Minggu, 05 Agustus 2012

The Scary Game [Part 4]




Title : The Scary Game [part 4]
Author : Minnia
Genre : Mistery Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Dongwoo, Kim Sunggyu

Hanna POV
                Tirai dikamarku disibakkan seseorang. Efeknya banyak cahaya menyeruak masuk kedalam kamarku. Mataku mengerjap erjap mencari sosok yang telah membuka tirai kamarku tanpa izin. Aku melihat seorang namja berdiri tegak disamping tempat tidurku. Nam Woohyun oppa ternyata. Aku mengucek ucek mataku dan berusaha membuka kedua mataku yang sipit ini.
                “Hei, bangun.” Ucap Nam Woohyun oppa.
                “Nggh?” Erangku. Ia duduk disebelahku, disudut ranjangku. Ia mengacak-acak rambutku yang awalnya sudah kusut.
                “Hari ini kau mau kemana?”
                Mataku sudah bisa terbuka dan aku melihat kearah jam dinding. Baru pukul tujuh pagi. Aku menguap, “Hoamm sepertinya aku akan ke rumah sakit hari ini.”
                “Kau masih terlihat lelah. Tidur saja dulu. Bagaimana permainan tenis kemarin?”
                “Cukup buruk. Aku memakai lotion dan raket tenisku terlempar mengenai tulang kering Sungyeol. Dan tulang keringnya patah.”
                “Jinjja? Kau seperti pembunuh yang hebat.” Ucap Woohyun oppa sambil menepuk nepuk pundakku dan tertawa. Apa katanya pembunuh? Aku memicingkan mataku.
                “Pembunuh?” tanyaku.
                “Hahahaha.. sudah lah. Aku hanya bercanda. Kau jadi ke rumah sakit?”
                “Iya.”
                “Ah padahal hari ini aku libur. Aku baru saja mau mengajakmu jalan jalan.”
                “Mianhae oppa. Tapi aku harus menjaga Sungyeol. Lain kali saja ya.”
                “Baiklah.” Katanya sambil mengelus rambutku. Sudah lama ia tak melakukan ini. mungkin karena kami jarang bertemu. Aku merindukan memori memori lama ketika waktu aku masih kecil. Aku merindukan semuanya.
                Woohyun oppa keluar dari kamarku dan aku segera membereskan tempat tidurku. Badanku masih terasa lelah. Aku memutar kepalaku untuk menghilangkan nyeri di bagian leher. Aku beristirahat sejenak. Dan kupandangi seluruh isi kamarku. Aku mendapati jejeran foto antara aku, L, Hoya, dan Sungyeol ketika kami bersama. Mulai dari kami kecil hingga sekarang. Mulai dari foto yang memalukan hingga yang melihatkan sisi manis kami semua. Aku menghampiri jejeran foto itu. aku membuka kembali potongan memori memori kecil masa lalu.
                Dan aku lama sekali memandangi foto foto itu. dan aku baru menyadari bahwa muka L tak pernah berubah. Selalu dingin dan serius. Dan aku lupa dengan foto ini. kapan aku mengambil foto ini? aku sedang duduk berdua dengan L dan dibelakangnya ada Hoya dan Sungyeol, tangan mereka membentuk love. Aiss lucu sekali ekspresi Sungyeol. Aku terkekeh pelan memandangi foto foto tersebut. dan sepertinya aku harus mandi sekarang.
                Ponselku bergetar lebih dari tiga kali. Sepertinya ada telpon dari seseorang. Sambil menyisir rambut, aku mengangkat telpon itu.
                “Yeoboseyo?”
                “Ya! Hanna-ah! Bisa tidak kau cepat sedikit?!” Bentak suara seseorang dari seberang sana. Ya walaupun suaranya terdengar tenang, tapi aku tau kalau ia pasti membentakku. Aku melihat layar ponselku. Dan ternyata benar. L.
                “Mwo? Memangnya kenapa?”
                “Aku sudah menunggumu lebih dari lima menit.”
                “Untuk apa kau menungguku?” Aku menaikkan alisku sebelah. Aku melihat kearah jendela. Mobil sedan berwarna hitam metallic berparkir didepan rumahku.
                “Sudah mending aku jemput. Mau ikut tidak?” tanyanya lagi.
                “Tunggu. Jangan matikan.” Perintahku. Aku segera berlari ke kamar Woohyun oppa yang berada tepat disebelah kamarku. Ternyata ia juga sedang menelpon.
                “Ada apa?” tanyanya sambil menutup ponselnya.
                “Aku pergi dengan L ya?”
                “Bukannya aku yang akan mengantarmu?”
                “L sudah menjemputku.”
                “Hanna-ah! Hanna!” Panggil L, aku dapat mendengarnya namun aku menutup speaker ponselku agar Woohyun oppa tak mendengarnya.
                “Hmm.. baiklah. Hati-hati.”
                Aku langsung berlari ke kamarku dan kembali melanjutkan sambungan telpon dari L.
                “L?” panggilku.
                “Ne? cepatlah!”
                “Ah.. ne ne ne…” aku segera turun ke lantai dasar rumah ku dan berlari menuju mobil yang sedari tadi sudah parkir di depan rumahku.
                Aku masuk kedalam mobil itu dengan ngos ngosan. Aku duduk di jok belakang. Aku menarik beberapa tisu yang aku bawa dan mengelap bulir bulir keringatku yang turun deras seketika. Ternyata bukan hanya ada L, tetapi ada Sunggyu oppa, kakak laki laki dari L. seperti biasa, ia tersenyum kearahku. Ah, hyungnya sangat berbeda dengan dongsaengnya. Aku membalas senyumannya. Tak lama kemudian mobil ini pun melaju kearah rumah sakit.
                “L sedari dulu memang menyebalkan.” Ucap Sunggyu oppa memecah keheningan di dalam mobil. Aku melihatnya dari kaca spion tengah. Ia melihat kearahku. L juga melihatku dari kaca spion tengah dan menaikkan alis sebelahnya. Ya tuhan. Demi apa pun itu sangat keren.
                “Hahaha. Aku bisa memakluminya.” Jawabku. L menggeleng gelengkan kepalanya.
                “L, tumben kau tak membawa sepedamu?” tanyaku.
                “Ban sepedaku bocor. Aku belum sempat mengganti ban dalamnya.”
                “Kau terlalu mencintai sepedamu. Aku kan sudah membelikanmu sebuah mobil. Mengapa kau tak mau memakainya?” Tanya Sunggyu oppa.
                “Aku lebih suka menghirup udara segar daripada udara AC mobil.” Jawabnya singkat.
                Aku hanya bisa diam melihat percekcokan antara dua saudara ini. antara orang yang protektif dan orang yang terlalu cuek. Susah memang. Semua masalah jadi terbelit. Dan tak jauh lagi kami sampai di rumah sakit. Sunggyu oppa hanya mengantar kami saja. Ia tak masuk ke dalam. Ia hanya menyampaikan pesan untuk Sungyeol agar cepat sembuh. Aku dan L keluar dari mobil Sunggyu oppa. Ada seseorang yang memperhatikanku. Aku menoleh ke daerah sekitarku. Ya! Namja itu lagi! Namja dengan jubah berwarna gelap melihat kearahku. Dibawah sinar matahari pagi seperti ini, ia terlihat seperti orang jahat. Ia memakai kacamata berwarna hitam, masker berwarna hitam, dan rambut yang ia cat dengan warna light brown.
                “Apa yang kau lihat?” Tanya L sambil menusuk nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.
                “Ha? Ani.. ani..” kataku langsung menggandeng tangan L.
                “Hei! Apa yang kau lakukan?!”
                “Diamlah! Aku takut! Seseorang mengamati kita!” kataku sambil menyeret L masuk kedalam rumah sakit.
                “Nuguya?”
                “Itu, ada dibelakang. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan gelap. Aku takut.”
                L membalikkan badannya, “Tak ada.”
                Langkahku terhenti dan aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, “Ta.. tadi dia ada.. aiss. Kemana dia? L, kau percaya denganku kan?”
                L memandangku aneh, “Sudahlah. Mungkin itu hanya halusinasimu.” Ia melepaskan tangannya dan berjalan mendahuluiku.
                “L!!!! AISSS!!” jeritku sambil berlari menghampirinya.
J
                Aku menyuapi sesendok demi sesendok bubur ke mulut Sungyeol. ia terlihat kelaparan. Sungjong dan Hoya sedang mencari sarapan. Hoya datang terlebih dahulu daripada aku dan L. L membereskan beberapa baju Sungyeol. Semangkuk bubur sudah lenyap tenggelam di dalam perut Sungyeol. Aku membantunya duduk dan menyuguhkan segelas air putih. dan tak lama kemudian Hoya dan Sungjong sudah kembali dengan membawa makanan.
                “Yeolie, apakah orangtuamu sudah tau keadaanmu?” tanyaku.
                “Sebaiknya mereka tidak tau.”
                “Wae?”
                “Aku tidak ingin mereka terlihat stress.”
                “Tapi sebaiknya amma dan appa tau, hyung.” Ucap Sungjong dengan mulut yang penuh makanan.
                “Telan dahulu makananmu,” Ucap Sungyeol, “Aku tak ingin melihat mereka stress. Lebih baik aku menyimpan rahasia ini rapat rapat. Makanya aku ingin cepat sembuh.”
                Aku mengangguk dan membantu Sungyeol kembali dalam posisi tidur. Hening. Aku memijat mijat sedikit lengan Sungyeol. L menghampiri aku dan melihat tulang kering Sungyeol.
                “Setelah operasi kemarin sepertinya sudah mulai pulih. Tapi lebih baik jangan banyak bergerak dulu.” Kata L sambil terus mengamati kakinya.
                “Oh iya,” Hoya membuka mulutnya, “Kita jadi mau camping di hutan? Jika sesuai rencana, esok kita akan camping.”
                “Aku rasa tidak usah dulu. Kita harus menjaga Sungyeol” Ucapku tanpa berpikir.
                “Pergilah,” Kata Sungyeol, “Jangan hanya gara gara aku kalian tidak jadi pergi.”
                “Tapi..”
                “Tak apa, ada aku disini.” Kata Sungjong.
                “Kau mau dibawakan oleh oleh apa nanti?” tanyaku.
                “Oleh oleh ya? Hmm aku ingin ular cobra.”
                “Mwoo? Hahaha!” Tawaku pecah mendengar jawaban Sungyeol. Keadaan sudah mulai mencair.
                “Baiklah. Besok kita akan tetap camping di hutan. Kita pilih hutan yang dekat dengan rumahku saja. Besok jam enam pagi kalian sudah ada di rumahku. Arasseo?”
                “Arasseo!” Jawabku dan Hoya bersamaan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar