyap
seketika melihat senyumannya yang sangat manis itu. Jinwoon melongokkan
kepalanya dari belakang Jinyoung.
“Apa
dia juga ikut?” tanyaku diam-diam.
Jinyoung
tampak berfikir keras, “Sepertinya dia ikut. Tapi dia harus bermain sendiri dan
kita tidak usah melayaninya. Biar dia autis.”
Aku
menahan tawa sambil sesekali menepuk pundak Jinyoung. Astaga. Gila juga dewa
tampan yang satu ini. Dia mengacak-acak rambutku.
“Sudahlah.
Istirahat sana. Nanti sore aku akan menjemputmu lagi. Bye~” Jinyoung sekilas
mencium pipiku.
Bukan
hanya wajah Jinwoon yang terkejut sampai mulutnya menganga, tapi aku juga.
Jinyoung baru saja mencium pipiku. Dan itu pertama kalinya ia mencium pipiku.
Astaga, rasanya aku tak mau mencuci muka sampai kapan pun! Jinyoung menutup
pintu kamarku. Aku terhuyung lemas dan terjatuh tepat diatas tempat tidur
sambil membayangkan kejadian tadi.
“Kau…Ah
Ibumu pasti sangat marah kalau tahu bahwa kau baru saja mencium seorang gadis.”
Suara Jinwoon berkoar-koar. Dasar laki-laki aneh. Aku baru tahu kalau ada
laki-laki secerewet dia.
“Memangnya
kenapa? Dia yeojachingu-ku kan?” Jawab Jinyoung dengan nada yang tenang. Aiss
jangan bilang mereka bertengkar di depan kamarku.
“Ya!
Tapi kau…ah itu tidak pantas, Jinyoung-ssi.”
Blam.
Sebuah pintu tertutup.
“Hei
dasar aneh!” Maki Jinwoon.
Dan
suara-suara itu pun lenyap.
J
Jinyoung
POV
Kukira
Jinwoon benar-benar berubah semenjak 4 tahun tidak bertemu. Dan ternyata
penyakit jiwanya semakin parah. Dan argh apa dia tidak lelah bercuap-papap
selama dua jam? Aku yang mendengarnya saja lelah. Ibuku dan Ibunya memang
benar-benar gila. Mereka tidak pernah mau memisahkan aku dan Jinwoon. Mereka
kira aku dan Jinwoon masih anak-anak yang memakai celana dengan tali yang
disampirkan di bahu kami lalu memakai topi dengan baling-baling bambu doraemon
lalu berebut lollipop? Eomma, Jebal. Aku tidak mau bersama dengan Jinwoon lagi.
Hidupku sudah terlalu lelah untuk ditindas lagi dengan Jinwoon meskipun aku
bisa menindasnya juga. Baiklah kalau begitu aku akan menindasnya kali ini.
“Ah kau
kenapa menciumnya tadi?” Pertanyaan itu selalu dikeluarkannya.
“Memangnya
kenapa? Dia kan yeojachingu-ku.”
“Kau
menjawab itu terus daritadi!”
“Ya!
Kau juga bertanya itu terus daritadi!”
“Hhh.
Begini ya Jinyoung-ssi, kau baru saja mencium pipi yeojachingu-mu di depanku. Dan
kau tidak takut aku katakan itu kepada ibumu?”
“Mengapa
aku harus takut?”
“Ya itu
tidak sepantasnya kau lakukan.”
“Ck,
teman-temanku mencium bibir yeojachingu mereka di depan orangtuanya.”
“Berarti
temanmu tidak memiliki sopan santun!”
“Sudahlah
kau ini! Masalah kecil saja kau buat besar! Itu hal yang wajar kan?!” Kataku
sambil menarik selimut dan langsung terlelap.
“Jinyoung-ssi…”
Panggilnya.
Aku tak
menghiraukan. Biarkan saja dia bercuap-cuap sendiri. Manusia mana yang sabar
dengan cuapannya? Tidak ada.
“Jinyoung,
kau tidur ya?”
Hahaha
dia mulai terperangkap oleh aktingku yang diasah oleh guru teater sekolahku.
“Jinyoung,
kau tidur betulan? Aku hanya mau bilang…”
Ah
pasti kali ini dia akan mengomel lagi. Apa aku harus menyumpel mulutnya dengan
tisu-tisu yang ada diatas meja rias itu?
“Sekarang
sudah jam empat. Dan kau belum mengkonfirmasi tempat untuk dinner kalian
nanti?”
Ah
Shit. Aku baru ingat kalau tadi aku sudah berjanji dengan pihak Hotel aku akan
memesan tempat untuk dinner aku dan Eunna nanti malam. Dan sekarang sudah jam
empat? Sial. Aku pasti tidak dapat tempat. Aku segera melihat kearah jam
tanganku. Jinwoon benar, sekarang sudah jam empat. Aku langsung berlari ke
kamar mandi untuk cepat-cepat mandi dan mempersiapkan diri.
“Kau
kenapa tidak bilang kalau sekarang sudah jam empat?! Argh aku harus turun
duluan. Nanti kau turun dengan Eunna ya? Jebal.” Pintaku kepada Jinwoon. Sial,
kali ini aku tertindas lagi olehnya.
“Baiklah.”
Aku
langsung berlari kearah luar.
J
Jinwoon
POV
“Tunggu
sebentar.” Kataku sambil langsung memakai sandal pantaiku yang berwarna orange
ini. Aku membuka pintu. Ternyata Eunna. Ia melongokkan kepala.
“Jinyoung
dimana?” Tanyanya. Wajahnya tersirat kekecewaan ketika melihat hanya aku yang
ia jumpai.
“Ah dia
sedang ada sedikit urusan dibawah sana. Kau sudah selesai?” Dan aku yakin dia
sudah sangat siap.
Eunna
terlihat cantik dengan gaun pantai berwarna peach yang membalut tubuhnya. Tidak
terlalu terbuka, tapi tidak terlalu tertutup. Gaun pantai itu sangat cocok di
tubuhnya yang kecil itu. Rambutnya digerai sempurna. Dan ada yang aneh dari
wajahnya. Ia tidak memakai kacamata. Dia tampak sangat begitu cantik.
“Jinwoon-ssi!”
Eunna menampar kecil pipiku, “Apa yang sedang kau lihat?! Apa dandananku sangat
buruk sampai-sampai wajahmu melongo melihatku?”
“Ah
tidak.” Aku tersenyum salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalaku, “Ah ayo
kita kebawah. Jinyoung pasti sudah menunggu.”
Eunna
hanya menangguk lalu berjalan kearah lift. Aku segera keluar dari kamar dan
menguncinya. Aku berjalan dibelakang Eunna.
“Memangnya
Jinyoung ada urusan apa sampai-sampai dia meninggalkanku? Omong-omong hari ini
tahun kedua kami berpacaran dan sampai sekarang dia belum mengucapkannya.”
“Oh itu
aku tidak tahu. Oh iya? Wah selamat kalau begitu”
“Kau
bohong kalau kau tak tahu urusannya.”
“Ah kau
juga tak harus tahu sekarang.”
Eunna
mendelik kearahku lalu berjalan ke meja resepsionis untuk menitipkan kunci
kamarnya. Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
“Ya!
Jangan menarikku! Aku hampir jatuh!” Jerit Eunna.
Aku
membalikkan badan. Jinyoung sedang tertawa dan menarik tangan Eunna. Jinyoung
menarik Eunna ke pantai. Hhh, jujur saja, aku iri dengan mereka berdua yang
begitu romantis dan saling mengerti satu sama lain, walaupun mereka sama-sama
kaku. Aku berjalan perlahan keluar dari hotel. Mereka berdua benar-benar
romantis, dan aku iri.
J
Jinyoung
POV
Eunna
sangat cantik sore ini. Gaun yang kubelikan sangat pas ditubuhnya. Ia mengganti
kacamatanya dengan softlens berwarna hitam agar tidak terlalu mencolok. Rona merah
wajahnya tidak lepas ketika aku melihatnya. Aku tahu kalau dia benar-benar
mencintaiku, apakah kau juga tahu Eunna bahwa aku sangat mencintaimu?
Aku
menariknya ke pantai dan sesekali menyipratkan air asin itu ke wajahnya dan
membuat ia menjerit lalu membalasnya. Ini adalah ulangtahun dari hubungan kami
yang paling seru menurutku. Oh ya, omong-omong aku belum sempat mengucapkan
apapun tentang tahun kedua hubungan kami. Apa yang harus aku katakan? Tidak ada
yang spesial hari ini, aku selalu mencintainya kapan pun jadi tidak terlalu
penting tahun kedua ini.
Diseberang
sana Jinwoon hanya melihat dengan lemas kearah kami berdua. Tampaknya dia iri.
Hahaha. Baiklah, aku sudah bisa menindasnya lewat batin.
“Jinyoung!
Ombaknya besar!” Teriak Eunna sambil tertawa.
Ombaknya
ternyata memang besar. Dan Eunna mencoba menghantam ombak itu dengan tubuhnya
dan ombak itupun menhantam tubuh mungilnya. Badannya terhuyung kehilangan
keseimbangan. Bajunya basah dan tampak berat. Langkah kakinya tak menentu
karena terseret oleh arus dan ia masih saja tertawa. Dan ia terjatuh di
dekatku. Segera saja aku menangkap tubuhnya.
Ia
terkejut ketika melihat wajahku yang sangat berdekatan dengannya. Pipinya
memerah. Kurasa pipiku juga memerah. Dari dekat wajah Eunna terlihat sangat cantik
dan natural. Ia memelukku erat. Dan aku juga memeluknya sangat erat. Aku tak
ingin melepaskan pelukan yang hangat ini.
“Kena
kau. Hahahaha akhirnya bajumu basah
juga!” Tawanya renyah. Ia melepaskan pelukanku.
Ah
ternyata dia memelukku hanya untuk membasahi bajuku yang menyerap air-air di
bajunya? Pantas saja. Setauku, Eunna itu orangnya tidak seperti wanita murahan
yang selalu ingin disentuh oleh namjanya. Ia sangat menjaga sopan santun. Ia
juga sangat menyukai anak kecil. Ah omonganku mulai keluar dari topiknya.
“Kau
mengambil kesempatan dalam kesempitan ya?” Tanyaku sambil menggodanya.
Wajahnya
yang memerah itu membuatku ingin sekali mencubit pipinya, “Maksudmu?”
“Kau
sebenarnya tahu kan kalau aku tidak ingin basah kuyup sepertimu lalu kau memelukku
agar bajuku juga basah. Iya kan?”
“Habis,
mau bagaimana lagi biar kita impas?”
“Kemarilah,”
Wajahnya sangat ragu untuk mendekatiku. Astaga, bayangkan saja. Dalam dua tahun
ini saja ia tidak terlalu percaya denganku. Apalagi dengan orang lain? “Mau kita
impas? Cepat dorong aku.” Kataku.
Perlahan
Eunna mendekatiku dan mulai meletakkan tangannya lebih kedepan daripada
tubuhnya. Dan tiba-tiba dibelakangnya sudah ada ombak yang kurang lebih
besarnya sama seperti tadi. Semakin Eunna mendekat kearahku, semakin dekat pula
ombak itu mendekat kearah Eunna. Dan akhirnya ombak itu menghantam tubuh Eunna
dan ia terhuyung kembali lalu jatuh dan memeluk pinggangku.
“Kan
sudah kubilang, kita bisa impas jika kau mendorong tubuhku, bukan dengan cara
memelukku.” Kataku. Aku membalas pelukannya.
“Ah
tidak. aku tidak ingin memelukmu. Apa kau tadi tidak melihat bahwa aku hampir
jatuh karena ombak?”
Aku
tertawa renyah.
“Jinyoung
lepaskan. Adegan ini tidak sopan untuk diperlihatkan.”
Aku tak
menghiraukannya. Aku terus memeluknya sambil membelai rambut panjangnya yang
lurus itu.
“Jinyoung…”
“Saranghae,”
Bisikku lembut. Pinggangku memanas, dan dadaku juga memanas. Disana tempat
tangan dan pipi Eunna terletak. Ah pasti wajahnya sangat merah, “Happy
Anniversary to us.”
Dan
sekarang ia malah memelukku erat, “Nado Saranghae, Jinyoung.”
Rasanya
jantungku melompat-lompat sekarang. Inikah yang namanya cinta? Ini begitu
indah. Sangat indah. Mengapa orang bilang cinta begitu menyakitkan? Tidak,
cinta itu sebenarnya indah dan tidak menyakitkan.
Aku
mengangkat tubuh Eunna ke tepian pantai.
“Apa
yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!”
“Diamlah.
Badanmu berat juga ternyata.”
“Jinyoung!”
Eunna menggoyangkan kakinya.
“Hei
jangan bergerak. Nanti kita berdua jatuh. Aku tak mau tubuhku dikelilingi oleh
pasir ini!”
J
Jinwoon
POV
Respon
aku untuk bermain di pantai sore ini menyurut ketika melihat dua insan itu
bermesraan di depanku. Pertama, aku memang sedang tidak ingin mengacaukan acara
Jinyoung dan Eunna. Tugasku disini hanya mengawasi gelagat Jinyoung, bukan
mengacaukan acara Jinyoung. Apalagi aku baru tahu kalau hari ini adalah hari
spesial bagi mereka. Dilihat dari tatapan mereka, sebodoh bodohnya orang juga
akan tahu kalau mereka saling mencintai. Jadi tidak mungkin aku mengacaukan
acara mereka kan? Yang kedua, aku iri sekali kepada mereka. Aku juga ingin bisa
mencicipi rasa cinta yang semanis itu, bukan seperti mencicipi rasa cinta yang
rasanya lebih pahit dan aneh daripada obat.
Jadi,
aku hanya menepi ke pinggiran pantai dan menonton mereka berdua. Kelihatannya
bodoh ya? Tapi tak apalah daripada mengganggu mereka itu terlihat lebih bodoh.
Eunna
sudah dua kali memeluk Jinyoung. Dan itu pasti trik Jinyoung saja supaya Eunna
mau memeluknya. Dan sekarang Jinyoung mengangkat tubuh Eunna ke tepian pantai.
Kaki Eunna terus bergerak. Sepertinya ia tidak mau Jinyoung angkat tapi
Jinyoung tetap memaksa. Dasar anak itu.
Ah
mereka berdua benar-benar romantis.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar