Title : The Scary Game [part 4]
Author : Minnia
Genre : Mistery Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee
Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Dongwoo, Kim Sunggyu
Hanna POV
Tirai
dikamarku disibakkan seseorang. Efeknya banyak cahaya menyeruak masuk kedalam
kamarku. Mataku mengerjap erjap mencari sosok yang telah membuka tirai kamarku
tanpa izin. Aku melihat seorang namja berdiri tegak disamping tempat tidurku.
Nam Woohyun oppa ternyata. Aku mengucek ucek mataku dan berusaha membuka kedua
mataku yang sipit ini.
“Hei,
bangun.” Ucap Nam Woohyun oppa.
“Nggh?”
Erangku. Ia duduk disebelahku, disudut ranjangku. Ia mengacak-acak rambutku
yang awalnya sudah kusut.
“Hari
ini kau mau kemana?”
Mataku
sudah bisa terbuka dan aku melihat kearah jam dinding. Baru pukul tujuh pagi.
Aku menguap, “Hoamm sepertinya aku akan ke rumah sakit hari ini.”
“Kau
masih terlihat lelah. Tidur saja dulu. Bagaimana permainan tenis kemarin?”
“Cukup
buruk. Aku memakai lotion dan raket tenisku terlempar mengenai tulang kering
Sungyeol. Dan tulang keringnya patah.”
“Jinjja?
Kau seperti pembunuh yang hebat.”
Ucap Woohyun oppa sambil menepuk nepuk pundakku dan tertawa. Apa katanya
pembunuh? Aku memicingkan mataku.
“Pembunuh?”
tanyaku.
“Hahahaha..
sudah lah. Aku hanya bercanda. Kau jadi ke rumah sakit?”
“Iya.”
“Ah
padahal hari ini aku libur. Aku baru saja mau mengajakmu jalan jalan.”
“Mianhae
oppa. Tapi aku harus menjaga Sungyeol. Lain kali saja ya.”
“Baiklah.”
Katanya sambil mengelus rambutku. Sudah lama ia tak melakukan ini. mungkin
karena kami jarang bertemu. Aku merindukan memori memori lama ketika waktu aku
masih kecil. Aku merindukan semuanya.
Woohyun
oppa keluar dari kamarku dan aku segera membereskan tempat tidurku. Badanku
masih terasa lelah. Aku memutar kepalaku untuk menghilangkan nyeri di bagian
leher. Aku beristirahat sejenak. Dan kupandangi seluruh isi kamarku. Aku
mendapati jejeran foto antara aku, L, Hoya, dan Sungyeol ketika kami bersama.
Mulai dari kami kecil hingga sekarang. Mulai dari foto yang memalukan hingga
yang melihatkan sisi manis kami semua. Aku menghampiri jejeran foto itu. aku
membuka kembali potongan memori memori kecil masa lalu.
Dan
aku lama sekali memandangi foto foto itu. dan aku baru menyadari bahwa muka L
tak pernah berubah. Selalu dingin dan serius. Dan aku lupa dengan foto ini.
kapan aku mengambil foto ini? aku sedang duduk berdua dengan L dan
dibelakangnya ada Hoya dan Sungyeol, tangan mereka membentuk love. Aiss lucu
sekali ekspresi Sungyeol. Aku terkekeh pelan memandangi foto foto tersebut. dan
sepertinya aku harus mandi sekarang.
Ponselku
bergetar lebih dari tiga kali. Sepertinya ada telpon dari seseorang. Sambil
menyisir rambut, aku mengangkat telpon itu.
“Yeoboseyo?”
“Ya!
Hanna-ah! Bisa tidak kau cepat sedikit?!” Bentak suara seseorang dari seberang
sana. Ya walaupun suaranya terdengar tenang, tapi aku tau kalau ia pasti
membentakku. Aku melihat layar ponselku. Dan ternyata benar. L.
“Mwo?
Memangnya kenapa?”
“Aku
sudah menunggumu lebih dari lima menit.”
“Untuk
apa kau menungguku?” Aku menaikkan alisku sebelah. Aku melihat kearah jendela.
Mobil sedan berwarna hitam metallic berparkir didepan rumahku.
“Sudah
mending aku jemput. Mau ikut tidak?” tanyanya lagi.
“Tunggu.
Jangan matikan.” Perintahku. Aku segera berlari ke kamar Woohyun oppa yang
berada tepat disebelah kamarku. Ternyata ia juga sedang menelpon.
“Ada
apa?” tanyanya sambil menutup ponselnya.
“Aku
pergi dengan L ya?”
“Bukannya
aku yang akan mengantarmu?”
“L
sudah menjemputku.”
“Hanna-ah!
Hanna!” Panggil L, aku dapat mendengarnya namun aku menutup speaker ponselku
agar Woohyun oppa tak mendengarnya.
“Hmm..
baiklah. Hati-hati.”
Aku
langsung berlari ke kamarku dan kembali melanjutkan sambungan telpon dari L.
“L?”
panggilku.
“Ne?
cepatlah!”
“Ah..
ne ne ne…” aku segera turun ke lantai dasar rumah ku dan berlari menuju mobil
yang sedari tadi sudah parkir di depan rumahku.
Aku
masuk kedalam mobil itu dengan ngos ngosan. Aku duduk di jok belakang. Aku
menarik beberapa tisu yang aku bawa dan mengelap bulir bulir keringatku yang
turun deras seketika. Ternyata bukan hanya ada L, tetapi ada Sunggyu oppa,
kakak laki laki dari L. seperti biasa, ia tersenyum kearahku. Ah, hyungnya
sangat berbeda dengan dongsaengnya. Aku membalas senyumannya. Tak lama kemudian
mobil ini pun melaju kearah rumah sakit.
“L
sedari dulu memang menyebalkan.” Ucap Sunggyu oppa memecah keheningan di dalam
mobil. Aku melihatnya dari kaca spion tengah. Ia melihat kearahku. L juga
melihatku dari kaca spion tengah dan menaikkan alis sebelahnya. Ya tuhan. Demi
apa pun itu sangat keren.
“Hahaha.
Aku bisa memakluminya.” Jawabku. L menggeleng gelengkan kepalanya.
“L,
tumben kau tak membawa sepedamu?” tanyaku.
“Ban
sepedaku bocor. Aku belum sempat mengganti ban dalamnya.”
“Kau
terlalu mencintai sepedamu. Aku kan sudah membelikanmu sebuah mobil. Mengapa
kau tak mau memakainya?” Tanya Sunggyu oppa.
“Aku
lebih suka menghirup udara segar daripada udara AC mobil.” Jawabnya singkat.
Aku
hanya bisa diam melihat percekcokan antara dua saudara ini. antara orang yang
protektif dan orang yang terlalu cuek. Susah memang. Semua masalah jadi
terbelit. Dan tak jauh lagi kami sampai di rumah sakit. Sunggyu oppa hanya
mengantar kami saja. Ia tak masuk ke dalam. Ia hanya menyampaikan pesan untuk
Sungyeol agar cepat sembuh. Aku dan L keluar dari mobil Sunggyu oppa. Ada
seseorang yang memperhatikanku. Aku menoleh ke daerah sekitarku. Ya! Namja itu
lagi! Namja dengan jubah berwarna gelap melihat kearahku. Dibawah sinar
matahari pagi seperti ini, ia terlihat seperti orang jahat. Ia memakai kacamata
berwarna hitam, masker berwarna hitam, dan rambut yang ia cat dengan warna
light brown.
“Apa
yang kau lihat?” Tanya L sambil menusuk nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.
“Ha?
Ani.. ani..” kataku langsung menggandeng tangan L.
“Hei!
Apa yang kau lakukan?!”
“Diamlah!
Aku takut! Seseorang mengamati kita!” kataku sambil menyeret L masuk kedalam
rumah sakit.
“Nuguya?”
“Itu,
ada dibelakang. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan gelap. Aku takut.”
L
membalikkan badannya, “Tak ada.”
Langkahku
terhenti dan aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, “Ta.. tadi dia
ada.. aiss. Kemana dia? L, kau percaya denganku kan?”
L
memandangku aneh, “Sudahlah. Mungkin itu hanya halusinasimu.” Ia melepaskan
tangannya dan berjalan mendahuluiku.
“L!!!!
AISSS!!” jeritku sambil berlari menghampirinya.
J
Aku
menyuapi sesendok demi sesendok bubur ke mulut Sungyeol. ia terlihat kelaparan.
Sungjong dan Hoya sedang mencari sarapan. Hoya datang terlebih dahulu daripada
aku dan L. L membereskan beberapa baju Sungyeol. Semangkuk bubur sudah lenyap
tenggelam di dalam perut Sungyeol. Aku membantunya duduk dan menyuguhkan
segelas air putih. dan tak lama kemudian Hoya dan Sungjong sudah kembali dengan
membawa makanan.
“Yeolie,
apakah orangtuamu sudah tau keadaanmu?” tanyaku.
“Sebaiknya
mereka tidak tau.”
“Wae?”
“Aku
tidak ingin mereka terlihat stress.”
“Tapi
sebaiknya amma dan appa tau, hyung.” Ucap Sungjong dengan mulut yang penuh
makanan.
“Telan
dahulu makananmu,” Ucap Sungyeol, “Aku tak ingin melihat mereka stress. Lebih
baik aku menyimpan rahasia ini rapat rapat. Makanya aku ingin cepat sembuh.”
Aku
mengangguk dan membantu Sungyeol kembali dalam posisi tidur. Hening. Aku
memijat mijat sedikit lengan Sungyeol. L menghampiri aku dan melihat tulang
kering Sungyeol.
“Setelah
operasi kemarin sepertinya sudah mulai pulih. Tapi lebih baik jangan banyak
bergerak dulu.” Kata L sambil terus mengamati kakinya.
“Oh
iya,” Hoya membuka mulutnya, “Kita jadi mau camping di hutan? Jika sesuai
rencana, esok kita akan camping.”
“Aku
rasa tidak usah dulu. Kita harus menjaga Sungyeol” Ucapku tanpa berpikir.
“Pergilah,”
Kata Sungyeol, “Jangan hanya gara gara aku kalian tidak jadi pergi.”
“Tapi..”
“Tak
apa, ada aku disini.” Kata Sungjong.
“Kau
mau dibawakan oleh oleh apa nanti?” tanyaku.
“Oleh
oleh ya? Hmm aku ingin ular cobra.”
“Mwoo?
Hahaha!” Tawaku pecah mendengar jawaban Sungyeol. Keadaan sudah mulai mencair.
“Baiklah.
Besok kita akan tetap camping di hutan. Kita pilih hutan yang dekat dengan
rumahku saja. Besok jam enam pagi kalian sudah ada di rumahku. Arasseo?”
“Arasseo!”
Jawabku dan Hoya bersamaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar