Minggu, 26 Agustus 2012

The Scary Game [Part 5]


Title : The Scary Game [part 5]
Author : Minnia
Genre : Mistery friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.

Hanna POV
                Walaupun jarum jam belum menunjukkan pukul enam pagi, tapi aku sudah terjaga dan menyiapkan apa apa saja yang aku perlukan untuk camping hari ini. ya, hari aku akan camping bersama L dan Hoya. Awalnya Woohyun oppa khawatir kalau aku ikut camping dan hanya aku perempuan sendiri. Tapi aku berhasil membujuknya dan aku yakin bahwa aku tak apa apa kalau aku bersama dengan kedua sahabatku ini. ya, aku harap. Aku melihat kearah jam dinding. Masih pukul lima pagi. Aku mengintip keadaan diluar rumah di balik tirai kamarku. Masih gelap.
                Aku dapat mendengar suara rusuh di samping kamarku, dari kamar Woohyun oppa. Semua barang yang kuperlukan telah kusiapkan. Aku sekarang juga sudah siap. Aku mengendap endap memasuki kamar Woohyun oppa. Aku mengetuk pintu kamarnya. Tak lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Ia sudah terlihat rapi dengan kemeja dan celana kain dengan warna senada.
                “Kau mau kemana oppa?” tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
                “Hah? Oh iya kau belum aku beritahu bahwa seminggu ini aku akan ke Amerika?”
                “Mwoya? Kau tak memberitahuku, oppa.” Aku memajukan bibirku.
                “Tadi sudah kuberitahu.” Jawabnya ketus.
                “Jam berapa kau akan pergi?”
                “Sekitar pukul delapan pagi nanti.”
                “Bisakah kau mengantarku kerumah L nanti?”
                “Tentu.” Katanya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
                Aku segera berlari ke kamar. Mendadak sekali Woohyun oppa memberitahuku bahwa ia akan pergi ke Amerika. Biasanya kalau ia akan keluar negeri, ia akan memberitahuku seminggu sebelum ia pergi dan mengajakku bermain. Oh iya! Kemarin Woohyun oppa mengajakku jalan-jalan tapi aku menolaknya. Aiss aku memang bodoh. Baiklah, tak perlu menyesali. Sebaiknya aku harus bersenang-senang karena akan camping bersama L dan Hoya. Yeah! Aku tak pernah camping dengan mereka. Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertamaku berpetualang di hutan.
                Aku mengucek-ucek mataku dan membenarkan letak rambutku. Benar, aku sudah berada di depan rumah L. aku merasa terbang selama perjalanan tadi. Mungkin efek bangun terlalu pagi. Ya, aku tak biasa bangun pagi. Aku melihat L dan Hoya yang sedang mengobrol. Aku membuka pintu mobil. Woohyun oppa menarik lenganku.
                “Bo?” tanyaku.
                “Hati-hati. Aku tak ingin adikku satu-satunya hilang.” Katanya sambil menekankan nada pada kata hilang. Aku mengerutkan alisku.
                “Hilang? Aku mana mungkin hilang, oppa. Ada L. dia masuk komunitas pecinta alam. Ia pasti sudah kenal dengan hutan di dekat rumahnya ini.” Kataku berusaha meyakinkannya.
                “Kau bisa saja mengatakan seperti itu. Kau tak tau bagaimana cerita hidupmu kemudian. L bukan segalanya.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku. Aku menepis. Emosiku menaik.
                “L memang bukan segalanya. Tapi dia tau. Sudahlah!” kataku dengan nada yang agak membentak. Tidak, aku memang membentaknya. Aku keluar dari mobil.
                “Hanna! Mengapa kau membentakku?! Argh!”
                Aku menutup pintu mobil tersebut dengan sangat keras. Aku berlari masuk ke rumah L dan mendengar deru mobil Woohyun oppa yang melaju cepat. Emosiku naik turun. Jantungku berdegup cepat sehingga aku lemas. Aku berkeringat dingin. Baru kali ini aku merasa marah dan membentak Woohyun oppa. Aku merasa bersalah.. tapi apa yang perlu aku sesali? Dia terlalu menjagaku. Aku kan bukan anak kecil lagi. L dan Hoya terdiam melihatku yang sedang mengatur nafas. Aku meletakkan ransel pink-ku secara kasar.
                “Kau kenapa?” Tanya L.
                Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku duduk di sebelah Hoya dan meneguk air putih yang kubawa.
                “Kau jalan kaki dari rumahmu kesini?” Tebak Hoya.
                “Ani.”
                “Kau sedang PMS?” Tanya L sambil mengerutkan alisnya.
                “Tidak. Aku sedang kesal.”
                “Gara-gara oppa-mu?” Tebak Hoya. Dan kali ini dia benar.
                “Ne.” aku menggembungkan kedua pipiku.
                “Hahaha! Wajahmu lucu sekali!” Tawa Hoya dan L. aku memajukan bibirku.
                “Baiklah. Kalian itu sangat tepat waktu. kita berangkat sekarang.” Kata L dambil memikul ranselnya. Dan sialnya, ransel miliknya tidak menggembung seperti ranselku. Apa dia tak membawa baju? Makanan? Selimut? Lotion anti nyamuk? Dan Hoya juga. Ranselnya tidak terlalu menggembung. Dasar laki-laki. Awas saja kalau mereka kekurangan makanan.
                “Kau tak memberikan intruksi untukku?” tanyaku pada L sambil menggoyang-goyangkan bahunya.
                “Untuk apa?”
                “Ya mana tau aku tersesat?”
                “Kau mau tersesat?”
                “Tidak sih.” Aku menundukkan kepala. Hoya terkekeh pelan.
                “Kalau begitu kau tetap disampingku. Kapan pun.”
                “Kapan pun? Berarti kalau kau buang air kecil aku harus tetap disampingmu?”
                “Itu pengecualian.” Wajah L memerah. Aku dan Hoya terkekeh.
                “Kalau mandi bagaimana?” Tanyaku.
                “Lokasi camping kita tidak jauh dari sungai. Mandi saja disitu. Kalau aku tak mandi.”
                “Bau!”
                “Kita camping di hutan, udaranya lebih segar. Kemungkinan bau itu lebih kecil,” aku terdiam. Benar juga. Di hutan banyak pohon dan pohon menghasilkan banyak oksigen di pagi hari. Aku mengangguk kecil, “Ayo kita berangkat.”
                L berjalan disamping kiriku dan Hoya disamping kananku. Aku berjalan diantara mereka. Aku seperti ratu yang berjalan dengan prajuritnya. Aku terkekeh pelan. Aku kurang tau dimana lokasi dimana kami akan camping. Di sepanjang perjalanan L sering berceloteh tentang hutan. Tentang bagaimana menemukan arah tanpa kompas. Tentang air yang bisa diminum. Dan tentang tumbuhan yang bisa di makan. Ia mengetahui semuanya. Ia juga bercerita kalau hutan yang akan kami singgahi bukan hutan biasa. Hutan itu sangat terkenal dengan pepohonannya yang mirip labirin dan sering di jadikan tempat untuk camping. Pantas saja L tau. L juga bercerita kalau ia pernah menyusuri labirin pohon di hutan itu dan berakhir di sebuah bangunan tua. Seperti bekas markas Jepang ketika menjajah Korea. Aku bergidik ngeri. Kalau ada bangunan tua pasti ada makhluknya. Aku menghalau pemikiranku tadi.
                L memperkirakan bahwa kami sudah berjalan sepanjang dua kilometer. Pantas saja kakiku pegal. Aku meminta istirahat sebentar. Awalnya L dan Hoya masih ada tenaga untuk berjalan satu kilometer lagi dan memintaku agar terus berjalan. Tapi tasku lebih berat daripada mereka dan akhirnya mereka mengikuti kemauanku. Aku segera duduk di tanah. Tak memikirkan lagi apa yang akan terjadi pada celanaku. Aku mengambil botol air minumku dan meneguknya sampai habis. Setelah itu aku kembali bangkit dan mengikuti L dan Hoya berjalan. Tak ada Sungyeol suasana menjadi datar saja. Tak ada yang mengeluarkan lelucon. Dua laki-laki yang ada disampingku ini sangat pendiam. Terkadang aku mengeluarkan lelucon dan hanya ditanggapi oleh kekehan kecil Hoya. Bahkan L hanya tersenyum. Aku ingin menggali tanah dan menguburkan diriku sekarang juga kalau suasananya tegang seperti ini untuk dua hari kedepannya. Aku menjadi diam. Dan sesekali melahap camilan yang aku bawa. Makan sambil berjalan memang tidak bagus. Tapi daripada mengubur diriku hidup-hidup, lebih baik aku makan saja snack yang aku bawa. L terhenti di tepi jurang. Ia meletakkan tasnya. Ia mengulurkan tangannya dan merilekskan otot-otonya yang menegang.
                “Disini tempatnya.” Katanya sambil tersenyum asimetris. Aku menganga.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar