Title : Sorry, I Love You (one shoot)
Author : Minnia
Genre : love, romantic, pain
Cast : Yeo Shikka, Jung Jinyoung, Cha Sunwoo (Baro)
Other Cast : Lee Junghwan, Shin Dongwoo, Gong Chansik
Recommended
B1A4’s Songs : Smile, Only Learn Bad Things, Baby I’m Sorry, Crush (Sandeul
solo), Chu Chu Chu, My Love, Only One
Baro POV
Aku
mengemaskan buku buku yang berserakan di depan mataku. Berantakan sekali.
Beberapa saat kemudian Shikka datang sambil menggenggam dua gelas Kristal yang
cantik berisikan jus jeruk dingin. Shika meletakkannya di atas meja itu. Aku
masih mengemas buku-buku yang berantakan. Walaupun aku tak menatapnya, tetap
saja aku dapat merasakan hawa Shika yang dingin sambil menenggak segelas jus
jeruk itu. Ia hanya meninggalkan setengah jus jeruknya.
“Argh
aku masih belum mengerti!” katanya sambil mengacak-acakkan rambutnya.
Aku
hanya menatap dengan tatapan kosong ke wajahnya. Ini kesekian kalinya ia
berkata dan berkelakuan seperti itu. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan. Aku
sudah mengajarinya sampai suaraku sekarat. Tapi tetap saja ia tak mengerti
materi apa yang aku ajarkan. Aku pun sudah putus asa untuk mengajarinya. Aku
tak tahu apa yang akan ia jabarkan di kertas ulangan matematikanya nanti. Aku
memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan menyandangnya.
“Kau
mau kemana?!” Tanyanya dengan nada yang agak meninggi.
“Pulang.”
“Apa?!
pulang?! Tidak boleh! Kau tidak boleh pulang sebelum aku mengerti satu pun
materi yang kau ajarkan!”
“Aiss
tapi sekarang sudah sore.”
“Kalau
begitu kau tidur saja dirumahku.”
“Ah
aniya! Eommaku akan marah nantinya!” Jawabku dengan nada yang agak meninggi
juga.
“Mau
kupatahkan gigimu?” Ancamnya sambil meletakkan kepalan kecil tangannya di depan
bibirku.
Aku
terkekeh kecil lalu menepis kepalannya, “Kau kira aku takut?”
Ia
mendekatkan kepalannya dan berdiri.
“Aigo
aigo, ayo duduk. Kita ulang lagi materinya.” Kataku akhirnya menyerah. Ia
tertawa puas. Aku membekap mulutnya.
“Diam!”
Ia
terdiam. Aku kembali membuka bukuku yang telah aku simpan baik-baik. Ia
memperhatikanku. Mendengarkan penjelasanku dari awal hingga akhir. Lalu aku
memberikannya beberapa soal dan aku harap ia bisa mengerjakannya sendiri tanpa
kalkulator. Ya, Shikka, sahabatku dari kecil hingga sekarang, sangat bodoh di
matematika. Entah apa yang ia tak suka dari matematika. Padahal menurutku
matematika biasa saja. Aku lumayan dapat mengerti dengan mudah.
“Berikan
hiburan.” Katanya sambil mencubit tanganku.
“Aiss
kau ini tak pernah berubah menjadi wanita yang lembut ya?! Sakit! Lihat kulitku
jadi memerah!”
“Ah kau
ini manja sekali. Paling sebentar lagi juga akan normal.”
“Bagaimana
kalau membiru?”
“Aku
akan membelikanmu selusin topi.” Katanya sambil menurunkan secara kasar topiku.
“Argh
kau ini! Cepat kerjakan!”
Ia
memajukan bibirnya lalu mengerjakan kembali soal-soal yang telah aku berikan.
Ah lama sekali ia mengerjakan soal ini. Aku sudah sangat lelah. Aku meneguk jus
jeruk dingin yang belum ku sentuh tadi. Aku tak meninggalkan sisa di dalamnya.
Aku melihat ke kertas jawabannya.
“Sudah
selesai?”
“Sedikit
lagi.”
“Ah kau
ini seperti siput.”
“Wajahmu
mirip tupai.”
Aku
memperlihatkan ekspresi tupaiku di hadapan wajahnya. Ia tertawa terbahak-bahak
melihat ekspresiku sambil menampar pipiku. Ah Shikka memang tak bisa lembut
sedikit pun.
“Jangan
seperti itu!”
“Memangnya
seperti apa?”
“Tupai!”
“Bukankah
tadi kau yang mengatakan bahwa aku mirip tupai?” Tanyaku membalikkan
pernyataan.
Ia
terdiam, “Ah sudah lah. Kau ingin cepat pulang kan? Lebih baik aku menyiapkan soal ini.”
“Kau
selalu seperti itu ketika sudah kalah.”
“Siapa
yang kalah?!”
“Kau.
Dasar siput!” Kataku sambil menjepit hidungnya dengan kedua jariku.
“Ah
sakit!”
“Rasakan
penderitaanku. Cepat selesaikan soal-soal itu!”
Ia
mendecak kesal. Beberapa menit kemudian ia memberikan kertas yang ia coret dari
tadi. Aku memeriksanya cepat. Lalu memberikannya kembali. Ia ternganga.
“Kalau
kau besok ulangan, perbanyak baca buku dan mengerjakan soal-soal. Itu buktinya
kau bisa.”
Aku
memasukkan kembali buku-bukuku ke dalam tas dan memikul kembali tasku. Aku
berdiri.
“Gomawo,
Baro-ya!” Katanya sambil memukul lututku.
“Aiss
itu namanya bukan berterimakasih!”
“Ahahaha.
Mianhae. Sudahlah. Pulang sana. Nanti eommamu marah. Aku tak ingin melihat
tupai menangis.”
Aku
terkekeh lalu pamit pulang.
Untung
saja langit senja belum dimakan habis dengan pekatnya malam. Aku segera
mempercepat langkah kakiku. Terasa liontin kecil berlompat-lompat di dadaku.
Aku mengambilnya dan memegangnya. Aku membuka liontin itu. Aku terkekeh melihat
foto itu. Foto aku dan Shikka. Ketika masih kecil tapi.
J
-flashback-
5
September 2000
Aku
hanya memandang ibuku yang tengah asyik membuat sesuatu. Aku melihat kearah
Yoonji, adik perempuanku satu-satunya sedang bermain sendiri. Aku bingung. Hari
ini ulangtahunku yang ke Sembilan. Tapi mengapa mereka mengacuhkanku? Aku
melihat ayahku yang sedang bekerja di halaman. Ia sedang memperbaiki sepeda
Yoonji. Aiss inikah yang namanya ulangtahun? Sangat membosankan.
“Eomma.”
Panggilku.
“Hm?”
“Ini hari
ulangtahunku kan?”
“Oh ya?
Oh iya! Saengil Chukhaeyo!” Kata ibuku sambil menciumi kedua pipiku. Bahkan
ibuku sendiri lupa kalau aku berulangtahun hari ini.
“Tidak
ada acara?”
“Acara?”
“Iya.
Tidak ada acara ulangtahunku? Tidak ada lagu Saengil Chukhahamnida? Tidak ada
hadiah? Tidak ada tart? Tidak ada teman temanku yang ribut merebutkan balon? Tidak
ada lilin yang aku tiup sambil mendoakan keinginanku? Mengapa tidak ada?”
“Undang
saja temanmu untuk makan malam bersama.”
“Tapi
aku tak tau mau mengundang siapa. Temanku semuanya nakal. Kalau aku mengajak
mereka makan malam, pasti mereka akan membuat kekacauan.”
“Intinya
kau undang saja temanmu.”
Aku
mengangguk. Lalu menghilang ke kamarku. Aku duduk di meja belajarku sambil
memandangi wajah teman-teman sekelasku. Mereka semua nakal. Aku tau itu. Bahkan
siswa perempuannya juga nakal. Aku memandang dan menerawang kelakuan mereka.
“Kim
Gyeosoo tidak mungkin. Dia pembuat onar nomor satu. Lee Junmo itu anak buah
Gyeosoo. Kyojun dan Jungmo juga anak buah Gyeosoo. Aiss siapa yang harus aku
undang?”
Aku
menderetkan jari-jari kecilku.
“Oppa…”
Suara anak kecil yang sangat aku kenal memanggilku. Yoonji.
“Apa?”
“Kau
sedang apa? Saengil Chukhaeyo.” Katanya sambil memelukku erat.
“Ah
Yoonji! Apa yang kau lakukan?! Aku tak suka dipeluk.”
“Sudahlah
anggap saja itu hadiah dariku.”
“Aku
ingin topi darimu.”
“Uang
yang kumiliki hanya segini.” Katanya sambil memperlihatkanku selembaran uang
5.000 won.
“Aigo,
kau simpan saja uangmu. Aku hanya bercanda.” Kataku sambil mencubit pipinya
yang sangat berisi. Menggemaskan.
“Nanti
malam kau akan mengundang siapa saja? Apa kau mengundang eonni eonni ini?”
Katanya sambil melingkari foto di bagian siswa perempuan kelasku.
“Entahlah.
Aku tidak punya teman dikelas.”
“Lalu
yang mengantarmu pulang ketika jatuh dari sepeda itu siapa?”
Aku
menengadahkan kepala. Mencoba mengingat kejadian yang dikatakan Yoonji.
“Ah itu
Shikka. Ia teman sebangkuku.”
“Nah,
eonni itu kan teman.”
“Tidak.
Dia bukan temanku.”
“Tapi
tadi katamu teman sebangkumu. Kau mengatakan teman. Berarti ia temanmu.” Kata
Yoonji sambil membelai bulu-bulu halus boneka teddy bearnya.
“Ah ne
ne. Dia temanku. Kau ingin aku mengundangnya?”
Ia
mengangguk kecil, “Eonni itu sangat baik. Ia juga sangat suka kepada NaNa.” Katanya
sambil menunjuk boneka teddy bearnya.
Aku
membayangkan bagaimana jadinya seorang Shikka menyukai boneka. Tidak, dia sama
sekali tidak menyukai boneka. Bahkan aku tak pernah mendapatinya menggunakan
bandana lucu atau jepit rambut bergambar boneka. Dan ia berkata ia menyukai
boneka? Ah itu pasti kebohongannya demi menyenangkan Yoonji.
“Kau
undang dia ya?”
“Undang
siapa?” Tanyaku pura-pura bodoh.
“Eonni
ini.” Katanya sambil menunjuk wajah Shikka yang bulat di foto ini.
“Baiklah.”
Aku
sudah tau akan mengundang siapa. Aku membuka buku telpon kelasku dan mencari
nama yang aku maksud. Ini dia, Lee Junghwan. Aku berlari kecil kearah telpon
rumahku yang berwarna kuning pucat. Aku menekan satu persatu angka yang
tertera. Tersambung.
“Yeoboseyo?”
Kata suara dari seberang.
“Ah ne,
bisa bicara dengan Lee Junghwan?”
“Aku
Junghwan. Wae? Ini siapa?”
“Ini
Sunwoo, Baro.”
“Ah ye,
Sunwoo-ya! Saengil Chukhahamnida!”
“Haha,
kamsahamnida.”
“Mengapa
kau menelponku?”
“Aku
mengundangmu untuk makan malam dirumahku nanti malam. Pesta ulangtahunku
kecil-kecilan. Bisa?”
Hening.
Tampaknya ia sedang berfikir, “Nanti malam ya?”
“Ne.”
“Aku
tidak tau bisa atau tidak. Akhir-akhir ini guru pianoku sering datang
tiba-tiba. Aku takut nanti malam ia datang dan aku tak bisa datang. Begini
saja. Nanti malam sekitar pukul tujuh aku akan menelponmu. Bisa atau tidak.
Bagaimana?”
“Oke.
Terserah saja. Lagi pula terimakasih kalau sudah mau datang.”
“Ye.
Sekali lagi, Saengil Chukhaeyo!” Katanya penuh semangat. Aku hanya terkekeh pelan
lalu mematikan sambungan telpon itu.
Kini
aku hanya melihat nomor telpon rumah Shikka yang terpampang jelas di kertas
itu. Undang atau tidak? Undang atau tidak? Hanya ada kata kata itu yang
menyemak dipikiranku. Aku membolak-balikkan buku telpon itu. Aku memang
benar-benar tidak memiliki teman. Hanya dua orang yang lumayan dekat denganku.
Junghwan dan Shikka. Tangan kiriku bergerak sendiri mengambil gagamg telpon dan
tangan kananku menekan tombol-tombol angka sesuai dengan nomor telpon rumah
Shikka. Sialan. Apa yang aku lakukan sekarang? Apa aku sudah gila?
“Yeoboseyo?”
Suara penuh desakan nafas terdengar di telingaku. Kerongkonganku tercekat,
“Hallooo~ apa ada orang disana?!” Tanyanya lagi.
“Hallooo~ apa ada orang disana?!” Tanyanya lagi.
“Ah ne
ne. ini aku Baro.”
“Baro?
Ada apa?”
“Ah
begini hari ini aku berulangtahun dan ibuku mengadakan—“
“Kau
berulangtahun? Wah! Saengil Chukhaeyo! Maaf aku tidak tahu hari ini hari
ulangtahunmu.”
Glekk.
Bahkan teman sebangkuku tidak tahu kapan aku berulangtahun. Ah tak apa. lagi
pula apa yang harus ia tau tentangku.
“Ah ne,
kamsahamnida. Ibuku mengadakan pesta kecil-kecilan dirumahku nanti malam. Kau
bisa datang kerumahku?”
“Maksudmu
kau mengundangku?”
“Ya
seperti itulah kira-kira.”
“Baiklah.
Kau mau kado apa?”
“Kado?
Ah tidak perlu repot-repot.”
“Jangan
bersikap tidak mau tapi mau.”
“Ah ne.
kado itu urusanmu kan? Terserah kau mau memberiku apa.”
“Terserah?”
Katanya sambil mengeja suku katanya.
“Hmm.
Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa ya nanti malam, waktu jam makan malam.”
“Baiklah.
Byeee~”
Klik.
Aku meletakkan gagang telpon itu kembali ketempatnya semula. Aku meghembuskan
nafas dengan berat. Yoonji tersenyum kearahku. Aku memutarkan kedua bola
mataku. Terdengar suara yang sangat frontal dari arah dapur. Sepertinya ibu
sudah mulai memasak. Aku akan membantu ibu, tapi kelopak mataku serasa dijatuhi
batu seberat 2 ton. Sangat berat untuk dibuka. Aku mengantuk. Aku membawa buku
telpon itu ke dalam kamar dan mulai menutup kelopak mataku.
*
Aku
menunggu Junghwan di depan pintu rumahku. Aku mendengar Yoonji sedang bermain
dengan Shikka. Entahlah mereka bermain apa. yang jelas, Yoonji hanya bisa
terkekeh mendengar Shikka berbicara. Menurutku itu tidak lucu. Ya itulah
kebodohan anak berumur lima tahun. Selalu menertawakan yang tidak lucu. Cukup
boros.
“Sunwoo,
ayo ke ruang keluarga. Kau mau menunggu siapa lagi?” Tanya eommaku.
“Aku
menunggu Junghwan. Sebentar. Ia pasti akan datang.”
“Aigo.
Sekarang sudah pukul delapan malam. Kalau begitu kapan acaranya selesai?”
Aku
menundukkan kepalaku hingga menatap satu persatu kancing kemeja yang kupakai.
Aku membalikkan badan dan menuju ruang keluarga. Disana sudah ada appa, Yoonji,
dan Shikka yang menunggu. Tiba-tiba telpon rumahku berdering. Aku harap itu
Junghwan dan ia mengatakan bahwa akan segera datang kerumahku. Aku berlari
kearah telpon rumah dan mengangkatnya.
“Yeoboseyo?”
“Ya!
Sunwoo-ya!”
“Ah ne!
kau dimana sekarang?”
“Mianhae.
Guru pianoku malam ini datang. Aku tidak bisa ikut.”
“Aiss.”
“Mianhae.”
“Gwaenchana.
Aku dengar sebentar lagi kau mengikuti festival music di Busan?”
“Iya.
Maka dari itu kau berlatih sangat keras.”
“Oh
begitu. Baiklah kalau begitu. Fighting!” Ucapku. Junghwan terkekeh pelan lalu
memutuskan sambungan.
Aku
berjalan dengan gontai menuju ruang keluarga. Aku duduk di sebelah Yoonji.
“Wae?”
Tanya Yoonji.
“Junghwan
tidak datang. Lanjutkan acaranya.”
Eommaku
memasang lilin angka Sembilan ditengah kue itu dan member api di sumbu lilin
itu.
“Saengil
Chukhahamnida! Saengil Chukhahamnida! Saranghaneun uri Sunwoo, Saengil
Chukhahamnida!” mereka menyanyikan sepenggal lagu selamat ulangtahun untukku.
“Tiup
lilinnya.” Perintah Appaku. Aku menggembungkan pipiku dan bersiap untuk
mematikan api yang membuat lilin angka Sembilan itu semakin kecil.
Sebuah
telapak tangan kecil membekap mulutku, “Ucapkan permintaanmu dahulu!” katanya.
Aku melirik. Shikka memasang wajah
yang lucu. Aku menatap kesal dan disambut kikikan kecil Yoonji. Aku menutup
mataku dan mengucapkan suatu permintaan. Aku
ingin punya sahabat yang setia sampai kami sudah dewasa nanti. Ucapku di
dalam hati. Aku meniup api yang membakar sumbu lilin itu. Semua bertepuk
tangan. Aku mulai memotong kue dan menyuapi mereka sesendok demi sesendok kue
itu. Dan kami juga memulai makan malam saat itu.
Pukul
Sembilan malam.
“Ahjumma,
Ahjussi, aku pulang sekarang ya?”
“Ah
cepat sekali!” Kata eommaku. Aku yakin ini hanya basa-basi semata.
“Sudah
malam. Besok kami harus kembali ke sekolah. Lagipula eonni-ku sudah menjemput
di depan.”
“Ah
baiklah.” Ujar eommaku lagi. Sudah ku bilang. Yang tadi pasti basa-basi.
Shikka
menjulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Kami berjabat tangan.
“Sunwoo,
antar Shikka sampai di depan pagar.” Perintah eommaku. Aku bangun dengan
terpaksa dan menggiringnya keluar dari rumahku. Shikka melihat kearahku.
“Kau
sebal mengapa hanya aku sendiri yang datang?”
“Tidak.”
Jawabku singkat.
Ia
merogoh saku celananya dan memperlihatkan kotak kecil berwarna biru muda. Ia
meletakkan kotak kecil itu di telapak tanganku.
“Ini
kado dariku. Anggap saja ini kenang-kenangan dari pertemanan kita. Sebenarnya
aku dikasih dua. Dan katanya yang satu lagi diberi ke orang terdekatku. Aku tak
memilikinya lalu eonniku bilang beri saja ke kau.” Katanya sambil memukul halus
bahuku. Itu perlakuan yang ia sering lakukan.
“Hah?
Maksudnya?”
“Sudahlah.
Aku pulang dulu ya.” Katanya sambil memukul lagi bahuku. Sekilas aku dapat
melihat liontin kecil yang membelit lehernya bertuliskan “Friends” di salah
satu sisinya.
Aku
melambaikan tanganku kearah Shikka. Ia mebalasnya. Aku masuk kedalam rumah
sambil membuka kotak tersebut. ternyata liontin yang hampir mirip dengan milik
Shikka. Tapi di salah satu sisinya hanya bertuliskan “Best”. Aku bingung. Aku
memasukkan kembali liontin itu dan menuju ke kamarku.
“Best
dan Friends?” Tanyaku, “Bestfriends?”
Aku membulatkan
bibirku. Ternyata Tuhan memang tidak tuli. Tuhan sekarang sedang tidak sibuk
mengurusi manusia-manusia di muka bumi ini sehingga mendengarkan doaku. Terlalu
cepat. Tuhan mendengar doaku dan mengabulkannya dengan cepat.
-flashback end-
J
Sudah
dua hari yang lalu Shikka melewati ulangan matematikanya. Ia tak ada
mengabariku semenjak aku mengajarinya beberapa hari yang lalu. Hmm baiklah aku
akan ke kelasnya. Aku akan menghampirinya. Mungkin saja ia sedang kelelahan
karena belajar dengan keras. Mungkin. Ya, tipe Shikka itu sangat pemalas. Tapi kalau
ia sudah mulai rajin, semangatnya pasti akan membara.
Bukk.
Aku menabrak seseorang. Ternyata aku tadi sedang mengkhayalkan seseorang. Aiss
jangan bilang aku mengkhayalkan Shikka. Seseorang yang aku tabrak tadi jatuh
dengan kertas yang berserakan, aku membantunya.
“Ah
mianhae..” Kataku sambil memungut satu per satu kertas kertas itu. Srett.
“Yeo
Shikka? Hei ini kertas ulangan matematika kalian lusa kemarin?” Tanyaku lagi
sambil menunjukkan nama asli Shikka di kertas itu. Siswa itu mengangguk. Aku
melihat lagi kertas ulangan itu. Mengecek apa yang Shikka jawab.
“Aigo,
Shikka mendapat A-! ya walaupun A- itu sudah sangat bagus!” Ucapku sendiri
hampir berteriak.
Siswa
itu mengulurkan tangannya, “Kemarikan kertasnya. Aku akan membagikannya
dikelas.”
Aku
memberikan beberapa kertas yang aku susun, kecuali milik Shikka. “Milik Yeo
Shikka biar aku saja yang memberinya.”
Siswa
itu mendecak kesal. Tampaknya ia mendapat nilai jelek lalu dimarahi oleh Guru Shin,
guru matematika kami paling fenomenal. Ya itu mungkin saja kalau aku membaca
dari ekspresi wajahnya. Aku bangkit dan berlari ke kelas Shikka sebelum siswa
itu sampai dikelasnya. Dengan nafas terengah-engah, aku melongokkan kepalaku ke
dalam kelasnya. Mencari-cari sosok Shikka diantara mereka yang sedang sibuk
dengan kativitas mereka masing-masing.
“Baro-ya!”
Teriak seorang siswa, oh ya itu Lee Junghwan.
“Ne! ah
Junghwan, apa kau melihat Shikka?”
“Shikka?
Tadi aku melihatnya disini masih memegang hadiah darimu.”
“Dariku?”
aku mengerutkan alisku.
“Iya,
dia mengatakannya bahwa bingkisan berwarna pink itu darimu.”
“Aku—aku
tidak. Aiss kau tau ia kemana sekarang?”
“Yeo
Shikka katanya mau ke taman sekolah menemuimu.” Tambah seorang siswa gemuk yang
duduk disebelah bangku Shikka.
“Menemuiku?”
“Ya—Baro!”
Aku
langsung berlari kearah taman sekolah tanpa memperdulikan Junghwan akan
berbicara apa kepadaku. Aku terus berlari. Sebuah pemandangan pohon besar yang
membelakangi bangku taman kini hadir di dalam penglihatanku. Aku dapat melihat
Shikka disitu. Sepertinya ia sendiri. Aku menghampirinya dari belakang. Ia
menoleh kesamping. Sepertinya ia tidak sendiri. Ia tersenyum. Aku
mengendap-endap mendekati pohon besar yang benar-benar terletak dibelakang bangku
itu.
“Aigo,
aku kira kau orangnya sangat pendiam.” Terdengar suara Shikka yang samar-samar.
Ternyata benar, ia tidak sendirian.
“Tidak.
Kalau dengan orang yang terpercaya aku tidak akan diam.” Jawabnya. Suara namja.
Sepertinya aku sering mendengar suara ini. Aku melongokkan kepalaku sedikit ke
sebelah kanan untuk melihat siapa yang sedang bersama dengan Shikka. Hanya
bagian tubuh belakangnya saja yang bisa terlihat. Selebihnya tidak. Tapi aku
benar-benar tak tahu siapa namja ini.
“Terimakasih
atas coklatnya.” Kata Shikka lagi.
“Aku
yang harusnya berterimakasih.”
“Hmm
wae?”
“Terimakasih
telah menjadi perempuan yang kucintai.”
Deg.
Rasanya ada beribu benda tajam yang menusuk tepat dihatiku. Suasana menjadi
diam.
“Jadi?”
Tanya namja itu lagi.
Walaupun
sekarang angin sedang ribut dan daun daun di pohon ini berbisik, aku masih
dapat mendengarkan suara hembusan nafas Shikka yang sangat amat berat. Suasana
kembali menjadi diam. Aku melongokkan kepalaku kearah Shikka. Melihatnya dari
belakang. Semoga ia tak melihat aku mengendap-endap di belakang sini.
Shikka
menoleh kearah namja itu dengan sebuah tatapan. Entahlah apa arti dari
tatapannya Shikka. Yang pasti ketika aku melihat tatapan Shikka yang seperti
itu, aku merasa sakit. Tunggu. Sakit? Apa yang perlu aku sakitkan? Ah entahlah
ada sesuatu yang lain didiriku sekarang. Shikka mengangguk.
“Aku
menunggumu berkata seperti itu.”
Mereka
tertawa kembali. Seharusnya aku yang tertawa bahagia bersama Shikka karena
nilai ulangan matematikanya yang bagus. Tapi mengapa sekarang Shikka tertawa
manis dengan namja itu? Aku mengetuk kepalaku dengan kepalan tanganku sendiri.
Reflex. Aku melihat kearah Shikka lagi. Ia mencondongkan wajahnya. Makin lama
aku makin bisa melihat batang hidung namja itu. Aku keluar dari belakang
mereka. Memperlihatkan diriku. Sedikit lagi bibir mereka bersentuhan. Dan
ternyata namja itu….. Jung Jinyoung Sunbae. Seorang Presiden Senior yang sangat
dingin dan menurutku Presiden Senior yang sangat Berjaya menghadapi sekolah
ini.
“Baro?”
Suara Shikka berdesir masuk ke gendang telingaku.
“Ah
mianhae. Apa aku mengganggu? Hehehe.” Ucapku sambil cengengesan.
“Untuk
apa kau ada disini?” Tanya Shikka sambil menggerakkan bola matanya yang berarti
pergi-kau-dari-sini-jangan-mengganggu-aktivitasku.
Aku
kelimpungan untuk menjawab pertanyaan Shikka. Aku melirik kearah kertas ulangan
matematikanya yang ternyata aku remas-remas sedari tadi, “Ah ini, aku hanya
ingin memberitahumu tentang ini.”
“Ini
kan kertas ulanganku.” Katanya sambil melacak nilainya, “A-?! aigo! Seharusnya
kertas ini bisa kubanggakan ke seantero rumahku. Tapi mengapa kau
menggumpalnya?!” Nada bicara Shikka semakin naik.
“Mianhae.”
Kataku sambil menunduk.
Shikka
mencoba berusaha meredam emosinya. Ia menyandarkan bahunya ke punggung bangku
taman itu. Jinyoung Sunbae mencoba untuk menenangkannya. Bel masuk berbunyi.
Shikka memutar kedua bola matanya.
“Bel
sudah masuk. Ayo kita masuk.” Kata Jinyoung sambil menepuk pundak Shikka.
Shikka mengangguk. Jinyoung sudah berdiri dan berjalan pelan menyusuri lorong
lorong menuju kelasnya. Shikka berdiri dan memandang mataku tajam.
“Shikka…
mianhae.”
“Argh.”
Katanya kesal lalu berlalu dihadapanku. Aku berlari mengejarnya.
“Shikka…”
“Sudah
aku maafkan.” Ia terus berjalan dengan cepat. Ya mungkin ia memang benar marah
denganku. Lebih baik aku akan mendiaminya sebentar. Emosinya sedang memuncak
saat ini. Jadi, jika aku meminta maaf sekarang kemungkinan besar ia masih akan
marah denganku. Tapi tetap saja aku merasa sangat bersalah.
J
Kini
Shikka hanya duduk diam di sampingku. Sudah lima hari Shikka bersikap seperti
ini kepadaku. Dan aku hanya bisa berbicara sendiri disampingnya.
“Yeo
Shikka… Mianhae.”
“Sudah
ku bilang berapa kali? Aku sudah memaafkanmu.”
“Tapi
sikapmu belum menunjukkan bahwa kau sudah memaafkanku.”
“Jadi
harus bagaimana?”
“Bersikap
seperti kau yang dulu.”
Shikka
memukul lenganku. Kuat sekali.
“Aiss
sakit!”
“Kau
bilang tadi aku harus bersikap seperti aku yang dulu.”
“Ya
tapi jangan yang seperti itu!” Aku mengelus lenganku pelan.
“Aku
ingin memberitahumu sesuatu.”
“Apa?”
Shikka
menelan ludahnya, “Aku sudah…”
“Sudah
bisa belajar matematika sendiri?” Tebakku.
Ia
memukul kepalaku, “Bukan itu. Aku sudah punya namjachingu.”
Deg.
Kali ini benar-benar hatiku seperti terbelah dua. Aku mengusap dadaku pelan.
Ada sebentuk liontin kecil di dalam bajuku. Liontin aku dan Shikka. Tiba-tiba
aku teringat potongan-potongan kecil tentang aku dan Shikka. Sungguh. Aku
sangat sayang dengan Shikka dan sekarang ia mengatakan ia sudah memiliki
namjachingu?! Apa aku tidak shock?! Ah mungkin karena baru, aku masih shock.
Mungkin nanti kalau sudah lama aku sudah bisa menerima kenyataan. Aku menghirup
oksigen banyak banyak dan bersiap menginterogasi Shikka.
“Siapa
namjachingumu?” tanyaku.
“Kau pasti
tau. Jinyoung Oppa.”
Sudah
kuduga pasti dia, “Sejak kapan?”
“Lima
hari yang lalu. Oh ya kau orang ketiga yang mengetahui hubungan kami setelah
aku dan Jinyoung oppa. Jadi harap jangan membocorkannya dulu. Ia masih ingin
fokus dengan ulangan akhirnya. Setelah itu mungkin ia akan mengumumkannya.”
Jlebb.
Oke. Aku shock berat. Aku mencoba tidak menyesakkan dadaku sendiri. Shikka
memainkan ponselnya dan sepertinya ia sedang di telpon oleh Jinyoung Sunbae.
“Yeoboseyo?”
Ucap Shikka pelan. Nada suaranya aneh. Seperti bukan Shikka.
Shikka
sedang asyik bertelponria dengan Jinyoung Sunbae. Ah biarlah. Namanya juga
orang baru merasakan cinta. Aku diam sendiri. Aku hanya mengamati Shikka yang
berbincang hangat. Lama kelamaan aku menjadi bosan sendiri melihat Shikka
sedang mengobrol sendiri dengan ponselnya.
“Shikka—“
Shikka membekap mulutku dengan genggaman tangannya.
Ia
masih mengobrol. Aku melepaskan tangannya.
“Aku
pulang dulu ya.” Bisikku. Ia tak menghiraukanku.
Aku
bergegas pulang. Dan Shikka masih autis dengan ponselnya. Aku keluar dari
rumahnya dan berharap Shikka mengejarku dan meminta maaf lalu bersikap seperti
Shikka biasanya. Aku telah berjalan sepuluh meter dari rumahnya tapi tak ada
tanda-tanda Shikka yang menyusulku. Aku melihat kebelakang. Benar. Tidak ada
Shikka. Shikka tidak menyusulku. Ah aku mulai merindukan Shikka yang dulu.
J
“Sunwoo-ya!”
Panggil seseorang. Aku menoleh. Junghwan memanggilku sambil berlari.
“Panggil
aku Baro saja.” Kataku sambil membenarkan simpul dasiku.
“Hah,
ya. Baro. B-A-R-O.”
“Kenapa?”
“Ini,”
Katanya sambil memberikanku beberapa kertas yang isinya not not balok yang
sedikit aku mengerti, “Mau berduet denganku?”
“Berduet?”
“Iya.
Untuk perpisahan kelas tahun ini.”
Aku
memutarkan bola mataku sehingga lensanya mengarah keatas. Aku berfikir. Tahun
ini tahun perpisahan Jinyoung Sunbae. Aku mencoba mencerna not-not ini. Aku
mengerutkan alis.
“Ayolah.
Kau kan bisa memainkan piano.”
“Aku
tak pandai memainkan piano.”
“Aiss
jangan berbohong. Aku masih ingat ketika festival musik sekolah dasar kau duet
dengan Shikka! Permainan kalian cukup bagus ketika diumur segitu.”
“Dan
kau dengan bangga mengalahkan kami. Kau kan sudah hebat. Mengapa harus minta
tolong denganku?” Aku berlalu dari hadapannya.
Ia
mencegat tanganku, “Ini lagunya sangat susah. Ini lagu khusus duet. Lagipula
kau tahu senior kita akan perpisahan dimana? Pulau Jeju! Dan yang hanya pergi
itu senior dan pengisi acara.”
Langkahku
terhenti. Kalau hanya senior dan pengisi acara yang datang, berarti aku tak bisa
datang. Dan pasti Jinyoung sunbae akan mengajak Shikka. Atau melibatkan Shikka
di panitia perpisahan. Bisa jadi.
“Kapan
perpisahan itu?”
“Dua
minggu lagi.”
Aku
memutarkan otak, “Baiklah. Tapi kau harus mengajariku.”
Tanpa
berfikir panjang, Junghwan langsung menarikku ke ruang musik dan membuka kap
tuts tuts piano yang disembunyikan. Ia meletakkan kertas-kertas itu di
penyangganya. Ia memulai memainkan tuts-tuts itu bagian solonya.
“Nah
kau mainkan yang ini saja.” Katanya sambil menunjuk not-not balok yang
berserakan dihadapanku.
Aku
mencoba memainkan satu persatu not-not itu. Aku mencoba membuka memori kecilku
tentang piano. Nada twinkle twinkle little star menyeruak segar di dalam
ingatanku. Aku masih ingat lagu itu yang membuatku menyukai piano. Lagu itu
dimainkan oleh ibunya Shikka ketika aku sedang bermain di rumahnya. Lalu aku
diajarinya bermain piano. Di setiap nada Shikka selalu saja mengeluarkan
leluconnya. Maka dari itu setiap aku mengingat nada, aku mengingat Shikka. Do,
Do-ngsaengku nakal sekali. Re, Remehkan saja dia. Mi, Mirip siapakah Baro?
Mirip tupai!
“Baro!”
Junghwan berteriak tepat di telingaku. Oh mungkin ia tak berteriak, hanya
berbicara di telingaku.
“Heh?”
Jawabku sambil menaikkan dagu.
“Kau
melamunkan apa?”
Aku
mencubit pipiku, “Tidak. Aku tidak melamunkan apa-apa.”
“Tapi
mengapa kau memainkan lagu twinkle twinkle little star?!”
“Mianhae.”
Aku menunduk dan langsung memainkan tuts-tuts itu lagi.
Keadaan
menjadi serius dan kami berlatih terus menerus. Tiba-tiba ada suatu hal yang
mengganjal dipikiranku. Aku menekan tuts yang berada di posisi tanganku dengan
keras.
“Kenapa
lagi?!” Tanya Junghwan.
“Untuk
apa kau mau ikut ke pulau Jeju?”
“Ah
tidak. Aku hanya ingin melihat seseorang dimalam itu.”
“Nugu?”
“Aiss
sudahlah lanjutkan latihan kita saja.”
“Tidak
mau. Kau harus menjawab pertanyaanku.”
Ia
menatapku dengan tatapan kau-tak-berhak-mengurusi-urusanku dan dari tatapannya
seperti ada yang tersirat, kau-sangat-keras-kepala.
“Aigo
aigo. Baiklah. Tapi setelah aku beritahu kau harus diam saja, tak boleh
membocorkannya dan setelah itu kau langsung latihan seperti biasa. Anggap saja
aku tak memberitahumu.”
Aku
mengangguk.
“Chaerin
sunbaenim.”
Aku
ternganga sebentar lalu menekan kembali tuts-tuts piano itu. Aku mengikuti perintahnya.
“Oh
ya,” Katanya sambil memasang mimik wajah penasaran, “Selamat atas hubungan kau
dengan Shikka. Tapi kalau kalian punya hubungan tingkat seperti itu, mengapa
kalian sekarang jarang sekali bertemu? Bahkan tadi aku menemukanmu sedang
berjalan sendiri.”
Aku
tertegun dengan ucapan Junghwan tadi. Harap
jangan membocorkannya. Kalimat itu terngiang-ngiang di pikiranku. Jangan
dibocorkan. Lalu aku harus menjawab apa?
“Baro?”
“Ah ne!
ada apa?”
“Tidak.
Aku baru menyadari bahwa kau tipe yang sangat romantis. Mengirimi Shikka bunga
dan coklat di laci mejanya. Mengapa tidak diantarkan secara langsung?”
Aku
menelan ludah, “Ah aku selalu gugup jika bertemu Shikka secara langsung,” Aku
mencoba menutupi kegugupanku yang sebenarnya, “Ah sudahlah. Bukankah tadi kau
yang menyuruhku agar latihan? Ayo latihan.”
Aku
kembali menekan tuts-tuts piano dengan tempo yang agak cepat. Dan tak beberapa
lama kemudian bel masuk berbunyi. Tuhan mendengarkan doaku. Aku segera kabur
dari ruangan musik ini dan meninggalkan Junghwan yang dilanda pertanyaan. Aku
mendapati Shikka menggenggam sebuket mawar putih dan coklat batang yang sangat
besar. Shikka tersenyum manis kearah sebuket mawar putih itu. Entah kenapa
hatiku terasa sakit melihat itu. Rasanya sakit. Sebuah pertanyaan besar melanda
logikaku. Aku tak dapat menjawabnya. Apa benar aku mencintai sahabatku, Shikka?
J
Aku
menghirup udara hangat disekitar pulau Jeju. Sangat hangat. Pulau ini selalu
hangat di musim apapun. Pantas saja pulau ini mendapat predikat keajaiban dunia.
Pulai ini juga sangat indah. Aku pernah sekali kesini ketika aku berlibur tamat
dari sekolah menengah bersama Shikka.
Itu memori yang selalu menyeruak ketika aku kesini. Apalagi dipantainya. Semua
siswa dibariskan dan diberi instruksi oleh Jinyoung sunbae. Barisan aku dan
Junghwan dibedakan dengan barisan para Senior. Dan sampai saat ini aku belum
menemukan batang hidung Shikka.
“Sunwoo
dan Junghwan! Kemari!” perintah seseorang. Dan ternyata itu Shinwoo sunbae. Dia
wakil dari Presiden Senior.
Aku dan
Junghwan berlari kecil kearahnya.
“Kalian
sebagai pembuka ya.”
Aku
mengerutkan alis. Junghwan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Shinwoo sunbae
kembali memanggil beberapa siswa yang mengisi acara. Aku menghembuskan nafas
dengan berat. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh. Kini
lengan Shikka sudah mengapit leherku. Aku tercekik.
“Shik—Shikka
lepaskan! Aku tak bisa bernafas! Ngh!” Kataku sambil mencoba melepaskan tangan
Shikka.
“Hahaha.”
Ia tertawa sambil melepaskan kepitan tangannya.
“Kau
ini.”
“Ahahaha!
Kalian memang pasangan paling lucu yang pernah aku lihat!” Kini Junghwan
tertawa terbahak-bahak dihadapan kami berdua.
Shikka
memandang aneh ke Junghwan dan menatapku dengan tatapan penuh tanya. Dan
sekarang Shikka menggandengkan lengannya dengan lenganku. Aku menatapnya penuh
tanya.
“Dan
itu cara kami agar tetap romantis.” Kata Shikka penuh percaya diri. Aku masih
bingung dengan pernyataannya. Apa ia tak takut Jinyoung sunbae cemburu
terhadapku?
Aku
menarik lengan Shikka, “Junghwan, jika kau ingin ke penginapan, pergi saja
dulu. Aku akan menyusul.” Kataku sambil terus membawa Shikka jauh dari
keramaian.
“Hei
mengapa kau membawaku kesini?”
“Kau
sedang apa disini?” Aku kembali bertanya kepadanya.
“Kau
tidak tahu? Aku akan menjadi seksi dokumentasi malam prom nanti.”
Sudah
kuduga, “Disuruh Jinyoung sunbae?”
Ia
mengangguk.
“Oh ya
aku baru ingat. Dia itu kan Presiden Senior dan kau itu pacarnya.” Kataku sambil menekankan nada pada kata pacarnya dan
membuat nada bicaraku menjadi menyindir.
“Lalu
apa maksudmu berkata seperti itu?”
“Dia
bisa memasukkanmu menjadi panitia sesuka hatinya.”
Plak.
Shikka menampar kuat pipi kananku. Dan itu rasanya lebih sakit daripada hatiku
sekarang. Seorang sahabat dan seseorang yang aku cintai menampar diriku
sendiri.
Aku
menatapnya dengan tatapan tak mengerti, “Kau menamparku? Apa maksud
tamparanmu?”
“Jangan
pernah berkata seperti itu lagi! Kau tak tahu betapa baiknya Jinyoung!” dan
sekarang Shikka membentakku.
“Dan
kau jangan sekali-sekali mengatakan bahwa aku pacarmu! Katakan saja bahwa
Jinyoung itu pacarmu!” Kini suaraku merendah. Tapi aku seperti membentaknya.
Entahlah. Emosiku sudah bercampur aduk.
Aku
meninggalkan Shikka yang masih diam. Lagi-lagi aku hampir menghancurkan
hubunganku dengan Shikka. Mungkin kali ini memang sudah hancur. Shikka memang
tak mengerti perasaanku. Ia mengatakan ke teman-temannya kalau dia pacaran
denganku. Dan realitasnya ia pacaran dengan seniornya. Dan ia tak mengetahui
bahwa aku mencintainya. Dia tak mengerti perasaanku yang memang benar-benar
mencintainya. Dia tak mengerti tentang harapan aku memilikinya. Dia tak
mengerti.
Takk.
Aku membuka pintu penginapan yang tak jauh dari tempat untuk prom nanti malam.
Kini yang ada dihadapanku Junghwan sedang menghapal baik-baik not itu. Aku
merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
“Hei
dua jam lagi acara dimulai. Ayo hapal ini.” Junghwan mengguncang tubuhku.
“Sebentar.
Hatiku sedang kacau.”
Aku
dapat mendengar hembusan nafas yang berat diantara hembusan nafas Junghwan. Krekk
pintu penginapan kami terbuka.
“Annyeonghaseyo.”
Sapa seorang namja. Aku terduduk.
“Ne.
annyeong.” Jawabku singkat dan tak bersemangat.
“Ah
disini Cuma diisi dua orang?”
“Ne,
Jinyoung sunbae.” Jawabku.
“Kalau
begitu aku tidur disini boleh?”
Mataku
terbelalak, “Bukankah kau tidur di penginapanmu sendiri?”
Dia
memasukkan tas ranselnya dan meminggirkannya, “Kita kekurangan penginapan untuk
wanita. Aku memberi penginapanku untuk mereka. Jadi, satu penginapan diisi 3-4
orang. Jadi aku boleh tidak tidur disini?”
“Aigo,
Kau memang senior yang paling baik!” Puji Junghwan, “Kalau begitu tentu saja
boleh!”
“Ahahaha
tidak juga. Terimakasih karena sudah mau memberikan tumpangan untukku.”
Aku
merampas kasar kertas yang berisikan not-not itu. Aku memandangi mereka dengan
penuh emosi. Aku mencoba menghapal keras not-not itu dan hasilnya nol besar.
Yang keluar dari pikiranku adalah kenangan aku dan Shikka yang sibuk bermain,
kenangan aku dan Shikka yang sedang tertawa, dan semua kenangan aku bersama
Shikka. Semakin lama perasaanku semakin sesak. Kemungkinan aku bersama dengan
Shikka sekarang sudah sedikit. Semuanya sudah hancur. Aku belum siap untuk
berpisah dengan Shikka. Belum siap.
“Sunwoo-ya..”
Panggil Jinyoung sunbae.
Aku
hanya melongokkan kepalaku dengan tatapan yang masih penuh dengan emosi,
“Panggil aku Baro saja.”
“Oh
Baro, kau bisa bermain piano?”
“Bisa.”
“Wah
daebak! Aku kira kau hanya bisa beat box-ing saja. Ternyata kau juga mahir
bermain piano. Diajari siapa?”
Deg.
Pikiranku kembali mengulang masa lalu, “Ibunya Shikka.”
Ia
mengangguk kecil.
“Memangnya
kenapa, sunbae?”
“Aniya.
Oh ya kalau suasana sedang tidak formal, panggil aku dengan sebutan hyung saja.
Sunbae terlalu formal. Dengar itu Junghwan dan Baro?”
Aku
mengangguk.
“Ne,
Hyung!” Jawab Junghwan dengan semangat.
“Sebaiknya
kalian mempersiapkan diri kalian. Kurang dari dua jam lagi acara akan dimulai.”
Dan
kurun waktu kurag dari dua jam itu sangat singkat. Tanpa sepatah kata apapun
dari pembawa acara, aku dan Junghwan sudah berada di depan piano dan
memainkannya dengan sempurna. Beberapa flash kamera mengarah ke kami. Aku
mencoba menghayati lagu yang sedang kumainkan. Dan perasaan sesak itu muncul
kembali. Memori kecil itu kembali.
“Ini kado dariku. Anggap saja ini
kenang-kenangan dari pertemanan kita.”
“Do, Do-ngsaengku nakal sekali. Re, Remehkan
saja dia. Mi, Mirip siapakah Baro? Mirip tupai!”
Aku ingin punya sahabat yang
setia sampai kami sudah dewasa nanti.
“Ucapkan permintaanmu dahulu.”
“Jangan pernah berkata seperti
itu lagi!”
Sebuah
flash kamera yang sangat dekat menyadarkanku dari lamunan. Aku membuka mataku.
Shikka benar-benar sedang mendokumentasikan kegiatan malam ini. Ia tak
tersenyum padaku. Aku rasa aku salah lagi. Lagu yang kumainkan pun berakhir.
Jemariku tak mau lepas dari tuts-tuts piano ini. Junghwan sudah berhenti
memainkan piano ini. Dan entah ada angin apa tanganku bergerak sendiri menekan
tuts-tuts itu satu persatu dan nadanya hampir menyerupai lagu twinkle twinkle
little star. Mataku menatap Shikka. Ia sedang berdiri dengan pandangan kosong.
Lagu ini berakhir. Lima detik kemudian suasana menjadi riuh akan tepuk tangan
yang sangat ramai. Aku dan Junghwan membungkuk di depan panggung.
“Sambutan
Presiden Senior, Jung Jinyoung.” Acara dimulai. Pembawa acara sudah mengumumkan
sekarang adalah saatnya Jinyoung sunbae berbacot-ria di malam prom.
Junghwan
menarikku agar kami dapat duduk dekat dari Chaerin sunbae. Dan sekarang kami
duduk tak jauh dari Shikka. Shikka tak ada tersenyum kearahku. Mungkin masih
marah.
“Perlu
kalian ketahui bahwa di selatan hotel yang kita singgahi ini ada pantainya! Wah
sepertinya prom malam ini akan seru bukan?” Suara Jinyoung sunbae menggema
disertai tepuk tangan yang ramai.
“Aku
baru tahu Shikka masuk seksi dokumentasi.” Kata Junghwan sambil menunjuk kearah
Shikka yang sedang asyik mendokumentasikan namjachingunya sedang berpidato.
“Junghwan,
sebenarnya—“
“Dan
status Presiden Senior Suhwakyung High malam ini akan digantikan oleh Gong
Chansik!”
Terdengar
suara riuh dari bagian kiri panggung. Disana seorang Gong Chansik sedang
ber-high-five-ria dengan beberapa temannya yang ikut.
“Mwo?
Gong Chansik? Bukannya dia baru masuk?” Tanya Junghwan kepadaku.
“Dia
masuk akselerasi. Jadi sekarang dia sudah setara dengan kita.”
Junghwan
mengangguk dan membulatkan bibirnya.
“Junghwan,
sebenarnya aku dan Shikka—“
“Terimakasih
kepada seluruh siswa yang sudah berpartisipasi. Terimakasih kepada wakilku,
Shinwoo. Tanpa dia, aku tak sanggup untuk membangun material utama sekolah ini
yaitu menjadikan siswa siswa sekolah yang aktif dan cerdas. Dan terimakasih
untuk—“
“Junghwan,
kau mendengarku? Sebenarnya aku dan Shikka—“
“Wanita
yang aku cintai. Tanpanya aku seperti kehilangan matahari. Terimakasih, Yeo
Shikka.”
Suasana
menjadi hening.
“Junghwan,
sebenarnya aku dan Shikka tidak berpacaran.”
Junghwan
menatapku, “Kau, Jinyoung sunbae, dan Shikka sedang tidak bercanda kan?”
Aku
menunduk, “Namjachingu Shikka yang sebenarnya adalah Jung Jinyoung.” Aku
mengangkat kepalaku kembali dan mendapatkan Shikka sudah disamping Jinyoung
sekarang.
Shikka
tampak malu-malu dan menundukkan wajahnya, sedangkan Jinyoung sunbae menatap
Shikka dengan tatapan yang beda. Tatapan penuh cinta. Demi apapun aku membenci
tatapan itu. Dan ketika aku melihat itu hatiku merasa teriris. Sakit sekali.
Aku bangkit dari tempat dudukku.
“Kau
mau kemana?” Tanya Junghwan.
Aku
menepis, “Tugas utama kita sudah selesai bukan? Aku ingin tidur.”
J
Aku mengerjapkan kedua mataku.
Baru pukul empat. Sebentar lagi matahari akan terbit. Junghwan masih tertidur
nyenyak dan Jinyoung sunbae, eh atau mungkin Jinyoung hyung sudah tidak ada di
dalam ruangan ini lagi. Mungkin ia sedang mengatur bus-bus untuk kami pulang.
Aku merenggangkan otot-ototku yang sedari tadi malam berkelahi dengan hatiku.
Aku menyibakkan jendela samping penginapan ini dan mendapati hamparan pantai
yang sedang surut. Indah juga. Aku masuk ke dalam toilet lalu membasuh wajahku
dengan air yang sangat dingin.
Aku membuka pintu penginapan dan
udara dingin menyerbuku.
“Aiss dingin sekali.” Aku
kembali ke dalam dan mengambil jaketku. Aku memakainya.
Aku berjalan menyusuri pasir-pasir
lembab ini. Mengamati hewan-hewan laut apa saja yang terjerembab di daratan.
Dan ternyata banyak. Ada beberapa yang aku ambil dan rencananya akan kuberikan
pada Yoonji karena Yoonji sangat suka hewan-hewan laut.
“Maaf yang tadi malam.”
Suara
itu semakin lama semakin mendekat. Aku mendongakkan kepalaku.
“Tak apa.”
Itu Jinyoung hyung dan Shikka.
Mereka berjalan tanpa alas kaki hanya berdua. Mungkin menunggu matahari akan
terbit.
“Mengapa kau mengajakku melihat
matahari terbit?” Tanya Shikka.
“Karena aku yakin aku memiliki
cinta yang selalu terbit di hatimu.”
Jinyoung menatap Shikka kembali
dengan tatapan yang berbeda itu. Tatapan cinta. Shikka tersenyum kearahnya.
Wajah mereka mendekat dan mendekat. Secuil sinar matahari mulai muncul diantara
mereka. Bibir mereka bersentuhan. Dan hatiku benar benar pecah melihat ini
semua. Sakit. Rasa sakitnya sangat dahsyat. Aku menekan dadaku hingga tak terasa
aku menggenggam kuat liontin kecil itu hingga pengaitnya putus.
“Mianhae, Shikka.”
Liontin itu jatuh ke pasir.
“Mianhae
Shikka. Maaf karena aku membentakmu. Maaf karena aku mengancurkan persahabatan
kita. Maaf karena aku mencintaimu.”
Aku membalikkan badan dan menuju
penginapan. Hatiku sakit. Kakiku lemas. Aku ingin berteriak tapi tidak tahu
ingin meneriakkan apa. semua itu rasanya sangat sakit. Dan aku melangkah dengan
lamban sehingga aku terjatuh dengan kasar di atas pasir yang lembab. Aku
meneteskan air mata.
“Shikka, aku mencintaimu.”
Seseorang memegang lembut
tanganku dan meletakkan sesuatu di telapak tanganku.
“Sudah kubilang. Ini hadiah dari
pertemanan kita.”
Aku menoleh dan ia menunjukkan
liontin kecil yang tergantung dilehernya. Aku tersenyum. Seorang namja
mengulurkan tangannya kearahku. Ia membantuku bangun. Shikka menggenggam
tanganku. Ia tersenyum.
“Aku menyayangimu. Aku memang
bukan milikmu, tapi aku akan selalu ada disisimu. Maafkan aku jika sudah
bersikap egois.” Ia memelukku hangat. Jinyoung hyung tersenyum hangat kearahku.
Shikka mulai terisak, “Kau
menangis?” Tanyaku sambil melepaskan pelukannya, “Uljima.”
Ia memelukku erat, “Aku tidak
mau kehilangan tupaiku.”
“Aku juga tak ingin kehilangan
siputku. Sudah jangan nangis. Air matamu membasahi bajuku.”
“Ahaha..” Tawanya renyah sambil
mengelap air matanya.
“Saranghae.” Ucapku. Aku tak
memikirkan bagaimana perasaan Jinyoung hyung sekarang. Yang penting aku sudah
mengutarakan perasaanku yang sebenarnya.
Shikka menampar kecil pipiku,
“Sudah kubilang, aku memang bukan milikmu tapi aku akan selalu ada disisimu.”
“Aigo aigo sepertinya aku disini
seperti patung.” Sindir Jinyoung hyung.
“Andwae, Chagi.”
“Aigo, siputku sudah bisa
memanggil sayang dengan namjachingunya.”
Mereka terbahak.
“Apakah kalian tahu? Matahari
sudah menemani kita sedari tadi.” Kata Jinyoung hyung sambil menunjuk kearah
matahari.
“Kau pasti belum mandi!” Kata
Shikka sambil menusuk-nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.
“Hei Shikka, matahari juga tahu
kalau kau belum mandi!” Sindir Jinyoung hyung lagi. Aku terbahak.
Ia menggembungkan pipinya lalu
menggandeng lenganku dan memeluk pinggang Jinyoung hyung, “Matahari juga tau
kalau aku memiliki dua namja yang sangat berpengaruh didalam hidupku.” Ia
berjalan menuju penginapanku.
Aku tersenyum. Dan sepertinya
matahari tidak tahu kalau aku dihatiku sekarang hanya ada Shikka. Ya, Shikka
memang bukan milikku. Tampaknya ia sangat bahagia jika bersama dengan Jinyoung
hyung. Jinyoung hyung itu namja yang sangat baik. Jadi aku tak perlu khawatir
kalau Shikka itu ternyata milik Jinyoung hyung. Dan sekarang matahari
mengetahui segalanya.
-END-

Tidak ada komentar:
Posting Komentar