Minggu, 26 Agustus 2012

The Scary Game [Part 5]


Title : The Scary Game [part 5]
Author : Minnia
Genre : Mistery friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.

Hanna POV
                Walaupun jarum jam belum menunjukkan pukul enam pagi, tapi aku sudah terjaga dan menyiapkan apa apa saja yang aku perlukan untuk camping hari ini. ya, hari aku akan camping bersama L dan Hoya. Awalnya Woohyun oppa khawatir kalau aku ikut camping dan hanya aku perempuan sendiri. Tapi aku berhasil membujuknya dan aku yakin bahwa aku tak apa apa kalau aku bersama dengan kedua sahabatku ini. ya, aku harap. Aku melihat kearah jam dinding. Masih pukul lima pagi. Aku mengintip keadaan diluar rumah di balik tirai kamarku. Masih gelap.
                Aku dapat mendengar suara rusuh di samping kamarku, dari kamar Woohyun oppa. Semua barang yang kuperlukan telah kusiapkan. Aku sekarang juga sudah siap. Aku mengendap endap memasuki kamar Woohyun oppa. Aku mengetuk pintu kamarnya. Tak lama kemudian ia membuka pintu kamarnya. Ia sudah terlihat rapi dengan kemeja dan celana kain dengan warna senada.
                “Kau mau kemana oppa?” tanyaku sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal.
                “Hah? Oh iya kau belum aku beritahu bahwa seminggu ini aku akan ke Amerika?”
                “Mwoya? Kau tak memberitahuku, oppa.” Aku memajukan bibirku.
                “Tadi sudah kuberitahu.” Jawabnya ketus.
                “Jam berapa kau akan pergi?”
                “Sekitar pukul delapan pagi nanti.”
                “Bisakah kau mengantarku kerumah L nanti?”
                “Tentu.” Katanya sambil tersenyum dan mengacak-acak rambutku.
                Aku segera berlari ke kamar. Mendadak sekali Woohyun oppa memberitahuku bahwa ia akan pergi ke Amerika. Biasanya kalau ia akan keluar negeri, ia akan memberitahuku seminggu sebelum ia pergi dan mengajakku bermain. Oh iya! Kemarin Woohyun oppa mengajakku jalan-jalan tapi aku menolaknya. Aiss aku memang bodoh. Baiklah, tak perlu menyesali. Sebaiknya aku harus bersenang-senang karena akan camping bersama L dan Hoya. Yeah! Aku tak pernah camping dengan mereka. Mungkin ini akan menjadi pengalaman pertamaku berpetualang di hutan.
                Aku mengucek-ucek mataku dan membenarkan letak rambutku. Benar, aku sudah berada di depan rumah L. aku merasa terbang selama perjalanan tadi. Mungkin efek bangun terlalu pagi. Ya, aku tak biasa bangun pagi. Aku melihat L dan Hoya yang sedang mengobrol. Aku membuka pintu mobil. Woohyun oppa menarik lenganku.
                “Bo?” tanyaku.
                “Hati-hati. Aku tak ingin adikku satu-satunya hilang.” Katanya sambil menekankan nada pada kata hilang. Aku mengerutkan alisku.
                “Hilang? Aku mana mungkin hilang, oppa. Ada L. dia masuk komunitas pecinta alam. Ia pasti sudah kenal dengan hutan di dekat rumahnya ini.” Kataku berusaha meyakinkannya.
                “Kau bisa saja mengatakan seperti itu. Kau tak tau bagaimana cerita hidupmu kemudian. L bukan segalanya.” Katanya sambil menggenggam erat tanganku. Aku menepis. Emosiku menaik.
                “L memang bukan segalanya. Tapi dia tau. Sudahlah!” kataku dengan nada yang agak membentak. Tidak, aku memang membentaknya. Aku keluar dari mobil.
                “Hanna! Mengapa kau membentakku?! Argh!”
                Aku menutup pintu mobil tersebut dengan sangat keras. Aku berlari masuk ke rumah L dan mendengar deru mobil Woohyun oppa yang melaju cepat. Emosiku naik turun. Jantungku berdegup cepat sehingga aku lemas. Aku berkeringat dingin. Baru kali ini aku merasa marah dan membentak Woohyun oppa. Aku merasa bersalah.. tapi apa yang perlu aku sesali? Dia terlalu menjagaku. Aku kan bukan anak kecil lagi. L dan Hoya terdiam melihatku yang sedang mengatur nafas. Aku meletakkan ransel pink-ku secara kasar.
                “Kau kenapa?” Tanya L.
                Aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku duduk di sebelah Hoya dan meneguk air putih yang kubawa.
                “Kau jalan kaki dari rumahmu kesini?” Tebak Hoya.
                “Ani.”
                “Kau sedang PMS?” Tanya L sambil mengerutkan alisnya.
                “Tidak. Aku sedang kesal.”
                “Gara-gara oppa-mu?” Tebak Hoya. Dan kali ini dia benar.
                “Ne.” aku menggembungkan kedua pipiku.
                “Hahaha! Wajahmu lucu sekali!” Tawa Hoya dan L. aku memajukan bibirku.
                “Baiklah. Kalian itu sangat tepat waktu. kita berangkat sekarang.” Kata L dambil memikul ranselnya. Dan sialnya, ransel miliknya tidak menggembung seperti ranselku. Apa dia tak membawa baju? Makanan? Selimut? Lotion anti nyamuk? Dan Hoya juga. Ranselnya tidak terlalu menggembung. Dasar laki-laki. Awas saja kalau mereka kekurangan makanan.
                “Kau tak memberikan intruksi untukku?” tanyaku pada L sambil menggoyang-goyangkan bahunya.
                “Untuk apa?”
                “Ya mana tau aku tersesat?”
                “Kau mau tersesat?”
                “Tidak sih.” Aku menundukkan kepala. Hoya terkekeh pelan.
                “Kalau begitu kau tetap disampingku. Kapan pun.”
                “Kapan pun? Berarti kalau kau buang air kecil aku harus tetap disampingmu?”
                “Itu pengecualian.” Wajah L memerah. Aku dan Hoya terkekeh.
                “Kalau mandi bagaimana?” Tanyaku.
                “Lokasi camping kita tidak jauh dari sungai. Mandi saja disitu. Kalau aku tak mandi.”
                “Bau!”
                “Kita camping di hutan, udaranya lebih segar. Kemungkinan bau itu lebih kecil,” aku terdiam. Benar juga. Di hutan banyak pohon dan pohon menghasilkan banyak oksigen di pagi hari. Aku mengangguk kecil, “Ayo kita berangkat.”
                L berjalan disamping kiriku dan Hoya disamping kananku. Aku berjalan diantara mereka. Aku seperti ratu yang berjalan dengan prajuritnya. Aku terkekeh pelan. Aku kurang tau dimana lokasi dimana kami akan camping. Di sepanjang perjalanan L sering berceloteh tentang hutan. Tentang bagaimana menemukan arah tanpa kompas. Tentang air yang bisa diminum. Dan tentang tumbuhan yang bisa di makan. Ia mengetahui semuanya. Ia juga bercerita kalau hutan yang akan kami singgahi bukan hutan biasa. Hutan itu sangat terkenal dengan pepohonannya yang mirip labirin dan sering di jadikan tempat untuk camping. Pantas saja L tau. L juga bercerita kalau ia pernah menyusuri labirin pohon di hutan itu dan berakhir di sebuah bangunan tua. Seperti bekas markas Jepang ketika menjajah Korea. Aku bergidik ngeri. Kalau ada bangunan tua pasti ada makhluknya. Aku menghalau pemikiranku tadi.
                L memperkirakan bahwa kami sudah berjalan sepanjang dua kilometer. Pantas saja kakiku pegal. Aku meminta istirahat sebentar. Awalnya L dan Hoya masih ada tenaga untuk berjalan satu kilometer lagi dan memintaku agar terus berjalan. Tapi tasku lebih berat daripada mereka dan akhirnya mereka mengikuti kemauanku. Aku segera duduk di tanah. Tak memikirkan lagi apa yang akan terjadi pada celanaku. Aku mengambil botol air minumku dan meneguknya sampai habis. Setelah itu aku kembali bangkit dan mengikuti L dan Hoya berjalan. Tak ada Sungyeol suasana menjadi datar saja. Tak ada yang mengeluarkan lelucon. Dua laki-laki yang ada disampingku ini sangat pendiam. Terkadang aku mengeluarkan lelucon dan hanya ditanggapi oleh kekehan kecil Hoya. Bahkan L hanya tersenyum. Aku ingin menggali tanah dan menguburkan diriku sekarang juga kalau suasananya tegang seperti ini untuk dua hari kedepannya. Aku menjadi diam. Dan sesekali melahap camilan yang aku bawa. Makan sambil berjalan memang tidak bagus. Tapi daripada mengubur diriku hidup-hidup, lebih baik aku makan saja snack yang aku bawa. L terhenti di tepi jurang. Ia meletakkan tasnya. Ia mengulurkan tangannya dan merilekskan otot-otonya yang menegang.
                “Disini tempatnya.” Katanya sambil tersenyum asimetris. Aku menganga.


Minggu, 05 Agustus 2012

(Prolog) Gun & Rosses


15 tahun yang lalu,
Aku mengusap bulir-bulir air mata yang jatuh dari pelupuk mata Yuki. Yuki Okizawa. Nama yang terlalu indah untuk aku lupakan. Bias senyum di wajahnya hilang hari ini. Dari awal aku bertemu dengannya hari ini sampai saat ini ia masih tetap menangis. Matanya yang bulat mendadak berubah warna menjadi kemerahan dan sedikit bengkak. Hidungnya juga. Ia tampak seperti badut yang menakutkan. Perlahan aku tepuk bahunya untuk mengurangi kadar kesedihan yang menghinggapi tubuhnya.
            “Sudahlah Yuki. Aku pasti tidak akan kemana-mana. Aku pasti menunggumu disini.” Kataku meyakinkannya dengan senyuman.
            Aku tak bisa menutupi kesedihanku yang meluap. Kupeluk tubuhnya yang mungil. Mana mungkin aku bisa melepas sahabatku satu-satunya. Tanpa terasa aku juga ikut menangis. Buru-buru aku mengelap air mata ini agar Yuki tidak bisa melihat aku menangis. Ia pasti akan menjadi lebih sedih lagi.
            “Aku tidak ingin pindah.” Katanya disela isakan tangisnya.
            Aku melepaskan pelukannya. Lalu mengelap kembali air mata yang bercampur keringat yang menghiasi wajahnya. Musim panas kali ini aku dan Yuki harus berpisah. Yuki akan pindah ke tanah kelahirannya, Jepang. Hal ini sangat membuatku sedih. Padahal liburan musim panas kali ini kami sudah menyusun rencana untuk berenang dan membeli es krim menggunakan uang jajan kami sendiri. Tapi rencana itu harus dipadamkan karena Yuki dan keluarganya yang akan pindah ke Jepang.
            Sebuah mobil sedan berwarna merah metallic berhenti tak jauh dari kami. Tangis Yuki semakin jadi.
            “Yuki, uljima[1]. Aku jadi semakin sedih melihatmu menangis.”
            Ia mengelap air matanya dengan punggung tangannya.
            “Ini,” Aku mengeluarkan liontin kecil berbentuk kunci, “Untukmu. Ketika kau merindukanku, coba lihat liontin itu. Aku juga punya satu. Kita tidak akan terpisahkan selama kau memakai liontin itu.” Kataku sambil mengalungkan liontinnya.
            “Jinho, berjanjilah kepadaku kau akan menungguku disini, di taman ini.”
            Aku mengangguk, “Seharusnya kau yang harus berjanji kepadaku. Berjanjilah kau harus pulang dan menemuiku di taman ini.”
            Ibu Yuki mendekat kearah kami, “Yuki,” ia memanggil Yuki.
            “Aku berjanji, aku akan kembali kesini dalam musim dan keadaan yang sama.” Ia menegakkan jari kelingking kecilnya.
            Aku melingkarkan jari kelingkingku. Ia tersenyum lalu berjalan perlahan kearah ibunya. Ibunya membelai halus rambut panjang milik Yuki. Perlahan juga air mata Yuki menetes. Ia menangis lagi. Ibunya menggendong Yuki masuk ke dalam mobil.
            Airmataku jatuh. Entah mengapa perpisahan ini sedikit membuatku resah. Aku merasa sangat sakit. Yang aku takutkan aku tidak bisa bertemu dengan Yuki lagi. Oke itu hanya ketakutanku saja.
            Tangan Yuki yang mungil melambai dari dalam mobil. Ia masih menangis.
            “Sampai berjumpa lagi, Jinho!” Teriaknya, “Jinho! Kau tidak boleh menangis!” Ia mengelap air matanya, “Aku berjanji aku tidak akan menangis lagi!”
            Mobil yang membawa keluarga Okizawa meluncur perlahan. Aku tersenyum tipis sambil melambaikan tanganku, “Sampai berjumpa lagi, Yuki! Sampai jumpa di musim panas selanjutnya!” Aku berteriak sekuat mungkin.
            “Aku pasti akan merindukanmu!”
            Perlahan mobil sedan itu tidak terlihat lagi. Kalimat itu, kalimat terakhir yang aku dengar dari bibir Yuki yang mungil di musim panas tahun ini. Aku harap aku bisa bertemu dengannya lain kali di musim dan keadaan yang sama.
            Musim panas kali ini terasa sangat hampa. Aku hanya bisa duduk dan sesekali terayun di ayunan besi taman ini. Aku tercenung lama sekali. Dan sadar ketika senja sudah mengerubungi-ku. Langit sudah berubah warna menjadi berwarna api yang keemasan. Aku segera menggeret skuter miniku pulang ke rumah.
            “Pesawat yang rencananya akan lepas landas di Bandar udara Internasional Jepang itu mengalami kecelakaan yang mengakibatkan hampir seluruh penumpang tewas. Sebagian penumpang tidak diketahui keadaannya.”
            Aku mencari-cari sumber suara berita itu. Dari arah sana, dari kedai minuman di pinggir jalan menuju rumahku. Aku berlari pelan dan memandangi televisi yang mengeluarkan ketakutanku, kekhawatiranku tentang Yuki.
            “Padahal pesawat itu baru terbang tadi siang dari Incheon. Kasihan sekali mereka.” Ujar bibi penjual minuman yang sedang melahap habis berita yang menayangkan pemandangan yang membuatku geram.
            Hatiku memanas. Ini tak mungkin terjadi. Ini tak mungkin. Itu pasti bukan pesawat yang Yuki tumpangi. Memangnya hanya ada satu pesawat yang lepas landas ke Jepang?! Tidak kan?! Tidak!
            Aku benar-benar mengeret skuter miniku sampai ke rumah. Emosiku bercampur aduk. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak tahu keadaan Yuki bagaimana. Aku menggenggam liontin berbandul gembok perak yang mengalungi leherku.
            “Itu Jinho!”
            “Ah kasihan sekali dia. Dia pasti sangat sedih.”
            Aku hanya bisa memandang aneh ke sekitarku. Mengapa semua orang memandangku seperti ini? Memangnya apa yang harus mereka kasihani terhadapku? Aku mempercepatkan langkahku.
            Dan langkahku melambat ketika melihat kerumunan di sekitar rumahku. Dengan bersusah payah aku menerobos kerumunan orang dewasa yang terus berbicara sedari tadi. Police Line. Apa-apaan ini?! Police Line?! Memangnya ada apa?! Aku berlari masuk ke dalam rumahku yang sudah di kepung oleh beberapa polisi. Mereka mencegat langkahku.
            “Ini rumahku!” Aku mengeluarkan teriakan yang memekikkan seluruh jenis telinga.
           “Tidak. Kau tidak boleh masuk.” Dan sialnya sekarang polisi ini mencengkeram tanganku dengan sangat kuat. Awas saja kalau pergelangan tanganku sampai luka, akan kubuat ia bertekuk lutut kepadaku.
            Aku menghentakkan tanganku dan buru-buru berlari masuk ke dalam rumahku.
            Pintu kamar orangtuaku penuh dengan plastik-plastik berwarna kuning menjijikkan ini dengan kalimat Police Line. Aku muak sekali melihat ini semua. Aku melepaskan semuanya dan mendobrak pintu kamar orangtuaku.
            Banyak lalat karena bau amis yang menyebar. Kamar orangtuaku sudah tidak berbentuk lagi. Wallpaper dinding yang sudah robek, cipratan cairan berwarna merah menjalari dinding dan tempat tidur di kamar orangtuaku. Dan aku dapat merasakan lantai kamar ini sedikit lengket. Mataku membulat ketika melihat darah segar yang tergenang lepas di lantai kamar ini dan kedua orangtuaku yang sudah tidak bernyawa tertidur di lantai kamar ini.
            Nyawaku terasa melayang. Tenggorokanku tercekat.
           Aku terduduk diantara mereka. Bahkan mata mereka belum tertutup sepenuhnya. Aku menutup mata mereka. Air mataku mengalir bebas.
            “Mengapa kalian pergi tidak bilang terlebih dahulu kepadaku?” Kataku sambil mengelap air mataku dengan telapak tanganku yang berlumuran dengan darah di lantai.
            Mataku mengekor kepada secarik kertas dekat tangan ayahku.
            Suara kasak-kusuk mulai terdengar dari luar. Suara polisi sialan itu. Ia mulai mendobrak masuk ke kamar orangtuaku dan buru-buru aku mengambil kertas di dekat tangan ayahku. Aku memasukkannya ke dalam saku celanaku.
            Polisi itu masuk ke kamar orangtuaku dan berjongkok dihadapanku, “Keluarlah, nak. Ruangan ini akan segera diperiksa. Jenazah orangtuamu juga akan diangkut untuk diotopsi terlebih dahulu.” Polisi itu memberikan telapak tangannya di hadapanku, berharap agar aku menerima ajakannya.
            Aku memicingkan mataku dan menolak mentah-mentah telapak tangan polisi tak berharga itu, “Aku tak butuh tanganmu.”
            Aku berdiri dan keluar dari kamar orangtuaku. Dan semua orang memandangiku aneh ketika aku keluar dengan raut wajah yang sangat tidak jelas dan bias-bias darah yang ada di pipiku.
            “Apa?! Apa yang kalian lihat?! Pergi kalian dari sini! Aku tak butuh kalian!” Jeritku membuat semua orang terkejut, kecuali polisi-polisi yang sedari tadi mengepun rumahku.
            “Kasihan sekali Jinho. Kudengar pesawat yang ditumpangi keluarga Okizawa kecelakaan sebelum mendarat di bandara Internasional Jepang.” Bisik seseorang. Aku dapat mendengar jelas bisikan ini.
            Aku terhenyak. Napasku tercekat.
            “Aku tak butuh belas kasihan kalian!” Jeritku dengan suara parau, “Pergi kalian dari sini! Pergi!”
            Semua orang pergi ke rumahnya masing-masing. Tidak ada siapa-siapa lagi. Tidak ada siapapun kecuali polisi yang sedari tadi kuanggap patung. Tidak ada siapa pun. Tidak ada. Tidak ada Yuki, tidak ada Ibunya Yuki yang selalu membuatkanku kue kering dengan selai strawberry diatasnya, tidak ada Ayahnya Yuki yang selalu membantuku dan Yuki ketika mengerjakan PR matematika, tidak ada Ibuku yang selalu membuat lelucon yang tidak lucu ketika aku menangis, tidak ada Ayahku yang selalu saja sibuk dengan pekerjaan di laboratorium andalannya. Itu semua tidak ada lagi. Atau mungkin tidak ada juga aku yang dulu.
            Hari ini aku kehilangan banyak orang terpenting di hidupku, atau mungkin aku akan kehilangan aku yang dulu.


[1] Jangan menangis

The Scary Game [Part 4]




Title : The Scary Game [part 4]
Author : Minnia
Genre : Mistery Friendship
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo L, Lee Howon, Lee Sungyeol
Other Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Dongwoo, Kim Sunggyu

Hanna POV
                Tirai dikamarku disibakkan seseorang. Efeknya banyak cahaya menyeruak masuk kedalam kamarku. Mataku mengerjap erjap mencari sosok yang telah membuka tirai kamarku tanpa izin. Aku melihat seorang namja berdiri tegak disamping tempat tidurku. Nam Woohyun oppa ternyata. Aku mengucek ucek mataku dan berusaha membuka kedua mataku yang sipit ini.
                “Hei, bangun.” Ucap Nam Woohyun oppa.
                “Nggh?” Erangku. Ia duduk disebelahku, disudut ranjangku. Ia mengacak-acak rambutku yang awalnya sudah kusut.
                “Hari ini kau mau kemana?”
                Mataku sudah bisa terbuka dan aku melihat kearah jam dinding. Baru pukul tujuh pagi. Aku menguap, “Hoamm sepertinya aku akan ke rumah sakit hari ini.”
                “Kau masih terlihat lelah. Tidur saja dulu. Bagaimana permainan tenis kemarin?”
                “Cukup buruk. Aku memakai lotion dan raket tenisku terlempar mengenai tulang kering Sungyeol. Dan tulang keringnya patah.”
                “Jinjja? Kau seperti pembunuh yang hebat.” Ucap Woohyun oppa sambil menepuk nepuk pundakku dan tertawa. Apa katanya pembunuh? Aku memicingkan mataku.
                “Pembunuh?” tanyaku.
                “Hahahaha.. sudah lah. Aku hanya bercanda. Kau jadi ke rumah sakit?”
                “Iya.”
                “Ah padahal hari ini aku libur. Aku baru saja mau mengajakmu jalan jalan.”
                “Mianhae oppa. Tapi aku harus menjaga Sungyeol. Lain kali saja ya.”
                “Baiklah.” Katanya sambil mengelus rambutku. Sudah lama ia tak melakukan ini. mungkin karena kami jarang bertemu. Aku merindukan memori memori lama ketika waktu aku masih kecil. Aku merindukan semuanya.
                Woohyun oppa keluar dari kamarku dan aku segera membereskan tempat tidurku. Badanku masih terasa lelah. Aku memutar kepalaku untuk menghilangkan nyeri di bagian leher. Aku beristirahat sejenak. Dan kupandangi seluruh isi kamarku. Aku mendapati jejeran foto antara aku, L, Hoya, dan Sungyeol ketika kami bersama. Mulai dari kami kecil hingga sekarang. Mulai dari foto yang memalukan hingga yang melihatkan sisi manis kami semua. Aku menghampiri jejeran foto itu. aku membuka kembali potongan memori memori kecil masa lalu.
                Dan aku lama sekali memandangi foto foto itu. dan aku baru menyadari bahwa muka L tak pernah berubah. Selalu dingin dan serius. Dan aku lupa dengan foto ini. kapan aku mengambil foto ini? aku sedang duduk berdua dengan L dan dibelakangnya ada Hoya dan Sungyeol, tangan mereka membentuk love. Aiss lucu sekali ekspresi Sungyeol. Aku terkekeh pelan memandangi foto foto tersebut. dan sepertinya aku harus mandi sekarang.
                Ponselku bergetar lebih dari tiga kali. Sepertinya ada telpon dari seseorang. Sambil menyisir rambut, aku mengangkat telpon itu.
                “Yeoboseyo?”
                “Ya! Hanna-ah! Bisa tidak kau cepat sedikit?!” Bentak suara seseorang dari seberang sana. Ya walaupun suaranya terdengar tenang, tapi aku tau kalau ia pasti membentakku. Aku melihat layar ponselku. Dan ternyata benar. L.
                “Mwo? Memangnya kenapa?”
                “Aku sudah menunggumu lebih dari lima menit.”
                “Untuk apa kau menungguku?” Aku menaikkan alisku sebelah. Aku melihat kearah jendela. Mobil sedan berwarna hitam metallic berparkir didepan rumahku.
                “Sudah mending aku jemput. Mau ikut tidak?” tanyanya lagi.
                “Tunggu. Jangan matikan.” Perintahku. Aku segera berlari ke kamar Woohyun oppa yang berada tepat disebelah kamarku. Ternyata ia juga sedang menelpon.
                “Ada apa?” tanyanya sambil menutup ponselnya.
                “Aku pergi dengan L ya?”
                “Bukannya aku yang akan mengantarmu?”
                “L sudah menjemputku.”
                “Hanna-ah! Hanna!” Panggil L, aku dapat mendengarnya namun aku menutup speaker ponselku agar Woohyun oppa tak mendengarnya.
                “Hmm.. baiklah. Hati-hati.”
                Aku langsung berlari ke kamarku dan kembali melanjutkan sambungan telpon dari L.
                “L?” panggilku.
                “Ne? cepatlah!”
                “Ah.. ne ne ne…” aku segera turun ke lantai dasar rumah ku dan berlari menuju mobil yang sedari tadi sudah parkir di depan rumahku.
                Aku masuk kedalam mobil itu dengan ngos ngosan. Aku duduk di jok belakang. Aku menarik beberapa tisu yang aku bawa dan mengelap bulir bulir keringatku yang turun deras seketika. Ternyata bukan hanya ada L, tetapi ada Sunggyu oppa, kakak laki laki dari L. seperti biasa, ia tersenyum kearahku. Ah, hyungnya sangat berbeda dengan dongsaengnya. Aku membalas senyumannya. Tak lama kemudian mobil ini pun melaju kearah rumah sakit.
                “L sedari dulu memang menyebalkan.” Ucap Sunggyu oppa memecah keheningan di dalam mobil. Aku melihatnya dari kaca spion tengah. Ia melihat kearahku. L juga melihatku dari kaca spion tengah dan menaikkan alis sebelahnya. Ya tuhan. Demi apa pun itu sangat keren.
                “Hahaha. Aku bisa memakluminya.” Jawabku. L menggeleng gelengkan kepalanya.
                “L, tumben kau tak membawa sepedamu?” tanyaku.
                “Ban sepedaku bocor. Aku belum sempat mengganti ban dalamnya.”
                “Kau terlalu mencintai sepedamu. Aku kan sudah membelikanmu sebuah mobil. Mengapa kau tak mau memakainya?” Tanya Sunggyu oppa.
                “Aku lebih suka menghirup udara segar daripada udara AC mobil.” Jawabnya singkat.
                Aku hanya bisa diam melihat percekcokan antara dua saudara ini. antara orang yang protektif dan orang yang terlalu cuek. Susah memang. Semua masalah jadi terbelit. Dan tak jauh lagi kami sampai di rumah sakit. Sunggyu oppa hanya mengantar kami saja. Ia tak masuk ke dalam. Ia hanya menyampaikan pesan untuk Sungyeol agar cepat sembuh. Aku dan L keluar dari mobil Sunggyu oppa. Ada seseorang yang memperhatikanku. Aku menoleh ke daerah sekitarku. Ya! Namja itu lagi! Namja dengan jubah berwarna gelap melihat kearahku. Dibawah sinar matahari pagi seperti ini, ia terlihat seperti orang jahat. Ia memakai kacamata berwarna hitam, masker berwarna hitam, dan rambut yang ia cat dengan warna light brown.
                “Apa yang kau lihat?” Tanya L sambil menusuk nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.
                “Ha? Ani.. ani..” kataku langsung menggandeng tangan L.
                “Hei! Apa yang kau lakukan?!”
                “Diamlah! Aku takut! Seseorang mengamati kita!” kataku sambil menyeret L masuk kedalam rumah sakit.
                “Nuguya?”
                “Itu, ada dibelakang. Ia mengenakan pakaian serba hitam dan gelap. Aku takut.”
                L membalikkan badannya, “Tak ada.”
                Langkahku terhenti dan aku memberanikan diri untuk melihat kebelakang, “Ta.. tadi dia ada.. aiss. Kemana dia? L, kau percaya denganku kan?”
                L memandangku aneh, “Sudahlah. Mungkin itu hanya halusinasimu.” Ia melepaskan tangannya dan berjalan mendahuluiku.
                “L!!!! AISSS!!” jeritku sambil berlari menghampirinya.
J
                Aku menyuapi sesendok demi sesendok bubur ke mulut Sungyeol. ia terlihat kelaparan. Sungjong dan Hoya sedang mencari sarapan. Hoya datang terlebih dahulu daripada aku dan L. L membereskan beberapa baju Sungyeol. Semangkuk bubur sudah lenyap tenggelam di dalam perut Sungyeol. Aku membantunya duduk dan menyuguhkan segelas air putih. dan tak lama kemudian Hoya dan Sungjong sudah kembali dengan membawa makanan.
                “Yeolie, apakah orangtuamu sudah tau keadaanmu?” tanyaku.
                “Sebaiknya mereka tidak tau.”
                “Wae?”
                “Aku tidak ingin mereka terlihat stress.”
                “Tapi sebaiknya amma dan appa tau, hyung.” Ucap Sungjong dengan mulut yang penuh makanan.
                “Telan dahulu makananmu,” Ucap Sungyeol, “Aku tak ingin melihat mereka stress. Lebih baik aku menyimpan rahasia ini rapat rapat. Makanya aku ingin cepat sembuh.”
                Aku mengangguk dan membantu Sungyeol kembali dalam posisi tidur. Hening. Aku memijat mijat sedikit lengan Sungyeol. L menghampiri aku dan melihat tulang kering Sungyeol.
                “Setelah operasi kemarin sepertinya sudah mulai pulih. Tapi lebih baik jangan banyak bergerak dulu.” Kata L sambil terus mengamati kakinya.
                “Oh iya,” Hoya membuka mulutnya, “Kita jadi mau camping di hutan? Jika sesuai rencana, esok kita akan camping.”
                “Aku rasa tidak usah dulu. Kita harus menjaga Sungyeol” Ucapku tanpa berpikir.
                “Pergilah,” Kata Sungyeol, “Jangan hanya gara gara aku kalian tidak jadi pergi.”
                “Tapi..”
                “Tak apa, ada aku disini.” Kata Sungjong.
                “Kau mau dibawakan oleh oleh apa nanti?” tanyaku.
                “Oleh oleh ya? Hmm aku ingin ular cobra.”
                “Mwoo? Hahaha!” Tawaku pecah mendengar jawaban Sungyeol. Keadaan sudah mulai mencair.
                “Baiklah. Besok kita akan tetap camping di hutan. Kita pilih hutan yang dekat dengan rumahku saja. Besok jam enam pagi kalian sudah ada di rumahku. Arasseo?”
                “Arasseo!” Jawabku dan Hoya bersamaan.