Minggu, 05 Agustus 2012

(Prolog) Gun & Rosses


15 tahun yang lalu,
Aku mengusap bulir-bulir air mata yang jatuh dari pelupuk mata Yuki. Yuki Okizawa. Nama yang terlalu indah untuk aku lupakan. Bias senyum di wajahnya hilang hari ini. Dari awal aku bertemu dengannya hari ini sampai saat ini ia masih tetap menangis. Matanya yang bulat mendadak berubah warna menjadi kemerahan dan sedikit bengkak. Hidungnya juga. Ia tampak seperti badut yang menakutkan. Perlahan aku tepuk bahunya untuk mengurangi kadar kesedihan yang menghinggapi tubuhnya.
            “Sudahlah Yuki. Aku pasti tidak akan kemana-mana. Aku pasti menunggumu disini.” Kataku meyakinkannya dengan senyuman.
            Aku tak bisa menutupi kesedihanku yang meluap. Kupeluk tubuhnya yang mungil. Mana mungkin aku bisa melepas sahabatku satu-satunya. Tanpa terasa aku juga ikut menangis. Buru-buru aku mengelap air mata ini agar Yuki tidak bisa melihat aku menangis. Ia pasti akan menjadi lebih sedih lagi.
            “Aku tidak ingin pindah.” Katanya disela isakan tangisnya.
            Aku melepaskan pelukannya. Lalu mengelap kembali air mata yang bercampur keringat yang menghiasi wajahnya. Musim panas kali ini aku dan Yuki harus berpisah. Yuki akan pindah ke tanah kelahirannya, Jepang. Hal ini sangat membuatku sedih. Padahal liburan musim panas kali ini kami sudah menyusun rencana untuk berenang dan membeli es krim menggunakan uang jajan kami sendiri. Tapi rencana itu harus dipadamkan karena Yuki dan keluarganya yang akan pindah ke Jepang.
            Sebuah mobil sedan berwarna merah metallic berhenti tak jauh dari kami. Tangis Yuki semakin jadi.
            “Yuki, uljima[1]. Aku jadi semakin sedih melihatmu menangis.”
            Ia mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
            “Ini,” Aku mengeluarkan liontin kecil berbentuk kunci, “Untukmu. Ketika kau merindukanku, coba lihat liontin itu. Aku juga punya satu. Kita tidak akan terpisahkan selama kau memakai liontin itu.” Kataku sambil mengalungkan liontinnya.
            “Jinho, berjanjilah kepadaku kau akan menungguku disini, di taman ini.”
            Aku mengangguk, “Seharusnya kau yang harus berjanji kepadaku. Berjanjilah kau harus pulang dan menemuiku di taman ini.”
            Ibu Yuki mendekat kearah kami, “Yuki,” ia memanggil Yuki.
            “Aku berjanji, aku akan kembali kesini dalam musim dan keadaan yang sama.” Ia menegakkan jari kelingking kecilnya.
            Aku melingkarkan jari kelingkingku. Ia tersenyum lalu berjalan perlahan kearah ibunya. Ibunya membelai halus rambut panjang milik Yuki. Perlahan juga air mata Yuki menetes. Ia menangis lagi. Ibunya menggendong Yuki masuk ke dalam mobil.
            Airmataku jatuh. Entah mengapa perpisahan ini sedikit membuatku resah. Aku merasa sangat sakit. Yang aku takutkan aku tidak bisa bertemu dengan Yuki lagi. Oke itu hanya ketakutanku saja.
            Tangan Yuki yang mungil melambai dari dalam mobil. Ia masih menangis.
            “Sampai berjumpa lagi, Jinho!” Teriaknya, “Jinho! Kau tidak boleh menangis!” Ia mengelap air matanya, “Aku berjanji aku tidak akan menangis lagi!”
            Mobil yang membawa keluarga Okizawa meluncur perlahan. Aku tersenyum tipis sambil melambaikan tanganku, “Sampai berjumpa lagi, Yuki! Sampai jumpa di musim panas selanjutnya!” Aku berteriak sekuat mungkin.
            “Aku pasti akan merindukanmu!”
            Perlahan mobil sedan itu tidak terlihat lagi. Kalimat itu, kalimat terakhir yang aku dengar dari bibir Yuki yang mungil di musim panas tahun ini. Aku harap aku bisa bertemu dengannya lain kali di musim dan keadaan yang sama.
            Musim panas kali ini terasa sangat hampa. Aku hanya bisa duduk dan sesekali terayun di ayunan besi taman ini. Aku tercenung lama sekali. Dan sadar ketika senja sudah mengerubungi-ku. Langit sudah berubah warna menjadi berwarna api yang keemasan. Aku segera menggeret skuter miniku pulang ke rumah.
            “Pesawat yang rencananya akan lepas landas di Bandar udara Internasional Jepang itu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan hampir seluruh penumpang tewas. Sebagian penumpang tidak diketahui keadaannya.”
            Aku mencari-cari sumber suara berita itu. Dari arah sana, dari kedai minuman di pinggir jalan menuju rumahku. Aku berlari pelan dan memandangi televisi yang mengeluarkan ketakutanku, kekhawatiranku tentang Yuki.
            “Padahal pesawat itu baru terbang tadi siang dari Incheon. Kasihan sekali mereka.” Ujar bibi penjual minuman yang sedang melahap habis berita yang menayangkan pemandangan yang membuatku geram.
            Hatiku memanas. Ini tak mungkin terjadi. Ini tak mungkin. Itu pasti bukan pesawat yang Yuki tumpangi. Memangnya hanya ada satu pesawat yang lepas landas ke Jepang?! Tidak kan?! Tidak!
            Aku benar-benar mengeret skuter miniku sampai ke rumah. Emosiku bercampur aduk. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak tahu keadaan Yuki bagaimana. Aku menggenggam liontin berbandul gembok perak yang mengalungi leherku.
            “Itu Jinho!”
            “Ah kasihan sekali dia. Dia pasti sangat sedih.”
            Aku hanya bisa memandang aneh ke sekitarku. Mengapa semua orang memandangku seperti ini? Memangnya apa yang harus mereka kasihani terhadapku? Aku mempercepatkan langkahku.
            Dan langkahku melambat ketika melihat kerumunan di sekitar rumahku. Dengan bersusah payah aku menerobos kerumunan orang dewasa yang terus berbicara sedari tadi. Police Line. Apa-apaan ini?! Police Line?! Memangnya ada apa?! Aku berlari masuk ke dalam rumahku yang sudah di kepung oleh beberapa polisi. Mereka mencegat langkahku.
            “Ini rumahku!” Aku mengeluarkan teriakan yang memekikkan seluruh jenis telinga.
           “Tidak. Kau tidak boleh masuk.” Dan sialnya sekarang polisi ini mencengkeram tanganku dengan sangat kuat. Awas saja kalau pergelangan tanganku sampai luka, akan kubuat ia bertekuk lutut kepadaku.
            Aku menghentakkan tanganku dan buru-buru berlari masuk ke dalam rumahku.
            Pintu kamar orangtuaku penuh dengan plastik-plastik berwarna kuning menjijikkan ini dengan kalimat Police Line. Aku muak sekali melihat ini semua. Aku melepaskan semuanya dan mendobrak pintu kamar orangtuaku.
            Banyak lalat karena bau amis yang menyebar. Kamar orangtuaku sudah tidak berbentuk lagi. Wallpaper dinding yang sudah robek, cipratan cairan berwarna merah menjalari dinding dan tempat tidur di kamar orangtuaku. Dan aku dapat merasakan lantai kamar ini sedikit lengket. Mataku membulat ketika melihat darah segar yang tergenang lepas di lantai kamar ini dan kedua orangtuaku yang sudah tidak bernyawa tertidur di lantai kamar ini.
            Nyawaku terasa melayang. Tenggorokanku tercekat.
           Aku terduduk diantara mereka. Bahkan mata mereka belum tertutup sepenuhnya. Aku menutup mata mereka. Air mataku mengalir bebas.
            “Mengapa kalian pergi tidak bilang terlebih dahulu kepadaku?” Kataku sambil mengelap air mataku dengan telapak tanganku yang berlumuran dengan darah di lantai.
            Mataku mengekor kepada secarik kertas dekat tangan ayahku.
            Suara kasak-kusuk mulai terdengar dari luar. Suara polisi sialan itu. Ia mulai mendobrak masuk ke kamar orangtuaku dan buru-buru aku mengambil kertas di dekat tangan ayahku. Aku memasukkannya ke dalam saku celanaku.
            Polisi itu masuk ke kamar orangtuaku dan berjongkok dihadapanku, “Keluarlah, nak. Ruangan ini akan segera diperiksa. Jenazah orangtuamu juga akan diangkut untuk diotopsi terlebih dahulu.” Polisi itu memberikan telapak tangannya di hadapanku, berharap agar aku menerima ajakannya.
            Aku memicingkan mataku dan menolak mentah-mentah telapak tangan polisi tak berharga itu, “Aku tak butuh tanganmu.”
            Aku berdiri dan keluar dari kamar orangtuaku. Dan semua orang memandangiku aneh ketika aku keluar dengan raut wajah yang sangat tidak jelas dan bias-bias darah yang ada di pipiku.
            “Apa?! Apa yang kalian lihat?! Pergi kalian dari sini! Aku tak butuh kalian!” Jeritku membuat semua orang terkejut, kecuali polisi-polisi yang sedari tadi mengepun rumahku.
            “Kasihan sekali Jinho. Kudengar pesawat yang ditumpangi keluarga Okizawa kecelakaan sebelum mendarat di bandara Internasional Jepang.” Bisik seseorang. Aku dapat mendengar jelas bisikan ini.
            Aku terhenyak. Napasku tercekat.
            “Aku tak butuh belas kasihan kalian!” Jeritku dengan suara parau, “Pergi kalian dari sini! Pergi!”
            Semua orang pergi ke rumahnya masing-masing. Tidak ada siapa-siapa lagi. Tidak ada siapapun kecuali polisi yang sedari tadi kuanggap patung. Tidak ada siapa pun. Tidak ada. Tidak ada Yuki, tidak ada Ibunya Yuki yang selalu membuatkanku kue kering dengan selai strawberry diatasnya, tidak ada Ayahnya Yuki yang selalu membantuku dan Yuki ketika mengerjakan PR matematika, tidak ada Ibuku yang selalu membuat lelucon yang tidak lucu ketika aku menangis, tidak ada Ayahku yang selalu saja sibuk dengan pekerjaan di laboratorium andalannya. Itu semua tidak ada lagi. Atau mungkin tidak ada juga aku yang dulu.
            Hari ini aku kehilangan banyak orang terpenting di hidupku, atau mungkin aku akan kehilangan aku yang dulu.


[1] Jangan menangis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar