15 tahun yang lalu,
Aku mengusap bulir-bulir air mata
yang jatuh dari pelupuk mata Yuki. Yuki Okizawa. Nama yang terlalu indah untuk
aku lupakan. Bias senyum di wajahnya hilang hari ini. Dari awal aku bertemu
dengannya hari ini sampai saat ini ia masih tetap menangis. Matanya yang bulat
mendadak berubah warna menjadi kemerahan dan sedikit bengkak. Hidungnya juga.
Ia tampak seperti badut yang menakutkan. Perlahan aku tepuk bahunya untuk
mengurangi kadar kesedihan yang menghinggapi tubuhnya.
“Sudahlah
Yuki. Aku pasti tidak akan kemana-mana. Aku pasti menunggumu disini.” Kataku
meyakinkannya dengan senyuman.
Aku
tak bisa menutupi kesedihanku yang meluap. Kupeluk tubuhnya yang mungil. Mana
mungkin aku bisa melepas sahabatku satu-satunya. Tanpa terasa aku juga ikut
menangis. Buru-buru aku mengelap air mata ini agar Yuki tidak bisa melihat aku
menangis. Ia pasti akan menjadi lebih sedih lagi.
“Aku
tidak ingin pindah.” Katanya disela isakan tangisnya.
Aku
melepaskan pelukannya. Lalu mengelap kembali air mata yang bercampur keringat
yang menghiasi wajahnya. Musim panas kali ini aku dan Yuki harus berpisah. Yuki
akan pindah ke tanah kelahirannya, Jepang. Hal ini sangat membuatku sedih.
Padahal liburan musim panas kali ini kami sudah menyusun rencana untuk berenang
dan membeli es krim menggunakan uang jajan kami sendiri. Tapi rencana itu harus
dipadamkan karena Yuki dan keluarganya yang akan pindah ke Jepang.
Sebuah
mobil sedan berwarna merah metallic berhenti tak jauh dari kami. Tangis Yuki
semakin jadi.
“Yuki,
uljima[1]. Aku
jadi semakin sedih melihatmu menangis.”
Ia
mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
“Ini,”
Aku mengeluarkan liontin kecil berbentuk kunci, “Untukmu. Ketika kau
merindukanku, coba lihat liontin itu. Aku juga punya satu. Kita tidak akan
terpisahkan selama kau memakai liontin itu.” Kataku sambil mengalungkan
liontinnya.
“Jinho,
berjanjilah kepadaku kau akan menungguku disini, di taman ini.”
Aku
mengangguk, “Seharusnya kau yang harus berjanji kepadaku. Berjanjilah kau harus
pulang dan menemuiku di taman ini.”
Ibu
Yuki mendekat kearah kami, “Yuki,” ia memanggil Yuki.
“Aku
berjanji, aku akan kembali kesini dalam musim dan keadaan yang sama.” Ia
menegakkan jari kelingking kecilnya.
Aku
melingkarkan jari kelingkingku. Ia tersenyum lalu berjalan perlahan kearah
ibunya. Ibunya membelai halus rambut panjang milik Yuki. Perlahan juga air mata
Yuki menetes. Ia menangis lagi. Ibunya menggendong Yuki masuk ke dalam mobil.
Airmataku
jatuh. Entah mengapa perpisahan ini sedikit membuatku resah. Aku merasa sangat
sakit. Yang aku takutkan aku tidak bisa bertemu dengan Yuki lagi. Oke itu hanya
ketakutanku saja.
Tangan
Yuki yang mungil melambai dari dalam mobil. Ia masih menangis.
“Sampai
berjumpa lagi, Jinho!” Teriaknya, “Jinho! Kau tidak boleh menangis!” Ia
mengelap air matanya, “Aku berjanji aku tidak akan menangis lagi!”
Mobil
yang membawa keluarga Okizawa meluncur perlahan. Aku tersenyum tipis sambil
melambaikan tanganku, “Sampai berjumpa lagi, Yuki! Sampai jumpa di musim panas
selanjutnya!” Aku berteriak sekuat mungkin.
“Aku
pasti akan merindukanmu!”
Perlahan
mobil sedan itu tidak terlihat lagi. Kalimat itu, kalimat terakhir yang aku
dengar dari bibir Yuki yang mungil di musim panas tahun ini. Aku harap aku bisa
bertemu dengannya lain kali di musim dan keadaan yang sama.
Musim
panas kali ini terasa sangat hampa. Aku hanya bisa duduk dan sesekali terayun
di ayunan besi taman ini. Aku tercenung lama sekali. Dan sadar ketika senja
sudah mengerubungi-ku. Langit sudah berubah warna menjadi berwarna api yang
keemasan. Aku segera menggeret skuter miniku pulang ke rumah.
“Pesawat yang rencananya akan lepas landas
di Bandar udara Internasional Jepang itu mengalami kecelakaan yang
mengakibatkan hampir seluruh penumpang tewas. Sebagian penumpang tidak
diketahui keadaannya.”
Aku
mencari-cari sumber suara berita itu. Dari arah sana, dari kedai minuman di pinggir
jalan menuju rumahku. Aku berlari pelan dan memandangi televisi yang
mengeluarkan ketakutanku, kekhawatiranku tentang Yuki.
“Padahal
pesawat itu baru terbang tadi siang dari Incheon. Kasihan sekali mereka.” Ujar
bibi penjual minuman yang sedang melahap habis berita yang menayangkan
pemandangan yang membuatku geram.
Hatiku
memanas. Ini tak mungkin terjadi. Ini tak mungkin. Itu pasti bukan pesawat yang
Yuki tumpangi. Memangnya hanya ada satu pesawat yang lepas landas ke Jepang?!
Tidak kan?! Tidak!
Aku
benar-benar mengeret skuter miniku sampai ke rumah. Emosiku bercampur aduk. Aku
tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak tahu keadaan Yuki bagaimana. Aku
menggenggam liontin berbandul gembok perak yang mengalungi leherku.
“Itu
Jinho!”
“Ah
kasihan sekali dia. Dia pasti sangat sedih.”
Aku
hanya bisa memandang aneh ke sekitarku. Mengapa semua orang memandangku seperti
ini? Memangnya apa yang harus mereka kasihani terhadapku? Aku mempercepatkan
langkahku.
Dan
langkahku melambat ketika melihat kerumunan di sekitar rumahku. Dengan bersusah
payah aku menerobos kerumunan orang dewasa yang terus berbicara sedari tadi.
Police Line. Apa-apaan ini?! Police Line?! Memangnya ada apa?! Aku berlari
masuk ke dalam rumahku yang sudah di kepung oleh beberapa polisi. Mereka
mencegat langkahku.
“Ini
rumahku!” Aku mengeluarkan teriakan yang memekikkan seluruh jenis telinga.
“Tidak.
Kau tidak boleh masuk.” Dan sialnya sekarang polisi ini mencengkeram tanganku
dengan sangat kuat. Awas saja kalau pergelangan tanganku sampai luka, akan
kubuat ia bertekuk lutut kepadaku.
Aku
menghentakkan tanganku dan buru-buru berlari masuk ke dalam rumahku.
Pintu
kamar orangtuaku penuh dengan plastik-plastik berwarna kuning menjijikkan ini
dengan kalimat Police Line. Aku muak sekali melihat ini semua. Aku melepaskan
semuanya dan mendobrak pintu kamar orangtuaku.
Banyak
lalat karena bau amis yang menyebar. Kamar orangtuaku sudah tidak berbentuk
lagi. Wallpaper dinding yang sudah robek, cipratan cairan berwarna merah
menjalari dinding dan tempat tidur di kamar orangtuaku. Dan aku dapat merasakan
lantai kamar ini sedikit lengket. Mataku membulat ketika melihat darah segar
yang tergenang lepas di lantai kamar ini dan kedua orangtuaku yang sudah tidak
bernyawa tertidur di lantai kamar ini.
Nyawaku
terasa melayang. Tenggorokanku tercekat.
Aku
terduduk diantara mereka. Bahkan mata mereka belum tertutup sepenuhnya. Aku
menutup mata mereka. Air mataku mengalir bebas.
“Mengapa
kalian pergi tidak bilang terlebih dahulu kepadaku?” Kataku sambil mengelap air
mataku dengan telapak tanganku yang berlumuran dengan darah di lantai.
Mataku
mengekor kepada secarik kertas dekat tangan ayahku.
Suara
kasak-kusuk mulai terdengar dari luar. Suara polisi sialan itu. Ia mulai
mendobrak masuk ke kamar orangtuaku dan buru-buru aku mengambil kertas di dekat
tangan ayahku. Aku memasukkannya ke dalam saku celanaku.
Polisi
itu masuk ke kamar orangtuaku dan berjongkok dihadapanku, “Keluarlah, nak. Ruangan
ini akan segera diperiksa. Jenazah orangtuamu juga akan diangkut untuk diotopsi
terlebih dahulu.” Polisi itu memberikan telapak tangannya di hadapanku,
berharap agar aku menerima ajakannya.
Aku
memicingkan mataku dan menolak mentah-mentah telapak tangan polisi tak berharga
itu, “Aku tak butuh tanganmu.”
Aku
berdiri dan keluar dari kamar orangtuaku. Dan semua orang memandangiku aneh
ketika aku keluar dengan raut wajah yang sangat tidak jelas dan bias-bias darah
yang ada di pipiku.
“Apa?!
Apa yang kalian lihat?! Pergi kalian dari sini! Aku tak butuh kalian!” Jeritku
membuat semua orang terkejut, kecuali polisi-polisi yang sedari tadi mengepun
rumahku.
“Kasihan
sekali Jinho. Kudengar pesawat yang ditumpangi keluarga Okizawa kecelakaan
sebelum mendarat di bandara Internasional Jepang.” Bisik seseorang. Aku dapat
mendengar jelas bisikan ini.
Aku
terhenyak. Napasku tercekat.
“Aku
tak butuh belas kasihan kalian!” Jeritku dengan suara parau, “Pergi kalian dari
sini! Pergi!”
Semua
orang pergi ke rumahnya masing-masing. Tidak ada siapa-siapa lagi. Tidak ada
siapapun kecuali polisi yang sedari tadi kuanggap patung. Tidak ada siapa pun.
Tidak ada. Tidak ada Yuki, tidak ada Ibunya Yuki yang selalu membuatkanku kue
kering dengan selai strawberry diatasnya, tidak ada Ayahnya Yuki yang selalu
membantuku dan Yuki ketika mengerjakan PR matematika, tidak ada Ibuku yang
selalu membuat lelucon yang tidak lucu ketika aku menangis, tidak ada Ayahku
yang selalu saja sibuk dengan pekerjaan di laboratorium andalannya. Itu semua
tidak ada lagi. Atau mungkin tidak ada juga aku yang dulu.
Hari
ini aku kehilangan banyak orang terpenting di hidupku, atau mungkin aku akan kehilangan
aku yang dulu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar