Selasa, 17 Februari 2015

Rindu



-Flash Fiction ini ditulis untuk mengikuti program Simulasi Kompetisi Menulis-
               
                Kinan melihat ponselnya yang baru saja berdering. Sebuah pesan masuk, dan ia telah membukanya. Awalnya ia hanya mengira pesan itu dari ibunya atau kakaknya. Ternyata ia salah. Pesan tersebut dari Dave. Ia sudah lama sekali tidak mendengar kabar dari Dave. Terakhir kali ia mendengar suara Dave di hari ulangtahunnya, Dave mengirimkan sebuah voice note yang sangat singkat tapi tetap menyentuh. Hal itu membuat perasaan Kinan semakin tak menentu. Ditambah pula dengan pesan singkatnya hari ini.
                Dari : Dave
                Aku hari ini akan ke Bandung. Mau menghabiskan sisa tiga jamku bersama?
                Kinan belum menjawabnya. Ia masih ragu untuk menjawab pesan itu. Kinan dan Dave dekat sejak mereka di bangku SMA hingga kini, mereka menduduki bangku kuliah. Kinan menyukai Dave tapi ia tidak tahu bagaimana dengan Dave. Semua teman dekat Kinan tahu itu, bahkan mereka mendukung Kinan untuk tetap berjalan. Tapi sekarang, mereka bertindak sebaliknya. Mereka malah mematahkan semangat Kinan yang masih terombang-ambing angin status yang sebenarnya tak kunjung jelas.
                “Sudahlah, lupakan saja dia. Dia dulu pernah menajuhimu, Kinan. Jangan bertindak bodoh,” Thom membeberi dari panggilan seberang sana.
                “Tapi,”
                “Kau menyukainya, dia tidak tahu karena kau tak pernah memberitahunya.”
                Kinan diam. Ia mematikan panggilan itu. Dan ponselnya kembali berdering.
                Dari : Dave
                Pukul tiga ini aku sudah bebas. Bisa menemuiku di sekitaran Braga?
                Braga! Ia sedang ada di Braga! Kinan cepat-cepat membuka celemek restoran dimana ia bekerja paruh waktu dan meminta izin keluar sebentar. Perutnya seperti ada beribu kupu-kupu yang beterbangan. Ia tidak tahu bagaimana detail rasanya. Hanya saja ia sangat penasaran bagaimana dengan Dave sekarang setelah satu setengah tahun mereka tidak bertemu. Walaupun Dave pernah menjauhinya, ia tetap memiliki rasa yang sama terhadap Dave. Dan ketika ia melihat punggung Dave, ia baru tahu perasaan apa yang mengaduk perutnya tadi. Rindu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar