Minggu, 15 April 2012

The Scary Game [Part 2]



Title : The Scary Game [part 2]
Author : Minnia
Genre : Mistery romantic
Cast : Choi Hanna (OC), Kim Myungsoo, Lee Howon, Lee Sungyeol
Support Cast : Nam Woohyun, Jang Dongwoo, Lee Sungjong, Kim Sunggyu.

Hanna POV
                Ketika aku membuka pintu rumahku, aku mendapati L dengan sepeda warna birunya. Itu sepeda kesayangannya. Aku berjalan perlahan mendekatinya. Aku merasa tas yang kupikul terlalu berat. Ternyata menggendong tas ransel dengan muatan yang sangat banyak itu sulit. Apalagi sedang berjalan. Aku membenarkan nafasku ketika sudah berada disamping L.
                “Cepat naik.” Katanya sambil menepuk-nepuk pundakku.
                “Mwo?”
                “Cepat naik. Apa kau mau berjalan kaki ke Woolim? Memang sih hanya 3 kilometer dari sini.”
                Aku langsung duduk di jok boncengan sepeda miliknya ini. aku sudah beberapa kali dibonceng oleh L. L mulai mengayuh pedal sepedanya. Tampaknya ia sedang bersusah payah mengayuh pedal itu gara-gara aku ada di jok boncengan. Ya tapi tak apalah sesekali aku melihat L bersusah payah mengeluarkan keringat. Hitung hitung ia sudah pemanasan sebelum bermain tenis. Aku menghirup udara yang ada disekitarku. Ternyata ini alasan L masih tetap menggunakan sepedanya daripada menggunakan kendaraan berbahan bakar. Selain ia dapat berolahraga, ia masih bisa menghirup udara bebas di luar. L sangat mencintai alam.
                L memarkirkan sepedanya tak jauh dari area lapangan tenis universitas kami. Tampak dari kejauhan Sungyeol dan Hoya sedang pemanasan. Aku meletakkan tas di pinggiran lapangan lalu mengeluarkan raket tenis dan mendekati mereka berdua.
                “Mianhamnida, aku sudah terlambat.” Kataku.
                “Gwaenchana. Ayo kita pemanasan.” Jawab Sungyeol sambil menepuk kecil pundakku.
                L menghampiri kami dan kami memulai pemanasan yang sangat melelahkan. Pembuka yang berat. Dari kepala sampai kaki semua digerakkan dan dilenturkan agar tidak terjadi nyeri ketika selesai bermain tenis. Selesai pemanasan, kami membagi tim. Aku bersama Hoya sedangkan Sungyeol bersama L. kami pun memulai permainan yang cukup sengit. Walaupun L terlihat tak terlalu atletis, ternyata ia cukup mahir memainkan tenis. Tidak kusangka.
                “Hanna! Hanna!” Hoya memberi kode padaku agar aku bisa memukul bola tenis itu sampai masuk ke area lawan. Aku memukulnya.
                Sungyeol membalas kearah kiri dan berdekatan denganku, “Hanna!” Teriak Hoya.
                Aku tak bisa memukul bola itu dari bagian kiri. Ya, cukup penderitaan Hoya satu tim bersamaku. Kelemahanku dengan mudah dapat terbaca oleh seluruh sahabatku. Poin untuk set pertama unggul oleh Sungyeol dan L. ya, bagaimana pun mereka tetap hebat. Sebenarnya poin diantara kami tidak terlalu jauh berbeda. Hanya beda beberapa poin. Kami beristirahat sebentar.
                Aku mengeluarkan botol minum besar berisi air putih dan meneguknya. Kami larut dalam aktifitas masing masing. Sore hari ini begitu terasa terik. Banyak bulir keringat yang keluar dari tubuhku. Aku merasa dehidrasi. Tiba-tiba seorang namja bertubuh kurus datang menghampiri kami. Ya, itu Lee Sungjong, adik dari sahabatku, Lee Sungyeol.
                “Hyung, kau lelah?” Katanya sembari memberikan sepotong handuk kecil ke Sungyeol.
                Sungyeol hanya mengangguk dan mengelap keringatnya. Ia lalu meneguk sebotol air putih dingin yang disediakan oleh Sungjong. Aku iri melihat Sungyeol yang memiliki saudara seperti Sungjong. Sungjong sangat perhatian terhadap Hyungnya. Mungkin karena efek mereka tinggal jauh dari keluarganya. Hoya bangkit dari posisi awalnya. Matanya menantang kearah Sungyeol.
                “Ingin taruhan?” Tanya Hoya.
                “Boleh. Apa taruhannya?”
                "5 scoop ice cream selama dua minggu.”
                “Boleh juga. Berapa set?”
                “dua saja.”
                “Ah kau pasti takut kalah!” Kata Sungyeol sambil bangkit dibantu oleh Hoya.
                “Hahaha. Mau atau tidak?”
                “Ayo kita bertanding sekarang!”
                Sungyeol dan Hoya mengambil raket mereka dan langsung menuju area lapangan tenis. Aku dan L hanya bisa melihat mereka bermain dengan semangat dan hiruk pikuk tawa. Sudah lama aku tak merasakan hawa seperti ini. L hanya berdiam diri dan memandangi mereka.
                “Kita mau taruhan apa ya?” Tanyaku padanya.
                “Kita?”
                “Iya. Kau dan aku akan bertaruh apa? Apa kita hanya melihat mereka larut dalam dunianya sendiri? Aku juga ingin seperti mereka.”
                “Noona, Hyung, aku pulang dulu ya.” Kata Sungjong menyela pembicaraan kami.
                Kami berdua langsung menghadap kearah Sungjong yang sudah memikul tali ransel di bahu kanannya. L hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
                “Ne. Hati-hati dijalan.” Kataku sambil melihat Sungjong yang sedang melambaikan tangannya.
                Hening.
                “Jadi kita mau taruhan apa?” Tanyaku lagi, aku menantangnya.
                “Kau yakin akan menantangku untuk taruhan?” Tanyanya yang membuat aku ragu.
                “I-iya.” Jawabku santai tapi terdengar gugup.
                “Bagaimana kalau…” L menatap wajahku dari jarak yang sangat dekat. Aku tersentak kaget, “Bertaruh menatap mata satu sama lain selama sepuluh menit tanpa berkedip dari jarak seperti ini?”
                Aku merasa ada yang mengalir di daerah pipiku. Pipiku memanas. Dan sontak aku menutup mukaku.
                “Kau kalah.” Katanya santai sambil menjauhkan wajahnya.
                Aku memukul mukul ringan pundak L, “Ya! Kau curang! Mana ada taruhan seperti itu!”
                “Hahaha. Lihat! Mukamu merah sekali!”
                Aku memajukan bibirku sampai Hoya dan Sungyeol datang menghampiri kami berdua.
                “Ah! Aku belum puas selama dua set tadi! Sepertinya ada yang salah!” Protes Sungyeol sambil menunggu reaksi Hoya yang sedang meneguk air.
                “Sudahlah. Akui saja kekalahanmu.” Kata Hoya santai.
                “Kita bertanding lagi. Bagaimana?”
                “Aku lelah. Tapi kalau double aku mau. Bagaimana?”
                “Ok!” Kata Sungyeol dengan nada menantang.
                “Aku dengan L. kau dengan Hanna.” Kata Hoya sambil menunjuk kearahku.
                “He? Bukankah kau pairing dengan Hanna?”
                “Kita tukar partner. Biar lebih adil.”
                Sungyeol hanya melongo melihat Hoya yang sedari tadi tak menampilkan muka bermasalah.
                “Kita masih ada waktu dua minggu lagi bukan untuk berlibur?” Tanya Sungyeol.
                Kami semua menganggukkan kepala.
                “Apa rencana kita kedepan?”
                “Bagaimana kalau berenang?” Tanya Hoya.
                “Aku tidak bisa berenang.” Ucapku.
                “Kalau berbelanja?” Tanya Sungyeol.
                “Aku tak suka belanja. Terlihat sangat feminine.” Ucap L.
                Hening. Tak ada satu pun acara yang akan kami lakukan untuk kedepannya. Tiba-tiba L bangkit dari posisi menyender. Sepertinya ia mendapat ide yang sangat cemerlang. Ia menoleh kearah kami. Menatapi ekspresi kusut kami satu persatu. Ia sedikit tergelak lalu mulai berbicara.
                “Bagaimana kalau camping di hutan?” Tanyanya dengan muka antusias.
                Hoya dan Sungyeol saling berpandangan. Sepertinya mereka melihat sesuatu yang baru dari mata lawan mereka masing masing. Mereka mengangguk. Dan semua melihat kearahku.
                “Wae?” Tanyaku.
                “Mau tidak?” Tanya Hoya.
                Aku memasang muka berfikir keras.
                “Ayolah. Kita kan belum pernah camping di hutan bersama-sama. Pasti sangat asyik kalau kita camping bersama.” Ucap Sungyeol. Sudah kubilang, Sungyeol sangat pandai berbicara. Perkataannya sudah menghasut otakku agar mengatakan “Iya”
                “Baiklah.”
                Muka L berubah menjadi sumringah, “Baiklah. Bagaimana kalau dua hari lagi kita pergi?”
                Semua mengangguk. Hoya dan Sungyeol kembali kepermasalahan mereka tadi. Telah ditetapkan partner taruhan kali ini aku bersama Sungyeol. Sungyeol hanya bisa menunduk lemas begitu ditetapkan aku akan menjadi teman dalam satu timnya. Aku pasti bisa mengalahkan Hoya dan L walaupun itu sulit. Aku akan mencobanya. Hoya dan Sungyeol telah turun ke lapangan. Mereka sedikit menggerakkan badan untuk melumaskan sendi sendi mereka. Sinar matahari semakin terik. Aku takut kulitku yang putih ini terkena dampak sinar UV yang dapat membuat kanker kulit. Aku mengeluarkan botol lotion sunblock. Aku memakainya. L menyilangkan tangannya diantara tanganku.
                “Wae?” tanyaku lagi.
                “Jangan pakai lotion.”
                “He?”
                “Nanti tanganmu jadi licin. Raket tenis kan berat. Bisa bahaya.”
                “Ah. Tapi kalau akibatnya kanker kulit, lebih bahaya yang mana?” kataku sambil tetap memakai lotion. Malah aku tambah lotionnya.
                L mendengus kesal. Aku terkikik pelan melihatnya kesal. Ya, aku memang tidak bisa di beri nasihat. Aku sudah kebal dengan semua nasihat yang masuk dari kedua telingaku. Aku dan L kembali turun kelapangan. Aku mendekati Sungyeol dengan wajah pasrahnya.
                “Hei, ayo kita kalahkan mereka!” kataku sambil menepuk pundak Sungyeol.
                Sungyeol hanya tersenyum tipis. Permainan pun dimulai. Skor awal aku dan Sungyeol yang memenangkan. Hal ini bagai suatu spirit untukku. Aku bersemangat mengalahkan Hoya dan L untuk membantu Sungyeol. Ya, minimal pasti aku kebagian dua scoop es krim selama dua minggu. Hehe.
                Saking bersemangatnya aku bermain tenis, tak terasa air keringatku telah bercampur dengan lotion. Rasanya tidak enak. Sungguh tidak enak. Seperti ada yang membatasi antara kulitku dan keringat. Bola hijau yang bulat mendekat kearahku. Kukerahkan semua tenagaku untuk memukul bola hijau itu. tapi yang ada malah raket tenis yang terlempar mengenai sesuatu—bahkan mungkin seseorang yang menghasilkan suara timpukan yang sangat dahsyat diiringi erangan yang memekikkan telinga. Aku melihat kebelakang.
                “Arrghh!!”

-To Be Continued-