Selasa, 17 Februari 2015

Sebentar?



-Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program Simulasi Kompetisi Menulis-
                Kaki Kinan seperti tidak jejak. Ia seperti berjalan di atas awan. Melayang. Dave membalikkan tubuhnya lalu tersenyum. Ia mendekati Kinan yang masih mengumpulkan seluruh tenaganya. Kinan menarik napasnya panjang. Tapi ada yang aneh dengan Dave.
                “Apa kabar?” Sapanya.
                “Baik. Kamu?”
                “Ya, seperti ini.”
                “Maafaku gak bisa nemenin lama-lama karena aku harus kerja di cafe yang ada disana.”
                “Bagaimana kalau kita kesana?”
                Kinan manggut-manggut. Jelas ia menyetujuinya. Dan kali ini ia tak tahu harus bersyukur atau merasa bersalah karena tak bisa menjaga perasaan yang ia ingin buang selama ini. Di sepanjang jalan Dave terus bercerita tentang jurusan kuliah yang sedang ia tempuh saat ini. Kadang ia juga menanyakan kabar Kinan dan keluarganya serta bagaimana kehidupannya. Rasanya sudah lama ia tidak mengobrol panjang dengan Dave. Ia merindukan itu dan ia ingin waktu berhenti semenit saja. Semenit saja untuk menikmati suasana yang ia rindukan.
                Mereka sampai di cafe itu dan Kinan kembali melanjutkan pekerjaannya setelah Dave memesan minuman. Kinan segera membuatkannya. Tak lama kemudian ia kembali ke meja dimana Dave berada. Tapi Dave sudah tidak ada disana. Kinan mengedarkan pandangannya. Ia mendengar alunan nada piano dan seseorang menyanyikan sebuah lagu. Itu bukan Dave. Itu pemain piano yang dibayar oleh pihak cafe. Kinan panik. Ia mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Dave tapi terlambat.
                “Kinan,” Pemain piano itu memanggilnya, “Seseorang menitipkan ini.”
                Ia segera mengambil secarik kertas yang diberikan pemain piano itu. Tulisan Dave. Ia mengernyitkan dahinya.
                Kinan, maaf aku terlalu sering meninggalkanmu. Aku ingin melihat wajahmu sebentar saja tadi. Aku hanya diperbolehkan diam-diam keluar sepuluh menit dengan suster yang merawatku. Maaf aku baru bilang ini sekarang, leukimia menyerangku. Maaf juga aku baru menjelaskan alasannya sekarang mengapa aku sering menjauhimu tiba-tiba. Jangan marah tiba-tiba denganku. Aku mencintaimu.
                Kinan melongo. Sesuatu yang sebentar memang lebih terasa menyakitkan kadang.  Dadanya sesak seperti mau meledak. Ia benar-benar ingin meledak sekarang. Seperti awan hitam yang tiba-tiba meledak, menjatuhkan ribuan titik hujan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar