Sabtu, 31 Maret 2012

Robogenoman [Part 10-END]








Title : Robogenoman [part 10—end]
Author : Minnia
Genre : Romantic Fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Jung Jinyoung, Gong Chansik
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)


Minhyun POV
                Badanku lemas. Sebuah benda yang panas melingkari pergelangan tanganku. Tanganku kaku, pengaruh dari cuaca yang dingin. Kepalaku pusing. Aku sepertinya baru saja mati suri. Badanku sangat amat lemas. Aku mulai sadar dan menggenggam benda panas tadi. Hangat. Aku bisa merasakan sesuatu yang berbeda dengan benda ini. Aku merasa seperti ada yang memflashback otakku ke masa lalu. Makam, seorang namja, aku duduk di taman dekat makam. Namja itu menciumku. Aku tak sadarkan diri. Aku mulai mengerjap-ngerjapkan mataku dan menyebutkan sebuah nama.
                “Jinyoung-ah….”
                “Minhyun? Kau sudah sadar? Syukurlah!” Kata seseorang. Aku mengenal suara ini. Gongchan.
                “Gong…. Gongchan? Uhukk..” Aku terbatuk.
                Benda panas itu menggenggam tanganku. Erat sekali. Aku merasa nyaman. Aku mulai mengatur nafasku lagi dan otakku menyerbu untuk mengucapkan sebuah nama itu kembali, “J… Jinyoung..”
                Hening. Gongchan berdiri tegap menghadap seorang namja. Ya, namja itu. namja yang aku inginkan. Badanku masih lemah. Terlebih lagi di daerah sekitar tangan kananku merasa sedikit perih. Seperti ada luka disitu. Genggaman itu semakin erat dan menjalar keseluruh lenganku. Mataku sudah membuka hampir sempurna untuk melihat wajah itu. wajah itu mendekat. Ia bersimpuh. Aku memegang wajahnya. Meraba pipinya yang terasa panas. Aku tersenyum.
                “Jinyoung-ah.. Aku juga menyukaimu.” Aku mengatakan itu dengan suara terputus-putus. Aku melihat kearah bola matanya yang berwarna coklat tua. Bola mata itu makin lama menjadi berwarna merah. Lensa bola matanya berubah menjadi warna merah.
                Gongchan berdehem, “Sebaiknya kita cari jalan keluar dari sini. Kita terkunci.” Katanya dengan wajah yang menunduk dan nada suara yang rendah.
                Aku hendak bangkit. Tapi tak bisa. Jinyoung membantuku bangkit dari posisi tidurku. Ia menyenderkan punggungku pada lengannya yang panas. Gongchan memandang ruangan ini. Ruangan yang hampir sama dengan laboratorium. Aku dimana? Aku tak pernah ke ruang ini. Bagaimana aku bisa sampai diruangan ini? Ruangan ini lembab dan akses oksigennya sedikit. Bahkan tak ada satu pun ventilasi di ruangan ini. Nafasku makin terasa sesak. Aku mencoba untuk mencari dinding yang bisa aku sandarkan. Aku kasihan melihat Jinyoung yang sedari tadi menopang badanku yang berat.
                Gongchan memandang celah lemari ruangan ini. Ia melihat baik baik. Dan ia pun mulai mendorong lemari itu. Jinyoung membantunya. Sepertinya lemari itu sudah lama tak dibersihkan. Debu-debu itu beterbangan ketika digerakkan. Membuat nafasku semakin sesak. Sedikit demi sedikit lemari itu bergeser dan efek yang aku rasakan adalah cahaya banyak yang menyerbu ruangan ini. Aku merasa silau. Sesekali aku dan Gongchan terbatuk karena debu itu. Dibalik lemari itu ada jendela.
                Gongchan mengeret kursi besi yang letaknya tak jauh dari lemari itu. Ia menaiki kursi tersebut dan mencoba membuka terali besi yang memenjarakan kami disini. Berhasil. Terali besi itu dapat dibuka dengan gampang. Bautnya renggang. Tapi masih saja ada penghalang untuk keluar dari ruangan ini. kaca bening itu, kaca itu terletak rapi dan tak memberikan sedikitpun celah. Gongchan tak kehilangan akal. Ia melihat seseorang berlari dari rumah ini dengan membawa tangga.
                “Baro-ya!” Teriaknya.
                Terdengar suara gesekan besi. Seseorang itu menaiki tangga dan segera melepaskan kaca dari luar. Sungguh perangkap yang bagus. Dan penyelamat itu melongokkan kepalanya. Aku mengenalnya. Cha Sunwoo. Ia terkejut melihat kearahku. Gongchan menghadap kearahku dan Jinyoung.
                “Setelah aku cek, larutan kimia disini lebih banyak larutan elektrolit. Larutan yang dapat menghantarkan listrik. Dan beberapa ada yang penyusun molekulnya seperti bahan bakar. Jadi.. apa bila terkena ledakan, maka ruangan ini akan… terbakar.”
                Jinyoung tampak tertegun. Gongchan menaiki atap lemari yang tak jauh darinya, “Jinyoung-ssi, aku akan keluar dulu. Setelah itu kau bantu Minhyun untuk keluar. Bisa?”
                Jinyoung mengangguk. Gongchan mencoba untuk keluar melewati jendela itu. jendela itu tak terlalu besar tapi dapat memuat badan Gongchan. Kini Gongchan sudah berada diluar ruangan ini. Ia berdiri diatas tangga itu. Aku bangkit dan mencoba berjalan kearah kursi itu. Jinyoung memapah jalanku karena tubuhku masih sangat lemah. Ia mengangkat tubuhku sampai mencapai jendela. Gongchan menyambut tubuhku. Perlahan aku mengeluarkan kakiku satu persatu. Gongchan kembali turun dari tangga itu.
                Srett.. pecahan kaca di jendela itu mengoyakkan kulit kakiku. Perih. Aku mencoba menahan rasa sakit itu ketika melihat Jinyoung turun dari kursi itu. Ia mundur dari letak kursi itu. aku hendak berbicara, tapi ada yang mencekat tenggorokanku. Susah sekali berbicara. Hening. Aku dapat mendengar suara hantaman. Seperti orang yang sedang berkelahi. Tiba-tiba terdengar suara mobil polisi datang. Suara sirine yang amat bising.
                “J.. Jinyoung-ah..” Panggilku.
                Ia mengangkat wajahnya dan melihat kearahku. Kini lensa bola matanya benar benar berubah menjadi warna merah.
                “Ayo kita keluar.”
                Ia tersenyum tipis. Lalu menggelengkan kepalanya.
                “Jinyoung-ah, ayo kita keluar.” Kini aku sudah dapat berbicara secara normal walaupun suaraku sedikit parau.
                Darah dikakiku mengalir, “Minhyun-ah.. kakimu.. kakimu luka.” Gongchan mengatakan sesuatu. Aku tak dapat meresapinya.
                “Jinyoung-ah.. ayo kita—“
                Jinyoung berjalan mendekat kearahku dan menaiki kursi tersebut. Betapa senangnya aku mendapati Jinyoung akan keluar bersamaku. Ia memegang wajahku. Ia menutup matanya. Ia terlihat tenang. Sangat tenang. Ia meraba halus pipiku yang dingin. Tangannya semakin panas. Ia membuka kelopak matanya.
                “Maaf.” Katanya dengan nada suara yang hampir tercekat.
                “Maaf?”
                “Maafkan aku. Seharusnya ini memang tak pernah terjadi. Ini memang sulit. Aku lupa dengan semua kejadian itu. Maafkan aku—“
                “Jinyoung-ah.. kau menangis?”
                Ia tetap tenang dan tetap memegang wajahku.
                “Tapi, mengapa air matamu berwarna hitam?”
                “Pergilah.” Ia melepaskan tangannya dan turun dari kursi itu.
                “Jinyoung?!”
                “Pergilah. Aku akan menetap disini.” Katanya sambil tersenyum tipis. Air mata aneh itu malah mengalir deras.
                Luka di kakiku semakin perih. Darah semakin banyak mengalir deras. Aku menjadi lemas karena darahku banyak yang keluar.
                “Minhyun—“ Panggil Gongchan. Aku tak menghiraukan.
                “Jinyoung! Apa yang kau lakukan?! Ayo kita pergi!” kini aku berteriak dan tak lama kemudian air mataku jatuh. Dadaku terasa sesak. Perih. Aku marasakan perih. Entahlah asalnya darimana.
                “Maafkan aku Minhyun. Pergilah.”
                Dadaku kembali terasa sesak. Tangisanku makin menjadi.
                “Maafkan aku. Aku tak bisa lagi memberikan bahuku. Maafkan aku—“ Ia menunduk, “Aku sedikit mengingat sesuatu—“
                Badanku terasa sudah tak mampu berdiri lagi. Badanku lemas. Aku terasa tercabik-cabik. Kepalaku pusing. Pandanganku mengabur. Dan tak terasa Gongchan telah menopang tubuhku. Aku sudah tak dapat bergerak lagi. Gongchan membantu aku turun dari tangga ini. Pandanganku mengabur, tetapi aku masih dapat mendengar suara itu.
                Duarrr…. Seperti bunyi ledakan yang lumayan besar. Perlahan aku dapat melihat api berkobar-kobar dan asap keluar dari dalam ruangan itu melalui jendela tadi. Kini mataku sudah dapat melihat secara sempurna dan aku berteriak sejadi-jadinya.
                “JINYOUNG!!!”
                Aku mencoba berdiri walaupun kakiku sudah tak sanggup menahan beban berat badanku. Sesekali aku terjatuh. Aku menaiki tangga itu. Gongchan menarik lenganku. Aku menepis. Aku kembali menaiki tangga itu. Berjubel asap keluar dari celah jendela itu membuat pandanganku semakin mengabur dan jatuh dari tangga itu. Gongchan menangkap tubuhku yang lunglai.
                “Minhyun-ah.. sudahlah..” Katanya. Terdengar suara sirine mobil pemadam kebakaran yang membuat tangisku pecah seketika.
                Aku menangis sejadi-jadinya. Gongchan mendekapku. Aku memukul pundak Gongchan, melampiaskan apa yang tak bisa kuucapkan. Aku terus meraung-raung melihat api berkobar keluar dari jendela itu. Tubuhku lama-kelamaan menjadi lemas dan aku kembali tak sadarkan diri .

J

                15 tahun kemudian….
                Hari ini tepat dimana umurku sudah 32 tahun. Ya, aku sudah tua. Sore ini seperti biasanya aku mengunjungi makam ibuku. Aku duduk di pinggir makam ibuku yang masih terlihat bersih. Sepertinya baru dibersihkan tadi siang. Aku menunduk. Berdoa. Semoga ibuku tenang disana.
                “Amma… sekarang aku benar benar sudah tua. Umurku sudah 32 tahun.”
                Aku menunduk dan membalikkan badan. Terdapat batu nisan yang sangat familiar. Aku menunduk lagi. Tiba-tiba air mataku jatuh. Aku mulai terisak.
                “Gomawo..” Kataku masih dengan suara parau, “Terimakasih atas semuanya. Terimakasih atas bahumu itu. Terimakasih sudah mau menyelamatkanku. Terimakasih atas lukaitu. Terimakasih karena luka yang kau beri aku dapat menemukan tempat dimana mengeringkan luka itu. Terimakasih.. Terimakasih..” Air mataku mulai terjun bebas.
                Isakan tangisku mengecil ketika seorang anak laki-laki menghampiriku. Ia memandang aneh kearahku. Ia mendekat, aku tersenyum kearahnya. Ia memegang wajahku dengan kedua tangan mungilnya. Mimik wajahnya berubah drastis, kini wajahnya menjadi muram.
                “Amma menangis?” Tanyanya.
                Aku memeluk anak itu dan mendudukkannya dipangkuanku, “Tidak.”
                “Amma jangan berbohong. Amma ini siapa?” Tanyanya sambil menunjuk makam yang aku tangisi tadi.
                “Kau mau tau? Ayo kita mendoakan ahjussi ini dulu.”
                Aku menggenggam kedua tangan anak ini, anak kandungku sendiri.
                “Tuhan, jaga dia disana ya. Walaupun dia bukan manusia, tapi dia pernah mengisi lembaran dihidupku. Tuhan, aku sangat merindukan Jung Jinyoung.” Kini air mataku benar benar jatuh.
                Anak itu berdiri lagi. Ia mengelap air mataku yang jatuh, “Sudah lah amma, jangan menangis lagi ya. Bahuku masih terlalu kecil untuk menopang kepala amma.”
                Aku terkejut mendengar anakku berbicara seperti itu. Ia menarik tanganku, “Ya! Gong Jinyoung! Mengapa kau menarik lenganku?”
                “Appa sudah menunggu kita di bangku taman makam itu—Hei! Itu ada Baro Ahjussi!”
                Anakku berlari kearah Gongchan dan Gongchan menyambutnya dengan sebuah pelukan yang hangat. Gongchan menggendongnya.
                “Annyeonghaseyo, Ahjussi.” Kata anakku.
                “Annyeong, Jinyoung! Kau seperti robot!” Kata Baro dengan suara yang hampir mirip dengan robot. Aku terkekeh pelan.
                “Ya! Mengapa setiap bertemu denganku ahjussi selalu berkata seperti itu?” Anakku melipat kedua lengan di dadanya. Itu sangat lucu.
                “Itu karena appamu pernah membuat sebuah robot yang bernama Jinyoung.”
                “He? Jinjjaya appa?”
                Gongchan mengangguk. Jinyoung terus mengoceh. Jinyoung terlalu pintar dibanding teman-teman sebayanya. Usianya baru tujuh tahun. Kecerdasannya dapat dilihat dari ia berkata-kata. Aku bangga memiliki anak sepertinya. Aku melihat jam. Sudah pukul lima. Sepertinya aku harus mengunjungi rumah appa untuk merayakan hari ulangtahunku yang ke tiga puluh dua tahun.
                “Sudah sore, sepertinya kami akan mengunjungi rumah mertuaku.” Ucap Gongchan.
                “Baiklah. Aku juga akan pulang untuk menemui istri tercintaku. Hahaha.” Baro terkekeh. Setelah menikah ia terlihat lebih banyak tertawa dibanding masa SMA dulu.
                “Kalau begitu kami pamit ya. Sampai jumpa!” Kataku.
                “Oh ya, Minhyun-ssi!”
                Aku menoleh kearah Baro, “Saengil Chukkahamnida!”
                Aku terkekeh pelan, “Hahaha, Gomawo.”
                Baro hanya tersenyum tipis. Aku, Gongchan, dan anakku—Jinyoung, kembali berjalan menuju mobil kami. Aku dapat merasakan semilir angin yang sejuk dan menenangkan. Angin itu dapat menyembuhkan luka itu. Aku mencintai angin itu. Ya, hanya Gong Chansik seorang.

-END-

Minggu, 25 Maret 2012

The Scary Game [Part 1]





Annyeooong Readers!!! author minnia datang lagi membawa fanfict baru (?) cerita kali ini diilhami dari novel teenlit indonesia yang admin baca~~ castnya Infinite dan Choi Hanna. kebetulan Choi Hanna ini temen author dan cinta sama infinite~ yaudah deh happy reading yaaa ^^

Title : The Scary Game [Part 1]
Author : Minnia
Genre : Mistery romantic
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Jang Dongwoo, Kim Sunggyu.


Hanna POV
                “Ayo cepat majukan lima langkah!” Teriakku di telinga Sungyeol. Lamban sekali kerjanya.
                Aku, L, Hoya, dan Sungyeol saat ini sedang bersantai di pondok mini taman belakang rumahku. Kami sedang bermain monopoli. Ya, hal ini lah yang kami sering lakukan jika libur semester kuliah. Semenjak kuliah, kami sering disibukkan dengan kegiatan kami sendiri-sendiri. Walaupun satu universitas dan satu fakultas, tetap saja aktifitas kami berbeda. Contohnya saja aku, semenjak aku masuk universitas, aku sudah diajar oleh kakak tiriku, Nam Woohyun, mengelola perusahaan milik ayahnya. Ya, itu cukup rumit sih, tapi apa boleh buat. Hoya dan Sungyeol sepertinya disibukkan dengan kegiatan di club tenis yang mereka ikuti, sedangkan L alias Myungsoo dia lebih aktif menjadi pecinta alam dan memasuki hutan hutan liar di sekitar Korea. Bahkan dia sering keluar negeri hanya untuk mendaki gunung atau menjelajah hutan. Sungguh hobi yang aneh.
                “Aku bosan.” Ujar Hoya sambil menyenderkan punggungnya ke kayu penyangga dinding pondok ini.
L mengikuti gerakannya, ia mengibaskan rambutnya, “Aku juga.”
Aku memandang ketiga sahabatku satu persatu. Mukanya memang tampak sangat suntuk. Ya, aku baru ingat kalau kami semua sudah beranjak dewasa, dan pastinya kami sudah beranjak dari permainan anak kecil yang kami sering lakukan dulu ketika masih duduk di bangku sekolah dasar. Sungyeol memandang kelangit.
“Hari ini sangat panas ya,” ujarnya sambil mengelap bulir keringat yang jatuh dari pelipisnya, “Terik sekali.”
Aku mengerti maksudnya. aku melihat kearah sepoci jus jeruk yang sudah sekarat. Aku mengambilnya dan masuk ke dalam rumah. Aku mengambil persediaan jus jeruk di dalam kulkas dan menuangkannya ke dalam poci yang nyaris tak berisi itu. dan tak lupa aku menaruh es yang dapat menjaga suhu dingin jus jeruk itu. aku segera keluar.
“Minumlah..” Kataku sambil meletakkan kembali poci itu.
Dengan penuh nafsu Sungyeol mengambil poci itu dan menuangkan jus jeruk ke dalam gelasnya. Ia meneguk habis jus jeruk itu. disusul dengan Hoya dan L. kami pun hanyut dalam pemikiran masing masing masing. Aku melihat kearah jam tangan yang kupakai, baru pukul duabelas siang. Waktu hari ini masih sangat panjang.
“Aku bosan.” Hoya mengulangi perkataannya tadi.
“Bagaimana kalau kita bertanding tenis nanti sore?” Tanya Sungyeol. Wajah Hoya berubah menjadi sangat semangat.
“Boleh.” Jawab L cepat. Mereka semua melihat kearahku.
“A-apa?” Tanyaku.
“Kau mau kan? Jadi kita bisa bermain double.” Goda Sungyeol.
Melihat antusias wajah mereka, akhirnya aku menganggukkan kepala dengan canggung. Ya, walaupun tidak terlalu mahir memainkan raket tenis, aku harap nanti aku bisa bersenang-senang dengan ketiga sahabatku ini.
Drrt.. Drrt..
Kedua ponsel itu berdering, ponsel L dan ponsel Sungyeol. Mereka menekan tombol hijau.
“Yeoboseyo?” Suara sungyeol memulai pembicaraan.
“Hm?” Suara L membuka pembicaraan juga.
Mereka berdua segera menjauh dari pondok ini. aku dengar L hanya mengatakan “Ya” “Sebentar lagi” bahkan hanya dengan anggukan saja. Terkadang L lucu juga, mana mungkin orang yang menelponnya melihat ia menganggukkan kepalanya? Hahaha. Berbeda dengan Sungyeol, ia sangat mahir berbicara, maksudku ia senang berbicara. Diantara kami berempat, dialah yang sering mengoceh. L selesai menerima telponnya.
“Nanti sore jam berapa?” Tanya L pada Hoya. Hoya hanya menaikkan bahu sebelahnya.
Sungyeol menghampiri kami, “Bagaimana kalau pukul 4? Di lapangan Woolim ya.”
Kami semua mengangguk. Lapangan Woolim alias lapangan universitas kami terbuka untuk umum. Sungyeol mengembil tasnya dan memasukkan barang barang yang ia keluarkan dari tasnya. Ia meresleting tasnya.
“Sungjong sudah menelponku. Aku harus pulang. Dia sendirian dirumah. Nanti sore jangan lupa ya!” Kata Sungyeol sambil melambaikan tangannya dan keluar dari area rumahku. Kami hanya meratapi punggung Sungyeol yang semakin hilang.
“Sepertinya aku juga harus pulang,” Kata L sambil bangkit dari posisi duduknya, “Sunggyu hyung sudah menyuruhku pulang.”
L melambaikan tangannya dan kembali menghilang. Kini hanya tinggal aku dan Hoya disini. Sunyi. Sepertinya Hoya belum mau pulang. Ia kembali meneguk jus jeruknya lagi. Aku melihatnya.
“Wae?” Tanyanya.
“Aniya, kau tak pernah berubah.” Kini aku merubah posisiku menghadap dirinya.
“Maksudmu?”
“Ya, kau tetap Hoya yang dulu. Kau tak pernah berubah. Selalu begini.”
“Bukankah bagus jika aku tetap menjadi Hoya yang dulu?”
“Memang, tapi, sikap cuekmu tak pernah berubah.”
Hoya diam. Ia menunduk.
“Hahaha, sudahlah. Tidak usah terlalu dipikirkan.”
Ia mengangkat wajahnya. Lalu tersenyum. senyumannya sangat manis. Aku baru kali ini melihat Hoya tersenyum manis.
“Nyanyikan sebuah lagu.”
“He?”
“Nyanyikan sebuah lagu. Aku minta. Aku sudah lama tak mendengarkan kau bernyanyi.”
“Baiklah—“
Hoya mulai menarik nafasnya. Ia melantunkan sebuah lagu jazz modern yang sangat terkenal, I’m Yours. Suaranya mengalir lembut di telingaku. Semakin dewasa, suara Hoya semakin bagus. Aku pun hanyut terbawa dalam suasana yang sangat indah ini. Hoya berhenti menyanyikan lagu itu. ia melihat kearah pintu masuk kerumahku. Nam Woohyun. Kakak tiriku sedang berdiri di tengah pintu tersebut sambil memandangi kami. Ketika aku melihat kearahnya, seulas senyuman turun dari ujung bibirnya. Aku membalas senyumannya. Aku kembali fokus kepada Hoya. Ia menunduk.
“Sepertinya aku harus pulang sekarang.” Katanya sambil bangkit.
Aku hanya melongo melihat sikapnya yang berubah drastis. Dengan cepat ia meninggalkan aku dan melambaikan tangannya. Dan lama kelamaan pun punggungnya hilang di depan mataku. Aku masuk kedalam rumah. Mendapati Woohyun oppa sedang menonton televisi. Aku menghampirinya.
“Bagaimana dengan hari ini?” Tanyaku.
“Tidak terlalu buruk. Konsumen sudah mulai meningkat.”
Aku hanya menganggukkan kepalaku.
“Lalu bagaimana denganmu hari ini?” Ia menanyaiku.
“Maksudnya?”
“Kau senang bertemu dengan sahabatmu hari ini?” Tanyanya sambil mengendurkan dasi yang melilit kerah kemejanya.
“Ya begitulah.”
“Begitu apanya?”
“Ya begitu, agak canggung. Padahal dulu ketika kami masih anak-anak kami sering tertawa sambil berlarian di taman.”
“Hahaha. Kau merindukan saat itu?”
“Sangat merindukannya.”
Woohyun oppa mengelus kepalaku. Inilah bedanya kakak tiri yang sesungguhnya. Aku merasa ia kakak tiri paling baik di seluruh dunia. Ayahnya menikahi ibuku ketika umurku baru empat tahun. Ia menjagaku dengan baik ketika orangtua kami pergi untuk mengurusi bisnis diluar kota maupun Negara lain. Tapi, sekarang aku juga harus merelakan Woohyun oppa menjadi pengganti ayah yang mengurusi kantor kantor cabang disekitar Korea. Aku jadi jarang bertemu dengannya. Tertawa dengannya saja merasa kekurangan. Ia bangkit dari posisi duduknya dan mengambil tas kerjanya. Lalu ia menaiki tangga. Ia terhenti.
“Nanti sore apa kau ada acara?” Tanyanya.
“Aku sudah ada janji dengan mereka untuk bermain tenis di Woolim. Wae?”
“Ah aniya.” Katanya sambil terus menaiki anak tangga itu satu persatu. Dan Woohyun oppa pun menghilang dari hadapanku.
Aku segera ke kamarku untuk menyiapkan hal hal yang perlu untuk nanti sore. Semua sudah kumasukkan ke dalam ransel pink kesayanganku. Samar samar aku dapat mendengar suara Woohyun oppa yang sedang berbicara sendiri. Mungkin ia sedang menelpon seseorang.
“Ne. Ne. Nanti kukabari kau akan melakukan apa saja. Tapi jangan lupa tujuan kita.” Katanya. setelah itu aku tak mendengar suaranya lagi.

-To Be Continue-

Robogenoman [Part 9]





Title : Robogenoman [part 9]
Author : Minnia
Genre : Romantic fantasy
Cast : Shin Minhyun (OC), Jung Jinyoung, Gong Chansik
Support Cast : All member B1A4 (Shin Dongwoo, Sandeul, Cha Sunwoo)

Jinyoung POV
-flashback-
                Gongchan berjalan perlahan-lahan mendekati kami—aku dan Profesor Sandeul. Seperti ada yang aneh dengan Profesor Sandeul. Tapi aku tak dapat mengetahuinya—tunggu, apa itu dibalik saku celananya? Aku seperti pernah melihat itu. Amplop surat berwarna biru muda. Aku menoleh pada Gongchan yang semakin mendekat kearah kami. Matanya memberikan isyarat was was. Aku mundur sedikit karena Profesor Sandeul makin lama memundurkan langkahnya.
                “Oh ya, hari ini perlombaan nobel robot inovasi terbaru di Busan bukan?” Tanyanya. Gongchan memberhentikan langkahnya.
                “Iya. Kau mengikutinya?”
                “Aku sedang menyiapkan sebuah robot terbaru. System operasinya sudah siap tapi..”
                “Wae?”
                “Aku belum sempat meletakkan system operasi itu kedalam tubuh si robot.”
                “Kau terlambat.” Kata Gongchan dengan senyum sinisnya.
                Aku seperti melihat dua orang yang sedang memulai perang. Tatapan mata Gongchan sangat sinis dan ia bernafas dengan cepat. Uap uap hembusan nafasnya mengelilingi sudut wajahnya yang lonjong. Aku mulai mencium hawa tidak beres—intuisiku berkata seperti itu. Semakin Profesor Sandeul bergerak, semakin terlihat apa yang tersembul dibalik saku celananya satu lagi. Sebuah remote. Bentuknya hampir sama dengan remote control milikku. Dan benar, aku mulai mencium sesuatu yang tidak beres. Aku melayangkan pandangan kearah Gongchan. Aku mencoba menyuruhnya mundur dengan tatapan mataku. Tapi tak bisa. Gongchan terus maju. Mataku tak bisa berkata-kata. Hah! Dasar bodoh. Aku sangat bodoh. Aku hanya sebuah robot. Mana mungkin melakukan apa yang manusia lakukan. Mataku mana mungkin bisa berbicara layaknya manusia biasa. Ketika aku mulai membuka mulut, Gongchan sudah berada tepat di depan Profesor Sandeul. Ini semua sudah terlambat.
                “Silahkan ma…” Kata Profesor Sandeul lalu beralih tempat menjadi dibelakang Gongchan.
                “Arrrrrrgh!” Jerit Gongchan ketika Profesor Sandeul mendorongnya sampai mengenai tubuhku.
                Aku dan Gongchan terjerembab di dalam laboratorium milik Profesor Sandeul. Tubuhku dan tubuh Gongchan berbenturan. Mungkin sangat keras sampai sampai kami berdua jatuh di lantai dingin ini. Kepala Gongchan berbentur dengan lantai. Dan tak lama kemudian muncul warna biru di sekitar dahinya. Profesor Sandeul mengeluarkan sesuatu dari saku celananya—remote control tadi. Ia mengarahkannya padaku. Dan menekan suatu tombol merah yang besar.
                “Hahahaha! Dasar anak muda yang bodoh! Selamat menempuh hidup baru! Kalian akan mati terpanggang oleh robot buatanmu, Gong Chansik. Hahahahaha!” Ia tertawa keras lalu menutup pintu laboratorium.
                Aku bangkit dan terlambat, pintu itu sudah tertutup rapat. Gongchan bangkit dan menekan-nekan hendel pintu itu. Terkunci. Aku dapat merasakan tubuhku makin lama makin terasa hangat dan lama-kelamaan tubuhku menjadi panas. Aku mengangkat kedua tanganku. Aku melihat ujung jemariku yang mulai berubah menjadi berwarna merah.
                “Hei! Buka pintunya! Hei!” Teriak Gongchan sambil mencoba mendobrak pintu itu. tapi sepertinya ia terlalu lemah untuk mendobrak pintu besar itu.
                Ting… terdengar suara besi jatuh tak jauh dari kami. Dan terdengar derusan air. Seseorang menendang pintu besar itu dari luar. Tendangan itu mengakibatkan kepala Gongchan terbentur lagi karena ia sedang bersandar ke pintu besar itu.
                “Percuma! Kunci ruangan ini sudah aku buang ke tempat pembuangan akhir! Aku sudah membuangnya ke toilet! Hahahaha! Dasar bocah bodoh!”
                “Apa yang kau lakukan kepadaku?!” Kini aku mulai berteriak.
                “Hei robot! Kau diam saja! Kau itu makhluk paling bodoh yang pernah kujumpai! Memory dan atom itu aku yang melakukannya! Hahaha!”
                Aku tertegun, “Apa yang kau lakukan pada memory box-ku?!”
                “Hanya menghapus beberapa rencana jahatku yang kutata secara rapi, dan menyelipkan sebuah bom atom yang sangat kecil. Dan atom itu tak dapat diketahui oleh program apapun kecuali program yang kumiliki! Hahaha!” Ia terus tertawa, “Sebenarnya aku mengisi rencana jahatku dan kau yang melakukan itu semua. Ketika aku sudah mendapatkan apa yang aku mau, aku menghapus memorymu.”
                Aku mundur beberapa langkah. Aku tak percaya apa yang ia katakan. Punggungku terbentur sesuatu. Aku tak melihatnya. Aku hanya melihat Gongchan yang terus mendobrak pintu itu. Perlahan aku mulai merasakan ada yang bergetar dari kepalaku.
                “Hahahaha! Tak lama lagi kalian akan menjadi daging panggang yang sangat lezat! Selamat tinggal!” Katanya sambil tertawa lagi. Kali ini tertawa bukan hal yang sangat menyenangkan. Tawaan itu malah menjadi hal yang sangat menakutkan.
                Brakk. Seperti ada suara hentakan pintu diluar sana.
                “Mana Gongchan?! Mana Jinyoung?!” Kata suara itu. suara itu sangat familiar. Aku mengenalnya. Profesor Shin Dongwoo.
                “Sebentar lagi mereka akan mati. Hahaha!”
                “Dasar keparat!”
                Buk! Buk! Buk! Brakk!! Aku mendengar dengan jelas suara hantaman itu. Aku menutup kelopak mataku. Mataku memanas. Aku mencoba membalikkan badan dan mendapatkan sebuah kotak yang sangat besar. Kotak ini memuat untuk satu orang. Aku mencoba membukanya. Dan betapa terkejutnya aku mendapati seseorang sedang terbaring dengan alat ditangannya. Aku membuka alat tersebut. Dan Gongchan menyusulku untuk melihatnya.
                “Minhyun?!” Katanya. Ia mengguncang-guncang tubuh Minhyun, “Minhyun! Bangun!”
                Makin lama gerakan tangan Gongchan makin kuat. Ia makin kuat mengguncang tubuh Minhyun. Aku masih mendengar perseteruan antara Professor Shin Dongwoo dan Profesor Sandeul.
                “Percuma! Hari ini adalah hari dimana robot itu akan ditunjukkan! Kau tak akan bisa mengikutinya! Kau tak memiliki robot itu!” Teriak Profesor Shin Dongwoo.
                “Robotku adalah anakmu! Robotku lebih pintar daripada robotmu yang rapuh!”
                Bukk! Suatu hantaman mengenai tubuh seseorang, “Dasar! Mengapa kau selalu menggangguku?! Bisakah kita bersaing secara sehat?!”
                “Percuma. Robotmu sebentar lagi akan mati dilalap api. Bom itu akan segera meledak beberapa saat lagi.”
                Terdengar suara hantaman disambut dengan deru angin. Gongchan masih megguncang-guncang tubuh Minhyun dengan tangannya. Air mata Gongchan menetes. Ia menangis.
                “Minhyun-ah, bangunlah..” Katanya dengan suara parau, “Minhyun! Kau mendengarku kan?!”
                Aku menepuk pundak Gongchan, “Sudah lah jangan menangis. Kita harus memikirkan bagaimana caranya agar Minhyun dapat sadar.”
                Ia mengelap air matanya. Ia lalu mengguncang tubuh Minhyun. Aku mencekat tangannya, “Bukan begitu caranya. Kasihan Minhyun. Ia pasti sedang lemah.”
                Aku memegang tangan Minhyun. Gongchan memegang dagu Minhyun. Lalu ia memencet hidung Minhyun. Ia mulai mendekatkan mulutnya dengan mulut Minhyun. Sepertinya itu hal yang tepat. Memberi nafas buatan atau membuatnya tersedak. Wajah Gongchan semakin mendekat kewajah Minhyun. Entah mengapa dadaku terasa sakit. Sakit sekali. Terasa nyeri. Dan tiba-tiba ada yang menggenggam tanganku. Walaupun genggamannya tak erat, aku dapat merasakannya. Makin lama genggaman itu semakin erat. Aku menoleh kearah tanganku. Dan kembali melihat kearah Gongchan. Sedikit lagi. Jarak wajah mereka hanya tinggal sedikit saja. Aku menepuk pundak Gongchan dan ia melihat kearahku.
                “Kenapa?” Tanyanya.
-To Be Continued-
Next Chapter..
“J… Jinyoung..”
“J.. Jinyoung-ah..”
“Maaf?”
“Maafkan aku Minhyun. Pergilah.”
“JINYOUNG!!!”