Rabu, 02 Mei 2012

Sorry, I Love You



Title : Sorry, I Love You (one shoot)
Author : Minnia
Genre : love, romantic, pain
Cast : Yeo Shikka, Jung Jinyoung, Cha Sunwoo (Baro)
Other Cast : Lee Junghwan, Shin Dongwoo, Gong Chansik
Recommended B1A4’s Songs : Smile, Only Learn Bad Things, Baby I’m Sorry, Crush (Sandeul solo), Chu Chu Chu, My Love, Only One
               

Baro POV
                Aku mengemaskan buku buku yang berserakan di depan mataku. Berantakan sekali. Beberapa saat kemudian Shikka datang sambil menggenggam dua gelas Kristal yang cantik berisikan jus jeruk dingin. Shika meletakkannya di atas meja itu. Aku masih mengemas buku-buku yang berantakan. Walaupun aku tak menatapnya, tetap saja aku dapat merasakan hawa Shika yang dingin sambil menenggak segelas jus jeruk itu. Ia hanya meninggalkan setengah jus jeruknya.
                “Argh aku masih belum mengerti!” katanya sambil mengacak-acakkan rambutnya.
                Aku hanya menatap dengan tatapan kosong ke wajahnya. Ini kesekian kalinya ia berkata dan berkelakuan seperti itu. Entahlah apa yang sedang ia pikirkan. Aku sudah mengajarinya sampai suaraku sekarat. Tapi tetap saja ia tak mengerti materi apa yang aku ajarkan. Aku pun sudah putus asa untuk mengajarinya. Aku tak tahu apa yang akan ia jabarkan di kertas ulangan matematikanya nanti. Aku memasukkan buku-bukuku ke dalam tas dan menyandangnya.
                “Kau mau kemana?!” Tanyanya dengan nada yang agak meninggi.
                “Pulang.”
                “Apa?! pulang?! Tidak boleh! Kau tidak boleh pulang sebelum aku mengerti satu pun materi yang kau ajarkan!”
                “Aiss tapi sekarang sudah sore.”
                “Kalau begitu kau tidur saja dirumahku.”
                “Ah aniya! Eommaku akan marah nantinya!” Jawabku dengan nada yang agak meninggi juga.
                “Mau kupatahkan gigimu?” Ancamnya sambil meletakkan kepalan kecil tangannya di depan bibirku.
                Aku terkekeh kecil lalu menepis kepalannya, “Kau kira aku takut?”
                Ia mendekatkan kepalannya dan berdiri.
                “Aigo aigo, ayo duduk. Kita ulang lagi materinya.” Kataku akhirnya menyerah. Ia tertawa puas. Aku membekap mulutnya.
                “Diam!”
                Ia terdiam. Aku kembali membuka bukuku yang telah aku simpan baik-baik. Ia memperhatikanku. Mendengarkan penjelasanku dari awal hingga akhir. Lalu aku memberikannya beberapa soal dan aku harap ia bisa mengerjakannya sendiri tanpa kalkulator. Ya, Shikka, sahabatku dari kecil hingga sekarang, sangat bodoh di matematika. Entah apa yang ia tak suka dari matematika. Padahal menurutku matematika biasa saja. Aku lumayan dapat mengerti dengan mudah.
                “Berikan hiburan.” Katanya sambil mencubit tanganku.
                “Aiss kau ini tak pernah berubah menjadi wanita yang lembut ya?! Sakit! Lihat kulitku jadi memerah!”
                “Ah kau ini manja sekali. Paling sebentar lagi juga akan normal.”
                “Bagaimana kalau membiru?”
                “Aku akan membelikanmu selusin topi.” Katanya sambil menurunkan secara kasar topiku.
                “Argh kau ini! Cepat kerjakan!”
                Ia memajukan bibirnya lalu mengerjakan kembali soal-soal yang telah aku berikan. Ah lama sekali ia mengerjakan soal ini. Aku sudah sangat lelah. Aku meneguk jus jeruk dingin yang belum ku sentuh tadi. Aku tak meninggalkan sisa di dalamnya. Aku melihat ke kertas jawabannya.
                “Sudah selesai?”
                “Sedikit lagi.”
                “Ah kau ini seperti siput.”
                “Wajahmu mirip tupai.”
                Aku memperlihatkan ekspresi tupaiku di hadapan wajahnya. Ia tertawa terbahak-bahak melihat ekspresiku sambil menampar pipiku. Ah Shikka memang tak bisa lembut sedikit pun.
                “Jangan seperti itu!”
                “Memangnya seperti apa?”
                “Tupai!”
                “Bukankah tadi kau yang mengatakan bahwa aku mirip tupai?” Tanyaku membalikkan pernyataan.
                Ia terdiam, “Ah sudah lah. Kau ingin cepat pulang kan? Lebih baik aku menyiapkan  soal ini.”
                “Kau selalu seperti itu ketika sudah kalah.”
                “Siapa yang kalah?!”
                “Kau. Dasar siput!” Kataku sambil menjepit hidungnya dengan kedua jariku.
                “Ah sakit!”
                “Rasakan penderitaanku. Cepat selesaikan soal-soal itu!”
                Ia mendecak kesal. Beberapa menit kemudian ia memberikan kertas yang ia coret dari tadi. Aku memeriksanya cepat. Lalu memberikannya kembali. Ia ternganga.
                “Kalau kau besok ulangan, perbanyak baca buku dan mengerjakan soal-soal. Itu buktinya kau bisa.”
                Aku memasukkan kembali buku-bukuku ke dalam tas dan memikul kembali tasku. Aku berdiri.
                “Gomawo, Baro-ya!” Katanya sambil memukul lututku.
                “Aiss itu namanya bukan berterimakasih!”
                “Ahahaha. Mianhae. Sudahlah. Pulang sana. Nanti eommamu marah. Aku tak ingin melihat tupai menangis.”
                Aku terkekeh lalu pamit pulang.
                Untung saja langit senja belum dimakan habis dengan pekatnya malam. Aku segera mempercepat langkah kakiku. Terasa liontin kecil berlompat-lompat di dadaku. Aku mengambilnya dan memegangnya. Aku membuka liontin itu. Aku terkekeh melihat foto itu. Foto aku dan Shikka. Ketika masih kecil tapi.
J
-flashback-
                5 September 2000
                Aku hanya memandang ibuku yang tengah asyik membuat sesuatu. Aku melihat kearah Yoonji, adik perempuanku satu-satunya sedang bermain sendiri. Aku bingung. Hari ini ulangtahunku yang ke Sembilan. Tapi mengapa mereka mengacuhkanku? Aku melihat ayahku yang sedang bekerja di halaman. Ia sedang memperbaiki sepeda Yoonji. Aiss inikah yang namanya ulangtahun? Sangat membosankan.
                “Eomma.” Panggilku.
                “Hm?”
                “Ini hari ulangtahunku kan?”
                “Oh ya? Oh iya! Saengil Chukhaeyo!” Kata ibuku sambil menciumi kedua pipiku. Bahkan ibuku sendiri lupa kalau aku berulangtahun hari ini.
                “Tidak ada acara?”
                “Acara?”
                “Iya. Tidak ada acara ulangtahunku? Tidak ada lagu Saengil Chukhahamnida? Tidak ada hadiah? Tidak ada tart? Tidak ada teman temanku yang ribut merebutkan balon? Tidak ada lilin yang aku tiup sambil mendoakan keinginanku? Mengapa tidak ada?”
                “Undang saja temanmu untuk makan malam bersama.”
                “Tapi aku tak tau mau mengundang siapa. Temanku semuanya nakal. Kalau aku mengajak mereka makan malam, pasti mereka akan membuat kekacauan.”
                “Intinya kau undang saja temanmu.”
                Aku mengangguk. Lalu menghilang ke kamarku. Aku duduk di meja belajarku sambil memandangi wajah teman-teman sekelasku. Mereka semua nakal. Aku tau itu. Bahkan siswa perempuannya juga nakal. Aku memandang dan menerawang kelakuan mereka.
                “Kim Gyeosoo tidak mungkin. Dia pembuat onar nomor satu. Lee Junmo itu anak buah Gyeosoo. Kyojun dan Jungmo juga anak buah Gyeosoo. Aiss siapa yang harus aku undang?”
                Aku menderetkan jari-jari kecilku.
                “Oppa…” Suara anak kecil yang sangat aku kenal memanggilku. Yoonji.
                “Apa?”
                “Kau sedang apa? Saengil Chukhaeyo.” Katanya sambil memelukku erat.
                “Ah Yoonji! Apa yang kau lakukan?! Aku tak suka dipeluk.”
                “Sudahlah anggap saja itu hadiah dariku.”
                “Aku ingin topi darimu.”
                “Uang yang kumiliki hanya segini.” Katanya sambil memperlihatkanku selembaran uang 5.000 won.
                “Aigo, kau simpan saja uangmu. Aku hanya bercanda.” Kataku sambil mencubit pipinya yang sangat berisi. Menggemaskan.
                “Nanti malam kau akan mengundang siapa saja? Apa kau mengundang eonni eonni ini?” Katanya sambil melingkari foto di bagian siswa perempuan kelasku.
                “Entahlah. Aku tidak punya teman dikelas.”
                “Lalu yang mengantarmu pulang ketika jatuh dari sepeda itu siapa?”
                Aku menengadahkan kepala. Mencoba mengingat kejadian yang dikatakan Yoonji.
                “Ah itu Shikka. Ia teman sebangkuku.”
                “Nah, eonni itu kan teman.”
                “Tidak. Dia bukan temanku.”
                “Tapi tadi katamu teman sebangkumu. Kau mengatakan teman. Berarti ia temanmu.” Kata Yoonji sambil membelai bulu-bulu halus boneka teddy bearnya.
                “Ah ne ne. Dia temanku. Kau ingin aku mengundangnya?”
                Ia mengangguk kecil, “Eonni itu sangat baik. Ia juga sangat suka kepada NaNa.” Katanya sambil menunjuk boneka teddy bearnya.
                Aku membayangkan bagaimana jadinya seorang Shikka menyukai boneka. Tidak, dia sama sekali tidak menyukai boneka. Bahkan aku tak pernah mendapatinya menggunakan bandana lucu atau jepit rambut bergambar boneka. Dan ia berkata ia menyukai boneka? Ah itu pasti kebohongannya demi menyenangkan Yoonji.
                “Kau undang dia ya?”
                “Undang siapa?” Tanyaku pura-pura bodoh.
                “Eonni ini.” Katanya sambil menunjuk wajah Shikka yang bulat di foto ini.
                “Baiklah.”
                Aku sudah tau akan mengundang siapa. Aku membuka buku telpon kelasku dan mencari nama yang aku maksud. Ini dia, Lee Junghwan. Aku berlari kecil kearah telpon rumahku yang berwarna kuning pucat. Aku menekan satu persatu angka yang tertera. Tersambung.
                “Yeoboseyo?” Kata suara dari seberang.
                “Ah ne, bisa bicara dengan Lee Junghwan?”
                “Aku Junghwan. Wae? Ini siapa?”
                “Ini Sunwoo, Baro.”
                “Ah ye, Sunwoo-ya! Saengil Chukhahamnida!”
                “Haha, kamsahamnida.”
                “Mengapa kau menelponku?”
                “Aku mengundangmu untuk makan malam dirumahku nanti malam. Pesta ulangtahunku kecil-kecilan. Bisa?”
                Hening. Tampaknya ia sedang berfikir, “Nanti malam ya?”
                “Ne.”
                “Aku tidak tau bisa atau tidak. Akhir-akhir ini guru pianoku sering datang tiba-tiba. Aku takut nanti malam ia datang dan aku tak bisa datang. Begini saja. Nanti malam sekitar pukul tujuh aku akan menelponmu. Bisa atau tidak. Bagaimana?”
                “Oke. Terserah saja. Lagi pula terimakasih kalau sudah mau datang.”
                “Ye. Sekali lagi, Saengil Chukhaeyo!” Katanya penuh semangat. Aku hanya terkekeh pelan lalu mematikan sambungan telpon itu.
                Kini aku hanya melihat nomor telpon rumah Shikka yang terpampang jelas di kertas itu. Undang atau tidak? Undang atau tidak? Hanya ada kata kata itu yang menyemak dipikiranku. Aku membolak-balikkan buku telpon itu. Aku memang benar-benar tidak memiliki teman. Hanya dua orang yang lumayan dekat denganku. Junghwan dan Shikka. Tangan kiriku bergerak sendiri mengambil gagamg telpon dan tangan kananku menekan tombol-tombol angka sesuai dengan nomor telpon rumah Shikka. Sialan. Apa yang aku lakukan sekarang? Apa aku sudah gila?
                “Yeoboseyo?” Suara penuh desakan nafas terdengar di telingaku. Kerongkonganku tercekat,
“Hallooo~ apa ada orang disana?!” Tanyanya lagi.
                “Ah ne ne. ini aku Baro.”
                “Baro? Ada apa?”
                “Ah begini hari ini aku berulangtahun dan ibuku mengadakan—“
                “Kau berulangtahun? Wah! Saengil Chukhaeyo! Maaf aku tidak tahu hari ini hari ulangtahunmu.”
                Glekk. Bahkan teman sebangkuku tidak tahu kapan aku berulangtahun. Ah tak apa. lagi pula apa yang harus ia tau tentangku.
                “Ah ne, kamsahamnida. Ibuku mengadakan pesta kecil-kecilan dirumahku nanti malam. Kau bisa datang kerumahku?”
                “Maksudmu kau mengundangku?”
                “Ya seperti itulah kira-kira.”
                “Baiklah. Kau mau kado apa?”
                “Kado? Ah tidak perlu repot-repot.”
                “Jangan bersikap tidak mau tapi mau.”
                “Ah ne. kado itu urusanmu kan? Terserah kau mau memberiku apa.”
                “Terserah?” Katanya sambil mengeja suku katanya.
                “Hmm. Ya sudah kalau begitu. Jangan lupa ya nanti malam, waktu jam makan malam.”
                “Baiklah. Byeee~”
                Klik. Aku meletakkan gagang telpon itu kembali ketempatnya semula. Aku meghembuskan nafas dengan berat. Yoonji tersenyum kearahku. Aku memutarkan kedua bola mataku. Terdengar suara yang sangat frontal dari arah dapur. Sepertinya ibu sudah mulai memasak. Aku akan membantu ibu, tapi kelopak mataku serasa dijatuhi batu seberat 2 ton. Sangat berat untuk dibuka. Aku mengantuk. Aku membawa buku telpon itu ke dalam kamar dan mulai menutup kelopak mataku.
*
                Aku menunggu Junghwan di depan pintu rumahku. Aku mendengar Yoonji sedang bermain dengan Shikka. Entahlah mereka bermain apa. yang jelas, Yoonji hanya bisa terkekeh mendengar Shikka berbicara. Menurutku itu tidak lucu. Ya itulah kebodohan anak berumur lima tahun. Selalu menertawakan yang tidak lucu. Cukup boros.
                “Sunwoo, ayo ke ruang keluarga. Kau mau menunggu siapa lagi?” Tanya eommaku.
                “Aku menunggu Junghwan. Sebentar. Ia pasti akan datang.”
                “Aigo. Sekarang sudah pukul delapan malam. Kalau begitu kapan acaranya selesai?”
                Aku menundukkan kepalaku hingga menatap satu persatu kancing kemeja yang kupakai. Aku membalikkan badan dan menuju ruang keluarga. Disana sudah ada appa, Yoonji, dan Shikka yang menunggu. Tiba-tiba telpon rumahku berdering. Aku harap itu Junghwan dan ia mengatakan bahwa akan segera datang kerumahku. Aku berlari kearah telpon rumah dan mengangkatnya.
                “Yeoboseyo?”
                “Ya! Sunwoo-ya!”
                “Ah ne! kau dimana sekarang?”
                “Mianhae. Guru pianoku malam ini datang. Aku tidak bisa ikut.”
                “Aiss.”
                “Mianhae.”
                “Gwaenchana. Aku dengar sebentar lagi kau mengikuti festival music di Busan?”
                “Iya. Maka dari itu kau berlatih sangat keras.”
                “Oh begitu. Baiklah kalau begitu. Fighting!” Ucapku. Junghwan terkekeh pelan lalu memutuskan sambungan.
                Aku berjalan dengan gontai menuju ruang keluarga. Aku duduk di sebelah Yoonji.
                “Wae?” Tanya Yoonji.
                “Junghwan tidak datang. Lanjutkan acaranya.”
                Eommaku memasang lilin angka Sembilan ditengah kue itu dan member api di sumbu lilin itu.
                “Saengil Chukhahamnida! Saengil Chukhahamnida! Saranghaneun uri Sunwoo, Saengil Chukhahamnida!” mereka menyanyikan sepenggal lagu selamat ulangtahun untukku.
                “Tiup lilinnya.” Perintah Appaku. Aku menggembungkan pipiku dan bersiap untuk mematikan api yang membuat lilin angka Sembilan itu semakin kecil.
                Sebuah telapak tangan kecil membekap mulutku, “Ucapkan permintaanmu dahulu!” katanya.
Aku melirik. Shikka memasang wajah yang lucu. Aku menatap kesal dan disambut kikikan kecil Yoonji. Aku menutup mataku dan mengucapkan suatu permintaan. Aku ingin punya sahabat yang setia sampai kami sudah dewasa nanti. Ucapku di dalam hati. Aku meniup api yang membakar sumbu lilin itu. Semua bertepuk tangan. Aku mulai memotong kue dan menyuapi mereka sesendok demi sesendok kue itu. Dan kami juga memulai makan malam saat itu.
                Pukul Sembilan malam.
                “Ahjumma, Ahjussi, aku pulang sekarang ya?”
                “Ah cepat sekali!” Kata eommaku. Aku yakin ini hanya basa-basi semata.
                “Sudah malam. Besok kami harus kembali ke sekolah. Lagipula eonni-ku sudah menjemput di depan.”
                “Ah baiklah.” Ujar eommaku lagi. Sudah ku bilang. Yang tadi pasti basa-basi.
                Shikka menjulurkan tangannya. Aku menyambutnya. Kami berjabat tangan.
                “Sunwoo, antar Shikka sampai di depan pagar.” Perintah eommaku. Aku bangun dengan terpaksa dan menggiringnya keluar dari rumahku. Shikka melihat kearahku.
                “Kau sebal mengapa hanya aku sendiri yang datang?”
                “Tidak.” Jawabku singkat.
                Ia merogoh saku celananya dan memperlihatkan kotak kecil berwarna biru muda. Ia meletakkan kotak kecil itu di telapak tanganku.
                “Ini kado dariku. Anggap saja ini kenang-kenangan dari pertemanan kita. Sebenarnya aku dikasih dua. Dan katanya yang satu lagi diberi ke orang terdekatku. Aku tak memilikinya lalu eonniku bilang beri saja ke kau.” Katanya sambil memukul halus bahuku. Itu perlakuan yang ia sering lakukan.
                “Hah? Maksudnya?”
                “Sudahlah. Aku pulang dulu ya.” Katanya sambil memukul lagi bahuku. Sekilas aku dapat melihat liontin kecil yang membelit lehernya bertuliskan “Friends” di salah satu sisinya.
                Aku melambaikan tanganku kearah Shikka. Ia mebalasnya. Aku masuk kedalam rumah sambil membuka kotak tersebut. ternyata liontin yang hampir mirip dengan milik Shikka. Tapi di salah satu sisinya hanya bertuliskan “Best”. Aku bingung. Aku memasukkan kembali liontin itu dan menuju ke kamarku.
                “Best dan Friends?” Tanyaku, “Bestfriends?”
                Aku membulatkan bibirku. Ternyata Tuhan memang tidak tuli. Tuhan sekarang sedang tidak sibuk mengurusi manusia-manusia di muka bumi ini sehingga mendengarkan doaku. Terlalu cepat. Tuhan mendengar doaku dan mengabulkannya dengan cepat.

-flashback end-
J
                Sudah dua hari yang lalu Shikka melewati ulangan matematikanya. Ia tak ada mengabariku semenjak aku mengajarinya beberapa hari yang lalu. Hmm baiklah aku akan ke kelasnya. Aku akan menghampirinya. Mungkin saja ia sedang kelelahan karena belajar dengan keras. Mungkin. Ya, tipe Shikka itu sangat pemalas. Tapi kalau ia sudah mulai rajin, semangatnya pasti akan membara.
                Bukk. Aku menabrak seseorang. Ternyata aku tadi sedang mengkhayalkan seseorang. Aiss jangan bilang aku mengkhayalkan Shikka. Seseorang yang aku tabrak tadi jatuh dengan kertas yang berserakan, aku membantunya.
                “Ah mianhae..” Kataku sambil memungut satu per satu kertas kertas itu. Srett.
                “Yeo Shikka? Hei ini kertas ulangan matematika kalian lusa kemarin?” Tanyaku lagi sambil menunjukkan nama asli Shikka di kertas itu. Siswa itu mengangguk. Aku melihat lagi kertas ulangan itu. Mengecek apa yang Shikka jawab.
                “Aigo, Shikka mendapat A-! ya walaupun A- itu sudah sangat bagus!” Ucapku sendiri hampir berteriak.
                Siswa itu mengulurkan tangannya, “Kemarikan kertasnya. Aku akan membagikannya dikelas.”
                Aku memberikan beberapa kertas yang aku susun, kecuali milik Shikka. “Milik Yeo Shikka biar aku saja yang memberinya.”
                Siswa itu mendecak kesal. Tampaknya ia mendapat nilai jelek lalu dimarahi oleh Guru Shin, guru matematika kami paling fenomenal. Ya itu mungkin saja kalau aku membaca dari ekspresi wajahnya. Aku bangkit dan berlari ke kelas Shikka sebelum siswa itu sampai dikelasnya. Dengan nafas terengah-engah, aku melongokkan kepalaku ke dalam kelasnya. Mencari-cari sosok Shikka diantara mereka yang sedang sibuk dengan kativitas mereka masing-masing.
                “Baro-ya!” Teriak seorang siswa, oh ya itu Lee Junghwan.
                “Ne! ah Junghwan, apa kau melihat Shikka?”
                “Shikka? Tadi aku melihatnya disini masih memegang hadiah darimu.”
                “Dariku?” aku mengerutkan alisku.
                “Iya, dia mengatakannya bahwa bingkisan berwarna pink itu darimu.”
                “Aku—aku tidak. Aiss kau tau ia kemana sekarang?”
                “Yeo Shikka katanya mau ke taman sekolah menemuimu.” Tambah seorang siswa gemuk yang duduk disebelah bangku Shikka.
                “Menemuiku?”
                “Ya—Baro!”
                Aku langsung berlari kearah taman sekolah tanpa memperdulikan Junghwan akan berbicara apa kepadaku. Aku terus berlari. Sebuah pemandangan pohon besar yang membelakangi bangku taman kini hadir di dalam penglihatanku. Aku dapat melihat Shikka disitu. Sepertinya ia sendiri. Aku menghampirinya dari belakang. Ia menoleh kesamping. Sepertinya ia tidak sendiri. Ia tersenyum. Aku mengendap-endap mendekati pohon besar yang benar-benar terletak dibelakang bangku itu.
                “Aigo, aku kira kau orangnya sangat pendiam.” Terdengar suara Shikka yang samar-samar. Ternyata benar, ia tidak sendirian.
                “Tidak. Kalau dengan orang yang terpercaya aku tidak akan diam.” Jawabnya. Suara namja. Sepertinya aku sering mendengar suara ini. Aku melongokkan kepalaku sedikit ke sebelah kanan untuk melihat siapa yang sedang bersama dengan Shikka. Hanya bagian tubuh belakangnya saja yang bisa terlihat. Selebihnya tidak. Tapi aku benar-benar tak tahu siapa namja ini.
                “Terimakasih atas coklatnya.” Kata Shikka lagi.
                “Aku yang harusnya berterimakasih.”
                “Hmm wae?”
                “Terimakasih telah menjadi perempuan yang kucintai.”
                Deg. Rasanya ada beribu benda tajam yang menusuk tepat dihatiku. Suasana menjadi diam.
                “Jadi?” Tanya namja itu lagi.
                Walaupun sekarang angin sedang ribut dan daun daun di pohon ini berbisik, aku masih dapat mendengarkan suara hembusan nafas Shikka yang sangat amat berat. Suasana kembali menjadi diam. Aku melongokkan kepalaku kearah Shikka. Melihatnya dari belakang. Semoga ia tak melihat aku mengendap-endap di belakang sini.
                Shikka menoleh kearah namja itu dengan sebuah tatapan. Entahlah apa arti dari tatapannya Shikka. Yang pasti ketika aku melihat tatapan Shikka yang seperti itu, aku merasa sakit. Tunggu. Sakit? Apa yang perlu aku sakitkan? Ah entahlah ada sesuatu yang lain didiriku sekarang. Shikka mengangguk.
                “Aku menunggumu berkata seperti itu.”
                Mereka tertawa kembali. Seharusnya aku yang tertawa bahagia bersama Shikka karena nilai ulangan matematikanya yang bagus. Tapi mengapa sekarang Shikka tertawa manis dengan namja itu? Aku mengetuk kepalaku dengan kepalan tanganku sendiri. Reflex. Aku melihat kearah Shikka lagi. Ia mencondongkan wajahnya. Makin lama aku makin bisa melihat batang hidung namja itu. Aku keluar dari belakang mereka. Memperlihatkan diriku. Sedikit lagi bibir mereka bersentuhan. Dan ternyata namja itu….. Jung Jinyoung Sunbae. Seorang Presiden Senior yang sangat dingin dan menurutku Presiden Senior yang sangat Berjaya menghadapi sekolah ini.
                “Baro?” Suara Shikka berdesir masuk ke gendang telingaku.
                “Ah mianhae. Apa aku mengganggu? Hehehe.” Ucapku sambil cengengesan.
                “Untuk apa kau ada disini?” Tanya Shikka sambil menggerakkan bola matanya yang berarti pergi-kau-dari-sini-jangan-mengganggu-aktivitasku.
                Aku kelimpungan untuk menjawab pertanyaan Shikka. Aku melirik kearah kertas ulangan matematikanya yang ternyata aku remas-remas sedari tadi, “Ah ini, aku hanya ingin memberitahumu tentang ini.”
                “Ini kan kertas ulanganku.” Katanya sambil melacak nilainya, “A-?! aigo! Seharusnya kertas ini bisa kubanggakan ke seantero rumahku. Tapi mengapa kau menggumpalnya?!” Nada bicara Shikka semakin naik.
                “Mianhae.” Kataku sambil menunduk.
                Shikka mencoba berusaha meredam emosinya. Ia menyandarkan bahunya ke punggung bangku taman itu. Jinyoung Sunbae mencoba untuk menenangkannya. Bel masuk berbunyi. Shikka memutar kedua bola matanya.
                “Bel sudah masuk. Ayo kita masuk.” Kata Jinyoung sambil menepuk pundak Shikka. Shikka mengangguk. Jinyoung sudah berdiri dan berjalan pelan menyusuri lorong lorong menuju kelasnya. Shikka berdiri dan memandang mataku tajam.
                “Shikka… mianhae.”
                “Argh.” Katanya kesal lalu berlalu dihadapanku. Aku berlari mengejarnya.
                “Shikka…”
                “Sudah aku maafkan.” Ia terus berjalan dengan cepat. Ya mungkin ia memang benar marah denganku. Lebih baik aku akan mendiaminya sebentar. Emosinya sedang memuncak saat ini. Jadi, jika aku meminta maaf sekarang kemungkinan besar ia masih akan marah denganku. Tapi tetap saja aku merasa sangat bersalah.
J
                Kini Shikka hanya duduk diam di sampingku. Sudah lima hari Shikka bersikap seperti ini kepadaku. Dan aku hanya bisa berbicara sendiri disampingnya.
                “Yeo Shikka… Mianhae.”
                “Sudah ku bilang berapa kali? Aku sudah memaafkanmu.”
                “Tapi sikapmu belum menunjukkan bahwa kau sudah memaafkanku.”
                “Jadi harus bagaimana?”
                “Bersikap seperti kau yang dulu.”
                Shikka memukul lenganku. Kuat sekali.
                “Aiss sakit!”
                “Kau bilang tadi aku harus bersikap seperti aku yang dulu.”
                “Ya tapi jangan yang seperti itu!” Aku mengelus lenganku pelan.
                “Aku ingin memberitahumu sesuatu.”
                “Apa?”
                Shikka menelan ludahnya, “Aku sudah…”
                “Sudah bisa belajar matematika sendiri?” Tebakku.
                Ia memukul kepalaku, “Bukan itu. Aku sudah punya namjachingu.”
                Deg. Kali ini benar-benar hatiku seperti terbelah dua. Aku mengusap dadaku pelan. Ada sebentuk liontin kecil di dalam bajuku. Liontin aku dan Shikka. Tiba-tiba aku teringat potongan-potongan kecil tentang aku dan Shikka. Sungguh. Aku sangat sayang dengan Shikka dan sekarang ia mengatakan ia sudah memiliki namjachingu?! Apa aku tidak shock?! Ah mungkin karena baru, aku masih shock. Mungkin nanti kalau sudah lama aku sudah bisa menerima kenyataan. Aku menghirup oksigen banyak banyak dan bersiap menginterogasi Shikka.
                “Siapa namjachingumu?” tanyaku.
                “Kau pasti tau. Jinyoung Oppa.”
                Sudah kuduga pasti dia, “Sejak kapan?”
                “Lima hari yang lalu. Oh ya kau orang ketiga yang mengetahui hubungan kami setelah aku dan Jinyoung oppa. Jadi harap jangan membocorkannya dulu. Ia masih ingin fokus dengan ulangan akhirnya. Setelah itu mungkin ia akan mengumumkannya.”
                Jlebb. Oke. Aku shock berat. Aku mencoba tidak menyesakkan dadaku sendiri. Shikka memainkan ponselnya dan sepertinya ia sedang di telpon oleh Jinyoung Sunbae.
                “Yeoboseyo?” Ucap Shikka pelan. Nada suaranya aneh. Seperti bukan Shikka.
                Shikka sedang asyik bertelponria dengan Jinyoung Sunbae. Ah biarlah. Namanya juga orang baru merasakan cinta. Aku diam sendiri. Aku hanya mengamati Shikka yang berbincang hangat. Lama kelamaan aku menjadi bosan sendiri melihat Shikka sedang mengobrol sendiri dengan ponselnya.
                “Shikka—“ Shikka membekap mulutku dengan genggaman tangannya.
                Ia masih mengobrol. Aku melepaskan tangannya.
                “Aku pulang dulu ya.” Bisikku. Ia tak menghiraukanku.
                Aku bergegas pulang. Dan Shikka masih autis dengan ponselnya. Aku keluar dari rumahnya dan berharap Shikka mengejarku dan meminta maaf lalu bersikap seperti Shikka biasanya. Aku telah berjalan sepuluh meter dari rumahnya tapi tak ada tanda-tanda Shikka yang menyusulku. Aku melihat kebelakang. Benar. Tidak ada Shikka. Shikka tidak menyusulku. Ah aku mulai merindukan Shikka yang dulu.
J
                “Sunwoo-ya!” Panggil seseorang. Aku menoleh. Junghwan memanggilku sambil berlari.
                “Panggil aku Baro saja.” Kataku sambil membenarkan simpul dasiku.
                “Hah, ya. Baro. B-A-R-O.”
                “Kenapa?”
                “Ini,” Katanya sambil memberikanku beberapa kertas yang isinya not not balok yang sedikit aku mengerti, “Mau berduet denganku?”
                “Berduet?”
                “Iya. Untuk perpisahan kelas tahun ini.”
                Aku memutarkan bola mataku sehingga lensanya mengarah keatas. Aku berfikir. Tahun ini tahun perpisahan Jinyoung Sunbae. Aku mencoba mencerna not-not ini. Aku mengerutkan alis.
                “Ayolah. Kau kan bisa memainkan piano.”
                “Aku tak pandai memainkan piano.”
                “Aiss jangan berbohong. Aku masih ingat ketika festival musik sekolah dasar kau duet dengan Shikka! Permainan kalian cukup bagus ketika diumur segitu.”
                “Dan kau dengan bangga mengalahkan kami. Kau kan sudah hebat. Mengapa harus minta tolong denganku?” Aku berlalu dari hadapannya.
                Ia mencegat tanganku, “Ini lagunya sangat susah. Ini lagu khusus duet. Lagipula kau tahu senior kita akan perpisahan dimana? Pulau Jeju! Dan yang hanya pergi itu senior dan pengisi acara.”
                Langkahku terhenti. Kalau hanya senior dan pengisi acara yang datang, berarti aku tak bisa datang. Dan pasti Jinyoung sunbae akan mengajak Shikka. Atau melibatkan Shikka di panitia perpisahan. Bisa jadi.
                “Kapan perpisahan itu?”
                “Dua minggu lagi.”
                Aku memutarkan otak, “Baiklah. Tapi kau harus mengajariku.”
                Tanpa berfikir panjang, Junghwan langsung menarikku ke ruang musik dan membuka kap tuts tuts piano yang disembunyikan. Ia meletakkan kertas-kertas itu di penyangganya. Ia memulai memainkan tuts-tuts itu bagian solonya.
                “Nah kau mainkan yang ini saja.” Katanya sambil menunjuk not-not balok yang berserakan dihadapanku.
                Aku mencoba memainkan satu persatu not-not itu. Aku mencoba membuka memori kecilku tentang piano. Nada twinkle twinkle little star menyeruak segar di dalam ingatanku. Aku masih ingat lagu itu yang membuatku menyukai piano. Lagu itu dimainkan oleh ibunya Shikka ketika aku sedang bermain di rumahnya. Lalu aku diajarinya bermain piano. Di setiap nada Shikka selalu saja mengeluarkan leluconnya. Maka dari itu setiap aku mengingat nada, aku mengingat Shikka. Do, Do-ngsaengku nakal sekali. Re, Remehkan saja dia. Mi, Mirip siapakah Baro? Mirip tupai!
                “Baro!” Junghwan berteriak tepat di telingaku. Oh mungkin ia tak berteriak, hanya berbicara di telingaku.
                “Heh?” Jawabku sambil menaikkan dagu.
                “Kau melamunkan apa?”
                Aku mencubit pipiku, “Tidak. Aku tidak melamunkan apa-apa.”
                “Tapi mengapa kau memainkan lagu twinkle twinkle little star?!”
                “Mianhae.” Aku menunduk dan langsung memainkan tuts-tuts itu lagi.
                Keadaan menjadi serius dan kami berlatih terus menerus. Tiba-tiba ada suatu hal yang mengganjal dipikiranku. Aku menekan tuts yang berada di posisi tanganku dengan keras.
                “Kenapa lagi?!” Tanya Junghwan.
                “Untuk apa kau mau ikut ke pulau Jeju?”
                “Ah tidak. Aku hanya ingin melihat seseorang dimalam itu.”
                “Nugu?”
                “Aiss sudahlah lanjutkan latihan kita saja.”
                “Tidak mau. Kau harus menjawab pertanyaanku.”
                Ia menatapku dengan tatapan kau-tak-berhak-mengurusi-urusanku dan dari tatapannya seperti ada yang tersirat, kau-sangat-keras-kepala.
                “Aigo aigo. Baiklah. Tapi setelah aku beritahu kau harus diam saja, tak boleh membocorkannya dan setelah itu kau langsung latihan seperti biasa. Anggap saja aku tak memberitahumu.”
                Aku mengangguk.
                “Chaerin sunbaenim.”
                Aku ternganga sebentar lalu menekan kembali tuts-tuts piano itu. Aku mengikuti perintahnya.
                “Oh ya,” Katanya sambil memasang mimik wajah penasaran, “Selamat atas hubungan kau dengan Shikka. Tapi kalau kalian punya hubungan tingkat seperti itu, mengapa kalian sekarang jarang sekali bertemu? Bahkan tadi aku menemukanmu sedang berjalan sendiri.”
                Aku tertegun dengan ucapan Junghwan tadi. Harap jangan membocorkannya. Kalimat itu terngiang-ngiang di pikiranku. Jangan dibocorkan. Lalu aku harus menjawab apa?
                “Baro?”
                “Ah ne! ada apa?”
                “Tidak. Aku baru menyadari bahwa kau tipe yang sangat romantis. Mengirimi Shikka bunga dan coklat di laci mejanya. Mengapa tidak diantarkan secara langsung?”
                Aku menelan ludah, “Ah aku selalu gugup jika bertemu Shikka secara langsung,” Aku mencoba menutupi kegugupanku yang sebenarnya, “Ah sudahlah. Bukankah tadi kau yang menyuruhku agar latihan? Ayo latihan.”
                Aku kembali menekan tuts-tuts piano dengan tempo yang agak cepat. Dan tak beberapa lama kemudian bel masuk berbunyi. Tuhan mendengarkan doaku. Aku segera kabur dari ruangan musik ini dan meninggalkan Junghwan yang dilanda pertanyaan. Aku mendapati Shikka menggenggam sebuket mawar putih dan coklat batang yang sangat besar. Shikka tersenyum manis kearah sebuket mawar putih itu. Entah kenapa hatiku terasa sakit melihat itu. Rasanya sakit. Sebuah pertanyaan besar melanda logikaku. Aku tak dapat menjawabnya. Apa benar aku mencintai sahabatku, Shikka?
J
                Aku menghirup udara hangat disekitar pulau Jeju. Sangat hangat. Pulau ini selalu hangat di musim apapun. Pantas saja pulau ini mendapat predikat keajaiban dunia. Pulai ini juga sangat indah. Aku pernah sekali kesini ketika aku berlibur tamat dari sekolah menengah bersama Shikka. Itu memori yang selalu menyeruak ketika aku kesini. Apalagi dipantainya. Semua siswa dibariskan dan diberi instruksi oleh Jinyoung sunbae. Barisan aku dan Junghwan dibedakan dengan barisan para Senior. Dan sampai saat ini aku belum menemukan batang hidung Shikka.
                “Sunwoo dan Junghwan! Kemari!” perintah seseorang. Dan ternyata itu Shinwoo sunbae. Dia wakil dari Presiden Senior.
                Aku dan Junghwan berlari kecil kearahnya.
                “Kalian sebagai pembuka ya.”
                Aku mengerutkan alis. Junghwan hanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Shinwoo sunbae kembali memanggil beberapa siswa yang mengisi acara. Aku menghembuskan nafas dengan berat. Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Aku menoleh. Kini lengan Shikka sudah mengapit leherku. Aku tercekik.
                “Shik—Shikka lepaskan! Aku tak bisa bernafas! Ngh!” Kataku sambil mencoba melepaskan tangan Shikka.
                “Hahaha.” Ia tertawa sambil melepaskan kepitan tangannya.
                “Kau ini.”
                “Ahahaha! Kalian memang pasangan paling lucu yang pernah aku lihat!” Kini Junghwan tertawa terbahak-bahak dihadapan kami berdua.
                Shikka memandang aneh ke Junghwan dan menatapku dengan tatapan penuh tanya. Dan sekarang Shikka menggandengkan lengannya dengan lenganku. Aku menatapnya penuh tanya.
                “Dan itu cara kami agar tetap romantis.” Kata Shikka penuh percaya diri. Aku masih bingung dengan pernyataannya. Apa ia tak takut Jinyoung sunbae cemburu terhadapku?
                Aku menarik lengan Shikka, “Junghwan, jika kau ingin ke penginapan, pergi saja dulu. Aku akan menyusul.” Kataku sambil terus membawa Shikka jauh dari keramaian.
                “Hei mengapa kau membawaku kesini?”
                “Kau sedang apa disini?” Aku kembali bertanya kepadanya.
                “Kau tidak tahu? Aku akan menjadi seksi dokumentasi malam prom nanti.”
                Sudah kuduga, “Disuruh Jinyoung sunbae?”
                Ia mengangguk.
                “Oh ya aku baru ingat. Dia itu kan Presiden Senior dan kau itu pacarnya.” Kataku sambil menekankan nada pada kata pacarnya dan membuat nada bicaraku menjadi menyindir.
                “Lalu apa maksudmu berkata seperti itu?”
                “Dia bisa memasukkanmu menjadi panitia sesuka hatinya.”
                Plak. Shikka menampar kuat pipi kananku. Dan itu rasanya lebih sakit daripada hatiku sekarang. Seorang sahabat dan seseorang yang aku cintai menampar diriku sendiri.
                Aku menatapnya dengan tatapan tak mengerti, “Kau menamparku? Apa maksud tamparanmu?”
               “Jangan pernah berkata seperti itu lagi! Kau tak tahu betapa baiknya Jinyoung!” dan sekarang Shikka membentakku.
                “Dan kau jangan sekali-sekali mengatakan bahwa aku pacarmu! Katakan saja bahwa Jinyoung itu pacarmu!” Kini suaraku merendah. Tapi aku seperti membentaknya. Entahlah. Emosiku sudah bercampur aduk.
                Aku meninggalkan Shikka yang masih diam. Lagi-lagi aku hampir menghancurkan hubunganku dengan Shikka. Mungkin kali ini memang sudah hancur. Shikka memang tak mengerti perasaanku. Ia mengatakan ke teman-temannya kalau dia pacaran denganku. Dan realitasnya ia pacaran dengan seniornya. Dan ia tak mengetahui bahwa aku mencintainya. Dia tak mengerti perasaanku yang memang benar-benar mencintainya. Dia tak mengerti tentang harapan aku memilikinya. Dia tak mengerti.
                Takk. Aku membuka pintu penginapan yang tak jauh dari tempat untuk prom nanti malam. Kini yang ada dihadapanku Junghwan sedang menghapal baik-baik not itu. Aku merebahkan tubuhku diatas tempat tidur.
                “Hei dua jam lagi acara dimulai. Ayo hapal ini.” Junghwan mengguncang tubuhku.
                “Sebentar. Hatiku sedang kacau.”
                Aku dapat mendengar hembusan nafas yang berat diantara hembusan nafas Junghwan. Krekk pintu penginapan kami terbuka.
                “Annyeonghaseyo.” Sapa seorang namja. Aku terduduk.
                “Ne. annyeong.” Jawabku singkat dan tak bersemangat.
                “Ah disini Cuma diisi dua orang?”
                “Ne, Jinyoung sunbae.” Jawabku.
                “Kalau begitu aku tidur disini boleh?”
                Mataku terbelalak, “Bukankah kau tidur di penginapanmu sendiri?”
                Dia memasukkan tas ranselnya dan meminggirkannya, “Kita kekurangan penginapan untuk wanita. Aku memberi penginapanku untuk mereka. Jadi, satu penginapan diisi 3-4 orang. Jadi aku boleh tidak tidur disini?”
                “Aigo, Kau memang senior yang paling baik!” Puji Junghwan, “Kalau begitu tentu saja boleh!”
                “Ahahaha tidak juga. Terimakasih karena sudah mau memberikan tumpangan untukku.”
                Aku merampas kasar kertas yang berisikan not-not itu. Aku memandangi mereka dengan penuh emosi. Aku mencoba menghapal keras not-not itu dan hasilnya nol besar. Yang keluar dari pikiranku adalah kenangan aku dan Shikka yang sibuk bermain, kenangan aku dan Shikka yang sedang tertawa, dan semua kenangan aku bersama Shikka. Semakin lama perasaanku semakin sesak. Kemungkinan aku bersama dengan Shikka sekarang sudah sedikit. Semuanya sudah hancur. Aku belum siap untuk berpisah dengan Shikka. Belum siap.
                “Sunwoo-ya..” Panggil Jinyoung sunbae.
                Aku hanya melongokkan kepalaku dengan tatapan yang masih penuh dengan emosi, “Panggil aku Baro saja.”
                “Oh Baro, kau bisa bermain piano?”
                “Bisa.”
                “Wah daebak! Aku kira kau hanya bisa beat box-ing saja. Ternyata kau juga mahir bermain piano. Diajari siapa?”
                Deg. Pikiranku kembali mengulang masa lalu, “Ibunya Shikka.”
                Ia mengangguk kecil.
                “Memangnya kenapa, sunbae?”              
                “Aniya. Oh ya kalau suasana sedang tidak formal, panggil aku dengan sebutan hyung saja. Sunbae terlalu formal. Dengar itu Junghwan dan Baro?”
                Aku mengangguk.
                “Ne, Hyung!” Jawab Junghwan dengan semangat.
                “Sebaiknya kalian mempersiapkan diri kalian. Kurang dari dua jam lagi acara akan dimulai.”
                Dan kurun waktu kurag dari dua jam itu sangat singkat. Tanpa sepatah kata apapun dari pembawa acara, aku dan Junghwan sudah berada di depan piano dan memainkannya dengan sempurna. Beberapa flash kamera mengarah ke kami. Aku mencoba menghayati lagu yang sedang kumainkan. Dan perasaan sesak itu muncul kembali. Memori kecil itu kembali.
                Ini kado dariku. Anggap saja ini kenang-kenangan dari pertemanan kita.”
                “Do, Do-ngsaengku nakal sekali. Re, Remehkan saja dia. Mi, Mirip siapakah Baro? Mirip tupai!”
                Aku ingin punya sahabat yang setia sampai kami sudah dewasa nanti.
                Ucapkan permintaanmu dahulu.”
                “Jangan pernah berkata seperti itu lagi!”
                Sebuah flash kamera yang sangat dekat menyadarkanku dari lamunan. Aku membuka mataku. Shikka benar-benar sedang mendokumentasikan kegiatan malam ini. Ia tak tersenyum padaku. Aku rasa aku salah lagi. Lagu yang kumainkan pun berakhir. Jemariku tak mau lepas dari tuts-tuts piano ini. Junghwan sudah berhenti memainkan piano ini. Dan entah ada angin apa tanganku bergerak sendiri menekan tuts-tuts itu satu persatu dan nadanya hampir menyerupai lagu twinkle twinkle little star. Mataku menatap Shikka. Ia sedang berdiri dengan pandangan kosong. Lagu ini berakhir. Lima detik kemudian suasana menjadi riuh akan tepuk tangan yang sangat ramai. Aku dan Junghwan membungkuk di depan panggung.
                “Sambutan Presiden Senior, Jung Jinyoung.” Acara dimulai. Pembawa acara sudah mengumumkan sekarang adalah saatnya Jinyoung sunbae berbacot-ria di malam prom.
                Junghwan menarikku agar kami dapat duduk dekat dari Chaerin sunbae. Dan sekarang kami duduk tak jauh dari Shikka. Shikka tak ada tersenyum kearahku. Mungkin masih marah.
                “Perlu kalian ketahui bahwa di selatan hotel yang kita singgahi ini ada pantainya! Wah sepertinya prom malam ini akan seru bukan?” Suara Jinyoung sunbae menggema disertai tepuk tangan yang ramai.
                “Aku baru tahu Shikka masuk seksi dokumentasi.” Kata Junghwan sambil menunjuk kearah Shikka yang sedang asyik mendokumentasikan namjachingunya sedang berpidato.
                “Junghwan, sebenarnya—“
                “Dan status Presiden Senior Suhwakyung High malam ini akan digantikan oleh Gong Chansik!”
                Terdengar suara riuh dari bagian kiri panggung. Disana seorang Gong Chansik sedang ber-high-five-ria dengan beberapa temannya yang ikut.
                “Mwo? Gong Chansik? Bukannya dia baru masuk?” Tanya Junghwan kepadaku.
                “Dia masuk akselerasi. Jadi sekarang dia sudah setara dengan kita.”
                Junghwan mengangguk dan membulatkan bibirnya.
                “Junghwan, sebenarnya aku dan Shikka—“
                “Terimakasih kepada seluruh siswa yang sudah berpartisipasi. Terimakasih kepada wakilku, Shinwoo. Tanpa dia, aku tak sanggup untuk membangun material utama sekolah ini yaitu menjadikan siswa siswa sekolah yang aktif dan cerdas. Dan terimakasih untuk—“
                “Junghwan, kau mendengarku? Sebenarnya aku dan Shikka—“
                “Wanita yang aku cintai. Tanpanya aku seperti kehilangan matahari. Terimakasih, Yeo Shikka.”
                Suasana menjadi hening.
                “Junghwan, sebenarnya aku dan Shikka tidak berpacaran.”
                Junghwan menatapku, “Kau, Jinyoung sunbae, dan Shikka sedang tidak bercanda kan?”
                Aku menunduk, “Namjachingu Shikka yang sebenarnya adalah Jung Jinyoung.” Aku mengangkat kepalaku kembali dan mendapatkan Shikka sudah disamping Jinyoung sekarang.
                Shikka tampak malu-malu dan menundukkan wajahnya, sedangkan Jinyoung sunbae menatap Shikka dengan tatapan yang beda. Tatapan penuh cinta. Demi apapun aku membenci tatapan itu. Dan ketika aku melihat itu hatiku merasa teriris. Sakit sekali. Aku bangkit dari tempat dudukku.
                “Kau mau kemana?” Tanya Junghwan.
                Aku menepis, “Tugas utama kita sudah selesai bukan? Aku ingin tidur.”
J
                Aku mengerjapkan kedua mataku. Baru pukul empat. Sebentar lagi matahari akan terbit. Junghwan masih tertidur nyenyak dan Jinyoung sunbae, eh atau mungkin Jinyoung hyung sudah tidak ada di dalam ruangan ini lagi. Mungkin ia sedang mengatur bus-bus untuk kami pulang. Aku merenggangkan otot-ototku yang sedari tadi malam berkelahi dengan hatiku. Aku menyibakkan jendela samping penginapan ini dan mendapati hamparan pantai yang sedang surut. Indah juga. Aku masuk ke dalam toilet lalu membasuh wajahku dengan air yang sangat dingin.
                Aku membuka pintu penginapan dan udara dingin menyerbuku.
                “Aiss dingin sekali.” Aku kembali ke dalam dan mengambil jaketku. Aku memakainya.
                Aku berjalan menyusuri pasir-pasir lembab ini. Mengamati hewan-hewan laut apa saja yang terjerembab di daratan. Dan ternyata banyak. Ada beberapa yang aku ambil dan rencananya akan kuberikan pada Yoonji karena Yoonji sangat suka hewan-hewan laut.
                “Maaf yang tadi malam.”
                Suara itu semakin lama semakin mendekat. Aku mendongakkan kepalaku.
                “Tak apa.”
                Itu Jinyoung hyung dan Shikka. Mereka berjalan tanpa alas kaki hanya berdua. Mungkin menunggu matahari akan terbit.
                “Mengapa kau mengajakku melihat matahari terbit?” Tanya Shikka.
                “Karena aku yakin aku memiliki cinta yang selalu terbit di hatimu.”
                Jinyoung menatap Shikka kembali dengan tatapan yang berbeda itu. Tatapan cinta. Shikka tersenyum kearahnya. Wajah mereka mendekat dan mendekat. Secuil sinar matahari mulai muncul diantara mereka. Bibir mereka bersentuhan. Dan hatiku benar benar pecah melihat ini semua. Sakit. Rasa sakitnya sangat dahsyat. Aku menekan dadaku hingga tak terasa aku menggenggam kuat liontin kecil itu hingga pengaitnya putus.
                “Mianhae, Shikka.”
                Liontin itu jatuh ke pasir.
                “Mianhae Shikka. Maaf karena aku membentakmu. Maaf karena aku mengancurkan persahabatan kita. Maaf karena aku mencintaimu.”
                Aku membalikkan badan dan menuju penginapan. Hatiku sakit. Kakiku lemas. Aku ingin berteriak tapi tidak tahu ingin meneriakkan apa. semua itu rasanya sangat sakit. Dan aku melangkah dengan lamban sehingga aku terjatuh dengan kasar di atas pasir yang lembab. Aku meneteskan air mata.
                “Shikka, aku mencintaimu.”
                Seseorang memegang lembut tanganku dan meletakkan sesuatu di telapak tanganku.
                “Sudah kubilang. Ini hadiah dari pertemanan kita.”
                Aku menoleh dan ia menunjukkan liontin kecil yang tergantung dilehernya. Aku tersenyum. Seorang namja mengulurkan tangannya kearahku. Ia membantuku bangun. Shikka menggenggam tanganku. Ia tersenyum.
                “Aku menyayangimu. Aku memang bukan milikmu, tapi aku akan selalu ada disisimu. Maafkan aku jika sudah bersikap egois.” Ia memelukku hangat. Jinyoung hyung tersenyum hangat kearahku.
                Shikka mulai terisak, “Kau menangis?” Tanyaku sambil melepaskan pelukannya, “Uljima.”
                Ia memelukku erat, “Aku tidak mau kehilangan tupaiku.”
                “Aku juga tak ingin kehilangan siputku. Sudah jangan nangis. Air matamu membasahi bajuku.”
                “Ahaha..” Tawanya renyah sambil mengelap air matanya.
                “Saranghae.” Ucapku. Aku tak memikirkan bagaimana perasaan Jinyoung hyung sekarang. Yang penting aku sudah mengutarakan perasaanku yang sebenarnya.
                Shikka menampar kecil pipiku, “Sudah kubilang, aku memang bukan milikmu tapi aku akan selalu ada disisimu.”
                “Aigo aigo sepertinya aku disini seperti patung.” Sindir Jinyoung hyung.
                “Andwae, Chagi.”
                “Aigo, siputku sudah bisa memanggil sayang dengan namjachingunya.”
                Mereka terbahak.
                “Apakah kalian tahu? Matahari sudah menemani kita sedari tadi.” Kata Jinyoung hyung sambil menunjuk kearah matahari.
                “Kau pasti belum mandi!” Kata Shikka sambil menusuk-nusuk pipiku dengan jari telunjuknya.
                “Hei Shikka, matahari juga tahu kalau kau belum mandi!” Sindir Jinyoung hyung lagi. Aku terbahak.
                Ia menggembungkan pipinya lalu menggandeng lenganku dan memeluk pinggang Jinyoung hyung, “Matahari juga tau kalau aku memiliki dua namja yang sangat berpengaruh didalam hidupku.” Ia berjalan menuju penginapanku.
                Aku tersenyum. Dan sepertinya matahari tidak tahu kalau aku dihatiku sekarang hanya ada Shikka. Ya, Shikka memang bukan milikku. Tampaknya ia sangat bahagia jika bersama dengan Jinyoung hyung. Jinyoung hyung itu namja yang sangat baik. Jadi aku tak perlu khawatir kalau Shikka itu ternyata milik Jinyoung hyung. Dan sekarang matahari mengetahui segalanya.
-END-