Selasa, 28 Februari 2012

Robogenoman [Part 6]







Title : Robogenoman [part 6]
Author : Minnia
Genre : Romantic Fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Gong ChanShik, Jung Jinyoung
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)


Author POV
Jinyoung masih saja menatap layar computer itu. Gongchan berhenti mengacak-acak rambutnya dan mengalihkan pandangannya ke arah layar computer tersebut. matanya terbelalak kaget melihat apa yang ada di layar komputernya itu.
“Mana mungkin—“ Katanya setengah tak percaya.
Jinyoung hanya diam. Ia lalu duduk di pinggir tempat tidur yang tadi ia tempati.
Gongchan melihat kearah jam oval yang ada di dalam laboratoriumnya. Pukul 6 sore KST. Hari juga semakin menggelap. Ia melihat kearah Jinyoung.
“Beristirahatlah. Besok kita akan menemui Profesor Shin Dongwoo.” Kata Gongchan sambil mematikan komputernya. Jinyoung memikul kembali tas ranselnya dan menuju kamar miliknya.
Gongchan masih kalut dalam permasalahan ini. Ia terus meredam kepalanya diantara lengan lengan kurus miliknya. Saking lelahnya memikirkan hal itu, Gongchan sampai tertidur pulas di meja yang memuat seperangkat perangkat keras computer.
Malam semakin larut. Jinyoung merasa aneh kenapa diwaktu semalam ini Gongchan belum juga mematikannya—mengistirahatkan Jinyoung. Kalau begini biasanya Jinyoung mengistirahatkan dirinya sendiri. Tapi, remote itu tidak berada ditangannya. Jinyoung bingung ia harus melakukan apa. Dengan pemikiran yang cukup panjang, akhirnya Jinyoung kembali ke laboratorium milik Gongchan. Jinyoung mendapati Gongchan sedang tertidur pulas dengan kepala ditumpu oleh kedua lengannya.
“Chansik-ssi..” Panggil Jinyoung.
Gongchan tak bergerak.
“Chansik-ssi, tidur dikamar. Kau juga belum mengganti pakaian.” Jinyoung mengguncang tubuh Gongchan dan akhirnya Gongchan terbangun.
“Hmm?” Gumam Gongchan dengan mata tertutup.
“Matikan aku..”
“Apa? Matikan sendiri. Aku lelah.”
“Tidur di kamar. Ganti bajumu.”
Gongchan bangkit dari posisinya. Jinyoung mengambil remote control yang tak jauh dari computer lalu mengambilnya. Jinyoung kembali ke kamarnya lalu menekan tombol off.

J

Power on
Gongchan menekan tombol on. Air muka Gongchan masih memaparkan kebingungannya.
“Cepat ganti bajumu dengan baju seragam. Nanti sepulang sekolah kita akan ke rumah professor Shin Dongwoo.”
Jinyoung mengangguk lemah.
Mereka segera ke halte. Hari ini mereka lebih terlihat diam. Gongchan tampak lemah. Sedangkan Jinyoung lebih banyak diam. Ketika mereka sampai di sekolah, Baro menyambut mereka dengan wajah aneh. Baro juga tak banyak bicara. Jinyoung sampai di kelasnya terlebih dahulu.
“Chansik-ssi..”Bisik Baro.
“Hm?” Gongchan menjawab dengan suara yang terdengar agak parau.
“Kau mengenalnya?”
“Siapa?”
“Namja itu.”
“Oh. Itu Jung Jinyoung.”
“Dia yang kumaksud.”
“Yang bersama Minhyun kemarin?”
“Iya. Dia dekat sekali dengan Minhyun.”
Gongchan melirik sinis kearah Baro, “Kau sering mengintip mereka?”
“Bukan mengintip, sengaja bertemu.”
“Kau sering melihat Jinyoung?”
“Lumayan. Aku sering melihatnya jalan sendiri. Dan aku melihatnya ketika berjalan ditengah badai salju, ia berjalan denganmu.”
“Badai salju?”
“Iya. Badai salju. Kau kan memakai jubah berwarna orange tua.”
“Aku tak—“
Bel masuk berbunyi. Baro meninggalkan Gongchan yang masih bingung dengan perkataan Baro tersebut. Badai salju? Jubah orange tua? Gongchan menggelengkan kepalanya dan segera berlari menuju kelasnya. Ia melewati kelas Minhyun. Bangku Minhyun masih kosong. Minhyun belum datang. Disaat seperti ini Gongchan tidak bisa menanyakan keberadaan Minhyun kepada teman sekelasnya. Gongchan memasuki kelasnya.

J

Gongchan menekan bel yang ada di sebelah pintu rumah tersebut. sudah dua kali dan yang ketiga kalinya baru seseorang membuka pintu berwarna putih susu tersebut. Dia membenarkan kacamatanya lalu terkejut melihat Gongchan dan Jinyoung yang berada di depan pintu rumahnya. Profesor Shin Dongwoo menyuruh mereka masuk.
“Ada apa?” Tanya Profesor Shin Dongwoo.
“Begini..”
Gongchan menjelaskan masalah dari awal sampai akhir. Dari bagaimana sikap aneh Jinyoung dan cara menghilangnya Minhyun. Jinyoung hanya diam terpaku dan mengamati kata per kata yang keluar dari mulut Gongchan. Sesekali Profesor Shin Dongwoo memperlihatkan ekspresi terkejut dengan air muka yang sedang berfikir keras.
“Semua karena aku meninggalkan Jinyoung sendiri. Maafkan aku prof.” Kata Gongchan dengan wajah yang menunduk.
“Semua ini bukan salahmu. Akulah yang sangat bersalah. Seharusnya aku yang pergi ke Busan dan mengirim teory system operasi robot ini. Tapi, tanggal itu bentrok dengan ulangtahun Minhyun.”
“Minhyun.. Bagaimana dengan acara ulangtahun Minhyun?”
“Jinyounglah yang menggantikan posisimu.”
Jinyoung terbelalak, “Aku?”
“Iya, kau. Kita kan sudah sepakat. Dan entah mengapa malam itu kau mencium dahi Minhyun.”
Gongchan terbelalak, “Jinyoung? Kau—“
“Aku tak ingat sama sekali.”
“Oh iya, aku baru ingat memorymu terhapus.” Kata Gongchan dengan nada merendah dan terdengar marah.
“Jinyoung, mari ke laboraturiumku.” Profesor Shin Dongwoo menarik Jinyoung ke laboratoriumnya.
Sesampainya disana, Profesor Shin Dongwoo memerintahkan Jinyoung untuk tidur dan Gongchan menekan tombol off pada remote yang ia bawa. Dengan lugas, Gongchan kembali menempelkan kabel-kabel panjang yang berujung bulatan pipih ke permukaan kulit kepala Jinyoung. Gongchan berdiri dibelakang professor Shin Dongwoo yang sedang mengutak-atik system operasi memory box Jinyoung. Tak lama kemudian muncul tulisan berwarna merah yang sangat mencolok dari beberapa table yang terpapar di layar computer tersebut.
“Ini memang tak dapat dipercaya—bagaimana bisa?” Profesor Shin Dongwoo membelalakkan matanya dan mengalihkan pandangannya kearah Gongchan.
Gongchan hanya menunduk, “Entahlah. Aku rasa ada yang mengubah system operasi memory box-nya.”
“Tapi…. Siapa?”
Gongchan mengusap matanya, “Aku… aku tidak tahu.”
“Sebenarnya kau ini kenapa sih?”
“Aku?? Aku tidak kenapa-kenapa.”
“Gongchan-ssi, aku sudah lama mengenalmu. Cara kau berbohong itu sangat familiar. Aku dapat mengenal mana yang jujur atau tidak. Kau sudah kuanggap seperti anakku sendiri.” Jelas Profesor Shin Dongwoo sambil menepuk pundak Gongchan pelan.
Gongchan mengangkat wajahnya, “Aku tidak—itu apa?” Kini Gongchan yang mengalihkan pandangannya ke layar computer yang sedari tadi menampilkan tab berwarna merah.
“An uknown atom….” Gumam Professor Shin Dongwoo.
Professor Shin Dongwoo kembali mengutak-atik apa yang dipaparkan oleh layar computer tersebut. dengan harapan mengetahui atom yang tidak diketahui itu, Profesor Shin Dongwoo terus mencari dan mencari atom itu. tetapi, tetap saja atom itu tak dapat diketahui.
“Profesor…” Panggil Gongchan.
“Hm?” jawab Profesor Shin Dongwoo masih menatap layar computer tersebut tanpa berkedip.
“Aku rasa… atom itu berada di memory box itu.”
-To Be Continued-

Next Chapter…

“Aku sangat merindukannya,”
“Aku tak pernah—aku tak ingat hal ini.”
“Perlu kubantu?”
“Omong-omong, mengapa kita tidak bertemu dengan temanku saja? Dia juga seorang professor.”

Sabtu, 25 Februari 2012

Karang Pemberontak

Namanya Karang. Wataknya pemberontak, keras kepala. Ia suka berlaku seenak jidatnya tanpa melihat keadaan orang lain. Dan ia sangat tidak cocok untuk dikatakan seorang perempuan, ia terlalu kasar untuk dikatakan seorang perempuan. Bagaimana tidak, ia suka minum di bar, dan hobi sekali bertengkar dengan kaum Adam.
            Malam itu ia sedang minum bir kesukaannya di bar ternama. Ia sudah minum 2 botol soju, minuman keras dari Korea. Ia tampak mabuk keras. Tiba-tiba dua orang lelaki datang menghampirinya.
            “Hai..” Sapa lelaki tinggi di sebelah kanannya. Karang hanya melihat lalu kembali menegak segelas soju.
            “Sombong banget sih.” Kata lelaki pendek di sebelah kirinya.
            “Bukan urusan kalian.” Katanya dengan ketus.
            Para lelaki itu tertawa renyah saat mendengar Karang menjawab seperti itu. Karang tak menghiraukan tawaan mereka yang sama sekali tidak lucu. Lelaki tinggi di sebelah kanannya mulai berbicara.
            “Perkenalkan, nama aku Aldi.”
            Perlahan lelaki pendek itu menancapkan jarum suntik berisikan bius ke punggung Karang. Perlahan juga Karang merasa diatas ambang awang, ia pingsan seketika.

            Karang pingsan cukup lama, seharian penuh. Ia dibawa ke suatu tempat di pelosok kota. Lelaki tinggi dan pendek itu ternyata telah merencanakan semua ini sejak seminggu sebelumnya, mereka sering bertemu Karang di bar itu.
            Karang di letakkan di ruang lembab dan akses oksigennya sangat sedikit. Dan di ruang itu tidak hanya ia sendiri melainkan ada 5 orang perempuan lainnya.
            “Heh kamu!” Kata lelaki tinggi yang bernama Aldi sambil menunjuk perempuan yang memakai tank top berwarna merah muda, “Ganti baju makhluk ini dengan pakaian minim seperti kalian!” suruh Aldi.
            “Dan ini pemberitahuan untuk kalian, besok seorang bos besar akan kesini menjemput salah satu dari kalian. Hahaha.” Ucap lelaki pendek tersebut. Suasana ruangan itu menjadi suram disertai gema suara tawa para lelaki bejat itu.
            “Haaah, ruangan ini membuatku sesak. Ayo kita pergi Dino!” Ucap Aldi sambil merangkul lelaki pendek yang ternyata bernama Dino.
            Aldi dan Dino keluar dari ruangan itu. Satu per satu perempuan yang ada di ruangan itu langsung menyerbu Karang. Dan dua dari mereka bersedia menggantikan baju Karang. Kini Karang telah memakai baju yang sangat minim. Kaos tanpa lengan yang longgar dan celana pendek  sepaha.
            “Kalian yakin memakaikan baju seperti itu?” tanya seseorang perempuan berambut ikal.
            “Iya, kalau dipakaikan tank top kasihan. Tank top kan ketat, nanti dia malah mati lagi.” Kata salah satu perempuan yang memakaikan Karang baju.
            Tiba-tiba kepala Karang bergerak. Dia hampir siuman. Hidungnya mengendus-endus bau lembab dan nafasnya terdengar sesak. Ia membuka kelopak matanya perlahan lalu ia mengucek matanya yang kering. Ia mengedip dan melihat lingkungan sekitarnya.
            “Aku dimana?” tanyanya pelan.
            “Eh ternyata kau sudah bangun.” Kata perempuan berambut ikal.
            “Hah? Kau siapa? Aku dimana? Kalian siapa? Kenapa bajuku seperti ini?” tanya Karang bertubi-tubi.
            “Aku tidak tahu kau siapa. Kau baru diletakkan disini dengan Aldi dan Dino. Kami sama nasibnya seperti kau, wanita yang dijual kepada orang, entah untuk dijadikan apa. Karena itulah mengapa baju kita minim,” Jelas perempuan yang tadi menggantikan Karang baju, “Perkenalkan, namaku Mira.”
            Karang masih tak mengerti apa yang Mira katakan, “Lalu mereka ini siapa?”
            “Kita akan dijual.” Jelas perempuan berambut ikal itu.
            “Siapa kau?” tanya Karang.
            “Perkenalkan, namaku Sinta,” Jawab perempuan berambut ikal dengan dagu terangkat, “Dan ini Linda, Nara, dan Victoria.”
            Karang mengacuhkan perkataan Sinta. Ia hanya mendengus tak senang. Mengapa disaat genting seperti ini dia harus menghadapi orang sombong, lebih baik dia bersenang-senang menghabiskan 3 botol wine daripada harus berurusan dengan manusia menjijikkan seperti Sinta.
            “Siapa namamu?” Tanya Mira dengan penuh antusias.
            “Namaku Karang.”
            “Nama yang aneh. Seperti orangnya. Hahaha.” Ucap Sinta membuat Karang jengkel.
            “Perlukah kau menertawai namaku?! Nama itu berkah! Dasar tolol.” Ucap Karang. Tak biasanya ia membela namanya.
            “Berani-beraninya kau mengataiku tolol! Dasar wanita jalang tak tahu diri!” Kata Sinta sambil melempar bogem kearah pipi Karang. Karang berhasil menangkap dan menahan tangan kecil itu dengan cepat. Semua mata terbelalak.
            “Kau kira aku tak berani denganmu? Dasar lemah!” Kata Karang sambil melempar tangan Sinta. Sinta berniat membalas perbuatan Karang tapi Mira sudah melerai mereka. Sinta tak bisa berbuat apa-apa lagi.
            “Sudah hentikan! Kalian berdua mau Aldi dan Dino datang kesini dan memberi bogem mentah untuk kita semua gara-gara hal yang sepele?! Dan kau Sinta, Apa kau tidak puas menjelek-jelekkan kami semua, ha?! Berhenti berlaku seperti itu. Dan aku harap besok bos besar itu akan mengambilmu!” Kata Mira panjang lebar. Sinta hanya mendengus kesal.
            Tiba-tiba cacing di perut Karang berbunyi, “Mira, aku lapar.” Kata Karang polos.
            “Sebentar lagi kita akan mendapat jatah makanan.” Ucap Mira.
            Tak lama kemudian derap sepatu berbunyi sambil mengeret sebuah benda. Pintu ruangan itu terbuka. Dua orang lelaki yang membelakangi cahaya masuk ke dalam ruangan itu. Dan secara cepat Mira memberitahukan bahwa Dino dan Aldi merupakan distributor mereka yang harus mereka patuhi dan jangan sekali pun membantah atau melawan mereka.
            “Ini makanan kalian.” Kata Dino sambil melemparkan satu box berisikan makanan.
            Aldi mendekati Karang yang sedari tadi menunggu makanan, “Nona pendatang baru ternyata sudah bangun. Apakah mimpi nona tadi sangat indah? Tidurmu sangat nyenyak. Aku tak tega membangunkanmu.”
            Karang hampir saja menampar pipi mulus Aldi yang mendekatkan pipinya ke pipi Karang. Karena ia ingat peringatan Mira, ia berusaha menahan diri agar tidak terpancing emosi. Aldi dan Dino keluar dari ruangan itu. Karang langsung mengambil dan membongkar box makanan tersebut.
            “Mana makanan kita? Mana nasi? Mana Ayam? Mengapa hanya ada daun selada dan buah-buahan?” Tanya Karang.
            “Menjelang bos besar datang, kita tak diperbolehkan makan nasi.” Jelas Mira.
            “Apa?! Mereka kira kita ini hewan apa cuma makan buah dan sayur?! Kita tak diperlakukan selayaknya manusia biasa! Tempat macam apa ini!”
            “Sudahlah, makan saja apa yang ada daripada kau mati kelaparan.” Ketus Sinta.
            Mereka lalu melahap makanan yang ada didalam box tersebut. Disela-sela kunyahan Karang, ia masih sempat bertanya tentang kejadian dan tempat yang ia kurang mengerti kepada Mira.
            “Sebenarnya kita mau di apakan sih?” Tanya Karang.
            “Kita mau dijual, Karang. Kau tak mengerti apa yang aku katakan tadi?”
            “Tidak. Tolong ceritakan.”
            Mira menarik nafas lalu ia mulai menceritakan dari awal sampai akhir, “Aku tidak tahu persis bagaimana aku bisa sampai kesini. Yang aku ingat sebelum aku kesini, mereka membiusku dengan cara memberi aku sebotol air mineral ketika aku sedang berjualan. Dulu mereka pelanggan setiaku, dalam waktu seminggu aku sudah mengenal mereka. Dan tepat di hari sasaran, mereka memberiku air mineral yang berisikan bius. Dan aku pingsan, ketika aku siuman, aku sudah berada di ruangan lembab ini bersama mereka berempat. Dulu disini ada enam wanita, tetapi wanita itu sudah terjual.”
            “Dijual?! Siapa yang menjual?! Mengapa kita dijual?!” tanya Karang dengan nada meninggi.
            “Bos besar Aldi dan Dino. Besok dia akan datang. Salah satu dari kita akan terjual. Kita dijual karena mungkin kita akan dijadikan selir, budak, bahkan kadang mereka membeli hanya karena ingin mengambil organ tubuh kita “
            “Ini tak bisa dibiarkan! Kalian mengapa tidak mencoba kabur dan melaporkan semua ini ke polisi saja?! Kalian tahu kan kalau hal ini telah melanggar undang-undang dan melanggar HAM?! Apalagi kita ini wanita, kita dijual! Lihat betapa rendahnya derajat wanita di mata mereka!”
            “Salah satu dari kami pernah mencoba lari dan akhirnya tak bisa kabur. Kakinya ditembak dan darahnya habis, ia meninggal.”
            Karang bergidik ngeri. Ia mulai memikirkan siasat agar esok tak kan menjadi hari yang begitu menyeramkan. Karang ingin riwayat para penjual harga diri wanita tertangkap. Ia tak ingin dijual. Apalagi kalau ternyata sang pembeli itu memutilasinya dan mengambil organ-organ tubuh terpenting Karang. Ia tak bisa membayangkannya.
            Langit masih menggelap, Karang masih terjaga. Ia tak bisa tidur malam itu. Ia masih memikirkan bagaimana ia dan para wanita tak bernasib baik ini bisa keluar dari sangkar setan buas ini. Ia melihat kearah Mira. Mira sudah tidur. Ia melihat satu per satu perempuan yang ada di dalam ruangan itu. Hanya ada seseorang yang belum terlelap. Dia duduk di sudut ruangan itu. Karang mendekatinya.
            “Hei, belum tidur?” Tanya Karang.
            Perempuan itu menoleh lalu menggeleng dan ia menunduk.
            “Oh ya, namamu siapa? Aku lupa. Hehe, namaku Karang.” Katanya sambil menyodorkan tangan. Salamannya tak dibalas.
            “Namaku Victoria.”
            “Kau kenapa murung begitu?”
            “Aku ingin keluar dari sini. Tapi bos tak pernah membawaku pergi dari sini. Aku disini lebih lama daripada mereka semua. Tapi mengapa perempuan yang baru masuk yang keluar diambil bos. Apa karena aku pincang? Apa karena aku pernah berniat kabur maka bos tak pernah membawaku?”
            Karang tertegun mendengar cerita Victoria, “Kau pernah berniat kabur? Dan mengapa kakimu pincang?”
            “Setahun yang lalu, aku dan sahabatku pernah menyiasatkan rencana melarikan diri ini. Persiapan sudah matang. Dan ketika itu sudah subuh, kami sudah keluar dari ruangan ini. Dengan akses jalan ruang bawah tanah, kami bisa keluar dari ruangan ini dengan selamat. Tapi tidak sama halnya ketika keluar dari pekarangan gedung ini.”
            “Gedung?” tanya Karang sambil mengerutkan kedua alisnya.
            “Iya, kita berada di sebuah gedung yang sangat besar disertai halaman yang sangat luas. Di sudut halaman banyak alarm, disetiap ubin rumput halaman tersimpan sensor sepatu. Maka dari itu kami susah melarikan diri.”
            “Kau tahu jalan keluar melalui jalan ruang bawah tanah?”
            Victoria mengangguk. Mata Karang mengisyaratkan bahwa ia meminta petunjuk dari Victoria. Victoria awalnya ragu akan memberikan informasi ini, tapi akhirnya ia percaya pada Karang dan memberikan informasi akses jalan tersebut. Dan Karang mulai menyusun siasat agar bisa melaporkan kejadian ini ke Polisi dan mereka semua dapat bebas kembali.
            “Dan ini yang perlu kau tahu, Gedung ini terletak di daerah pedalaman. Jarak dari Gedung ini ke Kantor Polisi jauh sekali, 2 kilometer. Dan jarang ada kendaraan yang lewat disini. Dan jangan lupa mematikan alarm dan sensor sepatu. Kontaknya berada sebelum kau menemukan pintu keluar dari ruang bawah tanah.”
            Karang hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
            “Bawa ini,” Kata Victoria sambil memberi pisau lipat, “Ini milik almarhumah temanku. Gunakan disaat genting. Jangan menusuk bagian jantung. Jika ada yang mati, kau yang kena hukuman.”
            Karang tersenyum gembira melihat pisau lipat tersebut. Ia melihat jam yang bertengger di dinding bercat putih kusam. Pukul 2 subuh. Sepertinya ia harus mempersiapkan semuanya dari sekarang. Karang membangunkan semua perempuan yang ada dalam ruangan tersebut dan memberitahukan misinya. Dan Karang menanyakan apakah ada yang mau menemaninya. Nihil. Semua orang bungkam. Mereka tak mau mati sia-sia ditembak oleh Aldi dan Dino. Apalagi hari ini bos besar akan datang. Jika bos besar tahu hal ini, mungkin mereka semua sudah tidak ada di dunia ini.
            Pukul 3, Karang sudah bersiap-siap menjelajahi ruang bawah tanah. Petunjuk jalan sudah diberikan oleh Victoria. Karang memanjat jendela untuk keluar dari ruangan itu. Selamat. Ia bisa keluar dari ruangan itu tanpa diketahui oleh Aldi dan Dino. Kini ia mulai memasuki ruang bawah tanah. Jalannya tidak terlalu panjang, dalam waktu 30 menit ia sampai di depan pintu keluar dari ruang bawah tanah. Keadaan mempersulit Karang untuk mematikan alarm dan sensor sepatu. Dibawah sana sangat gelap dan tidak ada sirkulasi udara. Karang meraba-raba dinding untuk mencari kontak listrik alarm dan sensor sepatu. Tak lupa ia melapisi tangannya dengan baju lusuh yang ia pakai, jaga-jaga kalau saja kontak itu bisa menjadi alarm sidik jari.
            Clap! Kontak alarm serta sensor sepatu telah mati. Ia mendekat kearah pintu keluar. Ia mencoba membuka pintunya.
            “Sial. Pintunya dikunci.” Gumam Karang sambil menggoyang-goyangkan pintu tersebut. Ia terus mencoba membuka pintu tersebut. Tetapi tidak bisa. Pintunya digembok dan gemboknya berada di sela-sela gagang. Ia sudah lelah dan bersandar di pintu besi itu.
            Sinar mentari menerpa wajah Karang yang lusuh. Sudah pagi. Karang terlelap ketika mencoba membuka pintu itu. Karang membuka matanya. Ia mencoba kembali membuka pintu itu.
            “Bodoh. Aku kan bawa pisau lipat.” Katanya sambil mengeluarkan pisau lipat.
            Karang memaksa pisau itu sebagai kunci gembok yang bertengger di sela-sela gagang besi itu. Krek. Gembok terbuka. Ia mengintip keluar. Tampaknya aman. Perlahan ia berjalan keluar. Mengendap-endap. Ia melihat keadaan sekitar. Aman. Tidak ada seorang pun di halaman gedung. Karang langsung berlari. Karang salah, Dino ada di sebelah pohon besar yang menutupi dirinya.
            “Hei! Siapa itu?! Ada penyusup!!” seru Dino sambil berlari. Lalu Aldi keluar dari area gedung sambil memegang dua pistol, dan melemparnya kearah Dino. Dino menangkapnya.
            “Jangan lari!” Perintah Aldi. Tapi Karang masih terus berlari. Ia berlari sekuat tenaga. Tetapi tak tahunya Aldi menembak kaki kiri Karang.
            Karang terjatuh. Aldi dan Dino terus berlari. Karang mulai bangkit, dan ia terjatuh. Ia tidak kuat untuk berdiri. Kakinya sangat sakit. Melihat betapa gentingnya situasi ini, Karang melempar pisau lipatnya kearah Aldi. Di dadanya. Aldi jatuh tersungkur. Dan Karang kembali berlari walaupun kakinya pincang. Ia sempat menoleh ke belakang, melihat situasi. Peluru di dalam pistol milik Dino habis. Aldi tak sadarkan diri. Dino ragu akan menelepon bos atau mengejar Karang. Tapi yang ia lakukan adalah membangunkan Aldi yang tak sadarkan diri. Bodoh, pikir Karang. Ia terus berlari, tetapi Dino dapat menyusulnya. Karang terdesak. Ia melihat paku berkarat tergeletak di dekatnya. Karang melempari paku tersebut sampai mengenai dibagian kaki Dino. Dino terjatuh. Dan ia tetap mencoba mengejar Karang. Tapi nasib berkata lain. Karena pagar gedung itu tidak terkunci, Karang dengan mudah dapat keluar dari gedung tersebut. Dino langsung menelepon bosnya.
            Karang sampai di Kantor Polisi. Untung saja ada mobil pick up melewati gedung tersebut. Ternyata warga sekitar tidak mengetahui apa yang terjadi dalam gedung itu. Mereka hanya mengetahui bahwa gedung itu dulu adalah kantor sebuah perusahaan yang sudah bangkrut dan dibeli oleh seorang teman pengusaha tersebut. Setibanya di Kantor Polisi, semua mata tertuju pada kondisi Karang. Baju yang kumal, muka dipenuhi keringat dan ada bercak darah, dan kaki yang berlumur darah. Ia langsung melaporkan dan memberikan keterangan tentang kejadian di dalam gedung tersebut.
            Tak lama kemudian, Polisi dan Karang menuju gedung tersebut. Setibanya di depan gedung, ia melihat ada sebuah mobil hitam mengkilap yang tak lain merupakan milik bos besar. Polisi langsung keluar dan Karang memimpin jalan untuk menuju ruangan lembab itu. Tapi ia tidak tahu jalan dari dalam gedung. Yang ia tahu hanya jalan dari ruang bawah tanah. Agar tidak dicurigai, mereka pun memasuki gedung melalui jalan ruang bawah tanah.
            Dewi Fortuna berpihak pada kebaikan, ternyata bos sudah tahu kalau Karang akan memanggil Polisi dan bos mengurung semua wanita itu di dalam penjara ruang bawah tanah. Polisi langsung menangkap Aldi dan Dino yang tidak berdaya dicambuk bos di depan penjara itu dan tangan bos langsung di borgol ketat. Karang membuka penjara itu dengan kunci yang di pegang oleh bos.
            “Terimakasih. Anda telah membantu kami dalam membasmi kejahatan.” Kata salah satu Polisi.
            Karang hanya tersenyum. Semua perempuan yang ada di dalam penjara itu berhambur memeluk Karang sebagai ucapan terimakasih. Tetapi sebaliknya, Karang mengucapkan terimakasih kepada Victoria. Tanpa Victoria, mungkin semua hal ini tidak terjadi.
            Untuk pertama pertama kalinya, Karang keluar dari gedung dan menghirup aroma kebebasan yang sangat berarti. Kini tak ada lagi penjualan wanita. Ia bebas!



17.24 WIB
6 Januari 2012
(Kurnia Desmilestari)

Senja Kelabu

Senja saat itu seperti senja biasanya. Aku selalu sendiri. Hanya tongkat besi ini yang menemaniku. Tapi dugaanku salah. Ada yang membunyikan bel sepedanya. Bel sepeda yang sangat unik dan gampang diingat. Orang itu terus membunyikan belnya dan berhenti ketika mulutku terbuka dan mulai berbicara.
            “Siapa?” Tanyaku.
            Bel itu tak berbunyi lagi.
            “Aku memang buta, tolong jangan permainkan aku.” Aku kembali bersahut.
            Kudengar suara hembusan nafas dari sebelah kiriku. Bangku taman ini bergerak. Sepertinya seseorang telah duduk disebelahku.
            “Siapa kau?” Tanyaku kembali.
            Orang itu tetap tak menjawab. Aku bingung hendak bagaimana.
            “Baiklah kalau kau tak mau menjawab.” Ujarku kembali.
            Hening. Semilir angin berhembus ketika langit senja menyelimuti itu sangat dingin dan nyaman. Aku memang buta. Aku memang tak dapat melihat indahnya langit senja. Tapi aku bisa merasakannya. Merasakan indahnya langit senja. Ibuku sering bercerita tentang langit senja yang berwarna oranye keemasan. Pasti indah. Tapi dalam kenyataan, aku hanya dapat merasakan tanpa melihat. Ya, itu memang aneh. Tapi intuisiku dapat merasakan keindahannya.
            “Kau pasti dapat melihat langit senja itu ya?” Tanyaku kembali.
            Hanya terdengar tarikan nafas yang panjang dan juga hembusan nafas itu.
            “Beritahu aku betapa indahnya langit senja itu.”
            Tak ada jawaban lagi.
            “Kau pelit berkata-kata ya?”
            Hanya ada bunyi gesekan bangku. Tiba-tiba aku dapat merasakan orang itu bangkit dari posisinya. Dan dengan tiba-tiba juga, orang itu menggenggam pergelangan tanganku dan menyentuh telapak tanganku. Jarinya menari indah di telapak tanganku. Apa maksudnya? Sepertinya ia menuliskan sesuatu ditanganku. Aku mencoba menerka apa maksudnya.
            “Rio?” Ucapku dengan nada tak meyakinkan.
            Setelah mendengar aku mengucapkan sesuatu, ia melepaskan pergelangan tanganku dari genggamannya. Aku mendengar derap langkah sepatu yang menjauh dan akhirnya tak terdengar. Setelah itu terdengar kembali bunyi bel sepeda yang tadi kudengar. Dan lama-kelamaan pun suara bel itu memudar dan meninggalkanku sendiri bersama senja.
J
            9 Februari 2010

            Senja kali ini agak terasa panas. Orang-orang mengatakan sekarang mulai memasuki musim angin timur, akan ada kemarau artinya. Beberapa kali aku harus menyeka bulir-bulir keringat yang ada disekitar wajahku. Dibalik suhu yang memanas, aku bisa menghirup sejuknya udara terselip. Bel sepeda itu kembali berbunyi.
            “Rio?” Aku memanggil sang pemilik bel sepeda itu.
            Ya, Rio adalah orang yang duduk disebelahku ketika senja itu. Senjalah yang mempertemukan kami. Tapi entah mengapa, ia pelit sekali berbicara. Sejak pertama senja mempertemukan kami, ia hanya memberitahukan namanya saja. Ketika aku bertanya kepadanya, selalu saja ia menjawab dengan tarikan nafas dan hembusannya. Tapi, dibalik itu semua aku yakin Rio bukan orang jahat. Dan aku yakin seratus persen dia adalah orang yang baik. Buktinya dia mau menemaniku menikmati senja. Ya, walaupun tanpa berbicara. Dan Rio mulai duduk disebelahku. Ia menarik nafasnya panjang-panjang.
            “Hai..” Sapaku.
            Ia tak menjawab. Tapi ia memegang punggung tanganku. Aku rasa bukan refleks, ia cukup lama memegang tanganku. Aku seperti orang mengidap penyakit jantung koroner, hatiku berdebar sangat kencang. Aku berusaha menutupinya agar ia tak mendengar suara degupan jantungku.
            “Oh ya, kau tahu? Februari ini terkenal dengan warna pink.”
            Ia melepaskan tangannya. Aku merasa sedikit sedih. Aku mendengar suara gerak-gerik disebelahku. Rio mencari posisi nyaman untuk duduk.
            “Aku tak begitu menyukai warna pink. Tapi bila dihubungkan dengan suatu hal, aku menjadi gila dengan warna pink itu.”
            Dan seperti biasa, yang aku dengar hanyalah suara hembusan nafas yang panjang. Dan disaat seperti ini aku mulai membacotria sesuka hatiku. Kalau dipikir-pikir aku mengobrol sendiri dengan ego yang sangat tinggi. Ya, aku mengobrol sendiri. Karena aku tak tahu Rio sedang mendengarkanku atau tidak. Mungkin ia terlelap ketika mendengar ceritaku. Aku seperti ibu yang mendongeng kepada anak yang berumur dua tahun.
            “Kau tahu tanggal 14 Februari kan?” Tanyaku kepadanya.
            Lagi-lagi ia mengeluarkan suara hembusan nafas yang cukup panjang.
            “Yeah, 14 Februari identik dengan hari kasih sayang. Aku terkadang bingung. Apakah kasih sayang perlu dikhususkan pada hari itu? Bukankah kita umat manusia memang harus memiliki kasih sayang disetiap saat?” Tanyaku bertubi-tubi.
            Ada sesuatu yang bergetar di bangku kami. Rio mulai mengatur posisinya lagi.
            “Dan mengapa harus di hari itu? Memangnya Romeo menyatakan cinta pada Juliet pada tanggal itu? Lalu manusia lainnya mengikuti kisah mereka? Eits, dasar bodoh. Romeo dan Juliet itu kan hanya tokoh dari karangan sastrawan Inggris terkenal. Hahaha.” Aku terkekeh pelan.
            Aku bisa merasakan bangku ini menjadi ringan dengan bangkitnya Rio dari posisi awalnya. Rio berdiri. Dan hawa dingin pun menusuk dada. Intuisiku berkata ada yang tidak beres. Aku mulai mendengar derap sepatu yang bergerak. Aku mencoba meraih tangan Rio.
            “Kau mau pergi?” Tanyaku.
            Hening. Jika ia pergi, aku akan merasa sangat sedih. Padahal aku masih ingin bersamanya. Berbagi cerita—atau bahkan bercerita sendiri melakukan monolog tanpa memperhatikannya. Aku memang egois. Ia menggerakkan tangannya berusaha agar aku dapat merenggangkan genggamanku. Aku merenggangkan sedikit genggamanku.
            “Aku bukan melarangmu untuk pergi—tapi, temani aku sebentar saja. Aku merasa—kesepian. Maaf. Aku tak bermaksud, tapi aku ingin bersamamu.” Kataku dengan tersendat-sendat.
            Dan aku melepas genggamanku dari tangannya yang dingin. Hening. Lalu aku mendengar derap langkah menjauhiku. Dan aku rasa Rio yang berjalan menjauhiku. Dan tak biasa aku mendengarkan suara frontal dari sepeda. Aku mendengar orang menaiki sepeda dengan tergesa-gesa dan membunyikan belnya. Itu sudah pasti Rio. Aku menunduk lemas. Aku memang ditakdirkan hidup sendiri. Tak ada yang mau hidup bersamaku—bahkan keluargaku sendiri. Aku merasa tidak adil. Mengapa disaat seperti ini orang-orang merayakan hari kasih sayang tanpa melihat aku? Melihat aku, gadis buta yang tak memiliki siapa pun. Mereka hanya memberi kasih sayang kepada orang yang bagiku sudah merasa cukup untuk diberi kasih sayang. Bagaimana dengan aku?
            Beberapa menit kemudian aku mendengar suara jeritan keras disertai suara klakson yang hampir membuat orang mati hidup lagi. Sangat keras. Dan selang suara itu, aku mendengar suara benturan yang sangat keras. Keras sekali sampai aku bisa mendengar sampai detilnya. Aku terkejut. Aku bisa merasakan orang berlari kearah jalan raya.
J
            14 Februari 2010
            Sudah empat lembar senja kulewati tanpa Rio. Ya, aku seperti sediakala. Pendiam dan kesepian. Aku dapat merasakan hawa kasih sayang di senja kali ini. Aku merasakan hanya seorang diri. Dan hari ini pun sudah kulalui sendiri. Sepertinya hari ini menjadi lembar kelima aku merasakan senja tanpa ‘Rio’. Tetapi..
            Kring.. Kring.. Suara bel itu. Ya, aku mengenalnya. Itu suara bel Rio. Akhirnya ia datang juga setelah menghilang beberapa saat.
            “Jia?” Seorang lelaki memanggil namaku. Aku harap itu Rio. Rio yang selama ini kukenal pelit mengeluarkan suara.
            “Ya?”
            Aku dapat mendengar decitan kaki bangku ini yang berseteru dengan bumi.
            “Jadi kau yang bernama Jia?”
            “Iya. Kau Rio kan? Kau lupa denganku?”
            “Tidak. Aku bukan Rio. Rio itu adikku.”
            “Tapi yang sering bersamaku itu Rio kan? Aku memang buta, tolong jangan permainkan aku.”
            Ia terkekeh pelan, “Mana mungkin aku bisa berbohong di depan gadis manis sepertimu? Pantas saja adikku sering keluar di saat senja akhir-akhir ini.”
            “Lantas, apa maksudmu datang kemari?” Tanyaku ketus.
            Hening. Aku dapat merasakan hawa yang tak begitu enak. Dingin menusuk. Lelaki itu menarik napasnya lalu mulai membuka mulut.
            “Ini, ada titipan surat dari Rio,” Katanya sembari memegang pergelangan tanganku untuk memberikan isyarat bahwa aku harus mengambil suratnya, “Ia membuatnya dengan alat bantu sehingga surat itu disertai huruf timbul.”
            Kegelisahanku terhapus. Aku mulai meraba-raba surat itu dan menyobek salah satu sisi amplop yang menyelimuti surat tersebut.
            “Tabahlah.” Kata lelaki itu sembari mengusap punggung tanganku. Sama seperti Rio, dia pernah memegang punggung tanganku. Disaat ingat sesuatu hal tentangnya, sebuah perasaan kecil tiba-tiba mencuat seluruh dinding hatiku. Hatiku menjadi terasa sakit mengingat hal itu. Aku mulai mengambil sebuah kertas yang dilapisi oleh kertas amplop. Aku mulai merabanya.
            Untuk Jia.
            Jia, maafkan aku. Maafkan aku tak pernah membalas sedikitpun ocehanmu. Maaf. Aku memang egois. Jia, maafkan aku. Seharusnya aku berada disebelahmu saat ini. Memberimu kasih sayang. Jia, maafkan aku yang tak pernah memberitahukanmu tentang keberadaanku. Maaf karena aku bisu. Jia, aku ingin menebus semua kesalahanku. Tapi aku tak tahu bagaimana. Sekali lagi, Jia, tolong maafkan aku yang  mencintaimu dan pergi tanpa kembali.
            Aku menyempatkan membuat coretan kata ditengah keadaanku yang semakin memburuk. Tuhan merubah rencanaku. Ini takdir. Seharusnya aku memang benar-benar menemanimu saat itu, tapi aku pergi. Aku bukan bermaksud meninggalkanmu, tapi aku ingin mengecek kesehatanku yang akhir-akhir ini menurun. Dan ketika takdir itu pun datang, aku hanya bisa pasrah. Aku tahu, ini akan berujung pada nyawa. Sebuah truk menghantamku. Aku benar-benar menyesal. Setelah kejadian itu kesehatanku semakin menurun. Andai saja waktu masih bisa berputar kembali. Mungkin saat ini aku akan duduk seperti biasanya mendengarkan kau mengoceh sesuka hati. Aku menyukai itu. Tapi aku tak bisa membalasnya. Dan sekarang Tuhan telah menyerukan kepada malaikatnya untuk menjemputku. Aku tak dapat berkata apa-apa. Hanya satu yang ingin kukatakan langsung kepadamu, bahwa aku mencintaimu. Selamanya.
            Refleks aku membuang surat itu. Surat macam apa itu?! Mana mungkin Rio telah tiada?! Rio pasti masih ada! Perlahan air mataku berjatuhan. Kantung mataku yang besar sudah tak mampu untuk membendung semua air yang menggenangi pelupuk mataku. Lelaki disebelahku hanya bisa berkata “Tabah” atau “Terima kenyataan” lalu menepuk pundakku.
            “Rio, aku juga mencintaimu.” Ucapku disela tangisan.
            Ya, aku rasa bukan hanya lima lembaran menjadi senja kelabu. Tapi selamanya.



10 cerita cinta terbaik lomba menulis cerita cinta mercy fm
(Kurnia Desmilestari)