Jumat, 01 Juni 2012

The Scary Game [Part 3]




Title : The Scary game [part 3]
Author : Minnia
Genre : Mistery romantic
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo, Lee Howon, Lee Sungyeol
Support Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang Dongwoo.

                Hanna POV

                “Arrrgh!!” Jerit Sungyeol kesakitan.
                Pemandangan yang tak enak. Kaki Sungyeol memar dan darah mulai mengucur disekitar lututnya yang terekspos  jelas. Dia menjerit dan menangis. Kami semua berlari menghampirinya. L mengecek kakinya yang memar dan aku hanya bisa melihat Sungyeol dengan wajah yang tak mengerti.
                “Yeolie, Mianhae.” Kataku.
                “Cepat panggil ambulans!” seru L sambil mendorong dorong kakiku.
                Aku langsung menelepon mobil ambulans dan tak lama kemudian mobil putih itupun datang mengangkut Sungyeol dan L. Kini tinggal aku dan Hoya yang masih terpaku dengan kejadian tadi.
                “Kau memakai lotion tadi?” Tanya Hoya. Aku mengangguk.
                “Aiss..” katanya
                “Memangnya tidak boleh ya?”
                “Itu akibatnya.” Katanya singkat.
                Hening.
                “Oh ya kau tadi dengan L kesini naik sepeda bukan? Kita menyusul ke rumah sakit dengan sepeda saja ya?”
                Aku mengangguk lemah. Aku merasa sangat bersalah sekarang. Andaikan tadi aku mendengar nasihat L, mungkin kejadian ini tak pernah terjadi. Aku segera mengejar Hoya sambil memikul tas ranselku yang sangat berat. Aku duduk di bangku belakang. Aku harap jarak rumah sakit dan Woolim tidak jauh.
                Begitu aku sampai di depan kamar rawat inap, kami—aku dan Hoya—sudah disambut oleh wajah kusut L. ia menundukkan kepalanya. Ia terlihat letih dan sedih. Ya, itu terpampang jelas di raut wajah dingin L. aku dapat membacanya. Hoya masuk ke dalam kamar rawat inap Sungyeol. Aku putuskan untuk duduk sebentar dengan L. ketika aku duduk, L mengalihkan pandangannya ke aku dan kembali menunduk.
                “Bagaimana keadaannya?” Tanyaku dengan nada yang cukup parau.
                “Ia mengalami patah tulang pada tulang keringnya. Dan mengalami luka memar yang lumayan serius.”
                Hening. Hoya keluar dari kamar rawat inap Sungyeol dengan raut wajah sedih. Tanpa banyak bicara aku masuk ke dalam kamar rawat inap Sungyeol.
                Tampaknya Sungyeol sedang tidur. Ia tertidur pulas. Sungjong duduk disebelah Sungyeol dengan mata yang agak sembab. Aku menghampiri mereka. Sungjong menggenggam erat tangan hyungnya. Aku jadi merasa sangat bersalah. Aiss, ini gara-gara lotion sialan tadi. Aku ini bodoh! Sangat bodoh! Aku duduk di sebelah Sungyeol, berhadapan dengan Sungjong. Sungjong melihat kearahku. Aku duduk di sebelah Sungyeol.
                “Mianhae, Yeolie.” Kataku sambil menggenggam erat tangan Sungyeol. Aku membenamkan wajahku yang panas di tangan Sungyeol. Sesekali ia bergerak.
                “Kau sudah makan, Sungjong?” Tanyaku.
                “Belum, noona.”
                “Kau mau makan?”
                “Tidak. Aku akan menjaga Sungyeol hyung disini.”
                “Kau tak bisa seperti itu. seharusnya kau jaga kesehatan. Jangan sampai kau sakit hanya gara-gara menjaga Sungyeol. Aku bisa menjaganya. Makanlah.”
                Sungjong menggeleng. Tiba tiba Hoya dan L masuk ke dalam kamar ini.
                “Kalian bisa menjaga Sungyeol?” Tanyaku.
                Mereka saling berpandangan dan Hoya mengangguk.
                “Baiklah. Jaga Sungyeol, aku akan mencari makan untuk Sungjong. Sungjong, kau ikut denganku.” Aku menggamit lengan Sungjong. Awalnya ia menepis. Tapi apa daya, kekuatanku kali ini lebih darinya. Aku menyeretnya keluar dari kamar itu.
                Ternyata tak jauh dari rumah sakit itu aku dan Sungjong menemukan tempat makan yang menjual makanan yang lumayan untuk mengganjal perutku dan mungkin cukup untuk menyimpan cadangan makanan untuk Sungjong. Kebetulan aku juga sedang lapar. Aku langsung menyeret Sungjong lagi untuk masuk ke dalam restoran tersebut. aku segera duduk di meja dan kursi kosong yang disediakan. Sungjong memaparkan muka kusutnya. Ia duduk di depanku.
                “Kau mau makan apa?” Tanyaku sambil membuka menunya, “Ada bibimbap, bulgogi, bahkan burger juga ada disini.”
                “Noona..” Panggilnya. Aku mendongak. “Setelah kau melukai kaki hyungku, kau menyeret nyeretku untuk makan dan meninggalkan hyungku sendirian—“
                “Dia tak sendirian—“ potongku.
                “Noona!” Bentaknya, “Apa yang kau inginkan?!”
                “Aku hanya tidak ingin kau sakit.”
                “Geojitmal!” Teriaknya. Hampir seluruh pengunjung disini melihat kearah kami.
                “Aiss..  mana mungkin. Pelankan suaramu.” Aku meletakkan telunjukku di bibirku sendiri.
                Setelah teriakan itu, ada yang tidak beres. Seorang namja melihat terus kearah kami. Sesekali ia menekan nekan ponselnya yang berwarna hitam gelap.
                “Permisi, jadi anda pesan apa?” Tanya pelayan wanita dengan wajah datarnya.
                “Eung.. aku rasa bibimbap sapi dua. Dan Jus orange dua.”
                “Baiklah. Tunggu lima belas menit agar kami dapat menyajikan apa yang anda pesan. Kamsahamnida.”
                Aku hanya mengangguk. Sungjong masih menatapku dengan pandangan penuh kebencian. Aku balas menatapnya dengan pandangan bersalah.
                “Sudahlah. Jangan menatapku dengan pandangan seperti itu.” Kataku.
                “Aku membenci noona.”
                “Mwo? Aku kan sudah bertanggungjawab.”
                Tiba tiba dihadapan kami sudah disediakan makanan yang kupesan. Aku menyodorkan semangkuk bibimbap dan segelas jus jeruk pada Sungjong. Aku memberikannya sumpit secara langsung. Berharap ia mengambil dan tak marah denganku. Ia masih menatapku dengan kebencian.
                “Ambil sumpit ini. dan makanlah. Pipimu terlihat tirus.”
                Ia tetap diam. Ketika Sungjong bersikap seperti ini, ia terlihat lebih menakutkan.
                “Apa perlu aku menyuapimu?” aku membuka bungkusan sumpit itu dan mulai menyumpitkan gumpalan nasi dan acar.
                “Buka mulutmu. Pesawat akan segera datang. Aaaa?” Kataku sambil menyodorkan sumpit yang berisi nasi itu kedalam mulutnya. Ia masih menutup mulutnya.
                Aku meletakkan sumpit itu di dalam mangkok berisikan bibimbap tersebut.
                “Sungjongie..” panggilku. Kali ini aku benar benar menatap serius ke wajahnya, “Kau harus makan.”
                Ia menggeleng, “Aku harus kembali ke rumah sakit.” Ia berdiri dan aku berhasil mencegat tangannya.
                “Tolong dengarkan perkataanku kali ini.”
                Tiba tiba suasana restoran ini menjadi suram dan tenang dari suara. Krekk, seseorang menggesekkan kursinya. Namja itu berdiri dari kursinya dan meninggalkan restoran ini. namja itu memang terlihat aneh. Ia memakai baju berwarna gelap. Apakah baju berwarna gelap masih ngetrend di zaman sekarang? Aku rasa tidak. Aku lihat Sungjong duduk kembali di depanku.
                “Makanlah. Wajahmu pucat. Kau pasti kelaparan. Ketika Sungyeol sudah bangun dan melihatmu seperti ini dia pasti sangat sedih.”
                Ia menunduk. Membenamkan wajahnya, “Mianhae noona. Maafkan aku sudah membentakmu.”
                Aku hanya tersenyum tipis. Sungjong mengambil sumpitnya dan mulai menghabiskan bibimbapnya. Kami larut dalam keheningan malam. Setelah selesai kami lngsung kembali ke ruang inap Sungyeol. Dan betapa terkejutnya kami melihat Sungyeol sudah dapat tertawa dengan Hoya dan L. aku dapat merasakan hawa segar sekarang. Sungjong juga sudah lumayan bisa tersenyum. aku menghampirinya.
                “Aisss.. Mianhae Yeolie.” Ucapku sambil menggenggam erat tangan Sungyeol.
                “Hanna-ya, sebenarnya tak apa. Aku mengerti.”
                “Tapi tulang keringmu patah.”
                “Itu resiko. Kau juga seharusnya hati hati. Dan berkatmulah aku..”
                “Apa?”
                “Aku dapat dibebaskan dari derita yang lebih menyakitkan. Mentraktir Hoya 5 scoop es krim selama dua minggu.”
                “Mwo? Hahahahaha” Seisi ruangan terbahak mendengar pernyataan Sungyeol.
                “Ya, baiklah. Taruhan itu lenyap. Aku iba melihat sahabatku yang harus menahan sakit demi taruhan.” Kata Hoya sambil mengacak-acak rambut Sungyeol.
                Kami mulai bercanda seperti biasa. Tak sadar waktu pun semakin larut. Malam sudah semakin menengah. Sudah saatnya aku pulang. Dan kami—aku, Hoya, dan L—keluar dari rumah sakit. Hoya diantar pulang oleh L dengan sepedanya.  Dan tak lama kemudian Woohyun oppa meneleponku dan menjemputku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar