Title : The Scary game [part 3]
Author : Minnia
Genre : Mistery romantic
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo, Lee Howon, Lee
Sungyeol
Support Cast : Nam Woohyun, Lee Sungjong, Kim Sunggyu, Jang
Dongwoo.
Hanna
POV
“Arrrgh!!”
Jerit Sungyeol kesakitan.
Pemandangan
yang tak enak. Kaki Sungyeol memar dan darah mulai mengucur disekitar lututnya
yang terekspos jelas. Dia menjerit dan
menangis. Kami semua berlari menghampirinya. L mengecek kakinya yang memar dan
aku hanya bisa melihat Sungyeol dengan wajah yang tak mengerti.
“Yeolie,
Mianhae.” Kataku.
“Cepat
panggil ambulans!” seru L sambil mendorong dorong kakiku.
Aku
langsung menelepon mobil ambulans dan tak lama kemudian mobil putih itupun
datang mengangkut Sungyeol dan L. Kini tinggal aku dan Hoya yang masih terpaku
dengan kejadian tadi.
“Kau
memakai lotion tadi?” Tanya Hoya. Aku mengangguk.
“Aiss..”
katanya
“Memangnya
tidak boleh ya?”
“Itu
akibatnya.” Katanya singkat.
Hening.
“Oh
ya kau tadi dengan L kesini naik sepeda bukan? Kita menyusul ke rumah sakit
dengan sepeda saja ya?”
Aku
mengangguk lemah. Aku merasa sangat bersalah sekarang. Andaikan tadi aku
mendengar nasihat L, mungkin kejadian ini tak pernah terjadi. Aku segera
mengejar Hoya sambil memikul tas ranselku yang sangat berat. Aku duduk di
bangku belakang. Aku harap jarak rumah sakit dan Woolim tidak jauh.
Begitu
aku sampai di depan kamar rawat inap, kami—aku dan Hoya—sudah disambut oleh
wajah kusut L. ia menundukkan kepalanya. Ia terlihat letih dan sedih. Ya, itu
terpampang jelas di raut wajah dingin L. aku dapat membacanya. Hoya masuk ke
dalam kamar rawat inap Sungyeol. Aku putuskan untuk duduk sebentar dengan L.
ketika aku duduk, L mengalihkan pandangannya ke aku dan kembali menunduk.
“Bagaimana
keadaannya?” Tanyaku dengan nada yang cukup parau.
“Ia
mengalami patah tulang pada tulang keringnya. Dan mengalami luka memar yang
lumayan serius.”
Hening.
Hoya keluar dari kamar rawat inap Sungyeol dengan raut wajah sedih. Tanpa
banyak bicara aku masuk ke dalam kamar rawat inap Sungyeol.
Tampaknya
Sungyeol sedang tidur. Ia tertidur pulas. Sungjong duduk disebelah Sungyeol
dengan mata yang agak sembab. Aku menghampiri mereka. Sungjong menggenggam erat
tangan hyungnya. Aku jadi merasa sangat bersalah. Aiss, ini gara-gara lotion
sialan tadi. Aku ini bodoh! Sangat bodoh! Aku duduk di sebelah Sungyeol,
berhadapan dengan Sungjong. Sungjong melihat kearahku. Aku duduk di sebelah
Sungyeol.
“Mianhae,
Yeolie.” Kataku sambil menggenggam erat tangan Sungyeol. Aku membenamkan
wajahku yang panas di tangan Sungyeol. Sesekali ia bergerak.
“Kau
sudah makan, Sungjong?” Tanyaku.
“Belum,
noona.”
“Kau
mau makan?”
“Tidak.
Aku akan menjaga Sungyeol hyung disini.”
“Kau
tak bisa seperti itu. seharusnya kau jaga kesehatan. Jangan sampai kau sakit
hanya gara-gara menjaga Sungyeol. Aku bisa menjaganya. Makanlah.”
Sungjong
menggeleng. Tiba tiba Hoya dan L masuk ke dalam kamar ini.
“Kalian
bisa menjaga Sungyeol?” Tanyaku.
Mereka
saling berpandangan dan Hoya mengangguk.
“Baiklah.
Jaga Sungyeol, aku akan mencari makan untuk Sungjong. Sungjong, kau ikut
denganku.” Aku menggamit lengan Sungjong. Awalnya ia menepis. Tapi apa daya,
kekuatanku kali ini lebih darinya. Aku menyeretnya keluar dari kamar itu.
Ternyata
tak jauh dari rumah sakit itu aku dan Sungjong menemukan tempat makan yang
menjual makanan yang lumayan untuk mengganjal perutku dan mungkin cukup untuk
menyimpan cadangan makanan untuk Sungjong. Kebetulan aku juga sedang lapar. Aku
langsung menyeret Sungjong lagi untuk masuk ke dalam restoran tersebut. aku segera
duduk di meja dan kursi kosong yang disediakan. Sungjong memaparkan muka
kusutnya. Ia duduk di depanku.
“Kau
mau makan apa?” Tanyaku sambil membuka menunya, “Ada bibimbap, bulgogi, bahkan
burger juga ada disini.”
“Noona..”
Panggilnya. Aku mendongak. “Setelah kau melukai kaki hyungku, kau menyeret
nyeretku untuk makan dan meninggalkan hyungku sendirian—“
“Dia
tak sendirian—“ potongku.
“Noona!”
Bentaknya, “Apa yang kau inginkan?!”
“Aku
hanya tidak ingin kau sakit.”
“Geojitmal!”
Teriaknya. Hampir seluruh pengunjung disini melihat kearah kami.
“Aiss..
mana mungkin. Pelankan suaramu.” Aku
meletakkan telunjukku di bibirku sendiri.
Setelah
teriakan itu, ada yang tidak beres. Seorang namja melihat terus kearah kami.
Sesekali ia menekan nekan ponselnya yang berwarna hitam gelap.
“Permisi,
jadi anda pesan apa?” Tanya pelayan wanita dengan wajah datarnya.
“Eung..
aku rasa bibimbap sapi dua. Dan Jus orange dua.”
“Baiklah.
Tunggu lima belas menit agar kami dapat menyajikan apa yang anda pesan.
Kamsahamnida.”
Aku
hanya mengangguk. Sungjong masih menatapku dengan pandangan penuh kebencian.
Aku balas menatapnya dengan pandangan bersalah.
“Sudahlah.
Jangan menatapku dengan pandangan seperti itu.” Kataku.
“Aku
membenci noona.”
“Mwo?
Aku kan sudah bertanggungjawab.”
Tiba
tiba dihadapan kami sudah disediakan makanan yang kupesan. Aku menyodorkan
semangkuk bibimbap dan segelas jus jeruk pada Sungjong. Aku memberikannya
sumpit secara langsung. Berharap ia mengambil dan tak marah denganku. Ia masih
menatapku dengan kebencian.
“Ambil
sumpit ini. dan makanlah. Pipimu terlihat tirus.”
Ia
tetap diam. Ketika Sungjong bersikap seperti ini, ia terlihat lebih menakutkan.
“Apa
perlu aku menyuapimu?” aku membuka bungkusan sumpit itu dan mulai menyumpitkan
gumpalan nasi dan acar.
“Buka
mulutmu. Pesawat akan segera datang. Aaaa?” Kataku sambil menyodorkan sumpit
yang berisi nasi itu kedalam mulutnya. Ia masih menutup mulutnya.
Aku
meletakkan sumpit itu di dalam mangkok berisikan bibimbap tersebut.
“Sungjongie..”
panggilku. Kali ini aku benar benar menatap serius ke wajahnya, “Kau harus
makan.”
Ia
menggeleng, “Aku harus kembali ke rumah sakit.” Ia berdiri dan aku berhasil
mencegat tangannya.
“Tolong
dengarkan perkataanku kali ini.”
Tiba
tiba suasana restoran ini menjadi suram dan tenang dari suara. Krekk, seseorang
menggesekkan kursinya. Namja itu berdiri dari kursinya dan meninggalkan
restoran ini. namja itu memang terlihat aneh. Ia memakai baju berwarna gelap.
Apakah baju berwarna gelap masih ngetrend di zaman sekarang? Aku rasa tidak.
Aku lihat Sungjong duduk kembali di depanku.
“Makanlah.
Wajahmu pucat. Kau pasti kelaparan. Ketika Sungyeol sudah bangun dan melihatmu
seperti ini dia pasti sangat sedih.”
Ia
menunduk. Membenamkan wajahnya, “Mianhae noona. Maafkan aku sudah membentakmu.”
Aku
hanya tersenyum tipis. Sungjong mengambil sumpitnya dan mulai menghabiskan
bibimbapnya. Kami larut dalam keheningan malam. Setelah selesai kami lngsung
kembali ke ruang inap Sungyeol. Dan betapa terkejutnya kami melihat Sungyeol
sudah dapat tertawa dengan Hoya dan L. aku dapat merasakan hawa segar sekarang.
Sungjong juga sudah lumayan bisa tersenyum. aku menghampirinya.
“Aisss..
Mianhae Yeolie.” Ucapku sambil menggenggam erat tangan Sungyeol.
“Hanna-ya,
sebenarnya tak apa. Aku mengerti.”
“Tapi
tulang keringmu patah.”
“Itu
resiko. Kau juga seharusnya hati hati. Dan berkatmulah aku..”
“Apa?”
“Aku
dapat dibebaskan dari derita yang lebih menyakitkan. Mentraktir Hoya 5 scoop es
krim selama dua minggu.”
“Mwo?
Hahahahaha” Seisi ruangan terbahak mendengar pernyataan Sungyeol.
“Ya,
baiklah. Taruhan itu lenyap. Aku iba melihat sahabatku yang harus menahan sakit
demi taruhan.” Kata Hoya sambil mengacak-acak rambut Sungyeol.
Kami
mulai bercanda seperti biasa. Tak sadar waktu pun semakin larut. Malam sudah
semakin menengah. Sudah saatnya aku pulang. Dan kami—aku, Hoya, dan L—keluar
dari rumah sakit. Hoya diantar pulang oleh L dengan sepedanya. Dan tak lama kemudian Woohyun oppa
meneleponku dan menjemputku.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar