-Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program
Simulasi Kompetisi Menulis-
Kaki Kinan seperti tidak jejak. Ia seperti berjalan
di atas awan. Melayang. Dave membalikkan tubuhnya lalu tersenyum. Ia mendekati
Kinan yang masih mengumpulkan seluruh tenaganya. Kinan menarik napasnya
panjang. Tapi ada yang aneh dengan Dave.
“Apa kabar?” Sapanya.
“Baik. Kamu?”
“Ya, seperti ini.”
“Maafaku gak
bisa nemenin lama-lama karena aku harus kerja di cafe yang ada disana.”
“Bagaimana kalau kita kesana?”
Kinan manggut-manggut. Jelas ia menyetujuinya. Dan kali
ini ia tak tahu harus bersyukur atau merasa bersalah karena tak bisa menjaga perasaan
yang ia ingin buang selama ini. Di sepanjang jalan Dave terus bercerita tentang
jurusan kuliah yang sedang ia tempuh saat ini. Kadang ia juga menanyakan kabar
Kinan dan keluarganya serta bagaimana kehidupannya. Rasanya sudah lama ia tidak
mengobrol panjang dengan Dave. Ia merindukan itu dan ia ingin waktu berhenti
semenit saja. Semenit saja untuk menikmati suasana yang ia rindukan.
Mereka sampai di cafe itu dan Kinan kembali
melanjutkan pekerjaannya setelah Dave memesan minuman. Kinan segera
membuatkannya. Tak lama kemudian ia kembali ke meja dimana Dave berada. Tapi
Dave sudah tidak ada disana. Kinan mengedarkan pandangannya. Ia mendengar
alunan nada piano dan seseorang menyanyikan sebuah lagu. Itu bukan Dave. Itu
pemain piano yang dibayar oleh pihak cafe. Kinan panik. Ia mengeluarkan
ponselnya dan mencoba menghubungi Dave tapi terlambat.
“Kinan,” Pemain piano itu memanggilnya, “Seseorang
menitipkan ini.”
Ia segera mengambil secarik kertas yang diberikan
pemain piano itu. Tulisan Dave. Ia mengernyitkan dahinya.
Kinan, maaf aku
terlalu sering meninggalkanmu. Aku ingin melihat wajahmu sebentar saja tadi.
Aku hanya diperbolehkan diam-diam keluar sepuluh menit dengan suster yang
merawatku. Maaf aku baru bilang ini sekarang, leukimia menyerangku. Maaf juga
aku baru menjelaskan alasannya sekarang mengapa aku sering menjauhimu
tiba-tiba. Jangan marah tiba-tiba denganku. Aku mencintaimu.
Kinan melongo. Sesuatu yang sebentar memang lebih terasa
menyakitkan kadang. Dadanya sesak
seperti mau meledak. Ia benar-benar ingin meledak sekarang. Seperti awan hitam
yang tiba-tiba meledak, menjatuhkan ribuan titik hujan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar