Senin, 29 Oktober 2012

RANDOM KPOP GAME!


     I found an interesting game on another site…These are the rules:
1. Open your library (iTunes, Media Player, iPod, etc.)
2. Put it on shuffle
3. Press play
4. For every question, type the song that’s playing
5. When you go to a new question, press the next button
6. YOU HAVE TO TYPE THE SONG NO MATTER WHAT.
- just for kpop songs -
Dibawah ini pertanyaannya dan harus dijawab oleh lagu lagu yang kamu mainin. nah jawaban yang dibawah itu jawaban aku ^^

·         If someone asks you ”How are you?” what would you say?
The Named I loved – Onew .-.

·         How do you describe yourself?
Only tears – Infinite LOOOL

·         What are you looking for in a man/woman?
WOWOWOW – SHINee yeah!

·         How do you feel today?
So Into U – F(x)

·         What is your goal?
MAMA – EXO -__-

·         What is your motto?
In Your Eyes – Onew
 
·         What do your friends think of you?
That XX - GDragon
 
·         What do your parents think of you?
Lonely – 2NE1

·         What are you thinking often?
 Hot Summer- F(x)
 
·         How much do 2+2?
Listen To You - Kyuhyun

·         What do you think about your best friend?
Missing You like crazy - Taeyeon

·         What is the story of your life?
 Baby I’m Sorry – B1A4 (what theeee)

·         What do you think when you see your crush?
Hope is a Dream that Never sleep – Kyuhyun <3

·         What would you dance at your wedding?
Bittersweet – Super Junior <3
 
·         What would be the song for your funeral?
What is Love – Exo (?)
 
·         What is your hobby?
Time – Woohyun (Omo)  

·         What is your phobia?
You Wouldn’t answer My calls – 2AM
 
·         What is your secret?
Zig Zag – f(x)

·         What do you want now?
Tipping Point – B1A4 .-.
 
·         What do you think about your friends?
I Need You – K.Will

·         What is your most precious memory?
I Don’t Need a Man – Miss A


Hahahaha Asik kan? ^^ 


Minggu, 23 September 2012

Me, You, and Him [Part 3]


Title : Me, You, and Him [part 3]
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon

                Eunna POV
                Jinyoung meletakkanku di pinggiran pantai ini. Dia duduk disebelahku. Nafasnya sengal. Hah, siapa suruh dia menggendongku tadi? Ini bukan salahku kan?
                “Ya! Badanmu itu kecil tapi berat juga ya.”
                Aku memajukan beberapa senti bibirku. Ia terkekeh. Ia mendekatkan jarak duduknya denganku. Tangannya menyangga tubuhnya yang kurus, ia meletakkan tangannya dibelakang tubuhnya. Aku masih melihat wajahnya yang sedang menatap matahari yang hampir terbenam. Lehernya yang jenjang serta rahangnya ynag terlihat keras membentuk wajahnya yang terlihat sempurna. Dan itu semua disempurnakan oleh bias-bias siluet matahari senja yang berwarna orange. Ia melihatku tiba-tiba.
                “Gotcha! Kau ketahuan sedang melihatku.”
                Aku menggigit bibirku lalu menekuk lututku. Aku sudah mulai kedinginan karena aku masih memakai baju basah. Tiba-tiba saja tangan Jinyoung sudah meraih tubuhku dari belakang. Ia menyampirkan handuk yang tebal ke tubuhku.
                “Kedinginan ya?” Katanya dengan tatapan yang menggodaku. Aku tersenyum tipis.
                “Iya. Kau tidak kedinginan? Mana handukmu?”
                “Tidak ada. Handuk hotel banyak yang di laundry, jadi hanya ada satu.”
                “Kalau begitu kau yang pakai saja.” Kataku sambil menyampirkan handuk itu dibahunya.
                Ia melihat kearahku. Menatap wajahku tajam, “Aku tidak ingin kau terkena flu.”
                “Aku juga tidak ingin kau terkena flu.”
                Ia menghela nafasnya lalu membuka lipatan handuk itu satu persatu lalu menyampirkan satu sisi ke bahunya dan menyampirkan satu sisi lagi kebahuku, “Kalau begitu kita akan seperti ini terus. Setuju?” Ia tersenyum kearahku. Manis sekali.
                Aku mengangguk.
                “Ayo kita hitung detik-detik terakhir matahari terbenam.”
                Kami berdua memandang kedepan, melihat kearah Matahari yang sudah mulai untuk tenggelam, menggantikan siang menjadi malam.
                “Lima—“ Kata Jinyoung sambil menggenggam tanganku.
                “Empat—“
                “Tiga—“
                “Dua—“
                “Saranghae, nae Eunna!” Teriak Jinyoung.
                Dan perlahan matahari tenggelam, meninggalkan jejak siluet yang sangat indah. Jinyoung menggerakkan kepalaku perlahan ke bahunya. Bahunya sangat nyaman. Aku ingin selalu berada disampingnya dan meletakkan kepalaku dibahunya.
                “Saranghae. Jeongmal saranghae.” Bisiknya lagi. Aku hanya tersenyum tipis.
                Jinyoung mencium ubun-ubunku. Aku melihat kewajahnya yang sangat dekat denganku. Aku tidak tahu hatiku sudah berapa kali mencelos. Hatiku meloncat-loncat senang dan berdegup sangat kencang.
                Jinyoung tersenyum kearahku dan semakin mendekatkan wajahnya dengan wajahku. Hidung kami bertemu dan saling bergesekan. Nafas kami bertabrakan. Ia memiringkan wajahnya.
                “Saranghae.” Ia mengecup bibirku perlahan dengan penuh rasa cinta. Nafasnya terdengar sengal. Tanganku bergerak kearah tengkuknya dan memijatnya perlahan untuk mereflekskan dan membuatnya tidak terlalu berburu-buru.
                “Haaaaaaaaai! Kalian sedang apa?!” Suara sialan yang menggelegar itu sedikit membuat kami terkejut dan melepaskan bibir kami yang bertautan.
                “Kalian tau kan ini tempat umum?” Tanya Jinwoon sambil mengeluarkan mimik wajah yang pura-pura tegas.
                “Untung saja disekitar sini hanya ada aku. Kalau ada orang lain akan kubilang kepada ibumu, Jinyoung-ssi.”
                “Maaf, kami hanya terbawa suasana.” Kataku sambil mengurut punggung Jinyoung.
                “Dan kau merusak suasananya, Jinwoon-ssi.” Kata Jinyoung yang mengambil tanganku lalu menggenggamnya.
                “Mwo? Lebih baik aku cegah perbuatan kalian itu daripada kalian akan melakukan sesuatu hal yang tidak diinginkan. Euw.”
                “Sepertinya makan malam kita sudah datang. Lebih baik kau makan disana, Jinwoon. Biar aku yang bayar.”
                “Jinjjayo?!”
                Jinyoung hanya mengangguk. Dan dengan secepat kilat Jinwoon sudah berada diatas meja restoran yang jaraknya tak jauh dari sini. Jinyoung menepukkan tangannya beberapa kali untuk memanggil pelayan yang tadi menyajikan makanan untuk Jinwoon.
                “Tolong makanan yang kupesan dibawa kesini, untuk dua porsi.”             
                Pelayan itu mengangguk lalu membawa makanan. Dan kami melahapnya.
J
                “It’so wonderfull tonight, Oh beuatiful night.” Jinyoung menyanyikan beberapa bait lagu yang pernah ia tulis.
                “Malam ini bulannya indah ya.” Kataku sambil menatap bulan.
                “Bintang malam ini yang lebih indah.”
                “Bo? Bulan yang paling indah. Lihat! Bentuknya bulat dan bersinar antara redup dan terang. Bukankah itu indah?”
                “Seindah-indahnya bulan, bintanglah yang lebih indah. Walaupun bentuknya tidak dapat kita definisikan, tapi bintang memancarkan cahayanya sendiri. Tidak seperti bulan yang hanya mengambil cahaya matahari.”
                Aku tertegun.
                “Dan bagiku kau itu seperti bintang. Walaupun terlihat kecil dan tak bisa diprediksi, kau bisa memberikan cahayamu sendiri kepadaku.” Katanya sambil tersenyum.
                Aku tersenyum tipis lalu memukul mukul pundaknya pelan. Ia meletakkan kepalaku di dadanya.
                “Jinyoung, detak jantungmu sangat cepat.”
                “Hah? Kau mendengarnya ya?”
                Aku melepaskan tangannya yang berada di kepalaku, “Iya.”
                Aku kembali meletakkan kepalaku di bahunya. Sesekali Jinyoung menyanyikan lagu ciptaannya dan aku hanya mendengar sambil tersenyum tidak jelas. Ingin sekali rasanya tidak mengakhiri hari ini yang begitu indah. Dan tiba-tiba dadaku sesak. Apakah aku mungkin bisa terpisah darinya? Engh, aku ini suka memikirkan yang macam-macam. Ck, ini sudah diluar pemikiran seseorang. Bagaimana mungkin aku bisa memikirkan itu.
                “Jinyoung-ah.”
                “Hm?”
                “Disetiap pertemuan pasti ada perpisahan kan?” Tanyaku sambil mengangkat kepalaku.
                Ia melihat kearahku, “Kenapa kau bertanya seperti itu?”
                “Entahlah. Perasaanku sedang tidak enak. Cepat jawab pertanyaanku.”
                Dia menunduk, “Kupikir, disetiap pertemuan memang ada perpisahan.”
                “Aku tidak ingin berpisah denganmu.”
                “Apa kau fikir kita akan berpisah? Tidak. Kita tak akan pernah terpisah. Sekalipun kita terpisah, hati kita tetap bertemu. Kita tidak mungkin berpisah. Kau harus tau itu.”
                “Jinyoung, mengapa kita harus bertemu walau akhirnya kita akan berpisah?”
                “Sudah kubilang kita tidak akan berpisah!” Nada suaranya meninggi, “Maaf. Aku juga tidak ingin berpisah darimu. Sudahlah. Jangan kau pikirkan tentang itu. Jangan khawatir, kita tidak akan terpisah.” Jinyoung tersenyum tipis.
                Aku tersenyum sedih melihatnya. Entahlah. Perasaanku sedang tak menentu. Ck, ternyata selama kau memiliki kemampuan untuk berfikir tentang apapun dan dapat disambungkan dengan perasaan itu terkadang tidak enak. Antara benar dan tidak benar. Aku sering merasakan hal itu. Dan semoga saja apa yang Jinyoung katakan benar, bahwa aku tak akan pernah terpisah olehnya.



Minggu, 16 September 2012

The Scary Game [Part 7]


Title : The Scary Game [Part 7]
Author : Minnia
Genre : Mistery, Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.

                Hanna POV
                Wajah Hoya sangat panik dan terkejut tadi. Aku tak tahu mengapa ia mengeluarkan mimik wajah seperti itu ketika aku baru saja mengucapkan kata terimakasih kepada L. Yah selama ini aku rasa Hoya tidak pernah bersikap aneh. Tapi mengapa kali ini ia bersikap sangat aneh?
                L menyingkirkan daun-daun kering yang sudah mulai berjatuhan disekeliling tenda kami. Ia menyingkirkan itu semua menggunakan ranting pohon yang sangat besar. Ia menyatukan daun-daun itu tepat di satu tempat yang sama dengan ranting-ranting kering tadi. Dan ia mulai membuat api lagi dan membakar daun-daun itu. Aku menghampirinya.
                “Sini aku bantu.” Aku mengambil dua ranting kecil di dekatku dan mulai menggesek-gesekkan.
                “Hati-hati jangan sampai matamu kelilipan lagi.”
                “Baik, komandan!” Ucapku sambil memberi hormat kepadanya.
                L terkekeh pelan, “Cepat buat api. Sebentar lagi Hoya pasti datang.”
                Aku mengangguk dan terus menggesek-gesekkan ranting pohon itu.
                Beberapa saat kemudian keluar percikan api dari ranting yang aku gesekkan tadi. Aku sedikit terkejut dan meniup percikan api itu. Ah bodoh. Seharusnya aku langsung melemparkan ranting ini ke tumpukan daun dan ranting kering yang ada di depanku. Aisss. Aku akan mencobanya lagi. Aku terus menggeseknya sampai timbul percikan api.
                “L! L! Myungsoo!” Kakiku menendang-nendang kaki L agar ia sadar bahwa aku sudah ketakutan memegang ranting yang berapi ini.
                “Apa—Hei apinya! Cepat lemparkan!”
                Aku semakin panik ketika api itu dengan cepat menjalari ranting yang kupegang. Percikan apinya ada yang mengenai tanganku, dan itu rasanya sangat perih. Ah sial, mengapa hari ini aku sering merasakan perih di sekitar tubuhku? Argh. Dan ketika mendengar L berteriak memerintahkanku agar melempar ranting itu, aku segera melemparkannya ke depan, mengenai ranting dan daun yang kering dan perlahan merambat menjadi api yang lumayan besar.
                “Tanganmu tak apa?” Tanya L sambil melongokkan kepalanya.
                “Sepertinya ada luka bakar sedikit. Tak apa lah nanti juga akan sembuh.”
                “Panas?”
                “Ya iyalah! Kau kira api itu sedingin es?” Jawabku ketus.
                L menaikkan alisnya sebelah, “Ck, kalau begitu aku akan mengambilkan sedikit air untuk membasuh tanganmu. Tunggu disini saja.”
                L berjalan kearah tenda dan mengambil tasnya. Aku dapat mendengar suara rogohan tangannya yang mengobrak-abrik tasnya.
                “Hanna-ssi! Kau meminum semua airku.” Kata L dengan nada yang agak turun dan lemas.
                L berjalan mendekatiku sambil membawa botol airnya yang kecil.
                “Kau hanya membawa sebotol air? Hanya 600 ml lagi! Aiss kau kira berkemah hanya bisa meminum 600 ml?!” Kataku sambil menyalahkannya.
                “Ya! Mengapa kau menyalahkanku?!” Bibirnya mengerucut, “600 ml itu sudah cukup. Apalagi air di sungai itu bisa diminum. Jadi untuk apa aku membawa banyak air?! Dan mengapa kau menghabiskan airku?!”
                “Kau yang memberikanku air, kan? Salahmu sendiri.”
                “Ck, omong-omong Hoya kenapa lama sekali mengambil airnya?”
                “Mungkin ia memancing beberapa ikan untuk kita.”
                “Kau ini tak pernah berubah, selalu saja membuat alasan yang tak bisa diterima oleh logika. Tidak masuk akal.”
                “Kalau kau tidak mau percaya kau turun saja ke sungai sana!”
                L mendecak kesal lalu mengambil botol air minumnya.
                “Kau mau mengambil air ya? Bisakah kau mengambilkan air juga untukku?” Tanyaku dengan  nada manja sambil menimang-nimang botol minumku yang berwarna pink.
                L melihat sekilas kearah botol minumanku dan berjalan lagi.
                “Hei hei kalau kau mengambilkan air minum untukku, aku beri sepertiganya untukmu. Lumayan kan.”
                L merampas botol minum yang kupegang. Aku dapat mendengar dengan baik decakan kesal yang baru saja keluar dari mulut L. ah biarlah. Yang penting dia mau mengambilkanku air minum. Suara pecahan daun kering yang aku dengar perlahan mengecil. Artinya L sudah berjalan lumayan jauh dariku.
                Ck, sudah 5 menit aku menunggu L dan Hoya yang sedang mengambil air. Perlahan langit yang menudungi hutan ini berubah warna menjadi agak kemerahan. Hari sudah menjelang sore. Perlahan juga daun daun banyak berguguran. Semilir angin dingin sudah mulai menghiasi awal musim semi ini.
                Sreeeekkk.
                Suara daun kering yang pecah itu kembali terdengar. Tidak dari depan. Tapi dari arah belakang. Sejak kapan sungai yang di depanku pindah tempat jadi di belakang? Aku menoleh. Tidak ada apa-apa. bulu romaku sedikit meremang.
                “Ah anginnya dingin sekali.” Ujarku sambil menggesek tanganku ke tengkuk leherku.
                Bunyi itu kembali datang.
                Sial. L belum juga kembali. Aku sudah mulai takut dengan bunyi-bunyi aneh itu. Belum lagi angin yang sangat mendukung suasana seperti ini. Api yang aku buat tadi juga makin lama semakin mengecil. Sial. Argh aku makin malas untuk membuat api lagi.
                Daun kering yang terinjak itu kembali terdengar. Tidak hanya sesekali seperti tadi yang hanya sesekali. Bunyinya semakin mendekat. Aku menolehkan kepalaku. Tidak ada apa-apa lagi. Argh jangan bilang aku hanya berhalusinasi. Tidak, aku mendengarnya. Aku berdiri dan berusaha mengetahui darimana asal suara itu. Aku berjalan menjauhi tenda tempat kami beristirahat. Ada bayangan hitam yang panjang di belakang pohon sana. Ah mungkin Hoya atau L sedang mengerjaiku.
                “Hoya, L, entahlah siapa diantara kalian, percuma kau bersembunyi di belakang pohon itu. Siluet senja yang membuat bayangan tubuh kalian semakin panjang, aku melihatnya. Aku tidak bodoh. Hahaha.” Ucapku sambil berjalan perlahan mendekati pohon itu.
                Secuil kain berwarna hitam menyembul dari balik pohon itu. Diantara mereka berdua siapa yang memakai baju berwarna hitam? Aku mencoba mengingat-ingat siapa diantara mereka yang memakai baju berwarna hitam.
                Cesss, api itu sudah mati. Aku kembali ke ranting-ranting yang masih belum di bakar. Baiklah, membuat api lebih baik daripada menebak-nebak siapa yang ada dibelakang pohon itu.
                Brakkk. Sebuah botol air minum jatuh tepat dihadapanku. L jatuh bersimpuh dengan tatapan bodohnya. Tatapannya kosong. Bulir bulir keringat jatuh dari pelipis menuju rahangnya yang keras. Bibirnya bergemetar.
                “Kau kenapa?” Tanyaku sambil mendorong tubuhnya yang benar-benar lunglai. Ia terjatuh.
                “Dibawah sana,”
                “Ada apa?”
                “Ada darah.”
                “Lalu? Sejak kapan kau takut dengan darah?”
                Dia melihat kearahku, “Bukan itu masalahnya. Tapi,”
                “Tapi apa?”
                “Hoya menghilang.”
                Glekk. Benarkah Hoya menghilang? Tenggorokanku serasa tersumbat oleh uang koin. Aku tak bisa bernafas. Pikiranku kacau. Hoya menghilang dan L baru kembali. Jadi yang tadi itu siapa? Aku memandangi L. Ia sama sekali tidak menggunakan pakaian yang berbau warna hitam. Kaus berwarna orange serta celana kain berwarna coklat. Orang yang tadi bersembunyi bukan L. Juga bukan Hoya.
                “Jadi bagaimana?” Tanyaku.
                “Aku tidak tahu. Hari sudah terlanjur sore. Sebaiknya kita harus bermalam disini dan besok kita akan mencari Hoya.”
                Aku mengangguk.
                Setelah Sungyeol mengalami retak tulang kering itu membuat suasana sepi. Dan sekarang Hoya menghilang sehingga meninggalkan aku dan L. itu membuat suasana semakin memburuk. Mungkin tidak ada candaan atau obrolan hangat. Argh yang penting besok aku sudah harus menemukan Hoya, atau mungkin membuat Sungyeol kembali lagi bersama kami.

                Next Chapter…..
“Hoya…..”
“Ya, aku yakin Hoya pasti akan segera kembali. Ia hanya meninggalkan kita untuk sementara.”
“Ya! Kenapa kau memanggilku keledai pink?!”
“Hanya perasaanku saja.”



Rabu, 05 September 2012

Me, You, and Him [Part 2]



Title : Me, You, and Him [part 2]
Author : Minnia
Genre : Love, romantic, pain
Cast : Hwang Eunna (OC), Jung Jinyoung, Jung Jinwoon

                Eunna POV
                Ck, sepupunya Jinyoung sangat tidak sopan! Baru saja kenal sudah cerewet sekali. Pantas saja Jinyoung sering menahan emosi dengannya. Ternyata dia itu sangat tidak bisa diajak damai. Seseorang mengetuk pintu kamar hotelku.
                “Nanti sore kita bermain di pantai ya?” Katanya sambil tersenyum. Emosiku lenyap seketika melihat senyumannya yang sangat manis itu. Jinwoon melongokkan kepalanya dari belakang Jinyoung.
                “Apa dia juga ikut?” tanyaku diam-diam.
                Jinyoung tampak berfikir keras, “Sepertinya dia ikut. Tapi dia harus bermain sendiri dan kita tidak usah melayaninya. Biar dia autis.”
                Aku menahan tawa sambil sesekali menepuk pundak Jinyoung. Astaga. Gila juga dewa tampan yang satu ini. Dia mengacak-acak rambutku.
                “Sudahlah. Istirahat sana. Nanti sore aku akan menjemputmu lagi. Bye~” Jinyoung sekilas mencium pipiku.
                Bukan hanya wajah Jinwoon yang terkejut sampai mulutnya menganga, tapi aku juga. Jinyoung baru saja mencium pipiku. Dan itu pertama kalinya ia mencium pipiku. Astaga, rasanya aku tak mau mencuci muka sampai kapan pun! Jinyoung menutup pintu kamarku. Aku terhuyung lemas dan terjatuh tepat diatas tempat tidur sambil membayangkan kejadian tadi.
                “Kau…Ah Ibumu pasti sangat marah kalau tahu bahwa kau baru saja mencium seorang gadis.” Suara Jinwoon berkoar-koar. Dasar laki-laki aneh. Aku baru tahu kalau ada laki-laki secerewet dia.
                “Memangnya kenapa? Dia yeojachingu-ku kan?” Jawab Jinyoung dengan nada yang tenang. Aiss jangan bilang mereka bertengkar di depan kamarku.
                “Ya! Tapi kau…ah itu tidak pantas, Jinyoung-ssi.”
                Blam. Sebuah pintu tertutup.
                “Hei dasar aneh!” Maki Jinwoon.
                Dan suara-suara itu pun lenyap.
J
                Jinyoung POV
                Kukira Jinwoon benar-benar berubah semenjak 4 tahun tidak bertemu. Dan ternyata penyakit jiwanya semakin parah. Dan argh apa dia tidak lelah bercuap-papap selama dua jam? Aku yang mendengarnya saja lelah. Ibuku dan Ibunya memang benar-benar gila. Mereka tidak pernah mau memisahkan aku dan Jinwoon. Mereka kira aku dan Jinwoon masih anak-anak yang memakai celana dengan tali yang disampirkan di bahu kami lalu memakai topi dengan baling-baling bambu doraemon lalu berebut lollipop? Eomma, Jebal. Aku tidak mau bersama dengan Jinwoon lagi. Hidupku sudah terlalu lelah untuk ditindas lagi dengan Jinwoon meskipun aku bisa menindasnya juga. Baiklah kalau begitu aku akan menindasnya kali ini.
                “Ah kau kenapa menciumnya tadi?” Pertanyaan itu selalu dikeluarkannya.
                “Memangnya kenapa? Dia kan yeojachingu-ku.”
                “Kau menjawab itu terus daritadi!”
                “Ya! Kau juga bertanya itu terus daritadi!”
                “Hhh. Begini ya Jinyoung-ssi, kau baru saja mencium pipi yeojachingu-mu di depanku. Dan kau tidak takut aku katakan itu kepada ibumu?”
                “Mengapa aku harus takut?”
                “Ya itu tidak sepantasnya kau lakukan.”
                “Ck, teman-temanku mencium bibir yeojachingu mereka di depan orangtuanya.”
                “Berarti temanmu tidak memiliki sopan santun!”
                “Sudahlah kau ini! Masalah kecil saja kau buat besar! Itu hal yang wajar kan?!” Kataku sambil menarik selimut dan langsung terlelap.
                “Jinyoung-ssi…” Panggilnya.
                Aku tak menghiraukan. Biarkan saja dia bercuap-cuap sendiri. Manusia mana yang sabar dengan cuapannya? Tidak ada.
                “Jinyoung, kau tidur ya?”
                Hahaha dia mulai terperangkap oleh aktingku yang diasah oleh guru teater sekolahku.
                “Jinyoung, kau tidur betulan? Aku hanya mau bilang…”
                Ah pasti kali ini dia akan mengomel lagi. Apa aku harus menyumpel mulutnya dengan tisu-tisu yang ada diatas meja rias itu?
                “Sekarang sudah jam empat. Dan kau belum mengkonfirmasi tempat untuk dinner kalian nanti?”
                Ah Shit. Aku baru ingat kalau tadi aku sudah berjanji dengan pihak Hotel aku akan memesan tempat untuk dinner aku dan Eunna nanti malam. Dan sekarang sudah jam empat? Sial. Aku pasti tidak dapat tempat. Aku segera melihat kearah jam tanganku. Jinwoon benar, sekarang sudah jam empat. Aku langsung berlari ke kamar mandi untuk cepat-cepat mandi dan mempersiapkan diri.
                “Kau kenapa tidak bilang kalau sekarang sudah jam empat?! Argh aku harus turun duluan. Nanti kau turun dengan Eunna ya? Jebal.” Pintaku kepada Jinwoon. Sial, kali ini aku tertindas lagi olehnya.
                “Baiklah.”
                Aku langsung berlari kearah luar.
J
                Jinwoon POV
                “Tunggu sebentar.” Kataku sambil langsung memakai sandal pantaiku yang berwarna orange ini. Aku membuka pintu. Ternyata Eunna. Ia melongokkan kepala.
                “Jinyoung dimana?” Tanyanya. Wajahnya tersirat kekecewaan ketika melihat hanya aku yang ia jumpai.
                “Ah dia sedang ada sedikit urusan dibawah sana. Kau sudah selesai?” Dan aku yakin dia sudah sangat siap.
                Eunna terlihat cantik dengan gaun pantai berwarna peach yang membalut tubuhnya. Tidak terlalu terbuka, tapi tidak terlalu tertutup. Gaun pantai itu sangat cocok di tubuhnya yang kecil itu. Rambutnya digerai sempurna. Dan ada yang aneh dari wajahnya. Ia tidak memakai kacamata. Dia tampak sangat begitu cantik.
                “Jinwoon-ssi!” Eunna menampar kecil pipiku, “Apa yang sedang kau lihat?! Apa dandananku sangat buruk sampai-sampai wajahmu melongo melihatku?”
                “Ah tidak.” Aku tersenyum salah tingkah sambil menggaruk-garuk kepalaku, “Ah ayo kita kebawah. Jinyoung pasti sudah menunggu.”
                Eunna hanya menangguk lalu berjalan kearah lift. Aku segera keluar dari kamar dan menguncinya. Aku berjalan dibelakang Eunna.
                “Memangnya Jinyoung ada urusan apa sampai-sampai dia meninggalkanku? Omong-omong hari ini tahun kedua kami berpacaran dan sampai sekarang dia belum mengucapkannya.”
                “Oh itu aku tidak tahu. Oh iya? Wah selamat kalau begitu”
                “Kau bohong kalau kau tak tahu urusannya.”
                “Ah kau juga tak harus tahu sekarang.”
                Eunna mendelik kearahku lalu berjalan ke meja resepsionis untuk menitipkan kunci kamarnya. Aku juga melakukan hal yang sama dengannya.
                “Ya! Jangan menarikku! Aku hampir jatuh!” Jerit Eunna.
                Aku membalikkan badan. Jinyoung sedang tertawa dan menarik tangan Eunna. Jinyoung menarik Eunna ke pantai. Hhh, jujur saja, aku iri dengan mereka berdua yang begitu romantis dan saling mengerti satu sama lain, walaupun mereka sama-sama kaku. Aku berjalan perlahan keluar dari hotel. Mereka berdua benar-benar romantis, dan aku iri.
J
                Jinyoung POV
                Eunna sangat cantik sore ini. Gaun yang kubelikan sangat pas ditubuhnya. Ia mengganti kacamatanya dengan softlens berwarna hitam agar tidak terlalu mencolok. Rona merah wajahnya tidak lepas ketika aku melihatnya. Aku tahu kalau dia benar-benar mencintaiku, apakah kau juga tahu Eunna bahwa aku sangat mencintaimu?
                Aku menariknya ke pantai dan sesekali menyipratkan air asin itu ke wajahnya dan membuat ia menjerit lalu membalasnya. Ini adalah ulangtahun dari hubungan kami yang paling seru menurutku. Oh ya, omong-omong aku belum sempat mengucapkan apapun tentang tahun kedua hubungan kami. Apa yang harus aku katakan? Tidak ada yang spesial hari ini, aku selalu mencintainya kapan pun jadi tidak terlalu penting tahun kedua ini.
                Diseberang sana Jinwoon hanya melihat dengan lemas kearah kami berdua. Tampaknya dia iri. Hahaha. Baiklah, aku sudah bisa menindasnya lewat batin.
                “Jinyoung! Ombaknya besar!” Teriak Eunna sambil tertawa.
                Ombaknya ternyata memang besar. Dan Eunna mencoba menghantam ombak itu dengan tubuhnya dan ombak itupun menhantam tubuh mungilnya. Badannya terhuyung kehilangan keseimbangan. Bajunya basah dan tampak berat. Langkah kakinya tak menentu karena terseret oleh arus dan ia masih saja tertawa. Dan ia terjatuh di dekatku. Segera saja aku menangkap tubuhnya.
                Ia terkejut ketika melihat wajahku yang sangat berdekatan dengannya. Pipinya memerah. Kurasa pipiku juga memerah. Dari dekat wajah Eunna terlihat sangat cantik dan natural. Ia memelukku erat. Dan aku juga memeluknya sangat erat. Aku tak ingin melepaskan pelukan yang hangat ini.
                “Kena kau. Hahahaha akhirnya bajumu  basah juga!” Tawanya renyah. Ia melepaskan pelukanku.
                Ah ternyata dia memelukku hanya untuk membasahi bajuku yang menyerap air-air di bajunya? Pantas saja. Setauku, Eunna itu orangnya tidak seperti wanita murahan yang selalu ingin disentuh oleh namjanya. Ia sangat menjaga sopan santun. Ia juga sangat menyukai anak kecil. Ah omonganku mulai keluar dari topiknya.
                “Kau mengambil kesempatan dalam kesempitan ya?” Tanyaku sambil menggodanya.
                Wajahnya yang memerah itu membuatku ingin sekali mencubit pipinya, “Maksudmu?”
               “Kau sebenarnya tahu kan kalau aku tidak ingin basah kuyup sepertimu lalu kau memelukku agar bajuku juga basah. Iya kan?”
                “Habis, mau bagaimana lagi biar kita impas?”
                “Kemarilah,” Wajahnya sangat ragu untuk mendekatiku. Astaga, bayangkan saja. Dalam dua tahun ini saja ia tidak terlalu percaya denganku. Apalagi dengan orang lain? “Mau kita impas? Cepat dorong aku.” Kataku.
                Perlahan Eunna mendekatiku dan mulai meletakkan tangannya lebih kedepan daripada tubuhnya. Dan tiba-tiba dibelakangnya sudah ada ombak yang kurang lebih besarnya sama seperti tadi. Semakin Eunna mendekat kearahku, semakin dekat pula ombak itu mendekat kearah Eunna. Dan akhirnya ombak itu menghantam tubuh Eunna dan ia terhuyung kembali lalu jatuh dan memeluk pinggangku.
                “Kan sudah kubilang, kita bisa impas jika kau mendorong tubuhku, bukan dengan cara memelukku.” Kataku. Aku membalas pelukannya.
                “Ah tidak. aku tidak ingin memelukmu. Apa kau tadi tidak melihat bahwa aku hampir jatuh karena ombak?”
                Aku tertawa renyah.
                “Jinyoung lepaskan. Adegan ini tidak sopan untuk diperlihatkan.”
                Aku tak menghiraukannya. Aku terus memeluknya sambil membelai rambut panjangnya yang lurus itu.
                “Jinyoung…”
                “Saranghae,” Bisikku lembut. Pinggangku memanas, dan dadaku juga memanas. Disana tempat tangan dan pipi Eunna terletak. Ah pasti wajahnya sangat merah, “Happy Anniversary to us.”
                Dan sekarang ia malah memelukku erat, “Nado Saranghae, Jinyoung.”
                Rasanya jantungku melompat-lompat sekarang. Inikah yang namanya cinta? Ini begitu indah. Sangat indah. Mengapa orang bilang cinta begitu menyakitkan? Tidak, cinta itu sebenarnya indah dan tidak menyakitkan.
                Aku mengangkat tubuh Eunna ke tepian pantai.
                “Apa yang kau lakukan?! Cepat turunkan aku!”
                “Diamlah. Badanmu berat juga ternyata.”
                “Jinyoung!” Eunna menggoyangkan kakinya.
                “Hei jangan bergerak. Nanti kita berdua jatuh. Aku tak mau tubuhku dikelilingi oleh pasir ini!”
J
                Jinwoon POV
                Respon aku untuk bermain di pantai sore ini menyurut ketika melihat dua insan itu bermesraan di depanku. Pertama, aku memang sedang tidak ingin mengacaukan acara Jinyoung dan Eunna. Tugasku disini hanya mengawasi gelagat Jinyoung, bukan mengacaukan acara Jinyoung. Apalagi aku baru tahu kalau hari ini adalah hari spesial bagi mereka. Dilihat dari tatapan mereka, sebodoh bodohnya orang juga akan tahu kalau mereka saling mencintai. Jadi tidak mungkin aku mengacaukan acara mereka kan? Yang kedua, aku iri sekali kepada mereka. Aku juga ingin bisa mencicipi rasa cinta yang semanis itu, bukan seperti mencicipi rasa cinta yang rasanya lebih pahit dan aneh daripada obat.
                Jadi, aku hanya menepi ke pinggiran pantai dan menonton mereka berdua. Kelihatannya bodoh ya? Tapi tak apalah daripada mengganggu mereka itu terlihat lebih bodoh.
                Eunna sudah dua kali memeluk Jinyoung. Dan itu pasti trik Jinyoung saja supaya Eunna mau memeluknya. Dan sekarang Jinyoung mengangkat tubuh Eunna ke tepian pantai. Kaki Eunna terus bergerak. Sepertinya ia tidak mau Jinyoung angkat tapi Jinyoung tetap memaksa. Dasar anak itu.
                Ah mereka berdua benar-benar romantis.


Sabtu, 01 September 2012

What If


Title : What If
Author : Minnia
Genre : Pain, Love, Romantic
Cast : Kim Ryeowook, Jang Nara
Other Cast : Kim Jongwoon aka Yesung


“Jika aku tidak bertemu dengannya, akankah suatu cinta yang indah tumbuh dibenakku?”

Ryeowook POV
            Aku membuka mataku setelah memainkan lagu di piano klasik tua milikku yang tertengger di restoran dengan nuansa klasik. Restoran ini sudah pasti milikku. Ada sebuah kertas kecil bertengger diatas kap piano ini. Aku membukanya. The Story Only I didn’t Know. Judul lagu ini lagi. Sudah tujuh kali berturut-turut aku mendapatkan kertas dengan judul lagu ini. Dan akhir-akhir ini baru ku ketahui bahwa yang sering menginginkan lagu ini aku mainkan adalah gadis di sudut ruangan ini.
            Aku tidak tahu dia pelanggan setia restoranku atau bukan. Aku sering melihatnya dan ia sering memperhatikanku ketika aku sedang menekan tuts-tuts piano tua ini. Aku tidak tahu permainanku bagus atau tidak tapi aku suka menerima tepukan tangan pelangganku ketika aku sudah selesai memainkan sebuah lagu. Dan akhirnya aku memainkan lagi lagu ballad dari penyanyi wanita Korea yang terkenal itu.
            Ia tersenyum. Dan entah mengapa aku tersentak. Aku melanjutkan memainkan lagu itu yang belum sempat kuselesaikan. Aku mencoba menghayati nada-nada yang kumainkan. Entah mengapa ada sebuah fakta kecil yang terselubung menyesakkan dadaku. Aku tidak tahu itu apa. Mungkin ini yang membuat gadis itu sangat menyukai lagu ini.
            Tuts terakhir dari lagu ini telah kutekan. Lagu ini berakhir. Aku membuka mataku dan tepuk tangan yang meriah menyambutku. Aku menghembuskan nafas perlahan lalu bangkit dari kursi yang ada di depan piano tua itu. Aku menatap gadis itu. Wajahnya semakin pucat.
            Pikiranku melayang, kakiku bergerak semaunya, otakku tak dapat lagi mengontrol. Gadis itu seperti ketakutan. Dan tanpa aku sadari aku telah berjalan mendekatinya. Mendekat dan semakin mendekat sampai aku sadar bahwa aku sudah duduk dihadapannya. Bibirnya memutih. Ia tampak sangat pucat.
            “Hai.” Sapaku kaku.
            “Hai.” Ia menjawab dengan kaku juga dan meminum coklat panasnya yang sudah tak beruap.
            Hening. Entah apa yang aku lakukan disini, lucu sekali aku seperti orang tidak tahu diri. Mengganggu pelangganku yang sedang menikmati menunya. Aku hendak bangkit, tapi……..
            “Kau sangat menyukai lagu tadi?” Tanyaku tanpa sengaja. Apa sudah aku lakukan?!
            Gadis itu mengangguk. Dan hening kembali melanda kami.
            “Gomawo,” gumamnya pelan. Aku tersentak dan menatap matanya yang terlihat sangat polos, “Terimakasih karena kau sudah mau memainkan lagu favoritku.” Ucapnya lirih sambil menatap secangkir coklat yang tinggal setengah.
            Gadis itu tersentak melihat kearah tangannya. Ternyata kedua telapak tanganku sudah menggenggam erat kedua punggung tangannya. Ya Tuhan, apa-apaan ini?! Bisa-bisanya aku melakukan hal itu diluar kesadaranku. Gadis itu tersenyum.
            “Dan terimakasih karena membuatku nyaman.”
J
            Jang Nara, nama yang indah untuk dijadikan nama seorang gadis secantik dia. Gadis dengan rambut sebahu yang bergelombang, hidung yang mancung tanpa plastik, dan bibir yang tipis selalu menyunggingkan senyum. Hatinya juga selembut sutra. Dia gadis yang sangat sempurna, dan argh jangan katakan bahwa aku menyukainya. Dan memang faktanya aku suka berkhayal sendiri jika sudah melihatnya. Itu artinya………..aku menyukainya. Sial.
           Seseorang memasuki restoranku. Aku mendongak sedikit karena kap piano tua ini menghalangi pandanganku. Ya, dia datang lagi. Ia mengenakan sweater pink hot yang kebesaran dengannya dan celana panjang. Sangat cantik. Ia duduk ditempat biasa. Tanpa kertas kecil yang intinya menyuruhku untuk memainkan sebuah lagu lagi, aku sudah mulai memainkan lagu kesukaannya. The Story Only I didn’t Know.
            Ia tersenyum kearahku. Aku membalas senyuman itu dan aku cepat-cepat menyelesaikan lagu ini. Aku menghampirinya di sudut ruangan ini. Wajahnya lebih pucat daripada waktu pertama kali aku melihatnya dari dekat. Ia hanya duduk dan tersenyum melihatku. Ia tidak memesan makanan atau pun minuman. Aku duduk dihadapannya.
            “Kau tidak memesan coklat panas, Nara-ah?” Tanyaku.
            Ia menggeleng, “Aku sedang tidak ingin minum apa-apa.”
            “Kau tidak mau memesan pancake coklat?”
            Ia menggeleng lagi, “Tidak. Dokter bilang—“ wajahnya tampak seperti linglung. Apa yang ia katakan barusan? Dokter?
            “Kau sa—“
            “Tidak.” Jawabnya sambil tersenyum. Ia meyakinkanku bahwa ia sedang tidak sakit. Tapi, wajahnya yang pucat membuat seluruh keyakinanku luruh.
            “Tapi wajahmu pucat.”
            “Bukankah wajahku memang pucat?”
            Benar juga. Aku menganggukkan kepalaku. Hari ini banyak sekali yang mengunjungi restoranku. Ya, cuaca pada bulan Desember memang sangat dingin. Mungkin orang-orang banyak memilih restoranku karena restoranku menyediakan berbagai menu dalam bentuk coklat. Dan omset restoranku naik hanya gara-gara coklat panas. Ah bagus sekali.
            “Banyak sekali pelangganmu.” Ujar Nara. Aku tersenyum.
            “Mau membantuku menyiapkan menu?” Ajakku.
            Wajahnya terlihat bingung. Tanpa mendengar jawabannya, aku langsung menariknya masuk ke dalam dapur. Di dalam dapur terlihat Yesung hyung yang sedang menggiling bahan utama pancake. Ia tampak sangat bingung melihat aku membawa seorang yeoja berwajah pucat masuk ke dalam dapur restoran ini. Setahunya aku membuat peraturan tidak ada yang boleh masuk ke dalam dapur restoran karena takut akan kebocoran resep rahasiaku. Hahahaha.
            “Ya! Ryeowook-ah! Siapa dia?!” Tanya Yesung hyung dengan suara yang tertahan membuat kepalanya tampak membesar.
            Aku hanya mengisyaratkan keluar-kau-dari-sini dan dengan mudahnya Yesung hyung meninggalkan dapur ini dengan tampang yang sangat bodoh. Dan sekarang mengapa Nara jadi ikut-ikutan memasang tampang bodoh? Aisss.
            “Ini dapur restoranmu?” Tanyanya sambil mengedarkan pandangan ke seluruh arah.
            Aku hanya bisa mengangguk dan mencari benda-benda kecil yang harus dimusnahkan.
            “Bersih. Lalu kita akan melakukan apa disini?”
            Aku tertawa melihat raut wajah polosnya yang sangat manis itu. Perlahan aku mencolek sedikit tepung terigu dan menempelkannya di pipi Nara. Ia tampak sangat terkejut.
            “Ya! Apa yang kau lakukan!” Ia mengelap tepung yang ada di pipinya secara sembarang sehingga tepung itu tampak sangat berantakan di pipinya. Aku tertawa.
            Glak! Segenggam tepung terbang bebas tepat dihadapan wajahku. Terdengar samar-samar suara tawa Nara yang khas dengan suara seraknya. Aku membersihkan sedikit tepung yang ada diwajahku. Dan aku kena lagi, dengan cekatan Nara meletakkan coklat cair di hidungku. Hancur sudah wajahku.
            “Kau tampak seperti badut, Ryeowook-ah! Hahaha!”
            Nara menertawaiku hingga terpingkal-pingkal. Selucu itukah? Aku langsung berlari ke toilet dan berkaca. Dan hasilnya, mungkin wajahku lebih menakutkan dari seorang badut. Tampak seperti topeng scream. Aku langsung membasuh wajahku dengan air sebanyak-banyaknya dan keluar dari toilet. Tampak Nara masih menahan tawa diseberang sana.
            “Ya! Nara-ya! Kau harus bertanggungjawab!”
            “Bertanggungjawab atas apa? Bwahahahaha!” Dan akhirnya ia menumpahkan tawanya sampai ada sedikit rona merah dipipinya.
            “Kau harus membantuku membuat semua pesanan yang ada disana! Arasseo?” Kataku sambil menunjuk beberapa kertas yang bergantung di depan dapur. Nara menganga.
            “Ne ne arasseo,” Ia menarik beberapa kertas yang digantung itu, “Banyak yang memesan coklat panas.”
            “Kalau begitu ayo buat!” Kataku sambil menarik lengannya.
            Pertama-tama kami hanya melakukan gerakan masak memasak yang gampang. Memanaskan panci, memasukkan coklat batangan, memasukkan bubuk krim, memasukkan sedikit air. Dan aku kira pesanan akan semakin sedikit, tetapi ketika aku lihat kembali ke bagian kertas yang bergantung itu, mungkin sudah ada sepuluh lembar kertas yang tergantung lagi di talinya. Yesung hyung, aku benar-benar butuh bantuanmu. Tanganmu memang benar-benar terlatih untuk memasak di dapur sedangkan tanganku hanya terlatih untuk menekan tuts-tuts tua walaupun aku bisa memasak, tapi tidak untuk sebanyak ini. Aisss andai saja aku tak menyuruh Yesung hyung keluar tadi………..
            “Hei nanti pancakenya gosong!” teriak Nara sambil menekan pipiku.
            Dan aku baru sadar kalau tadi aku sedang melamun dan hampir saja pancake coklat ini gosong. Kalau saja sampai gosong mungkin…………
            “Kau sedang banyak pikiran? Mana kokimu?” Tanya Nara sambil mengelap pipiku dengan tissue. Hei jangan bilang barusan ia merusak wajahku dengan coklat panas.
            “Ah tidak. Kau apakan wajahku tadi?”
            “Tidak, hanya memberi tepung sedikit. Tapi kau tidak merespon ya sudah aku hapus saja,” Katanya sambil membuang tissue tadi, “Hei cepat balikkan pancakenya.”
            Dan aku langsung terkejut. Aku membalikkan pancake coklat itu dengan cepat. Untung saja tidak gosong. Dan dengan cekatan Nara meletakkan pancake itu di piring dan menghiasinya dengan coklat-coklat beranekaragam warna. Pancakenya sudah jadi. Ia menekan bel pertanda menu sudah siap dihidangkan. Yesung hyung mengambilnya dan ia tertangkap basah sedang berdecak kagum. Nara tersenyum puas.
            Dan dalam jangka waktu yang lumayan panjang, tidak ada pesanan baru lagi. Aku dan Nara hanya berbincang-bincang sedikit. Nara sangat aneh. Wajahnya pucat dan suhu tubuhnya dingin. Aku tau disaat cuaca ekstrim seperti ini memang tidak terlalu aneh apabila tubuh kita terkena hipotermia. Tapi ia tampak sangat sakit. Suaranya juga tidak terdengar biasa. Suaranya semakin lama terdengar semakin mengecil dan serak.
            “Kau sakit?” Tanyaku hati-hati. Entah mengapa ia seperti menangkap nada khawatir di suaraku. Memangnya suaraku bisa terbaca?
            Ia tersenyum.
            “Aku rasa aku tidak sakit.”
            “Tapi,” Aku meletakkan telapak tanganku di dahinya, “Suhu tubuhmu sangat rendah.” Aku menggesekkan kedua telapak tanganku lalu meletakkannya di pipi Nara. Pipinya memerah. Dan aku rasa pipiku juga ikut memerah.
            Aku meletakkan tanganku kembali di tempatnya. Bodoh sekali aku melakukan hal itu.
            “Mianhae.” Ucapku sambil menunduk.
            Nara berdehem, “Ahahaha sudahlah tidak apa-apa. Sudah tidak ada pesanan lagi kan?” Ia tersenyum jahil kearahku.
            Aku tertawa, “Sudah tidak ada.”
            “Baiklah aku akan pulang.” Ia berjalan keluar dari dapur. Dan dengan spontan aku menarik tangannya.
            “Aku akan mengantarmu.”
            “Tidak perlu. Rumahku tidak jauh dari sini. Aku bisa berjalan kaki.”
            “Kalau begitu aku akan mengantarmu dengan jalan kaki.”
            “Sudah tidak usah. Kau bermain saja dengan piano itu.” Katanya sambil melepaskan satu persatu jemariku yang melekat di pergelangan tangannya.
            Aku memasang wajah yang sangat memelas.
            “Aigo wajahmu lucu sekali.”
            “Ayolah.”
            Nara menarik napas dan menghembuskannya dengan berat. Ia menatap mataku dalam lalu melepaskan senyuman yang sangat manis, “Aku takut ibuku marah.”
            Alisku mengerut, “Ibumu marah? Mengapa? Kau tidak boleh pulang dengan diantar seorang namja? Hei umurmu dua puluh lima tahun.”
            “Memangnya kenapa dengan dua-puluh-lima-tahun dengan ibuku akan marah?”
            “Itu sangat aneh. Ayolah aku akan mengantarmu hanya sampai di tiga rumah sebelum rumahmu saja.”
            Nara berfikir keras, “Baiklah.”
J
            Aku ingin berteriak sekarang juga. Boleh tidak? Aku mengantarkan Nara pulang hanya dengan jalan kaki. Katanya rumahnya tidak jauh dari restoranku. Pantas saja ia sering mampir ke restoranku. Aku senang, sangat senang. Dan sepertinya aku mulai menyukai Nara……..
            “Kau mau ini?” Tanyanya padaku sambil menggerak-gerakkan kembang gula berwarna pink keungu-unguan.
            Aku menggeleng.
            Ia membayar kembang gula itu dengan beberapa lembar uang. Lalu kami mulai berjalan meninggalkan stand kembang gula yang ada di pinggir jalan menuju rumah Nara. Disepanjang jalan, Nara hanya diam menghabisi kembang gula yang sangat besar itu.
            “Kau menyukai kembang gula?”
            “Sangat.” Jawabnya singkat.
            Aku terkekeh pelan, “Setelah ini cepat sikat gigimu.”
            “Baik, Kim Ryeowook seonsaengnim!” Katanya sambil memberi hormat kepadaku.
            Lucu sekali perempuan ini. Ingin sekali kuusap kepalanya dan menertawakan perilakunya, buru-buru ia memberhentikan langkahku.
            “Sudah sampai disini saja. Rumahku yang itu.” Katanya sambil menunjuk rumah berwarna calm orange tepat tiga rumah dari sini.
            “Baiklah. Sampai jumpa.”
            Ia tersenyum.
            Aku sudah tak bisa menahan hasratku untuk tidak mengusap kepalanya. Aku memberanikan mengusap rambutnya yang bergelombang. Ia tampak terkejut lalu tersenyum. Namun ada yang aneh dari wajahnya. Ia mengusap hidungnya. Hidungnya berdarah. Ia segera memencet hidungnya dan berlari ke rumahnya. Dan aku baru tahu kalau ia benar-benar sedang sakit.
J
            Yesung hyung memasang wajah yang sangat bosan. Aku tidak mengerti dengannya hari ini. Aku terus memainkan piano ini. Memainkan satu persatu nada hingga menjadi sebuah lagu dengan satu kesatuan yang sangat indah. Lagu ini sangat indah untuk di dengar.
            “Kau tidak bosan dengan lagu ini? Sejak tadi pagi kau memainkan lagu ini. Bisakah kau memainkan lagu yang lain?” Yesung hyung mengadarkan pandangannya keseluruh arah, “Yeoja itu tidak ada. Lalu kau memainkan lagu itu untuk siapa?”
            Aku berhenti memainkan piano ini. Lagunya tidak selesai. Aku mengedarkan pandangan. Benar, Nara tidak ada disini. Sudah lima hari ia tidak berkunjung ke restoranku setelah aku mengantarnya pulang. Atau jangan-jangan ibunya benar-benar marah karena aku mengantarnya pulang lalu melarang Nara untuk keluar rumah lagi? Mana mungkin. Nara sudah dewasa.
            Aku merindukan Nara.
            Aku merindukan senyumannya yang membuatku tenang, aku merindukan suaranya yang serak, aku merindukan wajahnya yang sangat manis, aku merindukannya ketika ia melempariku dengan segenggam tepung, dan terlebih lagi aku sangat merindukan kertas kecil yang berisikan judul lagu The Story Only I Didn’t Know. Aku merindukannya.
            “Sebaiknya kau pulang saja. Tampaknya badanmu sedang tidak sehat. Banyak beban yang kau pikirkan. Lagipula sekarang sudah malam.”
            Aku melihat kearah pintu masuk restoran. Benar. Sudah gelap. Faktanya sekarang sudah pukul Sembilan. Benar, tampaknya aku harus pulang. Aku mengambil tas ranselku dan menyumbat telingaku dengan headset.
            Disepanjang perjalanan menuju halte, banyak terjual kembang gula dengan berbagai warna. Aku jadi teringat Nara. Aku benar-benar merindukannya. Ah! Kenapa aku tidak ke rumahnya saja? Baiklah aku akan membawakannya kembang gula.
            Setelah membeli lebih dari tiga batang kembang gula dengan beragam warna, kini aku hanya melongo di seberang rumah Nara. Sesekali aku membenarkan letak topi yang sangat besar di kepalaku hingga membuat mataku yang terlihat. Syal yang menutupi hingga hidungku. Aku tampak aneh. Biarlah. Aku mana mungkin mau nekat membunuh diriku sendiri diantara cuaca dingin yang mengerumuniku. Aku kan masih ingin bertemu Nara………
            Sudah sepuluh menit aku berdiri di seberang sini tapi tidak ada tanda-tanda kehidupan di rumah seberangku. Lampu teras yang remang-remang terus menyinari. Tidak ada suara grasak-grusuk dari dalam sana. Ah mungkin Nara sudah tidur. Ia kan sedang sakit, jadi ia harus banyak beristirahat.
            Kuputuskan aku hanya meletakkan kembang gula ini di depan pintu rumahnya. Mana tahu besok Nara melihatnya.
            “Nara, cepat sembuh. Aku merindukanmu.”
            Aku berlalu dari rumah itu.
J
            Author POV
            Nara hanya memandangi pria dengan jubah panjang dan topi yang besar itu di hadapannya, ia membeli kembang gula tiga batang. Mungkinkah ini Ryeowook? Tapi tidak mungkin. Mana mungkin Ryeowook membeli tiga batang sekaligus. Ia tidak terlalu suka dengan kembang gula.
            “Kau kenapa membeli ini?!” Nara memasang alat pendengar di telinga kirinya, “Apa kau tidak menyayangi gigimu setelah kau hampir kehilangan nyawamu?!” Bentak ibunya Nara.
            Nara hanya tersenyum, “Eomma, aku janji ini terakhir kalinya aku memakan ini.”
            “Baiklah cepat masuk ke dalam mobil. Dua jam lagi pesawat akan lepas landas.”
            Nara mengangguk. Mobil yang mereka tumpangi melaju kearah Incheon Airport. Dan entah mengapa Nara ingat betul jalan ini. Jalan menuju restoran Ryeowook.
            “Eomma, bisakah kita berhenti sebentar di restoran di depan itu?” Ucap Nara pelan-pelan takut akan dimarahi ibunya, “Aku janji hanya sebentar saja.”
           Ibunya menghembuskan nafas dengan berat, “Baiklah.” Ibunya membelokkan setir ke restoran yang di depan.
            Dengan cepat Nara keluar dari mobil dan membawa tas jinjingnya masuk ke dalam restoran. Di dalam Nara hanya bertemu dengan seorang namja yang pernah ia temui. Argh dia lupa nama namja itu siapa.
            “Permisi, apakah ada Ryeowook?”
            Mata Yesung membulat seketika. Ia mendekati gadis yang mukanya sangat tak asing dan dapat membuat Ryeowook hampir gila.
            “K….kau?”
            Nara tersenyum. Ia seperti memasang alat pendengar yang kecil ketelinga kanannya. Lalu mengeluarkan amplop berwarna biru cerah dan memberinya ke Yesung. Nara keluar dari restoran itu. Dan hampir saja Nara jatuh karena tangannya dicekat oleh jari-jari yang mungil milik Yesung.
            “Kau? Ini apa? Ini untuk siapa? Kau tahu Ryeowook seperti sangat kehilanganmu ketika kau tidak datang kesini. Dia sangat merindukanmu!”
            Nara tersenyum dan itu membuat Yesung terdiam dan tenang, “Ini untuk Ryeowook. Titip salam untuknya. Aku juga merindukannya.”
            Nara melepaskan jari Yesung yang membeku dan keluar dari restoran itu. Yesung benar-benar membeku.
J
            Ryeowook POV
            Aku menghayati lagu ini. Lagu ini benar-benar sangat menyakitkan tapi melodinya yang indah dapat menenangkan hatiku. Lagu ini lagu favorit Nara, The Story Only I Didn’t Know. Aku membuka mataku dan mendapati amplop berwarna biru muda bertengger di depan kap piano tua ini. Aku mengambilnya. Tertera namaku di depan amplop. Aku membukanya.
            Ryeowook-ah
            Kau masih mengingatku ‘kan? Aku baru enam hari tidak bertemu denganmu dan awas saja kalau kau sudah melupakanku. Hahaha. Aku menyempatkan menulis surat ini. Aku takut tidak akan pernah bisa bertemu denganmu lagi. Tapi akan kuusahakan. Dan ini yang harus kau tahu tentangku. Aku merindukanmu. Dan aku berjanji denganmu aku akan kembali dihadapanmu ketika kau sedang memainkan sebuah lagu untukku. Hahaha. Aku tidak tahu aku akan kembali kapan. Mungkin aku akan sangat lama di Jepang mengingat leukemia-ku sudah sangat parah setelah aku mimisan kemarin di depanmu. Kau ingat? Dan aku tidak kembali menemuimu karena pendengaranku sudah mulai berkurang. Bahkan sekarang aku harus menggunakan alat bantu untuk mendengar. Kau khawatir? Tidak apa, tidak usah khawatir. Aku rasa aku tidak sakit asalkan aku masih bisa melihatmu bermain piano itu. Dan aku usahakan aku akan menemuimu lagi. Oh ya, kau tahu lagu The Name I Loved juga favoritku! Nanti kalau kita bertemu lagi, mainkan lagu itu ya!
            Dari Nara.
            Aku merasa seluruh yang ada di dunia ini membeku seketika. Apakah ini benar-benar tulisan Nara? Apa ini benar-benar Nara yang mengirimiku surat? Nara…………..
            “Apa isinya?” Suara Yesung hyung membuyarkan lamunanku.
            “Ini dari Nara?” Tanyaku kaku.
            “Ya, dia menitipkannya denganku tadi malam ketika kau sudah pulang.”
            Aku menatap mata Yesung hyung dalam. Tidak terbersit adanya kebohongan diantara sel-sel mata itu.
            “Hyung,” suaraku tercekat menahan tangis, “Dia sakit.”
J
            Dua lagu ini yang menemaniku dari tadi, lebih dari tiga tahun yang lalu. Lagu ini yang terus menemaniku disaat penantianku. Aku terus memainkannya sepanjang hari tanpa merasa bosan sedikit pun. Aku masih menunggu Nara. The Name I Loved. Lagu yang sangat manis. Walaupun ini lagu ballad, aku bisa memahami isi lagunya yang sangat indah. Sangat sangat indah. Aku mencoba menghayati lagu ini dan menutup mataku. Indah namun diakhir lagunya sangat menyakitkan hingga aku merasa ada yang mengalir di pipiku. Aiss jangan bilang aku sedang menangis. Dan tanpa terasa juga ada sebuah tangan yang dingin dan lembut mengusap pipiku. Tangan ini mampu mengingatkanku dengan beberapa memori kecil aku dengan seseorang yang aku anggap sebagai seseorang yang aku cintai. Seseorang yang kusayangi. Aku membuka mataku perlahan.
            Dia kembali.
            Wajahnya yang pucat dan pipinya yang tirus. Bibirnya memucat. Tidak ada rambut yang panjang menjuntai ke bahunya. Tangannya yang kurus. Dan tubuhnya seakan tidak dihinggapi oleh jiwa.
            Aku memegang erat kedua telapak tangannya yang mengusap pipiku. Terasa sangat dingin.
            “Aku kembali.” Katanya dengan suara yang amat kecil. Tampak dua buah alat pendengar menyumbat kedua telinganya. Ia tersenyum yang dapat menenangkanku.
            “Aku sudah memainkan lagu itu dihadapanmu,” Aku mencoba menahan airmata yang menyesakkanku untuk mengeluarkannya, “Saranghae.” Ucapku jujur dan memeluk erat tubuhnya.
            Air mataku mengalir bebas. Rindu tiga tahun yang lalu terbayar sudah. Aku memeluk erat tubuhnya yang kurus. Ia kembali, walaupun aku tahu ia belum terlalu pulih. Bahuku terasa basah. Ia menangis.
            “Na…do. Nado Saranghae.” Suaranya mengecil.
            “Nara-ah, kau seharusnya sekarang sudah menjadi istriku. Seharusnya kita sudah memiliki seorang anak yang lucu,” aku terus mengatakan apa yang harus aku katakan beberapa tahun yang lalu, “Nara-ah aku sangat mencintaimu.”
            Ia terbatuk pelan.
            “Nara…”
            Ia tak meresponku. Aku melonggarkan pelukanku. Darah merah segar mengalir dari hidungnya. Bercak darah itu sudah membasahi lengan bajuku. Nara tersenyum sangat manis dan tenang sambil menutup matanya.
            “Mungkin hanya jiwaku yang akan menemanimu sepanjang hidupmu, jadi maaf jika aku tidak bisa duduk disebelahmu. Karena aku mencintai….mu.”
            Mata Nara tertutup sempurna. Tiba-tiba tidak ada udara dingin menusuk yang dikeluarkan dari hidung Nara. Aku mencoba mencari detak jantungnya. Tidak ada. Ya Tuhan, jangan bilang………
            “Nara! Kau tidak boleh meninggalkanku! Nara! Aku sangat mencintaimu. Kumohon…….”
            Namun, jiwa itu tak mungkin kembali.