Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti
program #FF2in1 dari Tiket.com dan nulisbuku.com #TiketBaliGratis.
“Joni mau nembak Diva!” Fio dengan mulut embernya
membeberi satu kelas dengan kalimat itu, “Di lapangan!”
Semua siswa di kelas itu kasak-kusuk. Saat itu memang
sedang istirahat, jadi mereka bebas melakukan apa saja. Berbagai ocehan keluar
dari mulut mereka. Maklum, baru kelas 1 SMA jadi masih dikatakan labil.
“Itu dia!” Fio berteriak sambil menuju lapangan.
Dan seisi kelas itupun berlari kearah lapangan. Mereka
bersiul menggoda. Diva sendiri merasa jengkel dengan situasi itu.
“Kamu ngapain ngajak aku kesini?”
Joni menggaruk-garuk tengkuknya. Keringatnya mulai turun
dari pelipisnya, “Itu, anu, aku mau,” Joni tak bisa menjelaskan.
“Mau apa?”
“Aku mau, itu, kamu mau jadi pacarku gak?” Joni yakin
suaranya tidak terlalu besar, setidaknya Diva bisa mendengar suara itu, tapi
manusia-manusia yang berada di sekitarnya malah menyoraki dan menggodanya
terus-terusan.
Diva mendengus. Ia mengedarkan pandangan ke sekitarnya, “Aku
belom diizinin pacaran,” Diva juga yakin kalau suaranya tidak terlalu besar
karena tidak ingin menyakiti perasaan Joni, tapi lagi-lagi mereka merespon
dengan berlebihan.
“Lagian, kamu nembaknya norak.”
Joni melongo.
“Keliatan banget masih labilnya. Norak. Sumpah norak.”
Joni menutup mulutnya.
“Kalau kamu suka aku, kamu pasti tahu kalau aku benci
keramaian.”
Bel masuk berbunyi. Diva meninggalkan Joni yang masih
terdiam disana. Joni melengos, dan teman-temannya kembali menggoda dengan lagu
1000 Tahun Lamanya milik Tulus.
“Ya, mungkin ia
masih belum bisa menerima orang lain di kehidupannya. Jatuh diawal tidak
terlalu menyakitkan kok, Jon! “ Hiburnya dalam hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar