Rabu, 05 September 2012

Me, You, and Him [Part 2]



Title : Me, You, and Him [part 2]
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon

                Eunna POV
                Ck, sepupunya Jinyoung sangat tidak sopan! Baru saja kenal sudah cerewet sekali. Pantas saja Jinyoung sering menahan emosi dengannya. Ternyata dia itu sangat tidak bisa diajak damai. Seseorang mengetuk pintu kamar hotelku.
                “Nanti sore kita bermain di pantai ya?” Katanya sambil tersenyum. Emosiku lenyap seketika melihat senyumannya yang sangat manis itu. Jinwoon melongokkan kepalanya dari belakang Jinyoung.
                “Apa dia juga ikut?” tanyaku diam-diam.
                Jinyoung tampak berfikir keras, “Sepertinya dia ikut. Tapi dia harus bermain sendiri dan kita tidak usah melayaninya. Biar dia autis.”
                Aku menahan tawa sambil sesekali menepuk pundak Jinyoung. Astaga. Gila juga dewa tampan yang satu ini. Dia mengacak-acak rambutku.
                “Sudahlah. Istirahat sana. Nanti sore aku akan menjemputmu lagi. Bye~” Jinyoung sekilas mencium pipiku.
                Bukan hanya wajah Jinwoon yang terkejut sampai mulutnya menganga, tapi aku juga. Jinyoung baru saja mencium pipiku. Dan itu pertama kalinya ia mencium pipiku. Astaga, rasanya aku tak mau mencuci muka sampai kapan pun! Jinyoung menutup pintu kamarku. Aku terhuyung lemas dan terjatuh tepat diatas tempat tidur sambil membayangkan kejadian tadi.
                “Kau…Ah Ibumu pasti sangat marah kalau tahu bahwa kau baru saja mencium seorang gadis.” Suara Jinwoon berkoar-koar. Dasar laki-laki aneh. Aku baru tahu kalau ada laki-laki secerewet dia.
                “Memangnya kenapa? Dia yeojachingu-ku kan?” Jawab Jinyoung dengan nada yang tenang. Aiss jangan bilang mereka bertengkar di depan kamarku.
                “Ya! Tapi kau…ah itu tidak pantas, Jinyoung-ssi.”
                Blam. Sebuah pintu tertutup.
                “Hei dasar aneh!” Maki Jinwoon.
                Dan suara-suara itu pun lenyap.
J
                Jinyoung POV
                Kukira Jinwoon benar-benar berubah semenjak 4 tahun tidak bertemu. Dan ternyata penyakit jiwanya semakin parah. Dan argh apa dia tidak lelah bercuap-papap selama dua jam? Aku yang mendengarnya saja lelah. Ibuku dan Ibunya memang benar-benar gila. Mereka tidak pernah mau memisahkan aku dan Jinwoon. Mereka kira aku dan Jinwoon masih anak-anak yang memakai celana dengan tali yang disampirkan di bahu kami lalu memakai topi dengan baling-baling bambu doraemon lalu berebut lollipop? Eomma, Jebal. Aku tidak mau bersama dengan Jinwoon lagi. Hidupku sudah terlalu lelah untuk ditindas lagi dengan Jinwoon meskipun aku bisa menindasnya juga. Baiklah kalau begitu aku akan menindasnya kali ini.
                “Ah kau kenapa menciumnya tadi?” Pertanyaan itu selalu dikeluarkannya.
                “Memangnya kenapa? Dia kan yeojachingu-ku.”
                “Kau menjawab itu terus daritadi!”
                “Ya! Kau juga bertanya itu terus daritadi!”
                “Hhh. Begini ya Jinyoung-ssi, kau baru saja mencium pipi yeojachingu-mu di depanku. Dan kau tidak takut aku katakan itu kepada ibumu?”
                “Mengapa aku harus takut?”
                “Ya itu tidak sepantasnya kau lakukan.”
                “Ck, teman-temanku mencium bibir yeojachingu mereka di depan orangtuanya.”
                “Berarti temanmu tidak memiliki sopan santun!”
                “Sudahlah kau ini! Masalah kecil saja kau buat besar! Itu hal yang wajar kan?!” Kataku sambil menarik selimut dan langsung terlelap.
                “Jinyoung-ssi…” Panggilnya.
                Aku tak menghiraukan. Biarkan saja dia bercuap-cuap sendiri. Manusia mana yang sabar dengan cuapannya? Tidak ada.
                “Jinyoung, kau tidur ya?”
                Hahaha dia mulai terperangkap oleh aktingku yang diasah oleh guru teater sekolahku.
                “Jinyoung, kau tidur betulan? Aku hanya mau bilang…”
                Ah pasti kali ini dia akan mengomel lagi. Apa aku harus menyumpel mulutnya dengan tisu-tisu yang ada diatas meja rias itu?
                “Sekarang sudah jam empat. Dan kau belum mengkonfirmasi tempat untuk dinner kalian nanti?”
                Ah Shit. Aku baru ingat kalau tadi aku sudah berjanji dengan pihak Hotel aku akan memesan tempat untuk dinner aku dan Eunna nanti malam. Dan sekarang sudah jam empat? Sial. Aku pasti tidak dapat tempat. Aku segera melihat kearah jam tanganku. Jinwoon benar, sekarang sudah jam empat. Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk cepat-cepat mandi dan mempersiapkan diri.
                “Kau kenapa tidak bilang kalau sekarang sudah jam empat?! Argh aku harus turun duluan. Nanti kau turun dengan Eunna ya? Jebal.” Pintaku kepada Jinwoon. Sial, kali ini aku tertindas lagi olehnya.
                “Baiklah.”
                Aku langsung berlari kearah luar.
J
                Jinwoon POV
                “Tunggu sebentar.” Kataku sambil langsung memakai sandal pantaiku yang berwarna orange ini. Aku membuka pintu. Ternyata Eunna. Ia melongokkan kepala.
                “Jinyoung dimana?” Tanyanya. Wajahnya tersirat kekecewaan ketika melihat hanya aku yang ia jumpai.
                “Ah dia sedang ada sedikit urusan dibawah sana. Kau sudah selesai?” Dan aku yakin dia sudah sangat siap.
                Eunna terlihat cantik dengan gaun pantai berwarna peach yang membalut tubuhnya. Tidak terlalu terbuka, tapi tidak terlalu tertutup. Gaun pantai itu sangat cocok di tubuhnya yang kecil itu. Rambutnya digerai sempurna. Dan ada yang aneh dari wajahnya. Ia tidak memakai kacamata. Dia tampak sangat begitu cantik.
                “Jinwoon-ssi!” Eunna menampar kecil pipiku, “Apa yang sedang kau lihat?! Apa dandananku sangat buruk sampai-sampai wajahmu melongo melihatku?”
                “Ah tidak.” Aku tersenyum salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalaku, “Ah ayo kita kebawah. Jinyoung pasti sudah menunggu.”
                Eunna hanya menangguk lalu berjalan kearah lift. Aku segera keluar dari kamar dan menguncinya. Aku berjalan dibelakang Eunna.
                “Memangnya Jinyoung ada urusan apa sampai-sampai dia meninggalkanku? Omong-omong hari ini tahun kedua kami berpacaran dan sampai sekarang dia belum mengucapkannya.”
                “Oh itu aku tidak tahu. Oh iya? Wah selamat kalau begitu”
                “Kau bohong kalau kau tak tahu urusannya.”
                “Ah kau juga tak harus tahu sekarang.”
                Eunna mendelik kearahku lalu berjalan ke meja resepsionis untuk menitipkan kunci kamarnya. Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
                “Ya! Jangan menarikku! Aku hampir jatuh!” Jerit Eunna.
                Aku membalikkan badan. Jinyoung sedang tertawa dan menarik tangan Eunna. Jinyoung menarik Eunna ke pantai. Hhh, jujur saja, aku iri dengan mereka berdua yang begitu romantis dan saling mengerti satu sama lain, walaupun mereka sama-sama kaku. Aku berjalan perlahan keluar dari hotel. Mereka berdua benar-benar romantis, dan aku iri.
J
                Jinyoung POV
                Eunna sangat cantik sore ini. Gaun yang kubelikan sangat pas ditubuhnya. Ia mengganti kacamatanya dengan softlens berwarna hitam agar tidak terlalu mencolok. Rona merah wajahnya tidak lepas ketika aku melihatnya. Aku tahu kalau dia benar-benar mencintaiku, apakah kau juga tahu Eunna bahwa aku sangat mencintaimu?
                Aku menariknya ke pantai dan sesekali menyipratkan air asin itu ke wajahnya dan membuat ia menjerit lalu membalasnya. Ini adalah ulangtahun dari hubungan kami yang paling seru menurutku. Oh ya, omong-omong aku belum sempat mengucapkan apapun tentang tahun kedua hubungan kami. Apa yang harus aku katakan? Tidak ada yang spesial hari ini, aku selalu mencintainya kapan pun jadi tidak terlalu penting tahun kedua ini.
                Diseberang sana Jinwoon hanya melihat dengan lemas kearah kami berdua. Tampaknya dia iri. Hahaha. Baiklah, aku sudah bisa menindasnya lewat batin.
                “Jinyoung! Ombaknya besar!” Teriak Eunna sambil tertawa.
                Ombaknya ternyata memang besar. Dan Eunna mencoba menghantam ombak itu dengan tubuhnya dan ombak itupun menhantam tubuh mungilnya. Badannya terhuyung kehilangan keseimbangan. Bajunya basah dan tampak berat. Langkah kakinya tak menentu karena terseret oleh arus dan ia masih saja tertawa. Dan ia terjatuh di dekatku. Segera saja aku menangkap tubuhnya.
                Ia terkejut ketika melihat wajahku yang sangat berdekatan dengannya. Pipinya memerah. Kurasa pipiku juga memerah. Dari dekat wajah Eunna terlihat sangat cantik dan natural. Ia memelukku erat. Dan aku juga memeluknya sangat erat. Aku tak ingin melepaskan pelukan yang hangat ini.
                “Kena kau. Hahahaha akhirnya bajumu  basah juga!” Tawanya renyah. Ia melepaskan pelukanku.
                Ah ternyata dia memelukku hanya untuk membasahi bajuku yang menyerap air-air di bajunya? Pantas saja. Setauku, Eunna itu orangnya tidak seperti wanita murahan yang selalu ingin disentuh oleh namjanya. Ia sangat menjaga sopan santun. Ia juga sangat menyukai anak kecil. Ah omonganku mulai keluar dari topiknya.
                “Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan ya?” Tanyaku sambil menggodanya.
                Wajahnya yang memerah itu membuatku ingin sekali mencubit pipinya, “Maksudmu?”
               “Kau sebenarnya tahu kan kalau aku tidak ingin basah kuyup sepertimu lalu kau memelukku agar bajuku juga basah. Iya kan?”
                “Habis, mau bagaimana lagi biar kita impas?”
                “Kemarilah,” Wajahnya sangat ragu untuk mendekatiku. Astaga, bayangkan saja. Dalam dua tahun ini saja ia tidak terlalu percaya denganku. Apalagi dengan orang lain? “Mau kita impas? Cepat dorong aku.” Kataku.
                Perlahan Eunna mendekatiku dan mulai meletakkan tangannya lebih kedepan daripada tubuhnya. Dan tiba-tiba dibelakangnya sudah ada ombak yang kurang lebih besarnya sama seperti tadi. Semakin Eunna mendekat kearahku, semakin dekat pula ombak itu mendekat kearah Eunna. Dan akhirnya ombak itu menghantam tubuh Eunna dan ia terhuyung kembali lalu jatuh dan memeluk pinggangku.
                “Kan sudah kubilang, kita bisa impas jika kau mendorong tubuhku, bukan dengan cara memelukku.” Kataku. Aku membalas pelukannya.
                “Ah tidak. aku tidak ingin memelukmu. Apa kau tadi tidak melihat bahwa aku hampir jatuh karena ombak?”
                Aku tertawa renyah.
                “Jinyoung lepaskan. Adegan ini tidak sopan untuk diperlihatkan.”
                Aku tak menghiraukannya. Aku terus memeluknya sambil membelai rambut panjangnya yang lurus itu.
                “Jinyoung…”
                “Saranghae,” Bisikku lembut. Pinggangku memanas, dan dadaku juga memanas. Disana tempat tangan dan pipi Eunna terletak. Ah pasti wajahnya sangat merah, “Happy Anniversary to us.”
                Dan sekarang ia malah memelukku erat, “Nado Saranghae, Jinyoung.”
                Rasanya jantungku melompat-lompat sekarang. Inikah yang namanya cinta? Ini begitu indah. Sangat indah. Mengapa orang bilang cinta begitu menyakitkan? Tidak, cinta itu sebenarnya indah dan tidak menyakitkan.
                Aku mengangkat tubuh Eunna ke tepian pantai.
                “Apa yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!”
                “Diamlah. Badanmu berat juga ternyata.”
                “Jinyoung!” Eunna menggoyangkan kakinya.
                “Hei jangan bergerak. Nanti kita berdua jatuh. Aku tak mau tubuhku dikelilingi oleh pasir ini!”
J
                Jinwoon POV
                Respon aku untuk bermain di pantai sore ini menyurut ketika melihat dua insan itu bermesraan di depanku. Pertama, aku memang sedang tidak ingin mengacaukan acara Jinyoung dan Eunna. Tugasku disini hanya mengawasi gelagat Jinyoung, bukan mengacaukan acara Jinyoung. Apalagi aku baru tahu kalau hari ini adalah hari spesial bagi mereka. Dilihat dari tatapan mereka, sebodoh bodohnya orang juga akan tahu kalau mereka saling mencintai. Jadi tidak mungkin aku mengacaukan acara mereka kan? Yang kedua, aku iri sekali kepada mereka. Aku juga ingin bisa mencicipi rasa cinta yang semanis itu, bukan seperti mencicipi rasa cinta yang rasanya lebih pahit dan aneh daripada obat.
                Jadi, aku hanya menepi ke pinggiran pantai dan menonton mereka berdua. Kelihatannya bodoh ya? Tapi tak apalah daripada mengganggu mereka itu terlihat lebih bodoh.
                Eunna sudah dua kali memeluk Jinyoung. Dan itu pasti trik Jinyoung saja supaya Eunna mau memeluknya. Dan sekarang Jinyoung mengangkat tubuh Eunna ke tepian pantai. Kaki Eunna terus bergerak. Sepertinya ia tidak mau Jinyoung angkat tapi Jinyoung tetap memaksa. Dasar anak itu.
                Ah mereka berdua benar-benar romantis.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar