Title : The Scary Game [part 5]
Author : Minnia
Genre : Mistery friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim
Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee
Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.
Hanna POV
Walaupun
jarum jam belum menunjukkan pukul enam pagi, tapi aku sudah terjaga dan
menyiapkan apa apa saja yang aku perlukan untuk camping hari ini. ya, hari aku
akan camping bersama L dan Hoya. Awalnya Woohyun oppa khawatir kalau aku ikut
camping dan hanya aku perempuan sendiri. Tapi aku berhasil membujuknya dan aku
yakin bahwa aku tak apa apa kalau aku bersama dengan kedua sahabatku ini. ya,
aku harap. Aku melihat kearah jam dinding. Masih pukul lima pagi. Aku mengintip
keadaan diluar rumah di balik tirai kamarku. Masih gelap.
Aku
dapat mendengar suara rusuh di samping kamarku, dari kamar Woohyun oppa. Semua
barang yang kuperlukan telah kusiapkan. Aku sekarang juga sudah siap. Aku
mengendap endap memasuki kamar Woohyun oppa. Aku mengetuk pintu kamarnya. Tak
lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Ia sudah terlihat rapi dengan kemeja
dan celana kain dengan warna senada.
“Kau
mau kemana oppa?” tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
“Hah?
Oh iya kau belum aku beritahu bahwa seminggu ini aku akan ke Amerika?”
“Mwoya?
Kau tak memberitahuku, oppa.” Aku memajukan bibirku.
“Tadi
sudah kuberitahu.” Jawabnya ketus.
“Jam
berapa kau akan pergi?”
“Sekitar
pukul delapan pagi nanti.”
“Bisakah
kau mengantarku kerumah L nanti?”
“Tentu.”
Katanya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
Aku
segera berlari ke kamar. Mendadak sekali Woohyun oppa memberitahuku bahwa ia
akan pergi ke Amerika. Biasanya kalau ia akan keluar negeri, ia akan
memberitahuku seminggu sebelum ia pergi dan mengajakku bermain. Oh iya! Kemarin
Woohyun oppa mengajakku jalan-jalan tapi aku menolaknya. Aiss aku memang bodoh.
Baiklah, tak perlu menyesali. Sebaiknya aku harus bersenang-senang karena akan
camping bersama L dan Hoya. Yeah! Aku tak pernah camping dengan mereka. Mungkin
ini akan menjadi pengalaman pertamaku berpetualang di hutan.
Aku
mengucek-ucek mataku dan membenarkan letak rambutku. Benar, aku sudah berada di
depan rumah L. aku merasa terbang selama perjalanan tadi. Mungkin efek bangun
terlalu pagi. Ya, aku tak biasa bangun pagi. Aku melihat L dan Hoya yang sedang
mengobrol. Aku membuka pintu mobil. Woohyun oppa menarik lenganku.
“Bo?”
tanyaku.
“Hati-hati.
Aku tak ingin adikku satu-satunya hilang.”
Katanya sambil menekankan nada pada kata hilang. Aku mengerutkan alisku.
“Hilang?
Aku mana mungkin hilang, oppa. Ada L. dia masuk komunitas pecinta alam. Ia
pasti sudah kenal dengan hutan di dekat rumahnya ini.” Kataku berusaha
meyakinkannya.
“Kau
bisa saja mengatakan seperti itu. Kau tak tau bagaimana cerita hidupmu
kemudian. L bukan segalanya.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku. Aku
menepis. Emosiku menaik.
“L
memang bukan segalanya. Tapi dia tau. Sudahlah!” kataku dengan nada yang agak
membentak. Tidak, aku memang membentaknya. Aku keluar dari mobil.
“Hanna!
Mengapa kau membentakku?! Argh!”
Aku
menutup pintu mobil tersebut dengan sangat keras. Aku berlari masuk ke rumah L
dan mendengar deru mobil Woohyun oppa yang melaju cepat. Emosiku naik turun.
Jantungku berdegup cepat sehingga aku lemas. Aku berkeringat dingin. Baru kali
ini aku merasa marah dan membentak Woohyun oppa. Aku merasa bersalah.. tapi apa
yang perlu aku sesali? Dia terlalu menjagaku. Aku kan bukan anak kecil lagi. L
dan Hoya terdiam melihatku yang sedang mengatur nafas. Aku meletakkan ransel
pink-ku secara kasar.
“Kau
kenapa?” Tanya L.
Aku
menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku duduk di sebelah Hoya dan meneguk air putih
yang kubawa.
“Kau
jalan kaki dari rumahmu kesini?” Tebak Hoya.
“Ani.”
“Kau
sedang PMS?” Tanya L sambil mengerutkan alisnya.
“Tidak.
Aku sedang kesal.”
“Gara-gara
oppa-mu?” Tebak Hoya. Dan kali ini dia benar.
“Ne.”
aku menggembungkan kedua pipiku.
“Hahaha!
Wajahmu lucu sekali!” Tawa Hoya dan L. aku memajukan bibirku.
“Baiklah.
Kalian itu sangat tepat waktu. kita berangkat sekarang.” Kata L dambil memikul
ranselnya. Dan sialnya, ransel miliknya tidak menggembung seperti ranselku. Apa
dia tak membawa baju? Makanan? Selimut? Lotion anti nyamuk? Dan Hoya juga.
Ranselnya tidak terlalu menggembung. Dasar laki-laki. Awas saja kalau mereka
kekurangan makanan.
“Kau
tak memberikan intruksi untukku?” tanyaku pada L sambil menggoyang-goyangkan
bahunya.
“Untuk
apa?”
“Ya
mana tau aku tersesat?”
“Kau
mau tersesat?”
“Tidak
sih.” Aku menundukkan kepala. Hoya terkekeh pelan.
“Kalau
begitu kau tetap disampingku. Kapan pun.”
“Kapan
pun? Berarti kalau kau buang air kecil aku harus tetap disampingmu?”
“Itu
pengecualian.” Wajah L memerah. Aku dan Hoya terkekeh.
“Kalau
mandi bagaimana?” Tanyaku.
“Lokasi
camping kita tidak jauh dari sungai. Mandi saja disitu. Kalau aku tak mandi.”
“Bau!”
“Kita
camping di hutan, udaranya lebih segar. Kemungkinan bau itu lebih kecil,” aku
terdiam. Benar juga. Di hutan banyak pohon dan pohon menghasilkan banyak
oksigen di pagi hari. Aku mengangguk kecil, “Ayo kita berangkat.”
L
berjalan disamping kiriku dan Hoya disamping kananku. Aku berjalan diantara
mereka. Aku seperti ratu yang berjalan dengan prajuritnya. Aku terkekeh pelan.
Aku kurang tau dimana lokasi dimana kami akan camping. Di sepanjang perjalanan
L sering berceloteh tentang hutan. Tentang bagaimana menemukan arah tanpa
kompas. Tentang air yang bisa diminum. Dan tentang tumbuhan yang bisa di makan.
Ia mengetahui semuanya. Ia juga bercerita kalau hutan yang akan kami singgahi
bukan hutan biasa. Hutan itu sangat terkenal dengan pepohonannya yang mirip
labirin dan sering di jadikan tempat untuk camping. Pantas saja L tau. L juga
bercerita kalau ia pernah menyusuri labirin pohon di hutan itu dan berakhir di sebuah
bangunan tua. Seperti bekas markas Jepang ketika menjajah Korea. Aku bergidik
ngeri. Kalau ada bangunan tua pasti ada makhluknya. Aku menghalau pemikiranku
tadi.
L
memperkirakan bahwa kami sudah berjalan sepanjang dua kilometer. Pantas saja
kakiku pegal. Aku meminta istirahat sebentar. Awalnya L dan Hoya masih ada
tenaga untuk berjalan satu kilometer lagi dan memintaku agar terus berjalan.
Tapi tasku lebih berat daripada mereka dan akhirnya mereka mengikuti kemauanku.
Aku segera duduk di tanah. Tak memikirkan lagi apa yang akan terjadi pada
celanaku. Aku mengambil botol air minumku dan meneguknya sampai habis. Setelah
itu aku kembali bangkit dan mengikuti L dan Hoya berjalan. Tak ada Sungyeol
suasana menjadi datar saja. Tak ada yang mengeluarkan lelucon. Dua laki-laki
yang ada disampingku ini sangat pendiam. Terkadang aku mengeluarkan lelucon dan
hanya ditanggapi oleh kekehan kecil Hoya. Bahkan L hanya tersenyum. Aku ingin
menggali tanah dan menguburkan diriku sekarang juga kalau suasananya tegang
seperti ini untuk dua hari kedepannya. Aku menjadi diam. Dan sesekali melahap
camilan yang aku bawa. Makan sambil berjalan memang tidak bagus. Tapi daripada
mengubur diriku hidup-hidup, lebih baik aku makan saja snack yang aku bawa. L
terhenti di tepi jurang. Ia meletakkan tasnya. Ia mengulurkan tangannya dan
merilekskan otot-otonya yang menegang.
“Disini
tempatnya.” Katanya sambil tersenyum asimetris. Aku menganga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar